I Know Your Secret

I Know Your Secret
Dia Tidak Peka


__ADS_3

Akhirnya bantuan yang ditunggu datang,meskipun sedikit telat. Gazza tergesa-gesa keluar dari mobil saat melihatku ditempat itu. Ia pun terkejut juga melihat wajah pria yang pingsan disampingku itu.


"astaga,Zayyan. Oi bangun." seru Gazza menepuk pelan pipi Zayyan. Namun tak kunjung bangun juga,Gazza pun mengecek nadinya.


"huft,denyut nadinya lemah. Kita harus segera bawa kerumah sakit sekarang!" ucapnya langsung berlari menuju mobilnya,lalu memakirkan mobilnya didekat kami. Aku pun langsung membantu Gazza membopongnya masuk,setelah itu kamipun menancap gas kerumah sakit.


Sialnya,kami malah terjebak macet dipertengahan jalan,Gazza terus mencari cara keluar dari tempat macet itu.


"Dasha,lakukan apapun padanya,agar nadinya tidak terus melemah." ucap Gazza menoleh kearah kaca tengah menatapku yang duduk dibelakang bersama Gazza.


"a-apa yang harus kulakukan bang?" tanyaku panik tidak tau harus melakukan apa demi menyelamatkan nyawa Zayyan.


"trus usap tangannya,jangan biarkan sampai dingin. Usahakan tetap hangat." ucap Gazza lagi.


Aku pun langsung mengusap tangan Zayyan dengan sekuat tenagaku walau menggunakan satu tangan,sedangkan tanganku yang lain masih dalam gips. Aku melihat tangannya yang masih membengkak karena cedera kemarin yang sama denganku.


"bang,gips kak Zay nggak ada lagi. Tangannya masih bengkak."


"ambil minyak tunjong dibelakang kursiku,usap itu pelan-pelan ditangannya." jawab Gazza.


"oke." aku langsung mengoleskan minyak tunjong perlahan pada tangan Zayyan yang bengkak. Aku terus mengusap tangan Zayyan sampai tiba dirumah sakit.


Akhirnya kami pun tiba dirumah sakit,Zayyan langsung ditangani oleh tim medis. Kami pun hanya bisa menunggu diluar IGD.


"panas." ucapku mencium bau tanganku bekas minyak tunjong. Gazza hanya menggeleng-geleng melihat kelakuanku.


"dasar lemah." ledeknya,Aku menatap tajam kearah Abangku.


cih,bisa-bisanya dia bilang aku lemah. Aku ini Dasha gadis yang kuat bukan gadis yang lemah!. ucapku dalam hati.


"bagaimana bisa kau bersama Zayyan tadi?" tanya Gazza duduk disampingku.


"aku tadi tidak sengaja lewat situ,trus terkejut liat ada seseorang yang pingsan disitu. Pas aku liat orangnya eh ternyata kak Zayyan." jelasku pada Abangku.


Gazza hanya manggut-manggut mengerti. Aku menghela napas melihat sekeliling lorong,tampak ramai pasien yang datang kerumah sakit ini.


"bang,keluarganya udah dikasih tau?" tanyaku.

__ADS_1


Gazza mengangguk, "kata kakeknya lagi dijalan,mungkin sebentar lagi datang."


"orangtuanya?" tanyaku lagi.


"udah nggak ada,sekarang dia hanya tinggal dengan kakeknya aja." ucap Gazza pelan. Tak lama kemudian Gazza melirik dari kejauhan pria tua tengah berbicara dengan resepsionis. Gazza yang mengenal pria tua itu langsung berlari menghampirinya.


"kakek." sapa Gazza,pria itu menoleh dan tersenyum kearah Gazza.


"Gazza,dimana Zayyan?" tanyanya sedikit khawatir dengan keadaan cucunya. Gazza pun menunjuk kearahku,seperti menunjuk tempat Zayyan berada saat ini. kedua pria beda umur itu berjalan mendekati kearahku. Aku tersenyum padanya dan mempersilahkan kakek itu untuk duduk.


"silahkan duduk dulu kek." ucapku sopan,Kakek itu tersenyum padaku, "terimakasih nak."


"bang,aku pergi ke kantin bentar ya." pamitku pada Gazza,langsung dianggukan Gazza. Aku berjalan kearah kantin yang tak jauh dari lorong tempat Zayyan tengah ditangani saat ini. Aku membeli beberapa air mineral dan makanan ringan,lalu kembali ketempat Gazza dan kakek itu berada.


"ini kek,minum dulu." tawarku sambil menyodorkan sebotol air mineral pada kakek itu,Kakek itu mengangguk lalu mengambil air mineral itu dari tanganku.


"terimakasih nak,kamu baik sekali." ucap Kakek itu tulus,Aku mengangguk sambil menampakkan senyuman manisku.


"sama-sama kek." kami pun menunggu sampai ada kabar dari dokter yang mengobati Zayyan.


