I Know Your Secret

I Know Your Secret
Patah Tangan


__ADS_3

Aku berdigik ngeri mendengar ucapan Zayyan yang terlihat begitu mudah dilontarkan dari mulutnya. Padahal pernikahan itu sakral bukan seperti praktek-praktek nikah yang pernah aku lakukan waktu duduk dibangku SMA dulu.


"bercanda." ledeknya beberapa detik kemudian. aku mengumpat kesal dalam hati kearah Zayyan.


Kurang ajar,sabar Dasha...sabar. gerutuku dalam hati.


"ada Gazza nggak?" tanyanya lagi tanpa berdosa. Seolah perkataan nya tadi seperti angin lalu.


"kenapa mencari Abangku?" tanyaku sedikit ketus.


"mau minjam kom—" Zayyan terdiam sebentar,lalu menoleh kearahku, "maksudku buku." ucapnya pelan.


Aku mencium bau-bau kecurigaan dibalik ucapannya,Aku menyelidik menatapnya.


"kenapa?" tanyanya sambil mengeluarkan ponselnya dari saku,seperti mengetik sesuatu didalamnya.


Tiba-tiba aku teringat lagi,komik itu sempat dibeli dengan Gazza tadi malam. Itu artinya,tujuan sebenarnya Zayyan kesini untuk meminjam komik edisi terbaru itu pada Gazza.


Ini tidak boleh dibiarkan,itu komikku. gumamku ancang-ancang mau berlari menuju kamar Abangku.


Sepertinya Zayyan menyadari raut curigaku,ia terlihat melirik sekilas kearah tangga. Kebetulan Gazza tengah menuruni anak tangga sambil memegang komik incaran kami. aku yang melihat itu langsung melesat menuju Gazza,begitu juga Zayyan.


Aku berlari kencang menaiki anak tangga dan merampas paksa komik yang dipegang Gazza,Zayyan langsung menarik komik yang ku pegang. Alhasil kami kembali tarik-menarik seperti di toko kemarin.


Gazza terkejut berusaha menengahi perseteruan kami berdua.


"ini punyaku kak." seruku menarik kuat agar lepas komik itu dari Zayyan. Zayyan terlihat tidak terima komik itu jatuh ke tanganku.


"hei,mana ada cewek baca komik beginian,sudahlah berikan saja padaku." serunya tak mau kalah.


"hei kalian sudah! sudah!" ucap Gazza menengahi kami,namun kami tidak menggubris ucapan Gazza. Kakiku tidak sengaja terpeleset sehingga kami berdua jatuh berguling-guling ditangga.


bruuuk.


Kami jatuh bersamaan,Gazza yang melihat kami sudah terjatuh langsung menolong kami.


"ya ampun kalian!" geram Gazza menolongku berdiri. Tanpa kusadari jika kepalaku tadi terlindung oleh tangan Zayyan,jadi kepalaku tidak langsung mencium ke lantai.


"aaw" rintihku sambil memegang pergelangan tanganku. Gazza langsung mengecek tanganku, "terkilir? coba aku lihat." ucap Abangku sambil memegang pergelangan tanganku.


"aw sakit bang!" gerutuku memukul tangan Gazza dengan tanganku yang satu lagi. Gazza langsung melirik kearah Zayyan.


"tangan kau bisa gerak juga nggak Yan?" tanya Gazza melihat tangan Zayyan sama cederanya dengan tanganku.

__ADS_1


Zayyan seperti menahan sakit,namun ia terus memegang lengan tangannya.


"huft,kalau begini ikut aku kerumah sakit sekarang!" ucap Gazza langsung mengambil kunci mobil dilaci.


"bang nga-ngak di amputasikan?" tanyaku takut membayangkan tanganku diamputasi.


Zayyan tampak menahan tawanya,walaupun tangannya juga mengalami cedera sepertiku,ia tidak segamblang aku mengatasi masalahnya.


Gazza menghela napas, "kita lihat saja nanti." ucapnya sambil membantuku berdiri. Zayyan berdiri sendiri dan mengikuti kami dari belakang masuk kedalam mobil Gazza.


Kini kami berada dirumah sakit,menunggu antrian akhirnya giliran kami yang masuk.


"ini kenapa bisa begini?" tanya dokter sambil mengecek pergelangan tanganku.


"jatuh dari tangga dok." ucap Gazza mengamati dokter yang tengah memeriksaku. Setelah memberikan gips padaku,barulah dokter itu memeriksa tangan Zayyan. Dokter itu tampak terkejut melihat wajah Zayyan. Zayyan seperti mengisyaratkan untuk tetap diam kepada dokter itu.


Aku yang melihat itu tidak terlalu peduli,diriku asyik memegang gips yang melekat dipergelangan tanganku. Setelah Zayyan diberi Gips,kami pun membayar administrasi dan langsung pulang.


"makanya,kalau mau komiknya ganti-gantian,tuh lihat kan tangan kalian berdua jadi kek gitu." omel Gazza sambil mengemudikan mobilnya.


"tapi kan itu komik incaranku bang,kak Zayyan tiba-tiba menyerobot aja tadi." gerutuku tidak terima disalahkan.


