
Zayyan melepaskan pelukannya dan memandang Gazza dengan tatapan aneh, "kenapa kau memelukku bodoh,nggak normal." gerutunya pelan membuat Gazza memukul kepala Zayyan.
"idih,aku memeluk Dasha,bukan kau bodoh." kesal Gazza.
"ngapain kau memeluk istriku hah?!" protes Zayyan tidak terima.
"dia adikku sialan,nggak ada yang salah pun,kita muhrim." ucap Gazza tegas.
"ya tapi kan,jangan main meluk juga lah. Aku suaminya ada disini,ngapain kau ikutan meluk dia??"
Gazza kesal mengepal tangannya ke udara didepan Zayyan. Cukup gemas dia dengan kelakuan Zayyan yang semakin aneh sejak menikah denganku.
"Dasha,kembalikan sahabatku yang dulu!!" gerutu Gazza menatapku kesal.
"ish,bisa kalian tenang sebentar?? aku ini abis diambang Kematian,liat tanganku ini terlikir dan kepalaku berdarah dan kalian bisa-bisanya berdebat diwaktu seperti ini." kesalku bergegas berdiri,dengan langkah tertatih-tatih berjalan menjauh dari mereka. Zayyan dan Gazza langsung menyusulku dan masing-masing memegang tanganku. Yang sebelah kananku Gazza dan yang sebelah kiriku Zayyan.
"auuw sakit bang!!" ringisku saat Gazza memegang lenganku yang terkilir itu. Gazza langsung melirik tanganku dan memeriksanya.
"tanganmu bengkak Sha." ucap Gazza.
"iyaa tanpa kau kasih tau pun,aku pun tau bang." ketusku melepaskan tanganku dari mereka. Percuma ada dua orang tenaga kesehatan tetapi hanya menyusahkanku saja. Aku berjalan pelan menuju tenda,lalu mengambil sebotol air mineral dan meminumnya.
Fyuuh,ternyata aku masih selamat? gumamku pelan dalam hati mengingat kejadian yang baru saja aku alami,tidak percaya jika sekarang aku selamat dari maut. Aku melirik kearah luar tenda menampakkan keluargaku tengah berbincang serius,aku yakin mereka membicarakanku tadi.
Aku memegang kepalaku pelan,ada sebercak darah yang menempel di jariku,aku mengambil handuk kecil lalu aku membasahi handuk tersebut. Aku mengusap pelan kepalaku sambil meringis pelan menahan sakitnya.
Aku terkejut saat ada yang tiba-tiba mengambil alih handuk yang kupegang,aku mendongak kearah orang tersebut yang tak lain adalah Zayyan. Zayyan dengan raut yang susah diartikan sambil mengelus kepalaku pelan. Aku menyerngit bingung menatapnya yang tidak seperti biasanya.
"kenapa?" tanyaku pelan,Zayyan hanya diam sambil mengobati luka dikepalaku. Aku merasa kesal lalu menangkup wajahnya agar aku bisa melihat wajahnya. "Bang Zayyan katakan ada apa??" tanyaku menatap lekat suamiku. Zayyan hanya menatapku tanpa menjawab pertanyaanku membuat aku menghela napas kasar. Baru saja aku hendak berdiri tiba-tiba pria itu menarikku duduk di pangkuannya,ia pun memelukku erat. Aku yang kebingungan hanya diam menunggu penjelasan darinya.
"jangan pergi."
__ADS_1
Deg. Aku melirik kearahnya,lalu menepuk punggungnya pelan. Aku merasa ada aura lain yang ditunjukkan suamiku,dan aku tidak suka akan hal itu. "aku tidak akan pergi bang,kau sudah menyelamatkanku." ucapku pelan.
"maaf,seharusnya aku tidak mengajakmu kesana. Harus—"
"kau tidak perlu menyalahkan dirimu bang,tenanglah dan lihat aku." ucapku sambil menangkup wajahnya lagi. "lihat? aku masih disini bersama mu bang,kau tidak perlu khawatir lagi. Aku disini karena mu,kau dengan nekat menyelamatkanku tanpa memperdulikan nyawamu sendiri bang. Harusnya aku yang berhutang nyawa padamu." ucapku sambil mengelus kepalanya.
"kau sekarang memanggilku dengan sebutan Abang." ucapnya terkekeh tanpa sadar aku memanggilnya dengan sebutan itu.
"fyuuh trus kau mau aku panggil apa?" tanyaku pelan. Zayyan mendongak kearahku, "Sayang." ucapnya spontan membuatku terkekeh pelan.
