
Aku bingung harus berbuat apa saat ini. Masih diam dikamarku,menunggu Ibuku memanggilku. Benar saja,Ibu dan Elisa langsung masuk kedalam kamarku dan berjalan kearahku.
"selamat sahabatku,kau sudah menikah sekarang!" pekik Elisa dengan senang. Begitu juga dengan Ibu yang mengelus kepalaku lembut, "nah,yok kita kebawah nak. Suamimu sudah menunggumu."ucap Ibu membimbingku berjalan.
Dengan perlahan-lahan aku menuruni anak tangga pelan,membuat semua orang menoleh kearahku. Aku hanya bisa menunduk tanpa berani melihat tatapan mereka semua. Tanganku mulai dingin dan gemetaran saat sudah duduk disamping Zayyan. Rasanya berbeda duduk disamping pria menyebalkan itu sebelum menikah. Aku mengikuti instruksi dari penghulu untuk mencium tangan Zayyan begitu juga dengan Zayyan yang mencium keningku.
"nah,kau agak kalem kalau pakai hijab,nggak seperti kemarin kayak singa." bisik Zayyan setelah mencium keningku. Ia pun menunjukkan senyum ledeknya padaku sekilas lalu menoleh kedepan. Gugup yang kurasakan tadi menguap begitu saja melihat tingkah menyebalkan pria menyebalkan itu.
Bisa-bisa aku stres tingkat tinggi kedepannya. gerutuku pelan dalam hati. Setelah menandatangani surat nikah,kini acara resepsi dilakukan dengan kekeluargaan. Ada beberapa tetangga diundang kedalam resepsi pernikahanku. Acara resepsi itu tidak berlangsung lama mengingat para kaum Adam akan menunaikan shalat Jumat di Mesjid.
Aku tergiur menatap cemilan yang dihidangkan tak jauh dari tempatku duduk. Ingin rasanya aku mengambil semua kue-kue yang begitu lezat itu ke kamarku,tapi orang-orang disini terlalu banyak. Elisa ,ia terlihat cuek dan tidak peduli pandangan orang terhadapnya saat dirinya asyik mengambil banyak kue-kue itu dipiringnya.
Woaah El,aku mau satuuu. pekikku dalam hati menatap Elisa yang semangat mengambil kue-kue itu. Tetapi sahabatku yang satu itu tidak peka dan asyik menikmati kuenya.
"kasian,nggak bisa makan kue." ledek seseorang disampingku membuatku menatap datar kearahnya. "cih,itu bukan urusanmu." ketusku pada Zayyan. Memang saat ini kami duduk di pelaminan menyambut para tamu yang datang ke pernikahanku sambil berfoto dengan aku dan Zayyan. Mungkin sudah berpuluhan GB memori kamera untuk memfotokan kami semua.
"kau pasti mau kan???" ledeknya lagi sambil menoleh sekilas kearah cemilan yang dihidangkan itu. Aku menoleh kearah Zayyan," mending kau sholat dulu kak,ntar naik mimbar lagi." ucapku sambil melirik jam tanganku. Zayyan ikut melirik jam tangannya dan mengangguk,ia pun memanggil Gazza yang duduk disalah satu kursi dekat Ayahku.
__ADS_1
Aku hanya melihat Zayyan tengah bercengkrama dengan Gazza,dapat kulihat mereka kembali cekikikan sekilas menatap kearahku. Aku sedikit curiga dengan mereka,berusaha tidak peduli dengan yang dilakukan mereka,aku pun hanya duduk termenung disana menatap lalu lalang para tamu menikmati hidangan yang disajikan dirumahku.
"jangan melamun pengantin baru!" seru Elisa sudah duduk disampingku,aku menoleh senang kearahnya. "mau dong kuenya." ucapku tergiur dengan kue yang dibawa Elisa. Elisa mengangguk dan menyodorkan kue itu padaku,aku langsung menerimanya dengan cepat.
"thanks,kau memang sahabatku yang baik." ucapku senang sambil menikmati kue.
Setelah acara selesai,aku langsung bergegas ke kamarku dengan cepat. Tanpa mereka sadari,pengantin perempuan mereka sudah berada dikamarnya saat ini. Dengan senyum bangga,aku langsung melepaskan gaunku dan melempar asal,lalu berlari ke kamar mandi. Aku langsung berendam di bathtub. Cukup lama berendam tanpa kusadari sudah satu jam disana,aku pun menyudahinya dan mengambil baju handuk kimonoku. Aku berjalan keluar dengan santai sambil melepaskan ikat rambutku dan membiarkan rambut hitamku tergerai. Aku berjalan menuju lemari pakaian dan memakai pakaianku,setelah itu menghidupkan komputerku. Tak lupa juga aku meletakkan gaunku tadi ke keranjang kotor mengantisipasi jika ada seseorang yang masuk ke kamarku.
