I Know Your Secret

I Know Your Secret
Aku Merindukanmu


__ADS_3

Aku menarik tangan Elisa menuju kantin. Setelah bersusah payah bertahan di dalam kelas dosen killer,akhirnya kami bisa melepaskan rasa penat kami. Aku dan Elisa memesang es jeruk untuk menghilangkan dahaga.


"Gilaa,bukannya selesai malah bertambah tuh tugas" gerutu Elisa berdecak kesal. Gadis itu berkomat-kamit dengan tugas yang baru saja dikasih oleh dosen killer itu.


"sabar,lagian ini tugas kelompok pun. Aman santai dong." seruku sambil menyeruput es jerukku.


"kau enak,kau pintar Sha. Lah aku? gimana?"


"haiiss jangan bilang gitu,semua orang itu pintar El,tidak ada yang bodoh. Hanya saja usaha mereka berbeda-beda makanya gitu."


"huft,iya juga sih."


Aku menyapu sekitar,dan terkejut mendapati seseorang dibalik pohon tengah tersenyum seringai padaku.


Deg. Aku hanya melirik sekilas kearah Elisa,sepertinya gadis itu tidak sadar dengan keberadaan seseorang.


"Sha,kau liat apa?" tanya Elisa bingung menatapku tidak bergeming. Ia pun menatap kearah apa yang kulihat.


"Dasha,kau lihat apa?" Tanya Elisa bingung,ia tidak melihat apa-apa yang ada dibalik pohon.


"ah,tidak ada. Aku hanya teringat sesuatu aja." kilahku bohong. Elisa hanya manggut-manggut mengerti tanpa merasa curiga.


Kenapa dia harus disini? apa yang dia mau sebenarnya?? gunamku kesal dalam hati.


"Sha,nanti temanin ke mall yaa." pintanya tiba-tiba membuatku menyerngit heran, "tumben? mau beli apa emangnya?"


"hadiah." ucapnya pelan sambil cekikikan.


"untuk?" tanyaku lagi.


"ck,dasar adek durhaka. Masa tidak ingat ulang tahun abangmu sebentar lagi beb. Ya ampun," gerutunya. Aku langsung menyerngit heran,bukannya ulang tahun abangku itu lima bulan lagi?


"ulang tahun dia kan masih lama,kenapa kau beli kadonya sekarang?" tanyaku penasaran dengan gadis yang satu ini.


"hmm ini kado yang spesial Sha. Aku harus mempersiapkan dari jauh hari dong." ucapnya bangga.


"kan tinggal beli,kenapa harus susah payah dari sekarang?" tanyaku lagi.


"nanti kau akan tau Sha." cengirnya pelan. Aku hanya bisa menghela napas pelan. Aku melirik sekali lagi seseorang pengganggu yang ada dibalik pohon itu. Orang yang menganggu ketenangan kami,lebih tepatnya kearah Elisa. Gadis itu sampai saat ini masih belum tau apa-apa soal dirinya tengah berada didalam ancaman seseorang. Dan gadis itu juga punya banyak rahasia yang belum aku ketahui sama sekali. Rahasia besar yang tidak diketahui oleh siapapun termasuk aku.


"ya sudah,skuy lah nanti."


"tapi—" ucapnya pelan membuatku menoleh kearahnya lagi.


"apa?"


"kita ada tugas bukan? kapan deadlinenya?" tanyanya lagi.


"huft,ku kira tadi apa. Bentar aku liat dicatatanku." ucapku sambil merogoh ranselku dan menemukan catatan kecilku.

__ADS_1


"tenang,satu bulan lagi kok kumpul tugasnya." ucapku disambut riang oleh Elisa.


"yey,bisalah aku mengurusi kado itu!!" semangatnya sambil menampakkan senyum sumringah. Aku hanya tersenyum tipis menatap kearahnya. Seketika aku teringat lagi dengan video yang kulihat semalam, aku sedikit merasa kasihan melihatnya.


Apa selama ini kau menyembunyikan kesedihanmu sendirian El? lirihku pelan dalam hati. Aku tidak tau pasti siapa yang salah dalam video itu. Yang jelas saat ini,aku harus hati-hati dan terus bersama Elisa. Karena pria brengsek itu masih terus mengawasi kami setiap waktu.


Hari sudah menjelang siang,kami pun langsung bergegas pergi ke mall. Membeli peralatan yang dibutuhkan Elisa. Aku masih belum tau,apa yang direncanakannya saat ini.


Hei bang,kau beruntung dicintai gadis ini,tapi kenapa kau tidak menyukainya?. gumamku dalam hati,mengingat Gazza pernah bilang padaku bahwa pria itu sama sekali tidak menyukai Elisa. Entah alasan apa yang membuat abangku itu tidak menyukai Elisa.


Nada dering ponselku menyadarkan aku dari lamunan,aku pun sumringah saat mengetahui siapa yang menelponku.


"hallo assalammualaikum." seruku membuat yang mendengar suaraku disana terkekeh pelan.


"kenapa kau senang sekali? jangan-jangan kau merindukanku yaa?" tebaknya membuatku berdecak pelan.


"jangan kegeeran yaa,aku ini lagi healing,makanya senang sekarang." celotehku sambil melirik kearah Elisa yang masuk kedalam toko yang menjual alat-alat untuk menjahit. Aku mengikutinya langsung masuk kedalam sambil menelpon Zayyan.


