I Know Your Secret

I Know Your Secret
Berdebat Lagi


__ADS_3

Aku tidak percaya jika diriku akan memakai gaun pengantin yang cantik ini untuk pernikahanku yang akan berlangsung lima hari lagi. Saat ini aku berada di Butik bersama Zayyan. Jangan lupakan jika ada Gazza yang senantiasa menemani kami untuk mempersiapkan pernikahan sederhana kami. Yap,kami memang sepakat untuk mengadakan pernikahan secara sederhana dan hanya mengundang keluarga besar. Ini memang kemauanku agar tidak memberatkan yang lain.


"kau pilih yang mana?" tanya Zayyan menatapku yang masih belum memilih gaun yang akan ku pakai. Aku menoleh kearah sebentar lalu kembali mengedarkan pandanganku kearah jejeran gaun-gaun cantik itu.


"entah,ini sangat sulit kupilih." ucapku asal smabil memilah gaun itu. Zayyan tampak menghela napas melihatku, Ia pun langsung mengambil gaun untukku yang menurutnya bagus.


"nah,pakai aja yang ini." ucap Zayyan sambil menyodorkan gaun putih itu padaku.


"cie ciee,baik sekali calon adik iparku ini." goda Gazza menatap kami berdua. Aku menoleh tajam kearah Gazza.


"ya ampun Sha,santai dong liatnya. Nanti Zayyan batal nikah sama kamu lagi." selorohnya pelan membuatku langsung memukul lengan Gazza.


"hush,perkataan doa bang." gerutuku langsung melenggang masuk ke ruang pas,mencoba memakai gaun yang dipilihkan Zayyan tadi. Setelah bersusah payah memakai gaun itu,aku takjub melihat diriku didepan cermin saat memakai gaun itu.


"Anja**y,rupanya memang cantik yaa diriku ini xixixi." celotehku memuji diriku sendiri,setelah merasa siap,aku pun perlahan keluar dari ruang pas.


"Bang,gimana penampilanku cantik kan?" tanyaku sambil memutar-mutar badanku. Gazza dan Zayyan hanya diam menatapku dengan muka datar mereka.


"cih,tolong responnya tuan." jengkelku saat tidak melihat tanda-tanda pujian keluar dari mulut mereka.


Zayyan tampak menyenggol lengan Gazza sambil berbisik sesuatu,Gazza terkekeh pelan saat mendengar bisikan Zayyan.


Aku yang melihat itu mengira mereka sedang menertawakan ku,dengan langkah kesal aku kembali masuk kedalam ruang pas dan mengganti baju seperti semula lagi.


"tidak sesuai harapan." ucapku menggerutu kesal,setelah mengganti baju aku langsung menuju kasir dan menyerahkan gaun itu pada karyawan butik itu.


"tolong ini satu yaa,yang bayar gaun ini pria yang tinggi pakai kacamata itu." tunjukku kearah Zayyan,dan aku langsung melenggang keluar tanpa mendengar panggilan pria itu.


Aku masuk kedalam mobil sambil menunggu mereka yang kulihat tampak berdebat sesuatu. Aku tidak peduli dan hanya memainkan ponselku.


ceklek. Mereka langsung masuk kedalam mobil sambil membawa belanjaan yang tadi. Zayyan dan Gazza melirik kearahku yang duduk dibelakang.


"kau marah?" tanya Zayyan menatapku,aku melihat sekilas lalu kembali memainkan ponselku.


Zayyan kembali menghadap kedepan,Gazza juga hanya diam dan mengemudikan mobilnya menuju ke tempat belanja yang lain. Kali ini kami menuju tempat perhiasan untuk membeli cincin pernikahan.


"eh Za,kemarin aku ada lihat PS 5 lho." ucap Zayyan membuka topik,sengaja ia besarkan suaranya menatapku dengan kaca spion tengah.


"serius? duit tabunganku kayaknya udah cukup beli itu. Kuy beli kapan?" seru Gazza tampak antusias.


Aku yang mendengarnya rasanya ingin ikut juga dengan mereka. Aku yang menunggu untuk membeli Play Station impianku itu,tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada.

__ADS_1


"aku ikut." seruku menatap keduanya dari kaca spion tengah. Zayyan langsung melirikku kebelakang, "oh udah nggak marah lagi yaa." ledek Zayyan seketika membuatku kesal.


"aku masih marah." gerutuku sambil menendang kursi Zayyan dari belakang.


"hei!! jangan menghancurkan kursi mobilku Sha!" protes Gazza tidak terima mobil kesayangannya kenapa-kenapa.


"cih,ini kan hanya mobil bang,bukan orang. Santai ajalah."


"enak aja,beli mobil nih susah yaa. Kamu mah hanya tau mintak doang,nggak pernah tau susah cari uang tuh gimana."


"hei kak,aku ini juga tau yaa susah cari uang tuh gimana,jangan kakak kira aku hanya anak manja yang tau cuman minta doang. Aku ini juga nyari duit juga loh."


"masa? emangnya kamu kerja apa sampai kamu bangga kayak gitu??"


