
"aku tidak seperti itu Farah,kau ingin keluar atau tidak?" tanyaku pelan tetapi ada tekanan. Aku sangat kesal dengan ucapannya yang menjijikkan itu. Lebih baik menghindari saja.
Farah terdiam,lalu memberengut kesal. " ya santai ajalah ngomongnya kan aku ngajak doang. Ish, mentang-mentang cantik tapi sifatnya jelek. Dah aku pergi." gerutunya kesal sambil keluar menutup pintuku keras.
"menyenyenyenyenye, terserah akulah." cibirku kesal saat Farah sudah masuk ketempat laknat itu,aku langsung menancap gas meninggalkan tempat menjijikkan itu. Saat ditengah perjalanan,aku melihat toko pie yang tampak menggiurkan,dan juga mengembalikan moodku yang sempat rusak tadi.
Aku langsung memakirkan mobilku didepan toko tersebut,dan masuk kedalam sana. Takjub dengan pie yang disodorkan tampak menggugah selera.
"mau yang mana mbak?" tanya pelayan kue itu padaku. Aku melihat kearah pie buah besar itu.
"ini mbak." ucapku menunjuk pie buah itu. Pelayan itu mengangguk dan segera membungkuskan pieku. Aku mengedar pandangan sambil menunggu pelayan itu menyiapkan pieku.
"kau lagi...kau lagi." gerutu seseorang dibelakang membuatku menoleh kearahnya.
"kak?? ngapain kau disini?!" tanyaku terkejut mendapati suamiku tepat berada dibelakangku.
"aku? ya mau beli pie untuk kakek,kau sendiri ngapain disini? harusnya kau sudah pulang daritadi?" tanyanya sambil melirik jam tangannya.
"ya jelas aku mau membeli pie kak,kau tidak lihat?" ucapku jengah. Bisa-bisanya aku bertemu dengan suamiku disini.
Zayyan mengedik bahu acuh tak acuh lalu melirik kearah pie yang berjejer disana.
Sepertinya dunia semakin sempit saja. gumamku pelan. Lalu aku melirik Zayyan tengah melihat beberapa pie.
"kakek suka rasa apa?" tanyaku mengikuti arah pandangnya. Zayyan menoleh kearahku sebentar, "tidak manis,tapi enak dimakan."
"hmm gimana kalau pie buah,enak tuh."
"kau juga memesan itu kan?" tanyanye menatap datar kearahku. Aku mengangguk kuat, "emangnya kenapa kak?"
"tidak ada."
"cih,nggak jelas." gerutuku lalu mengambil pie yang sudah kubeli, "makasih mbak." ucapku pada pelayan itu lalu berjalan kearah Zayyan.
"kak,aku duluan kerumah yaa." pamitku langsung berjalan keluar. Namun saat langkahku keluar,Zayyan langsung menahan tanganku. "tunggu bentar." ucapnya lalu membayar pie untuk kakek.
Zayyan langsung menarik tanganku keluar, "ayo." ajaknya membuatku berhenti ditempat.
Melihat aku hanya diam tidak bergerak,Zayyan menoleh kebelakang, "kenapa?" tanyanya.
"maksudnya gimana kak?" tanyaku bingung. Zayyan menyerngit bingung, "apa maksudmu?"
"lah seharusnya aku yang bertanya kak,kenapa kita naik mobil samaan,kau kan bawa mobil." ucapku menjelaskan situasi saat ini. Tetapi,aku mengedarkan pandanganku tidak menemukan mobil Zayyan.
"aku tidak membawa mobil." ucapnya kembali membuatku menyerngit, "lah? lalu pakai apa kau kesini kak? jalan kaki?"
"nggak,naik ojol." ucapnya lagi. Pria itu tampak terlihat asal menjawab pertanyaanku,tetapi aku tidak peduli. Aku melempar kunci mobilku kearah Zayyan, "jadi supir ya kak." cengirku langsung berjalan menuju pintu penumpang dan disambut raut masam wajah suamiku.
Tetapi sebelum aku duduk,bekas parfum Farah masih membekas membuatku kesal. Dengan cepat aku menyemprot sanitizer dikursiku.
"apa yang kau lakukan Sha?" tanyanya bingung menatapku. Kini pria itu sudah duduk dikursi kemudi.
__ADS_1
"menyemprot hama kak." ucapku asal lalu duduk. Aku pun mengikat rambutku cepol.
"lain kali pakai jilbab Sha,aurat." ucapnya tiba-tiba memalingkan wajahnya. Aku menoleh kearahnya, "tunggu sampai aku siap ya." ucapku lagi.
Sebenarnya sudah saatnya aku memakai jilbab,namun aku masih belum siap memakainya. Entah karena alasan apa aku masih enggan memakai itu.
"pelan-pelan,jangan membuatku ikut terseret ke neraka. Dah capek-capek aku ngumpulin pahala,eh kau malah jadi beban nambah dosaku."
"eh,kenapa kau yang menanggung dosanya kak? harusnya kan aku sendiri."
Zayyan menepuk jidatnya pelan lalu menatapku lekat, "karena kau istriku. Apapun yang kau lakukan aku yang menanggung dosanya. Kau tanggung jawabku." ucap Zayyan dengan bijak,ia pun langsung menancap gas melaju pulang kerumah.
Aku yang mendengar tertegun,dalam hatiku kata-kata itu sangat menyentuh itu.
