
Dasha POV
"yuhuuu!!!" seruku sambil loncat-loncat diatas kasur. Aku sangat senang sekali akhirnya tugas yang banyak itu selesai. Biasanya aku menuntaskannya di perpustakaan kampus,tetapi karena banyaknya kegiatan kerja kelompok membuatku terpaksa harus membantai tugas itu dirumah.
"alaah baru juga tugas yang itu." cibir Zayyan menatap kearahku. Memang pria itu mengerjakan tugasnya sama layaknya denganku.
"apa? apa? iri? bilang aja bos!" ledekku sambil menjulur lidah kearahnya. Zayyan menghendus kesal kearahku.
"cih,sombong kali kau." gerutunya pelan lalu berbalik lanjut mengerjakan tugasnya.
Terbesit ide jahil,aku ingin mengganggunya mengerjakan tugas. Dengan langkah perlahan aku mendekatinya dari belakang.
"Dasha jangan ganggu." ucapnya menekan tanpa berbalik badan melihatku seolah tau aku mendekatinya. aku terperanjat, "idih,siapa juga yang ganggu kakak,aku mau ngambil pensil." ucapku berjalan mendekati mejanya,aku mengambil pensil didalam tempat pensil. Bukannya aku mengambil pensilnya perlahan,tetapi aku mengacak-acak tempat pensil itu membuat isinya berserakan keluar membuat meja belajar itu menjadi berantakan.
"Dashaa!!!" teriak nya saat aku sudah melesat jauh dari sana sambil tertawa lepas, "hahahaha hahahaha." Aku berlari keluar sambil menutup pintu kamar kuat. Aku langsung bersembunyi dibalik lemari dekat tangga,namun sudah kutunggu lima menit pria itu tampaknya tidak mengejarku membuatku sedikit kesal.
"cih,tak asyik." gerutuku pelan keluar dari lemari,aku berjalan ke kamarku lagi,dan membuka sedikit pintu kamarku,dapat kulihat dari celah pintu pria itu masih duduk mengerjakan tugasnya. Tidak kehabisan akal,aku membuka tutup pintu berkali-kali membuat pria itu terusik ketenangannya.
Ceklek.Baam.Ceklek.Baam.Ceklek.Baam.
"Dashaa." gerutunya pelan menoleh kearahku,aku tersenyum lebar padanya, "kau tidak terganggu kan kak?" tanyaku.
Bodoh,pertanyaanmu itu konyol sekali Dasha. Mana ada orang tenang kalau kau buka tutup pintunya bolak balik gitu,xixixixii. gumamku pelan sambil cekikikan.
"kau sudah gila?" tanyanya aneh menatapku.
"kau yang gila kak." sarkasku tidak terima dikatakan gila.
"kenapa pula aku yang gila? kaulah. Kau senyam-senyum nggak jelas gitu. Kalau mau senyum sama tembok biar aku antar ke rumah sakit jiwa sekarang." kesalnya menatap kearahku.
"ngapain kerumah sakit jiwa?" tanyaku bingung.
Zayyan tampak menepuk jidatnya pelan, "mendaftarkan kau disana." jawabnya asal.
"ngapain juga aku daftar disana?,kau aja kak yang daftar. Otakmu agak miring dikit."
"apa kau bilang?!"
"apa? apa? nggak terima dibilang gila,nah itulah yang aku rasakan kak." ketusku.
Zayyan tampak diam sejenak, "lalu kau mau dibilang apa? monyet iyaa?"
"ck,apa kau sudah buta kak? lihat baik-baik aku. Aku ini comel,imut,menggemaskan ini masa dikatakan monyet sih??!" gerutuku menatap kesal kearah Zayyan.
"percaya diri sekali,bangga memuji diri sendiri."
"lah kan emang bener." ucapku lagi.
"terserah... terserahlah." ucapnya jengah meladeniku berdebat. Ia pun kembali berbalik melanjutkan tugasnya.
"kak!kak!" panggilku,kini aku sudah berbaring diatas kasur sambil memainkan ponsel.
"apa???" tanyanya kesal
__ADS_1
"tolong ambil remot di nakas kak." ucapku.
"remotnya dekat dengan kau Sha,ngapa tidak kau saja yang ambil??"
"aduuduh tubuh ini tidak bisa meraih remot itu kak." ucapku malas.
Zayyan menghendus kesal, "jangan malas,kalau mau nonton ambil sendiri."
"ayolah kak." bujukku lagi.
"ambil sendiri." ucapnya tetap dengan pendiriannya.
"cih,kau menyebalkan sekali kak." ucapku dengan merangkak mendekati nakas,aku langsung meraih remot itu dan menghidupkan televisi ku.
Masih dengan mode kesal,aku dengan sengaja menaikkan volumenya membuat Zayyan kembali terganggu.
"Dashaaa!!!" teriaknya kesal sambil menutup telinganya,aku tidak peduli dan tetap semangat menonton film action itu.
"sial." umpat Zayyan berjalan mendekatiku dan merampas cepat remot dari tanganku dan mematikan televisinya.
"hei,apa yang kau lakukan kak???"
"kecilkan suara filmnya,atau ku buang remotnya keluar." ancam Zayyan menatap tajam kearahku. Aku merasa kesal menatap tajam kearahnya.
"kau menyebalkan." ucapku lagi.
"kau yang menyebalkan."
"kau kak."
"kau!!!"
"kau!!!"
