
"perkenalkan namaku Farah. Senang bertemu dengan kalian semua." ucapnya dengan nada lembutnya itu,lalu saat sudah boleh duduk. Farah langsung duduk disamping Vanya yang tepatnya sebaris denganku.
Farah tampak tersenyum kepadaku sambil mengulurkan tangannya, "aku Farah,salam kenal. Kamu cantik sekali." ucapnya memujiku. Aku mengangguk pelan, "aku Dasha,salam kenal." jawabku pelan sambil menahan emosi.
"Dasha? hmm aku jadi teringat seseorang." ucapnya sambil memikirkan namaku itu.
Kurang ajar,tentu saja kau ingat nama itu. Nama yang selalu kau bully!!. umpatku dalam hati. Tidak ingin membuat emosiku semakin naik,aku pun berjalan kedepan langsung menemui dosen.
"hmm permisi pak." ucapku pelan membuat dosenku mengerut keningnya menatapku,
"maaf pak,saya ada urusan mendadak,apa boleh saya izin tidak mengikuti kelas bapak hari ini?"
"kenapa? tidak biasanya kamu ada urusan seperti ini?"
"saya sangat urgent kali pak,keluarga saya." ucapku sambil memikirkan alasan yang tepat untuk bolos. Yap,aku ingin menenangkan diriku dulu untuk tidak melihat wanita brengsek itu.
"walah,ternyata ada sesuatu yaa. Hmm silahkan nak,lagian nilai kamu terus bagus. Kamu boleh keluar." ucap Dosen membuat aku tersenyum dalam hati dan mengucapkan terimakasih pada beliau.
Aku berjalan keluar lalu mengetik pesan pada Elisa.
Dasha (me)
El,aku ada urusan mendadak,nanti aku hubungi kau lagi.
Elisa
serius? ya sudah baiklah.
Aku berjalan menuju parkiran,lalu disaat aku hendak masuk kedalam mobil,aku dikejutkan oleh seseorang yang tengah bersandar dimobil sebelah mobilku.
"kau bolos ya??" ucapnya sambil tersenyum seringai.
"kak Zay? ngapain kau disini??" tanyaku tanpa memperdulikan raut wajahnya.
"tentu saja melihat istriku terciduk bolos kuliah."
"itu bukan urusanmu kak. Kau urus saja urusanmu sendiri."
"ckckck masyaAllah,istriku ini sangat emosian sekali yaa. Kau beruntung menikah denganku yang sabar seperti ini."
"ya ampun kak,kakak terlalu banyak berhayal. Sudahlah aku mau pulang."
"aku ikut." ucapnya tanpa permisi langsung duduk disampingku.
"haiis ngapain kakak masuk?!"
__ADS_1
"tentu saja,aku mau pulang."
"kau bukannya ada kelas jam segini??" tanyaku sambil melirik jam tanganku.
"wah,kau tau juga jadwalku,tidak kusangka kau menyelidiki diam-diam."
"terserah kau sajalah kak." ucapku pasrah lalu menancapkan gas keluar dari parkiran kampus. Dengan kecepatan diatas rata-rata aku langsung mengemudikan mobilku menuju tempat yang ingin ku kunjungi saat ini. Sedangkan Zayyan,ia tampak tenang dan tidak cemas melihatku membawa mobil laju-laju.
"aku dengar kau kedatangan teman baru."
"iya."
"namanya siapa?" tanya Zayyan menatap kearah Dasha yang sibuk fokus mengemudi.
"kenapa kau sangat penasaran dengan teman kampusku? kau suka dia kak?"
"hmm kalau suka gimana yaa??"
Ciiit
Perkataan Zayyan spontan membuatku langsung mengerem mendadak,untungnya saat ini kami tengah melewati jalan kecil dan tidak ada orang. Aku menoleh tajam kearahnya, "apa maksud kakak?"
"yaah maksudku mungkin saja aku menyukai dia. Aku dengar dia cantik."
"cih,dia hanya bermuka dua kak. Banyak mantan yang dicampakkan sama dia,kau jangan mau dibodohi kak."
"iyaa woi,jangan menyembut namanya dihadapan ku!"
"kenapa? kau cemburu aku menyukai dia?"
"cemburu?? hahahaha kau sudah gila kak?? untuk apa aku cemburu dengan hal yang tidak mendasar itu. Lagian dia suka pria tampan." ketusku langsung,aku memalingkan wajah dan tidak ingin menatap Zayyan.
"hmm kalau gitu,aku besok mengubah gaya rambutku lah." ucap Zayyan
Aku yang notabene istrinya tidak ikhlas jika ketampanan suaminya dilihat oleh wanita-wanita gila itu. Hanya aku yang boleh menatap wajah tampannya!!
"kenapa?" tanyanya melihatku melamun tadi,aku berdeham pelan menatapnya, "tidak apa-apa kak,ini cuman batuk biasa."
Zayyan menghela napas pelan, "apa kau pernah dengar cerita?" tanyanya menoleh kearahku.
"cerita yang kayak mana?"