"enak aja,kau yang menyerobot komikku. Aku heran,kenapa gadis sepertimu suka membaca komik gini?" tanya Zayyan heran.


"sudah-sudah. Kalian ini trus berdebat nggak jelas. Pokoknya komik itu punyaku,bukan punya kalian mengerti?" usul Gazza jengah dengan perdebatan kami.


"kalau gitu,aku minjam komik itu ya bang,kau kan Abangku." bujukku agar Gazza mau meminjamkan komiknya padaku.


"eh tidak bisa begitu,Gazza kau kan sahabatku. Harusnya kau meminjamkanku duluan okee." bujuk Zayyan tak mau kalah. Aku menatap tajam kearah Zayyan yang duduk dikursi penumpang belakang.


"tidak bisa, aku duluan,aku adik kandungnya." sarkasku.


"nggak,aku sahabatnya." tolak Zayyan.


"ya ampun,sudahlah! kalian ini trus berdebat. Gimana kalau jodoh kalian,mampuslah." seloroh Gazza sambil bercanda.


"nah iyaa tuh bang,tadi kak Zayyan bahas nikah. Katanya dia mau nikah sama aku." ucapku asal membuat Gazza mengerem mendadak.


"aduuuh,bang kenapa berhenti mendadak sih?!" gerutuku sambil memegang jidatku yang terbentur dasbor mobil.


"benar tuh Yan?!" tanya Gazza menyelidik lewat kaca spion menatap Zayyan. Jangan lupakan raut syok yang muncul diwajah abangku. Aku tersenyum puas melihat Zayyan tampak terpojok.


"iya,kalau kami nikah apa kau merestui kami?" tanya Zayyan spontan membuatku tercengang menatapnya. Kali ini ia tersenyum puas melihatku.

__ADS_1


Apa? dia sudah gila yaa??. gumamku.


"kau mau menikah dengan anak pecicilan kek gini?" tanya Gazza seolah-olah tak percaya jika ada orang yang menikah denganku. Tampaknya Zayyan terlihat penasaran denganku.


"pecicilan? adikmu orangnya seperti apa?" tanya Zayyan. Gazza hendak menjawab,aku langsung menutup mulutnya. Menatap tajam kearah Gazza untuk tidak memberitahukan apapun pada Zayyan.


"apa kau takut ketahuan sifat aslimu yaa?" tebak Zayyan tepat sasaran. Namun aku berusaha tetap menetralkan ekspresiku.


"nggak,siapa juga yang ketahuan. Seperti yang kau lihat kak,sifatku gini-gini nggak ada berubah." ucapku dengan yakin. Gazza menggeleng pelan lalu mulai melajukan mobilnya.


"benarkah? entah kenapa aku tidak percaya." ucap Zayyan membuatku kesal.


Sialan,dia tidak boleh tau sifatku sebenarnya. gumamku, langsung memalingkan muka. Hanya sebentar memandang lalu-lalang jalan,aku pun tertidur.


"Sha,sha bangun." ucap Abangku samar-samar. Aku langsung membuka mata dan mengucek mataku.


"hm,sudah sampai?" tanyaku sesekali menguap.


"sudah,yok turun." ajak Abangku melepaskan seltbeltnya dan turun. Aku pun mengikutinya dari belakang. Menyadari ada yang hilang,aku pun bertanya pada Abangku.


"bang,dimana kak Zayyan?" tanyaku menyadari pria culun itu tidak ada disekitar ku.


"kenapa?kamu kangen ya sama dia?" goda Gazza,aku menatap tajam kearahnya. "cih,nyesal aku tanya sama abang." gerutuku dengan cepat berjalan masuk kedalam rumah.


"Assalammualaikum." ucapku sambil menyalami ayahku yang tengah duduk menonton tv. Ayahku sekilas melihat tanganku yang dibalut dengan gips.


"kenapa tanganmu dek?" tanya Ayah


"oh,tadi ini yah. Aku jatuh dari tangga."


"ooo,lain kali hati-hati." ucap Ayah,beliaupun kembali menonton film kesukaannya. Aku pun langsung melenggang masuk kedalam kamarku. Baru saja diriku menghempaskan ke kasur, tiba-tiba Gazza menerobos masuk kedalam kamarku.


"apa?" tanyaku sedikit kesal. Bagaimana tidak kesal,baru saja aku mau memejamkan mataku,ada saja yang mengangguku.


"dipanggil Ibu." ucapnya,ia pun langsung keluar dari kamarku. Aku menghela napas pelan,berjalan gontai ke dapur.


"aduuuh dek, kenapa tanganmu hah?" cemas Ibu langsung melihat tanganku. Aku sedikit meringis saat ibu menyentuh tanganku yang terkilir itu.


"jatuh dari tangga Bu." ucapku pelan.


"makanya lain kali,kalau melangkah tuh lihat. Jangan melamun,tuh lihat akibatnya kamu kek gini jadinya kan." oceh Ibu.


"Aku kan nggak sekali dua kali jatuh dari tangga Bu,ini udah ke sembilan kalinya aku jatuh Bu." jelasku dengan raut bangga.

__ADS_1


"ya ampun ini anak,jatuh aja malah bangga dia.Untung nggak geger otak kamu." gemas Ibu melihatku.


__ADS_2