"ka—"
Wussssh. Membuat pandangan kami sedikit kabur. Aku sangat kesal dengan orang yang menyemprot obat nyamuk itu tiba-tiba.
"uhuk...uhuk."
"ops,sorry ternyata ada orang. Nyamuk banyak disini,jadi tadi disuruh Ibu menyemprot kamar kalian." ucap Gazza tampak terlihat jengah menatap kami. Aku yakin dia sengaja melakukannya.
"sialan kau Za!!!" gerutu Zayyan menatap tajam kearah Gazza. Gazza hanya menampilkan senyum cengirnya, "makanya jangan berdebat terus!" ucapnya kesal.
"lah gimana nggak mau berdebat,lihat adik bocilmu ini pemalas kali!"
"bo-bocil? kau bilang aku bocil kak?! hei kak aku ini udah besar,masa dibilang bocil sih."
"kau memang udah besar tapi pikiranmu kayak bocil."
"haiiis kau ini!!!" gerutuku sambil memukul lengan Zayyan kuat.
"diam!!" sarkas Gazza membuat kami terdiam dan menoleh kearahnya.
__ADS_1
"ck,kalian ini nggak habis-habisnya,mending kalian keluar dari rumah biar refreshing otak."
"ngapain keluar kak? aku lebih suka dikamar daripada diluar." ucapku malas
"cih,kalau gitu. Belilah barang-barang nih,Ibu tadi menyuruhku membelinya,tapi melihat kalian senggang ya udah kalian aja yang beli." ucap Gazza menyerahkan secarik kertas padaku.
"hei Za,mana bisa aku pergi. Tugasku masih banyak woi." ucap Zayyan protes.
"kau bisa nyontek punyaku,aku lagi malas keluar. Oke sekarang yaa belinya,ntar ibu marah lagi. Byee." ucap Gazza tanpa dosa lalu menghilang dibalik pintu. Aku melirik catatan barang yang akan dibeli.
"buseeet banyak lagi yang mau dibeli. Kak ayolah ikut." ajakku menatap lemas kearahnya. Tentu saja aku harus memaksanya ikut,mana mungkin aku membawa semua barang itu sendirian.
Zayyan tampak berpikir sambil menghela napas pelan, "huh,ya sudah cepatlah ganti baju." ucapnya pasrah membuatku senang.
"yey,tunggu yaaa." ucapku melesat mengambil baju asal di lemari lalu berlari kecil ke kamar mandi.
***
Aku mengambil troli untuk menampung barang yang akan dibeli didalam supermarket. Zayyan memegang secarik kertas celingak-celinguk mencari barang yang sesuai ditulis Ibu.
"ish kak,kenapa aku yang mendorong trolinya?" gerutuku tidak terima,jika Zayyan hanya mencari barangnya sedangkan aku membawa semua barang itu.
"diam,nggak usah banyak tingkah." ucapnya sambil melirik barang-barang yang berjejer dirak.
Aku memberengut kesal mendorong troli itu. Lalu mataku berbinar saat melihat ada makanan ringan yang tampaknya menggoda selera itu. Melihat Zayyan yang masih sibuk memilih barang yang mau dipilihnya,aku meninggalkan troli itu pelan dekat dengannya,lalu berjalan pelan meninggalkan pria itu.
"woaaaah ini kan makanan yang kuincar." ucapku girang mendapatkan makanan ringan itu,aku langsung mengambil banyak makanan itu dan membawa semua itu ke troli.
Aku meletakkan semua itu didalam troli,Zayyan langsung berbalik dan meletakkan barang yang dipilihnya,terkejut mendapati isi troli sudah penuh.
"what? ini apaan Sha?" tanyanya menatap semua makanan ringan didalam troli itu.
"namanya makanan kak,kan udah jelas disitu tulisannya ma-ka-nan." jelasku pelan sambil mengeja kata makanan itu.
"iyaa,aku tau itu makanan. Cih,kau kira aku nggak bisa baca apa." gerutu Zayyan.
"manatau kan,udah semua barangnya kan? yok bayar." ucapku santai,namun Zayyan mencegatku.
"enak saja kau membeli semua ini,ini nggak baik untuk kesehatan Sha."
Oh tidak,ceramah kesehatannya mulai lagi. gerutuku pelan dalam hati saat mendengar Zayyan menyebut kata tidak baik untuk kesehatan. Yap,aku sering sekali mendengar ocehannya setiap aku membeli ini dan itu.
"Dasha,kau dengar aku kan?"
"iyaa pak dokter,saya dengar. Tapi ini makanan nggak satu hari kok saya makan,saya makannya teratur nanti kok." ucapku agar bisa dibolehin membeli makanan ringan itu.
"tidak bisa,kau hanya mengelabui ku saja. Letak lagi!" ucapnya tegas tak bisa dibantah.
"aiih kak,please." bujukku menatapnya dengan mode puppy eyes.
Aku yakin dia bakalan luluh melihat mata imutku ini. gumamku yakin dalam hati.
Cup
__ADS_1
Aku tertegun dan membeku ditempat menatap Zayyan tersenyum tipis lalu berjalan mendorong trolinya. Aku tidak percaya dengan kejadian tiga detik itu.
"si-sialan,kau sudah gi-gilaaa!!" umpatku sedikit gugup. Jangan tanyakan lagi bagaimana jantungku berdetak lebih cepat karena ulah suami kampretku itu.