"kau mau dengar aku bercerita?" tawarnya membuatku menoleh sekilas lalu fokus mengemudi kan mobilku.
"kau kak? serius? ya sudah kuy ceritakan cepat apa yang mau kau ceritakan kak??" tanyaku semangat ingin mendengar pria itu bercerita tentang suatu hal. Jarang sekali pria menyebalkan itu menawarkan dirinuntuk bercerita.
__ADS_1
"ada bebek tersandung masuk lumpur,trus ibunya kesusahan mencari dia,padahal dia tetap ada disitu menunggu Ibunya menolongnya. Tapi,ibunya tidak datang menolongnya,trus dia sedih dan pasrah ingin mengakhiri hidupnya. Untungnya saudaranya cepat menolong dia sebelum benar-benar mati,dah tamat." ucap Zayyan sambil ngerep.
Aku memandang malas kearahnya,seperti percuma saja menunggu dengan semangat mendengar ceritanya. "udah? gitu aja?"
Zayyan mengangguk mantap,aku menghela napas pelan kearahnya, "itu bukan cerita kak,singkat kali."
"sama aja,kan diceritakan juga. Oh ya ngomong-ngomong kenapa kau bolos? tidak seperti biasanya kau bolos." tanya Zayyan menatapku.
Aku menoleh sekilas kearahnya, "entahlah,aku tidak ingin masuk aja." jawabku asal. Tidak mungkinkan aku bilang padanya soal Farah,walaupun dia suamiku,dia tidak perlu tau masa laluku.
"alasan,kau pasti menghindari seseorang kan??" tebak Zayyan membuatku terdiam sebentar,lalu aku bersikap seperti biasanya.
"tidak,siapa bilang aku menghindari seseorang,membuang waktu saja."
"hmm kau tampak mencurigakan."
"terserah lah." ucapku sekilas lalu mengemudikan mobil menuju rumah. Ya tujuanku memang dari awal adalah tidur,dengan ditemani aromaterapi yang membuatku nyaman dan tenang.
Sesampai dirumah,aku langsung bergegas masuk seolah lupa kalau aku sedang bersama seseorang. Zayyan mengikutiku dari belakangku menuju kamar. Sampai kamar aku langsung membersihkan diri. Aku langsung berjalan kearah lemari untuk mengambil aromaterapiku.
"cih,kenapa aromaterapi ini diletakkan disini sih?!" gerutuku kesal karena tidak bisa menggapai aromaterapi yang terletak diatas lemari,aku terus berusaha mengambilnya walau harus loncat-loncat untuk meraihnya.
Deg. Jantungku berdebar kencang saat Zayyan tepat berdiri dibelakangku,bahkan tubuh kami tanpa jarak sekarang. Aku terdiam membeku tidak berani membalik badan menghadapnya. Zayyan tampak meraih sesuatu diatas lalu menepuk pelan bahuku.
"oi." panggilnya,tetapi aku tetap diam tidak beranjak dari tempatku,Zayyan langsung memutar badanku membuatku terhuyung kearahnya.
"nah,ini kan yang mau kau ambil?" tanyanya sambil memegang aromaterapiku,aku tersadar lalu mengangguk pelan," terimakasih."
"untuk apa sama kau aromaterapi ini?" tanyanya menatap aromaterapi yang kupegang,aku menoleh sekilas kearahnya, "untuk menenangkan diri, kenapa memangnya?"
"kau bisa stres juga ternyata,padahal sifatmu itu kekanak-kanakan kalau dirumah." ucapnya sambil berjalan menuju kasur dan membaringkan tubuhnya disana.
"tentu saja aku bisalah bodoh,melihatmu yang menyebalkan gini aja aku sudah stres." gerutuku pelan sambil menghidupkan aromaterapiku. Setelah hidup aku langsung meletakkannya tepat dinakas,lalu aku ikut berbaring disampingnya menatap langit kamarku. Aku sudah tidak canggung lagi tidur bersamanya sekarang,malah terasa nyaman ada seseorang disampingku.
"kau sengaja menghindari anak baru itu kan?" tanyanya membuatku terkejut dan monoleh kearahnya, "n-nggak kok."
"apa kau takut bertemu dengannya?"
"nggak,hanya saja aku malas masuk sekarang. Entah kenapa aku ingin pulang itu saja."
Zayyan memiringkan badannya menatapku, "huh,kau tidak pandai berbohong ternyata. Katakan siapa dia? sampai kau harus menghindari nya kayak gini?"
Aku menghela napas,lalu ikut membaringkan badanku menghadap kearahnya, "aku tidak mau mengingatnya lagi,ya aku akui aku memang ada masalah dengannya." jelasku pelan.
"kau sudah bertindak benar sekarang Dasha,lebih baik menghindar daripada harus bertemu." ucap Zayyan terlihat penuh makna didalamnya.
__ADS_1
Benar yang dia katakan,lebih baik aku menghindar saja daripada makan hati aku melihatnya. gumamku pelan lalu tak lama kami berdua pun tertidur saling berhadap-hadapan.