
Aku masih terus meratapi nasib memandang pria tak berdosa itu makan dengan tenang. Sesekali aku menyeka air liurku agar tidak jatuh memandang pria itu asyik makan tanpa memperdulikan seseorang didepannya tengah kelaparan.
Sebenarnya bukan salah Zayyan,tapi dirikulah yan memiliki gengsi terlalu tinggi,Aku juga menggerutu kesal dalam hati mendapati pesan dari Gazza ia sedikit telat datang karena urusannya diluar. Mungkin memakan waktu 1 jam baru ia datang.
kruyuuuk.
Perutku sudah berbunyi berkali-kali ingin diisi. Aku hanya bisa meneguk habis air mineralku.
"Dimana Gazza?kenapa lama sekali dia datang?" tanya Zayyan setelah menghabiskan makanannya,ia pun langsung meminta tolong padaku untuk membuang kan sampahnya.
"kenapa harus aku?" tanyaku kesal sambil memegang kantong kresek bekas sisa makanan Zayyan.
"apa kau tidak lihat aku sedang apa disini?" tanyanya menunjukkan tangannya diinfus.
"kau sedang sakit disini,ya tapi kenapa harus aku yang buang sampahnya. Kau kan bisa meletakkan diatas nakas dulu." gerutuku menatap kesal kearah Zayyan.
"tidak,tidak. Aku tidak ingin bau makanannya tambah meluas. Ayolah tinggal buang sampahnya keluar kok." ucapnya sambil meneguk segelas air putih. Aku menghela napas lalu menyambar Katong kresek itu dengan cepat keluar,lalu membuang sampahnya keluar.
kruyuuuk.
Perutku kembali memanggil,aku hanya bisa mengelus perutku yang keroncongan itu. Aku pun langsung menelpon Gazza.
"hallo bang." ucapku saat teleponku masuk.
"hm?"
"kapan datang kesini?" tanyaku mulai jengah dan lapar terlalu lama menunggu Abangku itu.
"apanya?"
"huft,kau dimana bang? jemput aku."
"aku dirumah,bentar lagi makan." ucapnya santai dari sana.
Bagai disambar petir,emosiku langsung meningkat. "tunggu,apa kau bilang bang? lagi makan?!"
"iyaa,bentar lagi aku kesana." ucapnya langsung mematikan ponselnya sepihak. Aku mengumpat kesal dalam hati memandang layar ponselku yang sudah berwarna hitam.
Abang kampret!!! Aku disini keroncongan nungguin dia,dia malah enak-enakan makan dirumah,awas kau bang tunggu pembalasanku!!!. kesalku sambil menatap nyalang ponselku. Aku langsung berjalan cepat masuk kedalam ruangan Zayyan.
__ADS_1
"kenapa kau kayak singa gitu?" tanya Zayyan menatap aura tidak bersahabat dari raut wajahku.
"aku sedang kesal,jangan ganggu aku." ucapku penuh tekanan,dan duduk disofa sambil memijat kepalaku.
"wiih marah dia." ucapnya santai sambil menikmati cemilan makanan ringan ditangannya. Aku seketika menyadari suatu yang janggal,lalu dengan cepat aku menoleh kearah Zayyan yang asyik makan makanan ringan itu.
"woi itu punyaku sialan!!!" pekikku saat menyadari makanan ringan yang dimakan Zayyan adalah punyaku. Zayyan menatapku tanpa berdosa lalu melirik kearah makanan ringan yang dipegangnya saat ini.
"maaf habis,aku tidak tau itu punyamu." ucap sambil menunjukkan senyuman itu.
Ah sial,habis sudah makananku. ckckckck apa sekarang aku ditakdirkan mati?. Gumamku menutup mata.
"jangan bilang kau belum makan." ucap Zayyan membuatku menatap kearahnya. Ia tergelak melihat wajah lusuhku,spontan aku langsung menangkap sebungkus roti yang barusan dilempar Zayyan.
"nah,itu untukmu." ucapnya sambil memperbaiki posisi kacamatanya,seperti biasanya tampang culunnya masih melekat dalam diri pria itu.
"akhirnya peka juga,thanks." ucapku menyudahi sikap gengsiku yang nggak jelas ini. Lebih baik mengisi perutku dengan roti ini daripada tidak sama sekali.
"kau kayak nggak makan berhari-hari." kekeh Zayyan melihatku makan dengan lahap. Aku tidak memperdulikan ocehannya,dengan lahap aku memakan roti itu.
"Dasha,ada yang mau aku bicarakan." ucap Zayyan mulai tampak serius,Aku memandang heran kearahnya.
"hmm kau punya pacar?"
"apa aku terlihat seperti punya pacar,hei dengar baik-baik kak Zay,aku ini pemegang prinsip say no pacaran. Jadi aku tidak punya pacar." jelasku padanya.
"kenapa kau tidak mau pacaran? apa alasanmu?"