"hmm akan ku coba memakainya yaa." ucapku berusaha untuk menyakinkan diriku memakai jilbab.
"good girl." ucapnya sambil mengelus kepalaku dengan lembut. Lagi-lagi membuatku tertegun dengan perlakuan suamiku barusan.
Aku langsung memalingkan wajahku yang mulai memerah itu. Aku tidak ingin wajahku ini terlihat oleh Zayyan. Bisa-bisa pria itu kegeeran.
Aku melirik kearah jalan,dan bingung tidak mengarah ke rumah membuatku kembali menoleh kearah suamiku.
"kak Zay,ini kita kemana?" tanyaku.
Zayyan menoleh sebentar kearahku,lalu fokus mengemudi. "kita kerumah kakek. Aku mau mengantarkan pie ini untuknya." jelasnya lagi. Aku manggut-manggut mengerti.
Walaupun kakek lumayan sering bertemu denganku,tetapi baru kali ini aku datang kerumahnya. Aku mencium ketiakku memastikan tidak ada bau,sedangkan Zayyan menahan tawa sambil menggeleng-geleng melihat kelakuanku.
"cih,baru kali ini aku liat cewek nggak sungkan mencium ketiaknya sendiri." ledeknya lagi.
"terserah akulah kak,kan yang punya badan kan aku." ucapku lagi.
"cih bangga pula tingkahnya kayak gitu." ucapnya sambil meledek. Tanpa aba-aba ia langsung mengerem mendadak,membuat kepalaku otomatis mencium dasbor.
"aiiih kak,kenapa kau mengerem mendadak?!" gerutuku kesal sambil memegang keningku.
"dah sampai." ucapnya seperti tidak berdosa. Ia pun melepaskan sabuk pengamannya dan keluar,tak lupa ditangannya ia membawa pie yang ia beli tadi.
"wah kurang ajar nih orang,bukannya minta maaf malah pergi." ucapku tidak terima. Dengan cepat aku menyusul Zayyan.
"hei kak minta maaf dulu!" teriakku membuat satpam yang berjaga dirumah kakek menoleh kearah kami. Zayyan mengangguk pelan kearah satpam itu langsung dimengerti oleh satpam itu dan pergi meninggalkan kami berdua disini.
"minta maaf untuk?" tanyanya sambil melipat tangannya didada.
"minta maaf karena kau membuat kepalaku benjol."
Zayyan melirik kearah kepalaku dan menggeleng pelan, "mana ada benjol,kau kan kuat. Masa cuma kebentur itu aja lemah."
"lemah? kau bilang aku lemah???" kesalku tidak terima dikatakan lemah.
"kan benar,memang kau aja yang lemah." ucapnya lagi membuatku kesal. Dengan cepat aku menginjak kuat kakinya dan merampas kantong pie yang ada ditangan Zayyan.
__ADS_1
"Dashaaaa!!!" teriaknya membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Aku langsung berjalan menuju teras dan mengucapkan salam sebelum masuk.
"assalammualaikum kakek!" panggilku,aku sekilas melirik kearah Zayyan yang masih memegang kakinya. Aku terkekeh pelan, "ops pasti sakit yaa." ledekku lagi.
Zayyan langsung berlari kearahku. "minta maaf." titahnya membuatku menggeleng cepat.
"tidak,kan kita impas kak."
"cepat Dasha!"
"nggak."
Ceklek,pintu terbuka membuat kami terdiam. Aku melihat kakek langsung tersenyum lebar sambil menyalami punggung kakek.
"maaf kek,kami buat keributan. Cucu kakek ini sangat jahat padaku kek." ucapku membuat pria itu menatapku tajam.
"oh ya? Zayyan jangan seperti itu sama istrimu! kau harus sayang sama dia!" ucap Kakek membuatku mengulum senyum.
"dia yang mulai duluan kek,bukan aku." protes Zayyan tidak terima jika dirinya disalahkan.
"lho kok aku kak? kan kau duluan tadi."
"aku nggak salah,malahan kau yang salah."
"kau duluan kok yang mulai baru aku."
"kau kak."
"kau Sha."
"kau duluan kak."
"bu—"
"sudaaah cukup! ya ampun kalian ini sudah menikah tapi kelakuan kayak anak-anak." gerutu kakek berusaha melerai perdebatan konyol kami.
"dia yang duluan mulai kek." protes Zayyan lagi,kakek langsung menjitak kepala suamiku.
Plaak.
Aku menahan tawaku menatap Zayyan meringis setelah dijitak oleh kakek.
Kakek,aku fans denganmu!!. seruku dalam hati
"aduuh kek, kenapa aku yang dijitak??" protes Zayyan lagi.
"ini cucu menantu kesayangan kakek,kau jangan sesekali membuatnya sedih. Ayo sayang,kita masuk." ucap Kakek sambil menarik tanganku,aku dengan senang hati dan menatap Zayyan sambil menjulurkan lidah.
Zayyan menggerutu pelan,lalu ikut duduk diruang keluarga bersama dengan kami. Walaupun rumah itu luas tetapi tampaknya rumah itu terasa hening. Aku seketika jadi penasaran,
Bagaimana kehidupan Zayyan dulu yaa??. Gumamku penasaran menatapnya kini tengah berdebat dengan kakeknya.
__ADS_1