
Aku masih takut untuk mendekati pintu rumah yang masih digedor.
"Dashaa buka pintunya nak!" seru seseorang membuatku menyerngit bingung.
Nak? apakah ayah dan ibu?. gumamku pelan. Dengan langkah ragu aku mendekati pintu dan mengintip lewat lubang pintu.
"ya ampun,benaran dong." pekikku saat memang menyadari jika yang diluar itu adalah orang tuaku. Dengan cekatan,aku membuka pintu itu lebar.
"astagfirullah ibu ayah kenapa kalian tidak menelpon??" panikku lalu menyuruh ibu dan Ayah masuk kedalam rumah. Aku merasa menyesal telah membiarkan keduanya diluar terlalu lama apalagi hujan deras mengguyur membasahi mereka.
Ibu dan Ayah tampak diam,mereka lebih memilih masuk kedalam kamar untuk segera mengganti pakaian mereka. Tidak ingin mengambil pusing,Aku segera membuatkan minuman hangat untuk mereka.
Saat aku meletakkan minuman hangat di meja,aku melihat Ibu berjalan menghampiriku, "kamu buat apa nak?" tanyanya pelan lalu duduk disampingku.
"aku membuatkan minuman jahe hangat untuk ayah sama ibu. Minumlah dulu." ucapku sambil menyodorkan minuman itu.
"terimakasih nak." ucap ibu sambil meneguk minuman yang kubuat.
"sama samaa ibu,oh ya Bu kenapa tidak menelponku dulu?"
"ibu sudah menelponmu berkali-kali begitu juga dengan Gazza." gerutu Ibu sontak membuatku langsung melirik ponselku.
"astaga maap ibu,tadi ponselku aku silentkan." sesalku pelan,untung saja ibu dan ayahku baik-baik saja.
"kamu ini kebiasaan yaa." oceh ibu panjang lebar. Aku hanya menyengir pelan menatap ibu.
***
Ada Kasak-kusuk yang membuatku terbangun,tetapi mataku masih tertutup. Jika itu Elisa rasanya kemungkinan kecil sedangkan dirinya tidur dikamar Gazza. Apa mungkin ibu? tetapi harusnya membangunkanku sekarang? lalu siapa disebelah ku?
Deg. Mataku terbuka sempurna dan badanku seketika merinding saat tangan tanpa berdosa itu memeluk pinggangku.
Aku langsung berbalik dan tertegun mendapati suamiku kini memelukku erat sambil memejamkan matanya.
"eh? ba-bang Zay??" ucapku pelan tergugup menatap lekat suamiku. Pria itu menyunggingkan senyumnya tanpa membuka matanya. Ia pun semakin mempererat pelukannya.
Aku merindukan aroma pria ini,sudah tiga bulan berlalu akhirnya ia pulang. Aku pun ikut memeluk dirinya erat.
"aku kangen." ucapnya manja sesekali mencium keningku.
"aku juga." seruku senang.
"aku liat kau bahagia aja selama aku pergi." ledek Zayyan membuatku mendongak kearahnya.
"haiis bang,bisa tidak jangan membuatku kesal. Kan kita udah lama nggak bertemu nih,masa iyaa bertengkar lagi." gerutuku kesal.
Zayyan terkekeh pelan lalu mengecup bibirku pelan.
"kau ini pagi baru main cium aja." gerutuku pelan tetapi dalam hati senang.
"suka hati lah,yang punya bibir siapa."
__ADS_1
"ish kau ini bang,eh iyaa dimana bang Gazza?"
"langsung masuk ke kamarnya tadi,keknya mandi dia."
"ooo." ucapku mengangguk-angguk pelan,namun sedetik kemudian aku teringat sesuatu.
"astaga!!!" pekikku membuat Zayyan terkejut menatapku tajam, "apa sih?"
"ya Allah bang,itu...itu..." ucapku seketika tergagap.
"apa??"
"Elisa tidur dikamar Gazza sekarang!!" pekikku lagi
"hah? serius?!" seru Zayyan.Aku mengangguk kuat, membuat kami langsung beranjak dari kasur dan berlari menuju kamar Gazza.
Braak.
Aku dan Zayyan membulat mata kami sempurna memandang Gazza hendak naik ke kasur. Gazza terkejut mengelus dadanya karena aku membuka pintunya keras.
"aduh apa sih kalian,aku mau istirahat." gerutunya kesal menatap kami. Aku dan Zayyan langsung melangkah maju, "jangan tidur!" cegah kami serentak. Aku tertegun dan menoleh kearah Zayyan bisa-bisanya kami serentak menjawab.
"kalian kenapa sih? aku kan mau tidur. Kepalaku sangat berat." keluhnya lagi tetapi kami mencegahnya ke arah kasur. Entah kenapa aku yakin Elisa sedang tidur disitu.
Ah sialan kau El,jangan bangun please. harapku dalam hati. Tentu Dasha yang akan kena semprotnya nanti jika ketahuan Elisa selama tiga bulan tidur disini. Aku saja lupa jika hari ini mereka pulang. Gazza yang begitu capek tentu sangat kesal menatap kami. Ia pun langsung mendorong kami keluar dari kamar.
