
Pagi ini aku dengan cepat bangun dan mengerjakan tugas rumah bagianku, aku mengerjakannya dengan semangat dan cepat mengingat hari ini adalah hari yang spesial. Setelah semuanya selesai ,aku berlari ke kamar sambil menyambar handuk,bersenandung riang menutup pintu kamar mandi.
Setelah selesai mandi sekitar dua puluh menit,aku langsung mengeringkan rambutku dengan hairdryer. Tampak terlukis senyuman lebar diwajahku. "astaga aku tidak sabar bertemu dengannya." ucapku pelan. Aku melirik jam tanganku yang menunjukkan pukul enam pagi,sambil menyisir rambutku aku langsung memakai make up tipis natural yang sesuai dengan standar gayaku. Setelah berkutat sepuluh menit dengan make up,aku langsung mengambil ponselku yang sudah ku cas penuh.
"apa ada yang kurang yaa?" gumamku pelan sambil mengingat sesuatu sebelum pergi,setelah merasa semuanya sudah beres. Aku langsung berjalan keluar kamar menemui orang tuaku. Sudah pasti mereka masih mengerjakan tugas mereka masing-masing. Berkat kehadiran Zayyan membuat tugasku menjadi ringan,tugas kami bertiga dipecah lagi sama rata. Ibu memang hebat,ia tidak membedakan anak dan menantunya. Aku mengacungkan jempol pada beliau.
"kau mau kemana dengan pakaian rapi gitu?" tanya Zayyan yang tengah membersihkan jendela. Aku lagi-lagi terpesona dengan tampangnya,apalagi saat ia berkeringat membuat pria itu terlihat lebih bersinar.
"mau pergi menemui teman." jawabku pelan saat kesadaranku terkumpul. Aku menggerutu pelan dalam hati yang terus tanpa sengaja memuji ketampanan suamiku itu.
"teman yang mana? cewek atau cowok? ngumpul dimana?" tanya Zayyan dengan secercah pertanyaannya. Aku menghela napas,baru saja hendak ku ingin memarahinya karena terlalu banyak mencampuri urusanku membuatku teringat jika pria tinggi itu adalah suamiku saat ini. Sudah pasti jika mau keluar harus izin dengannya terlebih dahulu. Jika tidak aku dianggap istri durhaka.
"cowok." terangku membuat alisnya tegak sebelah,menatap tajam kearahku. "tidak boleh." ucapnya pelan lalu berjalan kearahku.
Sudah kuduga,bakalan nggak dibolehin,cih. Apa yang harus kulakukan yaa supaya diizinkan??. gumamku pelan sambil memikirkan cara agar tetap diizinkan keluar.
Aku melihat Gazza baru saja selesai membersihkan bagian luar,dengan cepat aku menghampiri abangku yang tersayang itu.
"Abang!" panggilku membuat Gazza menoleh kearahku. Gazza menatapku dengan penuh curiga seolah akan terjadi hal sial yang menimpanya jika berada dekat denganku.
"santai aja bang liatnya, kali ini nggak hal yang sial kok." ucapku membuat Gazza semakin menatapku menyelidik.
"cih bohong,pokoknya kalau ada yang menyangkut tentangmu pasti aku kena getahnya. Kali ini apa lagi??"
"hehehe walaupun kau sering kena getahnya kau tetap abangku yang paling baik deh." pujiku sambil mengacungkan kedua jempolku. Gazza hanya menghela napas pelan menunggu penjelasan ku.
"cepatlah ngomong." ucap Gazza mulai jengah.
"iya...iyaa santai bang,jadi gini bang aku tuh mau ketemu sama teman,trus tadi aku udah izin sama kak Zay tapi nggak dibolehin. Abang boleh nggak aku ketemu sama temanku bang? please..." ucapku sambil menatap penuh harap padanya.
"jangan Za,dia mau ketemu cowok. cih bisa-bisanya dia selingkuh dariku terang-terangan." ketus Zayyan menghampiri kami berdua. Gazza menoleh kearah Zayyan,dapat kulihat sekilas abangku tampak menahan tawa membuatku menyerngit curiga lalu menoleh kebelakang melihat Zayyan.
Apa perasaanku saja atau mataku yang salah liat yaa??. gumamku pelan.
__ADS_1
"kenapa liat-liat??" ucap Zayyan membuatku memberengut kesal,lalu kembali menoleh kearah Gazza.
"kau mau ketemu cowok disaat kau sendiri sudah memiliki suami,waah mantap sekali yaaa." ledek Gazza.
"eh bukan itu lho bang. aku dan dia cuman teman,kami mau berkumpul karena kami satu server per—" aku langsung menutup mulut, hampir saja aku mengatakan kalau aku satu server game komputer,bisa-bisa Zayyan mulai mengetahui rahasiaku. Kalau Gazza,dia memang sudah tau kelakuanku seluk belukku,jadi dia tidak heran lagi.
"ooo,bolehkan aja lah Yan." ucap Gazza melihat Zayyan tiba-tiba membuatku menoleh kearah abangku itu.
"eh? tumben?? biasanya kau selalu cerewet kalau hal ini. Yakin bang? nggak salah minum obatkan?" tanyaku tak percaya menatapku.
