
Dapat kulihat Gazza terlihat kesal ucapannya tidak diacuhkan oleh kami berdua. "cih,terserah kalian saja." ucapnya berlalu meninggalkan kami berdua yang masih terdiam menatap barang yang berserakan itu.
"pfft kak kau menyukai boneka??!" ucapku tak percaya menatap pria berbadan bagus itu memiliki boneka beruang coklat yang terlihat sudah lusuh itu.
"terserah aku." ketusnya sambil mengambil barang-barang miliknya termasuk Boneka beruang lucu itu.
"kau juga kenapa menyimpan surat-surat yang nggak jelas itu, kekanak-kanakan." ledek Zayyan menatap beberapa surat yang tergeletak dilantai,aku langsung mengambil surat-surat milikku itu.
"terserah akulah,aku yang punya kenapa kau yang sewot kak? cih dasar tidak tau malu,mending kau pakai baju dulu baru bereskan ini." ucapku memalingkan wajah,entah sudah beberapa kali aku mengucap tanpa sengaja melihat badan eksotisnya itu.
Zayyan tampak acuh tak acuh,ia dengan cepat membereskan barang-barang miliknya. Setelah itu ia pun meletakkan diatas lemari pakaianku.
"jangan berani sentuh barang milikku lagi." ucapnya dingin lalu mengambil pakaiannya dan berjalan ke kamar mandi.
"lho kenapa dia yang marah,dia sendiri juga udah liat barang-barangku kok." gerutuku pelan memandang pintu kamar mandi yang sudah tertutup itu.
Tapi,kenapa boneka itu tampak tidak asing ya?. gumamku pelan,lalu membereskan barang-barang milikku. Aku memegang surat-surat yang sudah lama tidak kusentuh semenjak tamat SMA dulu. Surat itu yang membuatku semangat untuk tetap bertahan dari rantai yang terus menjeratku. Aku menghela napas sebentar memandang lekat surat tanpa tau siapa pengirimnya,yang pasti Aku berhutang budi padanya sampai akhir hayatku nanti.
"fyuuh,sudahlah." ucapku lalu meletakkan kotak itu persis disamping kotak Zayyan tadi. Aku pergi ke arah balkon menikmati udara pagi.
"hmm hari ini libur,enaknya ngapain yaa??" gumamku menatap beberapa orang tampak jogging melintas didepan rumahnya,saat aku hendak berbalik badan,aku kembali melirik kearah seseorang yang tampak tak asing bagiku,orang yang membuat hidupku hampir terpuruk.
Deg. "sial. Apa benar itu dia?!" tanpa terasa aku mengepal tanganku kuat. Aku terkejut saat Zayyan menghampiriku menatapku bingung, "ada apa?" tanyanya sambil melirik kearah orang-orang yang sedang berkerumunan itu.
"tidak ada." ucapku sekilas lalu masuk kedalam kamar. Aku mengambil air lalu kuteguk kandas. berusaha mengatur napasku agar diriku tetap tenang.
__ADS_1
"tenang Dasha,itu sudah berlalu...sudah berlalu." ucapku pelan sambil berusaha tersenyum tipis dicermin.
"apa kau sudah gila senyum-senyam dicermin?" tanya Zayyan lagi,aku seketika kesal menatap datar wajahnya, "cih,kau ini menganggu saja." kilahku lalu berjalan kearah pintu.
"aku bosan,jalan jauh yok." ajaknya membuatku berhenti ditempat dan berbalik kearah suamiku.
"jalan-jalan?" tanyaku lagi,langsung dianggukan Zayyan.
"kita jalan jauh,maksudnya keluar kota gitu sehari,abis tuh pulang. Mau nggak? serius aku bosan sekarang." jelas Zayyan menatapku dengan tatapan tidak bisa kuartikan.
Hmmm,bagus juga sih usulannya,Yap dari pada aku harus memikirkan hal yang nggak jelas dan sudah berlaku mending aku menikmati saja apa yang sudah ada didepan mataku. gumamku pelan, "ya sudah yok." ajakku dengan semangat.
"eh kau mau kemana?" tanya Zayyan mencegahku keluar dari kamar,aku menyerngit heran menatapnya," kenapa kak? bukannya kita mau pergi?" tanyaku.
"iyaa kita mau pergi,tapi apa kau hanya memakai baju itu saja?" tanya Zayyan menatap pakaian tidur yang aku kenakan,aku menepuk jidatku pelan sambil menyengir kearahnya, "hehehe lupa." cengirku langsung mengambil bajuku dan menggantinya dikamar mandi. Setelah kami bersiap-siap,aku mengambil ranselku dan berlari kencang keluar kamar,Dapat ku lihat raut Zayyan bingung menatapku tetapi aku tidak terlalu peduli,dengan tergesa-gesa aku menuruni anak tangga dan berlari menuju dapur.
"kami? maksudnya kau dan Zayyan?" tanya Gazza lagi,aku pun mengangguk pelan. Gazza manggut-manggut mengerti, "baguslah,dengan begitu rumah akan tenang dan damai tanpa kalian." seloroh Gazza sambil membawa keripik kentangnya keluar dari dapur.
"cih,dasar Abang laknat." umpatku pelan sambil memasukkan beberapa Snack dan minuman kaleng kedalam ranselku. Walaupun belum tau akan pergi kemana,setidaknya aku membawa cemilan untuk dijalan nanti. Setelah selesai memasukkan makanan yang kubawa,aku pun langsung memasukkan ranselku kedalam mobil dan masuk kembali kerumah menuju kamarku.
Braak. Aku membuka pintu terlalu kuat sehingga membuat Zayyan yang tengah menelpon seseorang terkejut. Aku tersenyum kikuk menatapnya, "sorry." bisikku karena Zayyan masih tersambung dengan seseorang yang menelponnya saat ini. Aku langsung mengambil selimut handuk dan bantal kecil.
"untuk apa kau membawa itu?" tanya Zayyan setelah selesai menelpon,ia pun memasukkan ponselnya kedalam saku.
"untuk tidur dimobil nanti,hehehehe." cengirku menatapnya,Zayyan menghela napas menggeleng-geleng melihat tingkahku. "sudah kan? ayo kita pergi." Ajak Zayyan sambil membawa kunci mobil dan dompetnya,ia pun berjalan mendahuluiku keluar dari kamar.
__ADS_1
Kami pun tak lupa berpamitan dengan Ayah dan Ibu,setelah itu kami pun masuk kedalam mobil.
"buseeet ini apa sih isinya?" tanyanya terkejut mengangkat ranselku terasa berat saat ia memindahkan ranselku ke kursi penumpang belakang.
"sediakan payung sebelum hujan." ucapku pelan,lalu aku meletakkan bantal dibelakang punggungku. Tak lupa juga selimut yang kubawa tadi sudah terbentang menyelimuti tubuhku.
"kau mau jalan-jalan atau tidur nih??" tanya Zayyan menatap datar kearahku, "jalan-jalanlah,eh ngomong-ngomong kita mau kemana?" tanyaku penasaran tempat kota yang mau kami tuju.
"belum tau,kan tadi kita mendadak mau perginya,kau saja yang bilang mau kemana,aku ngikut." seru Zayyan sambil menghidupkan mesin mobilnya,ia pun langsung melajukan mobilnya meninggalkan perkarangan rumahku.
"okelah,biar aku lihat navigasi dulu." ucapku sambil mengutak-atik ponselku mencari tempat yang bagus untuk berwisata. Setelah mendapat tempat yang rasanya cocok untuk kami singgah,akhirnya Zayyan membawa mobil menuju tempat itu kurang lebih dari tiga jam.
Tetapi,saat ia mulai memasuki daerah itu,Zayyan kembali menoleh kearahku, "kau yakin ini jalan yang benar?" tanya Zayyan,ia pun memberhentikan mobilnya ditepi jalan.
"hm benar kok,memang ini jalannya." ucapku menyakinkan bahwa jalan yang ditunjukkan navigasi sudah benar. Lain halnya dengan Zayyan merasa jalan didepannya buntu.
"kau yakin? didepan kita ini jalan buntu woi." ucap Zayyan menunjuk jarinya kedepan. Aku terbingung sendiri lalu dengan fokus menatap jalan yang kami lewati.
Turn Left. Seru suara navigasi yang menunjukkan kami jalan,Zayyan pun mengikuti perintah yang dikatakan navigasi.
ciiiit. Zayyan langsung mengerem mendadak membuat kepalaku terbentuk dasbor.
"aduuh,ada apa kak?" tanyaku bingung menatap Zayyan dengan tampang tidak berdosa telah mengerem mendadak.
"nggak lihat didepan?" tanya Zayyan sambil menunjukkan jalan buntu yang lain. Aku menoleh kearah tangan Zayyan yang menunjukkan jalan didepan mobil mereka. Aku kembali melirik ponselku lagi memastikan bahwa navigasi salah.
__ADS_1
"astaga jalan disini buntu,tapi di navigasi udah benar kok jalannya,waah navigasinya sesat kak." gerutuku heboh memandang ponselku.