"hmm terserah kau sajalah." ucapku pasrah,Zayyan langsung menurunkanku dari pangkuannya dan menatap tanganku yang terkilir karena jatuh tadi.
"sakit?" tanyanya pelan,sambil mengusap dengan minyak.
"sebenarnya tadi nggak sakit. Tapi,kau menarikku dengan kuat bang!!!" gerutuku mengingat kejadian dimana Zayyan dengan seenaknya menarik tanganku yang terkilir,entah seperti apa ekspresi ku tadi menahan rasa sakitnya.
"o." ucapnya singkat,padat,dan jelas. Tiba-tiba Ibu menghampiri kami, "ayoo makan." ajak Ibu. Aku mengangguk pelan, lalu menoleh kearah Zayyan.
"bang,Ibu tau kalau tad—"
Setelah selesai sarapan,kami pun langsung membereskan peralatan dan alat-alat kami,dan bersiap-siap untuk pulang. Aku memastikan barangku sudah masuk kedalam ranselku,begitu juga dengan tas suamiku.
"cih,jadi dua kali kerja." gerutuku pelan. Setelah merasa siap sudah siap,kami pun berjalan kaki menuju keluar tempat mobil kami diparkirkan. Saat barang-barang sudah masuk semua,Zayyan menoleh kearah pohon beringin tak jauh dari mobil kami.
"kau tau Sha,katanya pohon beringin itu ada penunggunya." ucap Zayyan berbisik kearahku,spontan aku melotot kearahnya.
"jangan membahas hal yang aneh-aneh!!" seruku tidak suka. Jelas aku tidak menyukai cerita hal yang mistis yang membuatku ketakutan. Walaupun tidak percaya namun tubuh ini berkhianat seolah-olah percaya jika makhluk gaib itu ada.
"aku tidak membahas hal yang aneh Sha,ini memang pernah terjadi. Dulu aku pernah kesurupan." ucap Zayyan
"serius?? yang benar ajalah."
__ADS_1
"iyaa serius,kalau nggak percaya tanya sama kakek." ucapnya terlihat asal.
"aku tidak percaya." ucapku dengan yakin,namun Zayyan tertawa meledekku. "kau takut yaa??"
"Siang bolong gini takut?? yang benar saja. Aku ini Dasha,tidak takut dengan siapapun kecuali Tuhan. Untuk apa aku takut dengan manusia? kan sama sama makan nasi." seruku.
"bukan manusia bodoh,makhluk gaib." ucap Zayyan mengoreksi ucapanku.
"hei bang,manusia sama makhluk gaib apa bedanya?" tanyaku menatap Zayyan.
"ya jelas lah manusia bisa dilihat,kalau makhluk gaib nggak. Masa itu jadi pertanyaan pula??"
"nah itu kau tau. Kalau tidak terlihat untuk apa kita takut. Selagi kita nggak mengganggunya,dia nggak bakalan berani mengangguku."
Praang
Aku spontan menoleh kebelakang,dan tidak menemukan siapapun. Memang Ibu dan Ayah sudah duluan dengan Gazza. Tinggallah kami yang berjalan seperti siput.
"su-suara apa itu??" tanyaku menoleh kanan-kiri,Zayyan langsung memegang kedua pundakku dari belakang, "hantu nggak??" ucapnya menakutiku.
"jangan menakutiku bang!!!"
"lah,kau sendiri yang bilang,kau tidak takut dengan siapapun. Nah ini aja kau sudah takut padahal makhluknya belum muncul." ledek Zayyan membuatku langsung menginjak kakinya kuat.
"sial." umpat Zayyan meringis memegang kakinya yang habis ku injak tadi. Aku menggeleng pelan dengan yakin bahwa makhluk gaib tidak akan pernah menganggu manusia kecuali manusia sendiri yang mengganggu makhluk itu.
"Dashaa!!! Zayyaan!!! kenapa jalan kalian lama sekali??!" teriak Gazza dari kejauhan,abangku itu sudah naik kedalam mobil.
"tungguin." ucapku sambil berlari kecil kearah Abang, Zayyan langsung menahan lenganku.
"kenapa???" tanyaku kesal.
__ADS_1
"kau itu ceroboh sekali,kakimu itu baru terkilir kemarin,trus tanganmu juga tadi,besok bagian apa lagi terkilir hah??" tanya Zayyan gemas melihatku.
Aku menggaruk tengkukku tidak gatal sambil tersenyum cengir kearahnya, "hehehehe."