
"Fyuuh,selesai." ucapku saat melihat rumah sudah seperti semula. Tepat disaat aku selesai,ibu dan ayah datang.
"ayah ibu." panggilku saat mereka baru saja masuk. Aku langsung mengambil alih barang yang mereka bawa dan membawanya ke dapur.
"dimana Gazza?" tanya Ayah menatap putra sulungnya tidak ada disini. Aku menoleh kearah Ayah, "katanya dia pergi kesuatu tempat Yah,tapi Dasha nggak tau kemana dia." jawabku pelan,lalu ayah mengangguk dan masuk kedalam kamarnya.
"sate kalian ada didalam kantong tadi,ibu mau istirahat dulu." ucap Ibu berjalan kearah kamar.
"hmm ibu." panggil Zayyan berlari kecil kearah ibu,ibu menoleh kearah Zayyan.
"ada apa?" tanya ibu menatap menantunya.
"bagaimana keadaan kakek?" tanya Zayyan pelan.
"Alhamdulillah dia baik-baik saja,kau tidak usah khawatir. Sekarang kakek udah pulang." ucap Ibu membuat Zayyan tampaknya lega. Setelah berbincang dengan ibu,ibu langsung pergi ke kamarnya.
"oh tidak metimeku." ucapku pelan.
Zayyan menarik tanganku ke kamar. Sambil menunjuk kardus-kardus yang terkumpul dilantai kamarku. "lebih baik kau cepat menyelesaikan tugasmu Sha, bisa-bisanya kau metime dengan santai." cibir Zayyan membuatku menatap datar kearahku.
"cih,kau ini tidak senang melihat orang bahagia."
"justru itulah aku memaksamu mengerjakannya agar kau bahagia nantinya." ucap Zayyan membuat telak bagiku.
"ck, yalah...yalah. Tapi kau harus membantuku kak." ucapku smabil menarik tangan Zayyan. Pria itu hendak berjalan keluar kamar,tetapi aku menahan langkahnya.
"untuk apa aku membantumu? kerjakan sendiri." ucapnya lagi. Aku menggeleng pelan, "nggak,ayolah kak. Tapi katanya kau mencintaiku..." ucapku lembut membuatnya berbalik menatapku.
"astaga singkirkan tampang imutmu itu,atau aku kehilangan kendali." ucapnya terlihat ambigu menbuatnmku menautkan satu alis keatas menatapnya, "maksudnya?"
"lupakan saja,apa yang harus aku bantu?" Zayyan duduk bersila sambil memegang beberapa kardus ditangannya.
"nah,aku harus buat sketsanya dulu kak,bentar." ucapku berjalan kearah meja belajarku mengambil kertas dan alat tulisku.
Aku mulai menggambar desain rumah yang ingin kubuat,padahal tadi aku belum mendapatkan ide apapun. Tapi saat melihat Zayyan membuatku seketika mendapat ide untuk tugasku.
Aku mulai menggambar sketsa denah rumah yang akan kami buat,Aku merasa ada yang menatapku,lalu mendongak menatap Zayyan yang tengah menatapku lekat sedang menghambar.
"kau jangan liatin aku kek gitu kali kak,aku jadi malu nih." ucapku memalingkan wajah.
"cantik." ucap Zayyan membuatku mendongak kearahnya tidak percaya.
"a-apaa?" tanyaku gugup.
__ADS_1
Astaga Zayyan kau membuatku gugup!!!. gerutuku pelan dalam hati.
"gambar rumahnya cantik,lanjut lagi gambarnya." ucap Zayyan membuatku kesal seketika.
Cih,ku kira aku yang dipuji tadi,sialan. sesalku sempat terlena karena pujian pria itu. Aku menyelesaikan cepat tugasku.
"kenapa kau suka menggambar?" tanya Zayyan menatap gambarku. Aku mendongak kearahnya, "hobi,kalau menggambar itu rasanya seru bagiku." ucapku. Zayyan manggut-manggut paham,setelah aku menyelesaikan gambarku,kini kami beralih ke arah kardus.
"kak,tolong potong kardusnya sesuai yang ku garis yaa." ucapku sambil menyodorkan gunting dan potongan kardus yang sudah kugaris.
"hmm." jawabnya langsung melaksanakan apa yang kuperintah tadi.
"kak,aku mau nanya sesuatu nih." ucapku disela-sela kami mengerjakan tugas,Zayyan menoleh kearahku.
"apa?"
"kenapa kau berpenampilan culun kak?" tanyaku penasaran. Memang sudah lama sih,aku penasaran dengan hal ini.
"tidak adaa,hanya saja aku ingin mencobanya jugaa."
"hmm apa kau tidak sakit hati di bulli,dicaci karena penampilan mu kak?"
"Untuk apa aku memperdulikan perkataan orang. Terserah mereka mau mengatakan apa,aku pun tak peduli." jelasnya lagi.
"kau berniat bunuh diri kan waktu itu?" tanya Zayyan menatap datar kearahku,aku hanya diam saja.
"jangan melakukan itu lagi Sha," ucap Zayyan pelan.
***
Aku berjalan kearah perpustakaan,melihat petugas kesusahan menyusun buku membuatku langsung membantunya.
"biar Dasha bantu Bu." ucapku membuat Bu Nara menoleh kearahku, "terimakasih Dasha." ucapnya senang. Aku pun mulai mengangkat buku itu dan menyusunnya sesuai tempatnya.
"kamu memang sangat baik ya Sha." puji Bu Nara menepuk bahuku pelan. Aku hanya tersenyum tipis kearahnya, "ini sudah selesai Bu,ada yang perlu aku bantu lagi?"
"sudah nak,memang tinggal ini lagi. Makasih yaa." ucapnya pelan.
"sama-sama Bu,kalau gitu Dasha izin duduk disana ya Bu." pamitku sambil menyalami tangannya. Bu Nara mengangguk pelan, "kamu bisa memakainya setiap hari Dasha,tidak ada yang melarangmu duduk di sana. Ya ampun coba saja semua mahasiswa seperti kamu,mungkin tidak akan ada penyimpangan." lirih Bu Nara memandang miris kelakuan zaman sekarang. Aku pun tidak bisa menyalahkan beliau,memang yang dikatakannya sangat benar.
"mungkin mereka masih belum mengerti Bu,tapi aku yakin ada suatu saat mereka akan paham tentang hal ini." ucapku mengambil jalan tengah.
"kami benar nak,ya sudah ibu keluar duluan yaa." ucap Bu Nara melenggang keluar perpustakaan. Aku berjalan ke tempat duduk favoritku.
__ADS_1
"kau harus tanggung jawab Afran!"
Deg. Aku menghentikan langkahku saat mendengar suara samar-samar disebelah rak tinggi buku perpustakaan. Tapi,aku masih ingat jelas pemilik suara itu yang tak lain adalah Vanya.
Vanya? apa dia sekarang sedang bersama Afran?. gumamku pelan.
"untuk apa aku betanggung jawab? apa kau punya bukti?" ucap Afran meremehkan Vanya.
"brengsek kau,kau membuat masa depanku hancur sialan!!!" sarkas Vanya menatap tajam kearah Afran.
"yaah salah kau sendiri,ngapain juga kau menggantikan Dasha waktu itu. Harusnya Dasha menjadi milikku seutuhnya,bukan kau." ketus Afran membuatku mengepal kuat tanganku.
Brengsek nih orang. umpatku dalam hati. Aku masih menunggu mereka berdebat lagi.
"Dasha kabur waktu itu,kau yang terlalu bodoh. Lihat Dasha bakalan semakin menjaga jarak darimu Afran sialan!" umpatnya lagi menunjuk kuat kearah Afran.
"kau yang terlalu bodoh. Harusnya aku tidak mengikuti rencanamu sialan." sarkas Afran lagi.
"bukan aku yang membuat rencana itu,tetapi Farah!" bentak Vanya tidak terima disalahkan dalam hal ini.
"aargghhh harusnya aku bisa mendapatkan Dasha dengan mudah,tapi karna kau semua rencana berantakan!" sentak Afran lagi.
Aku menggeleng-geleng kepalaku mendengar perdebatan bodoh mereka.
Kalian berdua yang bodoh,mau aja ngikut rencana Farah. ckckckck menjengkelkan. gumamku kesal sambil merekam perdebatan mereka.
"ini bisa sebagai bukti untuk suatu saat." ucapku pelan dengan sengaja aku menjatuhkan beberapa buku disekitar ku membuat kedua makhluk bodoh itu terkejut dan menoleh kearahku.
"ops,ganggu yaa...Sorry bukunya jatuh." ucapku pelan lalu mengembalikan buku itu semula ketempatnya. Kedua makhluk itu berjalan kearahku.
"berhenti Dasha!" teriak mereka bersamaan,beruntung saat ini keadaan perpustakaan sepi tidak ada orang. Aku membalik badan menatap mereka, "kenapa?" tanyaku seolah tidak mengerti.
Afran langsung mendekatiku, "Dasha dengar,aku tidak serius mengatakan hal itu,aku hanya mengelabui Vanya. Dia memfitnahku karena telah melecehkannya." seru Afran menatapku lekat. Aku memandang jijik kearah pria buaya itu memundurkan langkahku menjauh dari Afran.
"hm? melecehkan? melecehkan apa?" tanyaku pura-pura bodoh.
"brengsek kau memang melecehkanku,Dasha kau juga sialan. Aku tidak akan memaafkanmu sampai aku mati sekalipun!" sarkasnya
Terserah kalian sajalah,aku juga tidak peduli. gumamku dalam hati.
Afran tampak gusar menutup mulut Vanya, "jangan dengarkan dia Dasha,dia hanya tidak suka denganmu Sha. Tenang saja aku akan melindungimu." ucapnya pelan.
Aku tersenyum miring menatap kedua makhluk hidup yang tidak beradap itu. "kalian sama saja,sama-sama bodoh." ucapku pelan lalu meninggalkan mereka tanpa berbalik kebelakang. Aku menghiraukan panggilan dari mereka yang terus-terusan memanggil namaku.
__ADS_1
Fyuuh,mungkin mulai saat ini hidupku bakalan tidak tentram. Aku harus bertahan dari para manusia laknat itu. Semangat Dashaaa!!. gumamku pelan.