
Aku menikmati rujak hasil buatanku sendiri tanpa memperdulikan tatapan aneh yang ditunjukkan suamiku.
"kau mau bang?" tawarku kearahnya. Zayyan menggeleng pelan, "tidak, terimakasih." ucapnya lalu matanya beralih kearah perutku menbuatku bingung.
"kenapa kau memandang perutku?" tanyaku heran.
Zayyan tersenyum tipis, "kapan kau terakhir haid sayang?" tanyanya menatapku. Aku lagi-lagi mengernyit heran,entah kenapa tiba-tiba suamiku membahas halanganku.
Aku tampak berpikir sejenak, "hmm entah,aku tidak tau. Datang bulan ku tidak beraturan bang." kelasku langsung dimangut-mangut olehnya.
"hump,ternyata sudah ada isinya." ucapnya tersenyum lebar,aku yang tidak tau maksud Zayyan menoleh kearahnya.
"maksudmu perutku ini ada isinya?" tanyaku langsung dianggukan oleh Zayyan.
"iyalah,orang aku tiap hari makan terus tanpa henti,makanya buncit kayak gini. Apa aku terlihat jelek yaa??" aku merasa tidak percaya diri dengan bobot tubuhku saat ini. Tadi,saat aku timbang berat badanku naik drastis.
Zayyan tertawa pelan sambil menepuk keningnya sendiri, "nggak kok,hari ini kamu mau nginap di rumah Elisa kan?" tanya Zayyan menghampiriku,aku mengangguk, "iyaa."
"okee,besok kamu pulang sama aku,kita singgah kesuatu tempat sebentar." ucapnya sambil memegang pergelangan tanganku seperti ingin mengecek sesuatu.
"kenapa bang? ada yang salah?" tanyaku ikut memandang pergelangan tanganku dipegang olehnya.
Zayyan tersenyum sambil menahan tawa, "nggak ada,aku hanya mau ngecek aja." selorohnya lalu mengacak rambutku.
Zayyan langsung mengecup keningku pelan lalu ditatapnya mataku dalam, "dengar,mulai hari ini kau tidak boleh berlari kencang,kecapean,atau stres Dasha. Kau harus menjaga pola makanmu,sama banyak minum susu." jelas Zayyan tetapi aku mendongak melongo kearahnya.
"kenapa aku dilarang lari? apa hubungannya dengan pola makan?"
Zayyan lagi-lagi menahan tawanya, "kalau kau lari,kau bakalan menyesal." ucapnya lagi.
"hm,kau tidak ada mau sesuatu kan? kalau ada bilang aja,biar aku belikan." tawar Zayyan,Aku merasa heran langsung memukul kepalanya.
"damn! apa yang kau lakukan?!" gerutu Zayyan.
"aku memastikan kau tidak terbentur sesuatu bang,kau sangat aneh." ucapku tanpa berdosa. Zayyan menghela napas sejenak,tampak pria itu terlihat menahan amarahnya.
"heh bang,kau tidak boleh mengumpat lagi!" titahku menatapnya.
"kau sendiri juga jangan mengumpat lagi." serunya tak mau kalah. Aku menghela napas dan terlintas ide cemerlang.
"bang,mau taruhan lagi nggak?" tanyaku menaikkan alis satu.
Zayyan menatapku curiga tetapi telinganya masih ingin mendengar penjelasan ku. "taruhan apa?"
__ADS_1
"siapa yang mengumpat dia harus bayar denda!" seruku membuat Zayyan tersenyum seringai.
"kayaknya menarik,aku setuju." ucapnya dengan penuh makna. Entah apa yang dipikirkan pria itu sehingga langsung menyetujui usulanku tanpa memprotes terlebih dahulu.
Mungkin dia lagi goodmood,ya sudahlah. gumamku lagi.
"tapi ada syaratnya," ucap Zayyan tiba-tiba.
"apa?" tanyaku penasaran.
"taruhan ini berlaku selama sembilan bulan kedepan." serunya tersenyum puas.
"hah? sembilan bulan? kenapa lama sekali?"
"nggak lama,tengok aja nanti. Uang taruhan kita siapa tau berguna untuk masa depan." jelasnya lagi sambil menahan tawa. Dapat kulihat rautnya kini tampak bahagia dari biasanya.
"kau sepertinya lagi happy banget yaa bang?" tanyaku membuat Zayyan mencubit pipiku dengan gemas.
"iyaa sayang." serunya lagi. Aku menggaruk kepalaku tidak gatal, "emangnya apa yang membuat kau senang?" tanyaku penasaran.
"pokoknya adalah,besok kau akan tau." ucap Zayyan bersenandung riang menuju kedapur,sedangkan aku hanya menggaruk tengkukku tidak gatal dan berjalan menuju kamar.
"bang,aku ke kamar yaa mau siap-siap." teriakku pada suamiku.
Aku meringis kesakitan menahan keram perutku,Elisa begitu ketakutan segera menelpon Zayyan.
"kak Za-zay!" seru Elisa saat teleponnya diangkat oleh suamiku. Aku tidak terlalu mendengar perbincangan mereka karena menahan sakit yang kurasakan.