"aku buka jasa ketik,banyak mahasiswa yang minta tolong padaku. Untungnya banyak."


"idih,kamu aja pemalas,gimana mau buat tugas orang."


"eitss jangan salah kira yaa kak,aku ini Dasha anak yang paling rajin,Sholehah,dan berbakti kepada orang tua. Tidak seperti Abang yang tau hanya tidur,makan,main game."


"apa yang kau bilang itu tidak terbalik yaa? itu kan kau yang tau cuman makan,tidur,malas-malasan."


Zayyan hanya diam mendengar ocehan kakak beradik itu. Ia langsung memakai headset tidak peduli dengan ocehan orang disampingnya.


"ayo cepat kak,nanti waktunya habis." gerutuku saat melihat Zayyan belum memilih satupun cincin untuk pernikahan kami,padahal kami sudah berada disini selama satu jam.


"sabarlah dulu." gumam Zayyan menatap semua cincin yang disodorkan penjual emas itu.


"bagaimana tuan,yang mana cincin yang anda suka?" tanya penjual itu sopan,padahal dirinya sudah satu jam menunggu pembeli itu segera membeli cincin ditokonya.


Aku yang melihat itu langsung kesal dan turun tangan, "pak,biar saya yang pilih." ucapku langusng menatap semua cincin itu.


"saya pilih yang ini pak." seruku sambil menunjuk cincin emas yang terlihat sederhana itu,Zayyan menoleh kearahku.


"sederhana sekali modelnya,kenapa nggak yang lain?"


"untuk apa mewah kali,aku tidak suka yang banyak permatanya. Kayak emak-emak."


"tapi kan yang banyak permata itu cantik." protes Zayyan kekeh dengan pilihannya,ia pun menunjuk cincin yang memiliki permata yang banyak.


Aku memang suka sih dengan pilihannya,cuman yaa itu berlebihan kali. gumamku melihat cincin yang sedang dipegang Zayyan.

__ADS_1


"tidak,aku pilih yang ini saja." ucapku masih tetap dengan pilihanku.


"ini tidak cantik Sha,yang ini saja."


"tidak,aku mau yang ini."


"nggak cantik dilihat."


"suka-suka aku lah,yang makai cincin siapa,aku atau kau?" tanyaku kesal


"tentu saja kau." jawab Zayyan langsung.


"nah,tuh tau. Pak nggak usah dengarkan dia,kami pilih yang ini saja. Tapi,yang bayar dia yaa pak." ucapku langsung mengambil cincin sederhana itu dan memberikannya pada penjual itu. Zayyan tampak menggerutu melihatku. Aku melihat senyuman sekilas yang muncul dari wajahnya.


Ah,mungkin aku salah lihat. gumamku kembali menatap raut wajah datar Zayyan. Pria yang memakai kacamata itu langsung mengeluarkan kartu legend dari dompetnya lalu menyerahkan pada penjual itu.


"abis ini pulang lagi kan?" tanyaku. Memang aku sudah lelah dan pegal bolak-balik jalan kesana-kesini.


"kau tidak ingin membeli sesuatu gitu? kayak aksesoris,baju,atau ce—"


"tidak terimakasih. Aku sudah capek,aku mau pulang." tolakku langsung. Aku ingin cepat-cepat membanting badanku dikasur empukku itu.


"wow biasanya wanita suka belanja,tapi kau terlihat seperti tersiksa begitu saat belanja."


"cih,jangan samakan aku dengan wanita lain. Aku tidak suka belanja tidak faedah."


"Lah,komik kemarin yang mau kau beli itu faedah?"


"yah itu beda lagi. Itu sangat bermanfaat untuk merilekskan otak. Sudahlah ayo pulang." ajakku langsung menyudahi percakapan ini. Aku langsung berjalan duluan kearah Gazza yang tengah duduk sambil memegang ice coklat ditangannya. Aku langsung merampas ice coklat itu dan menyeruputnya langsung.


"Dasha,itu bukan punyaku." seru Gazza terkejut saat aku mengambil langsung ice coklat ditangannya.


Aku tersedak,lalu menatap Abangku, "lalu ini punya siapa?" tanyaku panik.


"itu punya Zayyan." jawab Gazza pelan,aku langsung menelan saliva menatap ice coklat ditanganku ini. Aku langsung memberikannya pada Gazza sebelum Zayyan datang menuju tempat kami.


Saat Zayyan datang tanpa kami sadari,ia pun merampas ice coklat ditangan Gazza dan menyeruputnya cepat. Aku langsung terngaga dan terkejut melihat hal itu.


Ciuman tidak langsung. ucapku dalam hati syok melihat Zayyan dengan santai menyeruput minumannya begitu juga dengan Gazza yang curi-curi melirikku.


"oh tidak." ucap Gazza menepuk pelan jidatnya. Zayyan langsung melihat kami satu persatu dengan tampang polosnya, "kalian kenapa?" tanyanya bingung.

__ADS_1


"ah,tidak apa-apa,lanjutkan." ucapku sedikit gugup.


__ADS_2