Braaak.
"ish woiii bang!!!" teriakku lagi sambil menggedor pintu kamar Gazza kuat.
Drrrt...drrrt. getaran ponselku membuatku langsung membuka pesan yang baru saja masuk.
Elisa
beb,aku udh pulang luan tadi. Bangunin kau nggak tega pula aku. Bilang makasih yaa sama ayah ibu maap main kabur pulang aja.
"Alhamdulillah." ucapku membuat Zayyan menoleh kearahku, "kenapa?"
"Elisa dah pulang,fyuuh selamat. Itu artinya bang Gazza nggak tau kalau selama tiga bulan ini Elisa yang tidur disini." bisikku pelan.
"Elisa suka sama Gazza?" bisik Zayyan lagi.
"iyaa,Elisa sekarang lagi buat hadiah untuk bang Gazza."
"iyaa?? lah kamu nggak ada buat hadiah untukku."
Aku menatap aneh kearah Zayyan yang baru saja memanggil 'kamu' itu kata kata yang sangat menggelikan.
"kenapa? ada yang salah?" tanya Zayyan melihat mukaku yang mulai masam.
"ih bang,jangan manggil kamu kamu gitu,agak lain dengarnya." protesku menatap tajam kearah Zayyan.
__ADS_1
"suka hati aku lah,mulut mulut aku. Kenapa kau yang sewot?" seru Zayyan sambil bercakak pinggang.
"lah kenapa aku pula yang sewot? kan aku cuma bilang kalau manggil kamu kamu itu agak gimana gitu. Kan nggak salah aku bilangnya."
"iyaa kau itu nggak salah,tapi kan aku mau aja manggil kamu biar tambah sayang."
"nggak...nggak mau,dengan panggilan kau aja aku udah anggap itu panggilan sayang. Jangan kayak yang lain, embel-embel memanggil kamu rasanya menggelikan." ucapku merinding.
"cih,kau itu nggak pernah pacaran,makanya kaku gini."
"heh,kek kau aja yang pernah pacaran. Penampilanmu aja culun gimana ada yang mau mendekat!"
"ish kau ini bang,selalu membuat emesoi naik!!"
"emosi Dasha,bukan emesoi." ralat Zayyan.
"aarrkhh terserah aku lah,mulut mulut aku!"
"yaa kan ngoreksi biar nggak salah,apa sih?!"
"ish kau buat kesal aja." geramku sambil menjambak rambutnya sedangkan Zayyan tidak mau kalah malah menjambak rambutku.
"aawh sakit bang! ish manalagi nareknya pakai tenaga salam!!" gerutuku disela-sela kami saling menjambak rambut.
"buahahaha Dasha kau ngakak kali,tenaga Dalam loh bukan tenaga salam!!" gelak Zayyan. Aku semakin menarik kuat rambutnya membuat dirinya merintih kesakitan.
"aawwh sakit woii!!" teriak Zayyan lagi. Yap,terjadilah aksi tarik menarik rambut didepan pintu kamar abangku.
Byuur.
Seketika membuat kami terdiam ditempat dengan tangan masih setia menggenggam rambut lawan masing-masing. Dengan tanpa berdosanya, seseorang menyiram kami dengan ember warna hitam tengah dipegang oleh Gazza saat ini. Jangan lupa jika ditangan sebelah kanannya menggenggam sapu ijuk yang biasanya digunakan untuk mengibas kasur.
"Astaghfirullah hal'adzim, aladzi laailaha illahuwal khayyul qoyyuumu wa atuubu ilaiih." ucap Gazza sambil memukul kami dengan sapu ijuk itu.
"keluar kalian setan-setan!! keluar!!!" serunya lagi. Aku dan Zayyan menggerutu kesakitan.
"Gazza apa yang kau lakukan?!" tanya Zayyan merintih kesakitan memegang bokongnya yang baru saja dipukul Gazza.
Gazza menatap tajam kearah kami, "ada setan dalam tubuh kalian,harus dibasmi. Cih,mau tidur aja nggak bisa tenang karna kalian kelakuannya kek setan!!" kesal Gazza sambil mengelilingi kami.
"keluar kalian setan!! kalian salah masuk server,jangan di tubuh keluargaku. keluarga yang lain aja kalian singgah. Please aku mau tidur dengan tenang. Kalau kalian singgah di tubuh para bocah ini yang ada aku mati cepat."
Aku dan Zayyan menahan tawa mendengar ucapan Gazza.
"pfft,sialan ngapain sih dia??" tanyaku berbisik kearah Zayyan.
"gila tuh orang,stres kayaknya." bisik Zayyan lagi.
plaak...plaak.
"woii bang sakit!!!" gerutuku kesal.
__ADS_1
"apa sih? diam aja ini diruqyah biar kalian nggak ribut lagi." kesalnya.
"kami nggak kesurupan Woiii!!!" teriaknya kami berdua serentak kearah Gazza. Aku menggeleng-geleng kepala melihat kelakuan para dua manusia menyebalkan itu. Sepertinya mereka begitu tersiksa selama tiga bulan mengabdi di daerah terpencil sana.