"healing? dengan siapa?" tanya Zayyan dari seberang sana.


"dengan Elisa." jawabku.


"ooo,emang kalian nggak ada tugas yaa? kok malah nyantai gini?" tanyanya.


"hei bang,kau ini suka sekali melihat orang menderita. Ya kami tuh juga butuh healing lah. Apa kau tidak kasihan melihat kami udah kek mayat hidup yang terus berkutat dengan tugas." gerutuku panjang lebar,sedangkan Elisa yang mendengar celotehan ku tertawa pelan sambil melirik benang-benang itu.


"hahahaha,ada aku peduli? nggak kan." ledeknya lagi membuatku kesal.


"heh jangan, ya ampun sayang kau ini cepat sekali marahannya." ucap Zayyan memelas.


Aku lagi-lagi tersipu malu saat mendengar Zayyan memanggilku sayang.


"hallo? kau masih disanakan sayang?"


"iyaa...iyaa aku masih disini. Apa kau masih lama lagi bang disana?" tanyaku lagi.


"dua bulan lagi sayang. Ada yang harus aku lakukan dulu." ucapnya.


Memang sih,sudah dua hari pria itu bertugas didaerah terpencil itu membuat rumah sedikit sepi. Biasanya kalau ada suamiku,rumah itu pasti ribut dengan perdebatan kami. Bahkan keluargaku harus menghela napas menghadapi kelakuan kami yang tak ada habis-habisnya.


Terutama Gazza,yang selalu terseret kedalam perdebatan kami. Abangku itu menggerutu kesal,setiap kami berdebat. Dan dialah yang terus menjadi sasaran empuk perdebatan kami.


Ah,aku jadi rindu bertengkar dengan dia. Kalau jauh rindu tetapi kalau dekat sering bertengkar. gumamku pelan.


"aneh." ucapku tanpa sadar masih menelpon dengan Zayyan.


"apanya yang aneh?" tanya Zayyan bingung.


Aku tersentak,lalu menggeleng pelan. "nggak ada,cuma bilang aja. Nggak usah diperdulikan apa yang kubilang tadi bang."

__ADS_1


"terserah kau sajalah."


"oh ya dimana bang Gazza?" tanyaku, mendengar nama Gazza membuat Elisa sedikit mendekat kearahku untuk menguping.


"ini dia disampingku,lagi tiduran." jawab Zayyan sekena.


"nj***r kalian tidur berdua? apa jangan-jangan kalian—"


"hei adek laknat,jangan ngadi-ngadi yaa. Aku ini pria normal." ketus Gazza yang mendengar ucapanku, Sontak aku tertawa mendengar gerutu abangku itu. Sepertinya Zayyan mengeraskan pengeras suara ponselnya agar mereka berdua mendengar suaraku.


"ya santai ajalah bang,nggak usah ngegas juga." gelakku membuat Gazza berdecak kesal.


"hei Yan,uruslah istri gilamu itu!" cercanya membuatku kesal.


"woi,adek sendiri masa dibilang gila?! wah punya Abang nggak ada akhlak benar yaa!!" ketusku.


"Za,jangan mengejek istriku. Dia itu menggemaskan masa dibilang gila." protesnya.


"aaah makasih sayaaang." ucapku manja senang dibela suami sendiri.


"idih,sanalah kalian berdua. Dasar suami istri nggak jelas." gerutu Gazza jengah dengan kami berdua. Sedangkan aku dan Zayyan tertawa keras mendengar reaksi Gazza. Begitupun Elisa yang tengah menahan tawanya mendengar celoteh kami.


"Gazza! Zayyan! ayo kita harus bersiap!!" ucap seseorang memanggil nama mereka.


"ya sudah nanti kita sambung lagi yaa,jaga dirimu baik-baik sayang. Eh ya,kalau bisa Elisa nginap sama kau Sha." ucap Zayyan lagi.


"tanpa Abang bilangpun sudah kulakukan. Semalam Elisa menginap dirumah kok."


"ibu sama ayah dah pulang?"


"belum. Tadi pagi aku telpon katanya agak lama disana. jadi belum pasti kapan datangnya."


"ooo oke okee,kalau ada apa-apa.kabari yaa." pintanya lagi.


"jangan keluyuran nggak jelas Sha."


"iyaa...iyaa suamiku,kalau gitu aku tutup telponnya yaa. Assalammualaikum."


"wa'alaikumsalam." ucap Zayyan langsung mengakhiri panggilan kami.


"ya ampun,kalian ini lucu sekali." ucap Elisa tertawa pelan mengingat perdebatan kami.


"tulah,hahahaha. Oh ya kau jadinya beli apa? kenapa kita disini?" tanyaku mengingat kami tengah berada di toko yang menjual alat-alat menjahit.


"ini." seru Elisa sambil menunjukkan benang rajut yang keliatannya mahal.


"tunggu sebentar,jangan bilang kau mau buat sesuatu untuk bang Gazza?" tebakku langsung dianggukan olehnya.


"Anda benar sekali." seru Elisa langsung pergi membayar ke kasir. Sedangkan aku menggeleng pelan melihat kelakuan sahabatku itu.

__ADS_1


"ya ampun."


__ADS_2