Bisa-bisa aku kena semprot lagi sama Ibu kalau kamarku ini kotor. gumamku pelan
Aku juga sempat berhasil mengambil cemilan yang ada dimeja tadi sebelum kabur ke kamar. Sambil menikmati kue lezat itu,aku langsung duduk didepan komputer. Baru saja aku mau membuka applikasi gameku, tiba-tiba saja Elisa langsung masuk kedalam kamarku. Aku langsung terburu-buru membuka file secara asal.
"luar biasa!! dihari pernikahanmu masih sempat-sempatnya mengerjakan tugas. Salut deh sama kamu Sha!!" seru Elisa melirik layar komputerku,aku menoleh kearah layar komputerku yang menunjukkan file tugas yang semalam aku kerjakan kemarin.
"eh,hehehe." ucapku sambil menggaruk tengkukku tidak gatal. Banyak hal yang kami ceritakan sampai tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Elisa yang masih memakai gaun maroon pemberianku segera berdiri dan mengambil tasnya.
"antar aku kebawah dong." ajak Elisa padaku. Aku pun mengangguk setuju dan mengantarkan Elisa pulang sampai depan teras. Setelah itu aku langsung berlari keatas menuju kamarku.
__ADS_1
"Dasha!!" panggil Ibu melihatku terburu-buru menaiki anak tangga,aku langsung berhanti dan menoleh kearah Ibu dari tangga.
"dimana suami kamu? siap pulang sholat Jum'at tadi ibu tidak melihatnya. Kamu tau dimana dia?" ucap Ibu mencari keberadaan Zayyan.
Zayyan? hilang? woah pria tinggi itu bisa hilang jugaa???. gumamku cekikikan membuat Ibu terheran-heran melihatku.
"suami kamu hilang,kamu malah cekikikan sendiri,udah gila ya??" seloroh Ibu menatapku heran. Aku langsung menatap Ibu,"nggak kok Bu,tapi Bu kak Zay kan dah besar. Nggak mungkinkan hilang dia." ucapku.
"iyaa dia memang dah besar,tapi dia kan suami kamu. Hubungi dia cepat,kakeknya nyari dia." ucap Ibu berjalan ke kamarnya. Aku menghela napas dan bergegas ke kamar mengambil ponselku. Aku menelpon Zayyan sambil membuka applikasi gameku. Terdengar suara dering yang asing dikamarku,membuatku mencari sumber suara itu. Suara nada dering itu semakin kuat saat aku mendekati kolong kasur,dengan perlahan-lahan aku melihat dibawah kolong kasurku dan terkejut melihat Zayyan tengah terlelap disitu.
"Astagfirullah kak,apa yang kau lakukan disini?!" tanyaku panik mendapati Zayyan dibawah kasur. Pria itu sedikit mengucek matanya,lalu keluar dari kolong kasurku dan menatapku dengan tatapan tidak bisa diartikan.
"kenapa kau bisa disitu Kak?" tanyaku lagi. Namun tidak ada jawaban dari pria itu,ia malah berjalan ke kamar mandiku.
"jangan mengikutiku." ucapnya pelan lalu menutup pintu kamar mandiku. Aku menyerngit bingung menatap pintu kamar mandiku yang sudah tertutup itu.
Tunggu,jika Zayyan ada disitu berarti dari tadi... gumamku langsung menoleh kearah Zayyan yang baru saja keluar dari kamar mandi mengenakan kaos oblong hitam. Aku ternganga melihat pria itu terlihat sangat tampan,sampai aku tidak bisa berkata-kata. Tidak seperti Zayyan yang merupakan pria culun,berkacamata,rambutnya terlalu rapi tapi sekarang pria menyebalkan itu terlihat sangat tampan bahkan mengalahkan ketampanan Gazza, Abangku.
__ADS_1
"ka-kau??" tanyaku sedikit terbata-bata menatap Zayyan. Zayyan yang baru saja mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil menyerngit bingung menatapku. Namun saat dirinya berdiri didepan cermin,dirinya seakan-akan paham dengan situasi saat ini. Ia pun menoleh kearahku, "kau terkejut yaa??" ucapnya menaikkan sudut bibirnya menatapku. Aku langsung memukul lengannya,dan berlari kencang keluar kamarku.
"dasar gila!!! anj****r terkejut aku. Fyuuh ya ampun,ke-kenapa Zayyan bisa setampan itu?? apa selama ini dia sengaja berpenampilan culun???" gumamku pelan sambil meneguk segelas air putih di dapur. "aku harus gali lagi lebih banyak tentangnya!!" gumamku semangat. Tak lupa tanganku sibuk mengipas-ngipas wajahku.