"kenapa kau ingin tau hal itu?"
Zayyan tampak salah tingkah,ia pun berdeham sebentar. "tidak perlu dijawab." ketus Zayyan. Aku menghela napas,lalu berjalan kearahnya. Duduk disisi kasur Zayyan.
"aku tidak ingin terikat hubungan tidak jelas. berpacaran menurutku hal yang sangat membuang waktu. Apalagi itu hanya sementara,bisa putus kapan saja," jelasku menatap kosong kearah depan.
"sudah banyak aku lihat orang yang berpacaran,banyak aja masalahnya. Misal si cowok larang si cewek melakukan apapun,padahal kan si cewek bisa melakukan apa yang dia mau. Lagian si cowok banyak larangannya. Padahal dia bukan siapa-siapa. Kecuali ayah atau suamiku barulah berhak ngomong kayak gitu." jelasku lagi.
"baguslah kalau gitu,aku bisa minta tolong padamu." ucap Zayyan membuatku menoleh kearahnya.
"apa?"
__ADS_1
"ayo kita menikah." ajak Zayyan menatap lekat kearahku,Aku menyerngit bingung dan aneh menatap Zayyan setelah mengucapkan kalimat itu.
"tolong,jangan bercanda tentang hal itu." ketusku tidak suka setiap Zayyan membahas tentang hal itu. Entah apa yang dipikirkan pria itu sampai-sampai ia meminta menikah denganku.
"sekarang aku tanya kau." ucap Zayyan sambil menatapku lurus. Kali ini tidak ada raut bercanda diwajahnya,aku sedikit takut dengan permintaan Zayyan yang tidak-tidak.
"apa?" tanyaku pelan berharap pertanyaannya tidak ambigu.
"aku ingin menikah karena sepertinya seru." ucap Zayyan tampak semangat. Aku menyerngit bingung, "seru darimana?" tanyaku.
"ya seru,kau tau kita bisa meminjam komik versi itu bersama kalau sudah nikah. Trus keliatannya kita satu server kalau soal pemikiran tentang pacaran." ucap Zayyan pelan.
Aku tercengang dengan alasannya,Aku langsung menepuk tangan seolah bangga dengan yang diucapkan Zayyan,alasan itu sangatlah tidak masuk akal.
"woah luar biasa,kau menikahiku karna biar kita baca komik sama? ya ampun kak,kau orang pertama yang membuatku tercengang mendengar hal itu terlontar dari mulutmu. Ckckckck keuntunganku disini apa?" tanyaku penasaran memandang Zayyan.
Zayyan yang awalnya kira diriku tidak setuju dengan usulannya,terkekeh pelan melihat raut antusiasku menunggu penjelasannya.
"ku kira kau tidak setuju." cibirnya pelan,aku menggerutu,"hei aku belum mengatakan setuju yaa,tolong jelaskan keuntunganku disini bro."
"hmm,hidupmu terjamin. Aku akan nafkahin kau sebulan 10 juta dan kau juga bebas dari jeratan laki-laki liar diluar sana." ucap Zayyan mengambil ponselnya.
"kau mau pernikahan ini rahasia atau umum?"
"terserah saja,aku sih tidak peduli mau rahasia atau nggaknya. Gimana kau setuju menikah denganku?" tawar Zayyan menatapku.
Aku tampak berpikir pelan,
10 juta jika aku kumpulkan,aku bisa beli PC Gaming. Hmm sepertinya sangat menarik tawarannya. Lagian benar juga sih yang dibilangnya,kalau aku menikah otomatis tidak ada yang mendekatiku lagi. Ya sudah deh terima aja. pikirku sampai aku memutuskan pilihanku.
Aku menatap sebentar kearah Zayyan,Saat aku ingin mengatakan setuju Aku teringat Ayah dan keluargaku dirumah. Mereka pasti akan syok terapi jika mendengarku menikah tiba-tiba,lagi pula waliku adalah Ayah. Ayah harus tahu tentang hal ini.
"kak Zay,kalau iya kau menikah denganku. Berani nggak bicara sama Ayah ngomong ini?" tanyaku sedikit menantang Zayyan.
Zayyan terdiam sejenak,lalu ia mengangguk pelan. "baiklah,aku akan ngomong dengan Ayah." ucapnya mengambil keputusan.
Aku tersenyum, "baiklah aku setuju." ucapku mantap. Zayyan langsung mengadah tangannya hendak melakukan tosnya padaku,aku langsung memberi tos ku padanya.
Tidak ku sangka,bisa-bisanya dengan gampang ditahun, bulan,hari,jam,menit, detik yang sama. Aku malah menerima dan setuju menikah dengannya. Padahal aku belum mengenal lebih dalam tentang pria disampingku ini,dan dengan gampangnya aku menerima lamaran dadakannya itu.
__ADS_1
Semoga saja,keputusanku benar. ungkapku dalam hati. Aku penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya??