
Aku menyerngit bingung duduk disofa ruang keluarga. Memang setelah pesta pernikahan sederhana itu,semuanya tampak lelah dan menuju kamar masing-masing. Aku menghela napas sebentar,lalu menoleh kearah kamarku diatas.
Plaak. Aku memukul pelan pipiku memastikan orang yang aku lihat tadi hanyalah ilusi. Untuk memastikan keraguanku,aku langsung berjalan pelan menuju kamarku dan mendapati Zayyan tengah membaca sesuatu yang ada di mejaku. Aku mendekatinya perlahan,
"kau sudah kembali?" ucapnya seolah-olah tau aku ada dibelakangnya,padahal dirinya tadi asyik membaca buku yang ada diatas mejaku. Aku terkejut dan hanya diam sampai pria itu menoleh kearahku sambil memegang buku tebal ditangannya.
"kau tidak penasaran kenapa penampilanku seperti ini?" tanya Zayyan melipat tangannya didada menatapku lekat.
"ahaha untuk apa aku tertarik dengan penampilan. Itu kan urusanmu,tenang saja aku tidak akan mencampuri urusanmu kok." ucapku sekena sambil menyisir rambutku.
"wah baru kali ini aku melihat gadis tidak penasaran sekali denganku,kau memang berbeda yaa." gumam Zayyan pelan tapi masih terdengar olehku. Aku menghela napas pelan, "terserah akulah." ucapku membaringkan badanku dikasur. Walaupun Zayyan ada disini dan sudah menjadi suamiku,aku tidak merasa gugup atau tidak nyaman dengan keberadaannya,lebih tepatnya tidak memperdulikan keberadaannya sih.
"apa cuman 10 juta alasanmu menikah denganku?" tanya Zayyan sambil meletakkan buku tebal itu kembali di meja belajarku. Lalu menatapku dari kejauhan yang tengah duduk disisi kasur.
"bukannya sudah aku bilang,alasanku menikah denganmu ada dua,pertama yap memang 10 juta itu incaranku,dan yang kedua agar orang-orang tidak mendekatiku lagi." jelasku menatapnya. Zayyan manggut-manggut paham.
"kau yakin membiarkan orang lain tau hubungan kita?" tanya Zayyan.
"biarkan saja mereka tau,toh aku pun tidak peduli juga dengan ghibahan mereka. Aku sudah terbiasa dengan hal itu." ucapku acuh tak acuh sambil membaringkan diriku dikasur.
Zayyan menyerngit heran menatapku,dan ia pun ikut berbaring tidur disampingku sambil meletakkan tangannya dibawah kepala sebagai bantalan.
"bosan." ucapku memecahkan keheningan diantara kami yang hampir dua jam itu. Seharusnya jika diam-diam menghanyutkan seperti ini aku sudah berada dibawah alam sadarku,namun sekarang tidak. Rasa kantuk tidak kunjung datang padaku,aku menghela napas lalu menoleh kearah Zayyan yang juga menoleh kearahku.
Mungkin karena Zayyan,sekarang yang menjadi suamiku. Aku tidak terbiasa ada orang disampingku,apalagi diriku tidur seperti jarum jam yang berputar tidak karuan. Jangan lupakan penampilan Zayyan saat iniyang seperti pangeran kuda putih. Aku sebenarnya penasaran dengannya,tetapi aku urung karena tau Zayyan pasti akan meledekku lagi.
"kenapa kau hanya diam aja?" tanyaku heran pada Zayyan yang hanya diam saja selama dua jam itu.
__ADS_1
"apa yang harus aku bicarakan? aku nggak suka basa-basi hal yang jelas." ucapnya pelan.
"cih pantas saja,setiap hari kau hanya berteman dengan bang Gazza." ucapku pelan.
Aku merasa bosan,lalu beranjak dari tempat tidurku berjalan menuju laci meja belajarku. aku langsung mengambil kartu Remi dilaci meja belajarku. Aku menoleh kearah Zayyan.
"kuy main ini yok,bosan." ajakku membuat Zayyan yang tadi sempat menutup matanya lalu terbuka lagi melihatku memegang kartu Remi ditanganku. Ia pun langsung bangkit dari tidurnya dan duduk menyilang diatas kasur.
"kuy." ucapnya setuju,aku langsung semangat ikut duduk menyilang sepertinya. Seharusnya malam ini adalah malam kami menjadi suami-istri seperti pasangan pengantin yang lain,tetapi dimalam pertama kami,kami malah bermain kartu Remi seperti layaknya teman bermain.
"ini kartu wajik,keriting,sekop,sama hat—"
"tidak perlu kau kenalkan padaku semua itu,aku sudah tau." ucap Zayyan memotong pembicaraanku.
"ck,manatau kau tidak pernah memainkan kartu ini. Makanya kita tutorial dulu." gerutuku pelan lalu mengacak kartu-kartu itu lalu membagi masing-masing sebanyak tujuh kartu padaku dan Zayyan.
"jangan liat!!" cegahku saat Zayyan hendak membuka kartunya. Zayyan tampak menyerngit bingung menatapku, "lho kenapa? kan ini punyaku."
"ya sama aja,nanti ujung-ujungnya aku liat juga."
"harus sportif dong,aku masih bagiin kartunya woi."
"cih,ribet kali,yalah...yalah cepat bagiinnya." jawab Zayyan pasrah menatapku kembali membagi kartu untuk kami bermain nanti.
"okee selesai kita mulai yaa. Kau tau kan cara bermainnya?" tanyaku menatap Zayyan. Zayyan berdecak kesal padaku, "tentu saja aku tau." ketusnya.
"kalau kalah jangan nangis yaaa." ledekku menatap Zayyan.
__ADS_1
"kau juga." ucapnya sambil melirik kartu-kartu yang ada ditangannya. Dapatku lihat ada senyum seringai terbit dari wajahnya. Sempat aku terpana dengan wajah tampannya itu,tetapi alam sadarku menyadarkan aku untuk tidak menatapnya.
"eittts tunggu." cegah Zayyan saat aku hendak membuka kartu di deck. Aku menyerngit heran menatapnya, "ada apa?"
"dimana letak bedak kau?" tanya Zayyan membuatku menatapnya aneh. "untuk apa bedak sama kau kak?"
"untuk aku minum,ya untuk kita bermain lah." ucap Zayyan asal,aku terkekeh pelan smabil menunjukkan tempat bedakku berada. Zayyan langsung mengambil bedak itu dimeja riasku,lalu membawa mangkuk yang biasanya aku gunakan untuk maskeran ke atas kasur.
"untuk apa bedak itu?" tanyaku penasaran dengan pria itu,Zayyan tampak menuangkan beberapa bedak kedalam mangkuk tersebut.
"siapa yang kalah nanti,dia akan ditaburi bedak,gimana setuju???" ajak Zayyan menantang ku,aku tertarik dengan tantangannya dan menggangguk cepat, "kita lihat siapa yang akan kalah nantinya." ucapku bangga. Kami pun memulai permainan kartu Remi itu tanpa kami menyadari jika kami memainkan kartu itu hingga jam empat subuh.
"buahahahaha muka kau putih amat kak." ledekku menatap wajah Zayyan yang sudah penuh dengan bedak putih milikku. Apalagi wajahku juga ikut penuh dengan bedak,karena beberapa kali kalah darinya.
"hahahaha,kau juga kayak nenek lampir." ejek Zayyan lagi menatapku. Entah sudah berapa banyak bedak itu tertabur diatas kasur membuat kasurku seperti tertumpah tepung putih yang berserakan. Bantal-bantalku entah sudah tercampak kemana-mana.
Puas kami bermain,tanpa terasa aku sudah tertidur lelap begitu juga dengan Zayyan. Baru saja aku masuk kedalam mimpi,aku dikejutkan dengan suara gedoran kuat dari pintuku,ingin mengabaikan tetapi suara gedoran pintu terus saja bergema.
"sial,siapa sih yang ganggu orang tidur?!" kesalku masih ngantuk berjalan cepat ke depan pintu,begitu juga Zayyan merasa terganggu tidurnya menatapku sedang membuka pintu.
Zayyan bersandar disandaran kasur sambil mengucek matanya pelan menahan kantuk. Aku membuka pintu cepat dan mendapati abangku tengah berdiri didepan pintu. Gazza terkejut melirik kearahku dan Zayyan secara bergantian.
"pfffft buahahahaha." gelaknya tertawa lepas sambil memegang perutnya. Gazza tak henti-henti menahan tawanya melihat wajah kami penuh dengan bedak putih. Bahkan abangku yang laknat itu sampai menitik airmata didalam tawanya.
"ya Allah maafkan hamba mu ini...buahahaha ya ampun kalian,astaga kalian sumpah ngakak kali..." tawanya terpingkal-pingkal. Aku merasa kesal lalu menginjak kuat kaki abangku, "sialan kau bang!!" kesalku menatapnya yang masih menertawakan kami berdua,aku melirik kearah Zayyan yang sudah tumbang tertidur dikasurku bersama dengan kartu Remi yang berserakan disana.
"oi sakit!!!" gerutu Gazza memegang kakinya yang barusan ku pijak tadi.
__ADS_1
"semasa aku hidup baru kali aku lihat pengantin konyol kayak kalian,ngakak kali." kekehnya menatapku.
"biarin,kami pengantin yang berbeda dari yang lain. Sudahlah aku sangat ngantuk." ucapku menyudahi perbincangan konyol ini dan menutup pintu keras. Aku langsung berjalan gontai naik keatas kasur dan tertidur disana bersama Zayyan.