"mau pergi atau nggak nih?? aku cuman menjawab sekali aja nyoo kalau ndak aku berubah pikiran lagi nih."
"eiitsss iya...iya bang,okee aku pergi. Dengar tuh kak Zay aku udah diizinkan pergi. Jadi kau harus izinkan pergi juga kak." ucapku semangat menatap Zayyan, Zayyan menghela napas pelan, "ya sudah pergi aja. Siapa nama temanmu itu?" tanya Zayyan lagi.
Apa aku kasih tau aja yaa??,hmm ya udah deh kasih tau aja dulu ntar tambah panjang lagi masalah kalau aku kasih tau nama palsu. gumamku menatap Zayyan
"Zafiad kak." ucapku pelan,lalu Zayyan mengangguk sambil tersenyum menatapku.
"bagaimana dia tau,kalau aku akan menemui temanku itu dicafe??" ucapku pelan.
***
Sudah hampir lima belas menit akhirnya aku sampai di cafe tempat kami janjian bertemu. Aku melirik jam tanganku sudah menunjukkan 7.50. Artinya sepuluh menit lagi temanku itu sampai. Aku langsung berjalan kelantai dua dan mengambil tempat duduk berhadapan dengan kaca besar. Tempat itu sangat cocok untuk melihat pemandangan dari atas cafe itu.
Aku menunggu temanku datang sambil memainkan ponselku. Beberapa menit kemudian,aku mendengar suara langkah kaki menaiki tangga menuju kearahku. Aku menoleh kearah pemilik suara sepatu itu dan mendongak menatap kearah wajah pria itu,aku tidak bisa melihat wajahnya karena pria itu sedang memakai masker.
"Adibah?" tanyanya membuatku mengangguk pelan,lalu mempersilahkan dia duduk. Aku seketika tergugup menatapnya,dalam hati menjerit jika pria ini terlihat tampan walau masih belum terlihat wajahnya sama sekali.
Dia tingginya sama seperti Zayyan yaa, astaga kenapa aku malah mengingat dia sekarang. gerutuku pelan dalam hati. Aku langsung menampilkan gaya feminimku didepannya,lalu mulai membuka topik.
"kau Zafiad yaa?" tanyaku basa-basi. Pria itu mengangguk pelan. Ia menekuk dagunya menatapku lekat membuatku semakin gugup.
"ka-kau mau memesan apa?" tanyaku mengalihkan pandangannya saat melihat pelayan cafe menghampiri kami.
__ADS_1
"selamat siang tuan dan nona,mau pesan apa?" tanya pelayan itu sopan,lagi-lagi kulihat pelayan itu tampak terkejut saat melihat Zafiad bahkan ia menunduk pelan menunggu pesanan yang kami inginkan.
Kenapa pelayan ini menunduk hormat ke Zafiad yaa???. gumamku pelan,tetapi aku menggeleng pelan menepis pikiran negatifku. Aku teringat pesan Zayyan yang secara tidak langsung merekomendasikan minuman terenak dicafe itu.
"hmm apa cappuccino latte ada? katanya itu sangat enak disini." tanyaku pelan.
"tentu saja nona,itu adalah minuman yang sering laris. Apa anda ingin memesan capuccino latte itu?" tanya pelayan itu lagi.
"baiklah,aku pesan itu. Lalu kau mau memesan apa?" tanyaku menoleh kearah pria yang sedari tadi diam saja,ia pun mengangguk pelan.
"maksudnya?" tanyaku tidak mengerti dengan isyarat yang ditunjukkan Zafiad barusan.
"apa tuan ingin memesan yang sama dengan nona?" tebak pelayan tersebut langsung dianggukan Zafiad.
"baiklah,berarti pesanan anda dua cappuccino latte yaa,apa ada tambahan lain?" tanya pelayan itu sambil mencatat pesanan kami.
"tidak ada itu saja." ucapku pelan.
"baiklah,tunggu sebentar yaa." pamitnya berlalu meninggalkan kami berdua dilantai dua. Memang saat itu cafe masih sepi karena masih pagi,jadinya kami adalah pengunjung pertama dicafe itu.
"ayo kita bahas tentang game yang sering kita mainkan." ajakku membuka topik.
"baiklah." ucap pelan sambil melepaskan maskernya. Aku yang melihat wajahnya sontak terkejut dan bangkit dari tempat dudukku,menatap tidak percaya pria yang didepanku ini yang tak lain adalah suamiku sendiri. Aku langsung menghentakkan meja menatapnya tajam.
Braaak
"kau?!" pekikku
Ya ampun,sialnya kenapa dunia ini begitu sempit sih? diantara pria seluruh dunia mengapa Zafiad itu adalah Zayyan?!. gerutuku kesal lalu tiba-tiba menyadari kejanggalan.
Itu artinya,dia selama ini tau kalau aku main game bersamanya? sial,arrrgh. kesalku lagi,entah berapa banyak nama binatang yang ku absen pagi ini.
Sedangkan orang yang membuatku kesal hanya terkekeh pelan melihat raut ekspresi kesalku.
__ADS_1