
Aku terus mondar-mandir menunggu Zayyan pulang. Ah,suamiku itu sepertinya masih marah denganku karena masalah tadi. Daritadi aku terus menelponnya tidak diangkat olehnya membuatku sedikit frustasi.
"aiih aku nggak ingin cari masalah sebenarnya bang,kalau kau tau bakalan panjang urusannya." gumamku lagi. Ini sudah menunjukkan pukul satu siang,aku berinisiatif membuatkan makan siang untuk suamiku,ini pertama kalinya aku menghidangkan makanan yang sangat lezat dari sebelumnya.
"mantap,terdesak keadaan membuat makanan yang kubuat jadi enak gini." banggaku menatap makanan yang sudah terhidang di meja makan.
"cih,kemana sih tuh anak. Kalau dia dah datang rasanya mau aku ceburin kedalam kolam buaya!" gerutuku kesal.
"siapa yang mau kau ceburin kedalam kolam buaya hah??" seru seseorang dari belakangku. Aku langsung berbalik badan.
"heheheh kau sudah pulang yaa bang." ucapku lansgung berlari kearah Zayyan.
"hmm." jawabnya langsung duduk kursi meja makan. Melihat hal itu,aku langsung dengan sigap mengambil makanan untuk suamiku.
"nah,ini aku yang buat." ucapku sambil menyodorkan makanan yang sudah aku hidangkan. Zayyan mengangguk lalu memakannya dengan tenang tanpa berbicara satu katapun. Aku memandang resah dan cemas saat Zayyan tidak menunjukkan eskpresi rasa suka atau tidaknya hasil masakanku. Beberapa menit Zayyan menghabiskan makananku,akhirnya habis sudah. Zayyan langsung beranjak dari tempatnya dan pergi ke kamar.
"oh tidak dia masih marah. Cih,sudah dibuatin masih marah pula dia." gerutuku lagi sambil membereskan bekas makan suamiku.
Entah tangan laknat mana yang menjewer telingaku tiba-tiba,aku menggerutu kesal langsung menoleh kearah sumber tangan itu, "ish sakit tau!!" kesalku tetapi sedetik kemudian aku terkejut mendapati suamiku sudah didepan mataku.
Hah? bukannya tadi dia naik keatas yaa?? gumamku bingung.
Zayyan menjewer telingaku, "cih,kau ini masih aja menggerutu yaa walau udah melakukan kesalahan." ucap Zayyan kesal.
"aduh...aduh...aduh bang,sakit!!" jeritku berusaha melepaskan tangan Zayyan dari telingaku.
"minta maaf dulu,baru aku lepas."
"heh,kan aku nggak salah bang!"
"diam,jangan nyerocos aja. Huft,kau ini tulang rusuk siapa sih??" tanya Zayyan begitu heran dengan tingkahku.
"cih,pakai nanya. Ya tulang rusuk kau lah bang. Aku ini bagian dari tulang rusukmu,bangga nggak kalau tulang rusuknya aku??"
"nggak."
"ish,kau ini nggak romantis kali,kalau gitu aku cari suami lain lah." ketusku melenggang melewati Zayyan.
Zayyan langsung menarik tanganku, "wah parah nih anak,makin menjadi-jadi aja kelakuannya." gerutu Zayyan langsung menggedongku layaknya karung beras.
"ish,bang! turunin aku!!"
__ADS_1
"kau mau aku campakkan,trus guling-guling disini hah?" tanya Zayyan jengkel melihatku kasak kusuk diatasnya. Aku terdiam mengingat kami sedang berada ditangga,tidak lucu kan berguling-guling untuk kedua kalinya.
"bagus." ucap Zayyan lalu membawaku ke kamar. Ia pun langsung mencampakkanku ke kasur dan mencium bibirku sekilas,setelah itu ia pun beranjak mengambil sesuatu didalam tasnya.
"tuh." ucapnya sambil melempar sesuatu kearahku.
Aku menyerngit bingung,lalu mengambil barang yang baru saja dilempar itu.
Seketika mataku berbinar menatap mainan kunci yang lucu dan menggemaskan itu. "woaah ini untuk siapa bang?"
Zayyan menatap datar kearahku, "untuk orang gila diluar sana." ketusnya.
"cih,aku kan cuma bercanda doang,jangan marah yaaa..." ucapku memayunkan bibirku.
Zayyan menghela napas menghadapi orang sepertiku. "namanya Ergin kan?" tanya Zayyan tiba-tiba,aku mendongak langsung kearah Zayyan. ucapan pria itu seketika membuat suasana seperti awan cerah kini langsung suram.
"iya." jawabku tetapi dengan nada penuh keraguan.
"kenapa kau bisa berurusan dengannya?" tanya Zayyan menatapku tajam. Aku menelan saliva, "kau tau bang,waktu kami ke pantai. Ada seseorang yang memberikanku flashdisk."
"flashdisk?"
"emang apa isinya?" tanya Zayyan menatap benda kecil itu.
"isinya....tentang Elisa."
"Elisa?"
"iyaa,dalam flashdisk itu isinya kejadian kecelakaan kakaknya Elisa."
"bukannya kau bilang Elisa anak tunggal?"
"nah itu dia,aku juga baru tau pas tiga bulan yang lalu. Tapi,sampai sekarang aku masih belum berani bertanya pada Elisa."
"kau harus menanyakan itu Sha,atau urusan ini akan panjang nanti. Elisa terlibat dan kau juga. Aku tidak mau hal yang tidak diinginkan terjadi padamu!"
Zayyan mengambil ponselku dan mencari nomor Ergin,dan menyalin nomor pria yang mengangguku.
"kau mau kemana lagi bang?" tanyaku menatap was-was melihat Zayyan hendak keluar dari kamar. Zayya tersenyum miring padaku membuatku seketika merinding.
"ka-kak kau tidak akan macam-macam kan?" tanyaku pelan.
__ADS_1
Zayyan menggeleng, "aku tidak seceroboh itu Dasha." ucapnya lalu menatapku, "lebih baik kau tenang aja disini,jangan kemana-mana sampai aku kembali!" titahnya langsung menutup pintu.
"semoga dia nggak melakukan sesuatu,please." harapku cemas,dengan cepat aku berjalan menuju balkon untuk melihat suamiku menaiki mobilnya dan melaju meninggalkan perkarangan rumah.
"sial,bagaimana ini??" cemasku lagi. Suamiku itu diam-diam menghanyutkan. Pria itu memang pendiam tetapi sekali marah bagaikan monster yang ingin menerkam siapa saja.
Mengingat hal itu membuatku teringat sewaktu masa sekolah,dimana aku pernah melihat Zayyan dengan brutal menghajar beberapa anak murid sekolah lain. Aku sangat terkejut dan syok melihatnya tanpa ampun menghajar semuanya. Untung saja Zayyan waktu itu tidak melihatku bersembunyi dibalik semak.
Aku langsung melirik kearah ponselku dan tertuju dengan nama Ergin,yang nama itu sering mengganggu ketenanganku selama Zayyan pergi kemarin.
"hmm dimana flashdisk tadi?" gumamku mencari flashdisk itu,mataku langsung melirik kearah meja belajar Zayyan. Dengan cepat aku menggapai flashdisk yang tergeletak diatas meja tanpa sengaja aku menjatuhkan buku milik Zayyan.
"eh ini buku apa?" tanyaku bingung,aku langsung memungut buku itu dan tanpa sengaja aku melihat foto-foto didalam buku itu.
"eh?" tanyaku bingung sekaligus terbaru menatap semua foto-foto yang tersusun rapi didalamnya. Lengkap dengan tanggal dan teks disetiap foto.
Aku tersenyum tipis menatap foto waktu aku masih sekolah dulu,memang banyak kenangan pahit tetapi semua itu sudah berlalu. Lalu aku berpindah ke halaman selanjutnya,dan tertegun melihat fotoku saat tidur dikelas.
"hah? kapan dia fotoin yang ini?" gunamku lagi. Lalu aku melirik kearah tulisan dibawah fotoku itu.
she Mine.
Dua kalimat itu sudah membuatku terjingkat-jingkat senang. Senyumku terus mengembang lebih lebar dari yang tadi.
"tidak kusangka,dia menyukaiku dari SMA dulu. Padahal aku tidak pernah berpikir seorang pria tampan akan menyukai penampilan culunku itu." gumamku pelan.
"benar,karena itu bagus untukku." ucap seseorang membuatku terkejut dan menoleh kebelakang.
"what? bang? kau disini bukannya—"
"aku tadi mau mengambil sesuatu sebelum pergi,tapi saat melihat seseorang ada yang membuka buku kesayanganku membuatku urung untuk pergi." ucapnya tersenyum smirk kearahku.
Tunggu,kenapa dia seperti ingin menerkam ku? gumamku lagi menatap heran kearahnya yang semakin mendekat kearahku.
"ka-kau mau apa bang?" tanyaku lagi. Zayyan tidak menjawab bahkan ia semakin maju mendekatiku dan mengukungku dikasur.
Deg. Netra mata kami bertemu, seolah-olah dunia berhenti menatap mata coklat yang indah milik pria itu.
"ka-kau mau apa bang?" tanyaku lagi panik.
"aku mau kau." ucapnya sambil mencium bibirku lembut. Lalu ia kembali menatap mataku, "aku mencintaimu istriku dan kau adalah milikku seutuhnya." ucapnya lagi lalu kembali mencium bibirku.
__ADS_1