Aku melirik dari celah pintu menatap haru antara kakek dan Zayyan. Ada terbesit dalam hatiku sedih,Zayyan hanya punya kakeknya. Tanpaku sadari mereka ternyata sadar dengan keberadaanku. Aku dengan kikuk masuk kedalam ruangan Zayyan dan berjalan mendekati kakek.


"maaf menganggu kek." lirihku pelan karena merasa bersalah telah mengganggu aktivitas keduanya.


"tidak,kamu tidak menganggu kok. Ayo sini." ajak Kakek sambil menepuk kursi disebelahnya. Aku pun langsung duduk disamping kakek dan melirik kearah Zayyan.


"gimana keadaannya kek?" tanyaku berbasa-basi.


Zayyan melirik kearahku, "seharusnya kau tanyakan pada orangnya langsung." ucapnya sedikit ketus.


Wah ini anak nyari ribut trus. gerutu dalam hati menatap kesal kearah Zayyan.


"oh,maaf aku baru sadar kau sudah siuman." ucapku pelan,ia hanya menghendus pelan.


"dimana Gazza?" tanya kakek tidak melihat abangku disekitar sana. Aku juga tidak tau keberadaan Gazza,padahal tadi kami sama-sama mau masuk kedalam ruangan ini.


"tari dia datang bersamaku kek,tapi kayaknya dia ke toilet dulu." ucapku sembari mencari alasan.

__ADS_1


"oo yasudah. Kamu udah makan Sha?" tanya Kakek melihatku.


"hmm sudah tadi kek." jawabku bohong. Padahal daritadi aku belum ada makan apapun. Aku sedikit canggung bilang pada kakek lapar,takutnya malah merepotkan beliau.


Tidak apa-apa Dasha,kamu nanti bisa makan banyak dirumah. Tenanglah,tunggu Gazza datang baru aku minta pulang. gumamku dalam hati.


"benarkah? yakin sudah makan?" tanya kakek memastikan lagi,Aku mengangguk yakin.


"baiklah, kakek pergi makan dulu diluar,kakek boleh minta tolong jagain Zayyan sebentar?" pinta kakek menatap harap kearahku.


"kakek,aku bukan anak kecil lagi yang harus ditemani. Aku bisa sendiri kok." ucap Zayyan sedikit ketus. Kakek langsung mengelus kepala Zayyan pelan, "biarpun kamu sudah besar,tapi dimata kakek kamu masih kecil. Kakek beli makanan dulu bentar." ucap Kakek berlalu keluar dari kamar Zayyan.


Aku sedikit menahan tawa melihat raut kesal yang ditunjukkan Zayyan, Zayyan langsung menatap tajam kearahku. "kenapa? ada yang lucu?" ketusnya.


aku menghela napas pelan, "aku ingin tanya sesuatu." tanyaku membuka topik pembicaraan diantara aku dengan dia. Zayyan diam menunggu kelanjutan dariku.


"kenapa kakak bisa ada disana? padahal tempat itu sepi lho kak?"


"aku tadi menolong anak kecil dari preman gila disana. Tapi,karna kondisiku lagi terbatas. Alhasil aku kurang menyeimbangkan pertarungan itu,lalu seperti yang kau lihat sekarang." jelas Zayyan.


"oh terimakasih sudah menolongku." ucap Zayyan tulus menatapku,aku sempat tertegun menatapnya.


"tidak masalah." ucapku tenang.


Tak lama kemudian,kakek membawa dua makanan. Satu untuk sang kakek dan satu lagi untuk Zayyan. Tetapi,karena ada masalah dalam perusahaannya,kakek langsung terburu-buru keluar dari ruangan untuk menyelesaikan masalah diperusahaannya. Jadi,tinggallah kami berdua disini.


Aku sempat tergiur dengan aroma nasi Padang saat dibuka tadi. Tapi,aku harus berusaha menahan rasa laparku saat ini. Aku tidak boleh merepotkan orang lain.


"hmm sepertinya enak,kau mau?" tawar Zayyan menyodorkan makanannya padaku,Aku ingin mengangguk tapi aku paksakan untuk tidak tergiur terlalu lama.


"tidak terimakasih,kau saja yang makan." tolakku halus.


Zayyan mengangguk, "ya sudah,kalau gitu aku makan langsung." ucap Zayyan menikmati makanannya. Aku sesekali mengelap aiur liur yang hampir menetes dari mulutku.


"kau mau?" tanyanya lagi menatapku heran. Lagi-lagi aku menggeleng menolak ajakannya. "ya sudah kalau gitu,aku habiskan saja semuanya." ucapnya dengan yakin.


Haiiis,pekalah sedikit. Harusnya kau yang membagikan nasinya agar kita bisa makan sama huhuhuhu. gerutuku sambil menghentakkan kakiku pelan.

__ADS_1


__ADS_2