"Dasha sabar sebentar,bentar lagi kak Zayyan datang. A-aku ambil air dulu." seru Elisa melesat keluar.
Kenapa sangat sakit gini? ada apa dengan perutku? apa aku salah makan? gumamku meringis menahan rasa sakit.
Tak lama kemudian,Zayyan datang berlari kearahku.
"Dasha, Dasha yang mana yang sakit?" tanyanya begitu cemas. Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya karena masih menahan sakit yang luar biasa. Tanpa basa-basi Zayyan langsung menggedongku dan membawaku keluar kamar Elisa.
"dimana Elisa?" tanyaku bingung melirik ketidakberadaan sahabatku itu.
"kau pikir dirimu dulu,baru sahabatmu itu. Tarik napas dalam Sha,biar nyerinya berkurang." seru Zayyan,aku pun mengikuti instruksi suamiku. Dengan perlahan Zayyan meletakkan duduk dikursi penumpang disebelah kursi kemudi barulah pria itu duduk dikursi kemudi. Zayyan langsung menancapkan gas keluar dari perkarangan rumah Elisa.
"****!!" umpat Zayyan saat melihat kemacetan yang panjang didepan mobil kami.
disela-sela aku meringis menahan sakit,aku langsung menoleh kearah Zayyan, "bang kau kena denda!!" lirihku langsung disambut tatapan tajam oleh Zayyan.
__ADS_1
"astaga Dasha,masih sempat pula kau membahas itu?!" tanya Zayyan tak percaya.
"taruhan tetaaplah taruhaan." lirihku langsung disambut jitakan oleh Zayyan.
"haiiss bisa-bisaaa." gerutu Zayyan.
"aww sakit bang!!" gerutuku menatap tajam kearahnya.
"makanya diam dulu! nih aku lagi nyari jalan tikus." tukasnya celingak-celinguk melihat jalan kecil.
Macet yang panjang pasti akan membutuhkan waktu yang lama untuk sampai kerumah sakit. Zayyan harus berputar otak untuk mecari jalan kecil itu,setelah mengetahui jalan kecil itu bisa tembus kerumah sakit,tanpa berpikir panjang Zayyan langsung membelokkan mobil menuju jalan itu. Aku sempat berpegangan dengan handle pegangan tangan mobil saat Zayyan membawa mobil seperti pembalap yang sering muncul difilm barat.
Akhirnya kami pun sampai dirumah sakit walaupun tadi nyaris menabrak seorang nenek yang melintas dijalan sempit tadi. Aku sempat mengumpat saat ketakutan melihat kejadian tadi.
Zayyan langsung menggedongku dan meletakkan ku duduk dikursi roda. Dengan cepat pria itu berlari kecil menuju ruangan obygen. Zayyan langsung menemui dokter yang ada disana.
"tuan Zayyan? ada apa kesini?" tanya dokter itu terkejut melihat kami masuk ke ruangannya seperti dikejar penjahat.
"periksa istriku sekarang juga!" titah Zayyan cepat pada dokter itu.
Dokter itu sempat melirik kearah perutku,dan mengangguk paham. Ia pun langsung meminta Zayyan untuk meletakkanku diatas kasur.
Dokter itu dengan tanggap menyingkap bajuku,lalu memberikan gel pada perutku. Sedangkan aku menyerngit bingung dengan apa yang dilakukan dokter itu tetapi aku membiarkan dokter itu melakukan tugasnya.
Aku sedikit geli saat benda itu menelusuri perutku. Zayyan menatapku dengan tajam, "Dasha tenanglah dulu!" serunya menatapku yang Kasak-kusuk saat diperiksa.
"aku penggeli bang hehehehe." ucapku pelan lalu terkekeh lagi saat dokter itu kembali menelusuri perutku sambil memandang monitor didepannya.
Zayyan menatap antusias layar monitor itu yang aku tidak tau apa yang dilihatnya. Dokter itu tersenyum tipis lalu menatap Zayyan.
"Alhamdulillah nggak kenapa-kenapa kok,cuma dia keram aja. Ini biasanya kecapean." terang dokter itu mengenai kondisiku saat ini.
Benar juga, saat dilirik tajam sama Zayyan rasa sakit diperutku hilang. Aneh kan? gumamku lagi memandang perutku ini.
"saya kenapa yaa dok? apa saya terlalu makan banyak makanya kram yaa?" tanyaku menatap keduanya. Dokter yang mendengar pertanyaanku barusan mengulum senyum sedangkan suamiku menepuk keningnya pelan.
"bukan nyonya,nyonya saat ini sedang berbadan dua dan usia kandungan nona sudah menginjak tiga bulan." jelasnya lagi.
Aku berooria sambil mengangguk paham,namun sedetik kemudian aku mendongak kearah Zayyan dengan tatapan terkejut.
"tunggu maksudnya apa ya?" tanyaku lagi.
"kamu hamil sayang." ucap Zayyan menatap kearahku.
__ADS_1
Aku mengedipkan mataku beberapa kali,mencerna ucapan yang baru saja Zayyan lontarkan. Aku menunjuk kearah diriku sendiri. "eh Hamil?aku?"