
Dasha POV
Aku terbangun menatap seluruh ruangan kamarku. Seingatku,aku masih mengerjakan tugasku yang begitu susah itu di meja belajarku.
"nah." ucap Zayyan sambil menyerahkan segelas susu putih hangat padaku,aku tersenyum tipis menerimanya.
"thanks." ucapku sambil meneguk susu itu.
"aku mau pergi." ucap Zayyan tiba-tiba membuatku langsung tersedak.
"uhuk...uhuk... mau pergi kemana?" tanyaku heran menatapnya. Zayyan berjalan mengambil berkas dimeja belajarnya lalu menyerahkannya padaku.
"apa ini?" tanyaku menatap berkas ditangannya. Tak ingin penasaran lebih lanjut,aku langsung meletakkan gelas diatas nakas dan membuka perlahan berkas tersebut.
Mataku membulat menatap kalimat didalam berkas itu lalu mendongak kearah Zayyan. "serius bang? kau harus pergi juga??" tanyaku berat. Dalam hatiku tidak ingin jauh dari suamiku.
"mau gimana lagi,aku harus bisa dapat lisensi Dasha. Jadi kampus,mengirim kami ke daerah terpencil itu selama tiga bulan. Kau tidak apa-apa kan tinggal sendirian?" tanya Zayyan hati-hati,ia pun mengelus pipiku pelan.
"apa bang Gazza juga?" lirihku menatap nanar,Zayyan mengangguk pelan.
"aku dan Gazza untungnya satu kelompok didaerah yang sama. Jangan khawatirkan kami." ucap Zayyan bersandar di lemari.
"selama aku pergi,jangan berbuat yang aneh-aneh ya." pinta Zayyan membuatku kesal.
"udah pergi bilangnya mendadak,trus minta orang nggak lakuin apa-apa. Kau ini menyebalkan sekali!!" gerutuku memberengut kesal. Aku dengan langkah lebar menyambar handuk dan berjalan kearah kamar mandi. Aku pun membanting pintu sedikit keras agar pria tampan itu menyadari kesalahannya saat ini.
"huwaa,masa aku ditinggal sendiri sih?!!" kesalku lagi.
***
__ADS_1
Aku menekuk wajahku memandang lalu lalang mobil yang melintas. Yap,disinilah aku berada sekarang,di cafe tempat favoritku sebelum menikah. Ditemani coklat panas membuat hatiku sedikit lebih baik.
Memang kemarin,aku terus mencegat mereka berdua berangkat menuju daerah terpencil yang dimana daerah tersebut minim dengan namanya jaringan. Otomatis,aku kesusahan menghubungi mereka lewat video call,melainkan hanya bisa menggunakan ponsel yang hanya bisa menelpon saja.
"kenapa kau sedih sih Sha? kan mereka menyelesaikan tugas akhir mereka. Kau tidak ingin melihat suamimu memakai toga dengan gelarnya? kau harusnya dukung dia Dasha." ucap Elisa menenangkanku. Memang benar,aku tidak boleh egois. Keinginan suamiku yaitu menjadi dokter spesialis,dan semua itu butuh pengorbanan yang besar.
"entahlah,aku masih sedih aja." lirihku sambil mengaduk pelan coklat panasku. Elisa menghela napas pelan,lalu memanggi waiter untuk memesan minumannya. Barulah wanita itu menoleh kearah ku,
"Dasha,jangan murung gini. setelah ini kita jalan-jalan. Aku janji nggak bakalan bosan tempatnya." seru Elisa menggebu-gebu membuatku menoleh sekilas kearahnya.
"serius nih? kau tidak boleh membatalkan tiba-tiba yaa El." seruku menatap kearahnya. Elisa mengangguk mantap dan menyeruput coklat panas miliknya yang baru saja tiba.
"ish,kau ini. nggak panas itu?" tanyaku menatap aneh kearah Elisa yang main asal teguk saja,padahal minuman itu masih panas untuk diminum langsung.
"Biasa aja kok,lagian aku udah sering banget." ucap Elisa santai,aku hanya memutar bola mata malas. Tentu saja sahabatku sulit dibilang kalau bersangkutan dengan makanan.
"Elisa!" seru seseorang membuat Aku menyerngit bingung dan membalik badan. Elisa hanya diam enggan berbalik badan. Aku menoleh kearah Elisa yang masih enggan berbalik badan sedangkan seorang laki-laki yang tengah duduk tak jauh dari kami memanggilnya terus.
"emangnya dia siapa sih El?" tanyaku penasaran. Baru kali ini Elisa ada sangkut paut dengan seorang laki-laki. Biasanya gadis itu sangat jauh dari namanya pacaran,karena baginya lebih mementingkan membahagiakan diri sendir dibanding bermesraan yang belum tentu jodohnya. Sama halnya dengan ku sangat anti dengan namanya pacaran.
Cih,dia dulu ngebet banget nyuruh aku pacaran, gerutuku dalam hati mengingat saat sahabatku pernah menyuruhku untuk berpacaran.
"dia yang dijodohkan mamaku Sha." ucap Elisa membuat aku tak sengaja menyembur coklat panas ku.
"what? dia??" pekikku pelan,Elisa mengangguk lemas dan kembali mengaduk coklat panasnya. Aku dapat melihat raut kesedihan yang tampil diwajahnya itu.
"lalu kalau nggak suka,kenapa tidak kau tolak saja El?" tanyaku pelan.
"tidak bisa,kau tau sendiri kan? aku tidak bisa melawan kedua orang tuaku." lirih Elisa. Aku hanya bisa menghela napas pelan dan mencoba menenangkannya. Memang masalah ini diluar hakku,tetapi aku sebagai sahabatnya hanya bisa mendukungnya yang terbaik. Aku sekilas melirik kearah pria yang masih melirik kearah Elisa. Tampaknya pria itu menyukai Elisa.
__ADS_1
"kalian udah saling kenal belum?" tanyaku,Elisa langsung menatapku cemberut. "sudah dilihat dari tampangnya dia keknya bukan pria yang baik." ketus Elisa.
"haais jangan liat covernya sayang,kalian kenalan dulu,siapa tau dia memang pria yang baik." ujarku pelan.
"kau ini, malah mendukung kedua orangtuaku." gerutu Elisa menundukkan kepalanya.
"kau tau kan,aku sangat menyukai abangmu? bahkan aku berharap kita jadi saudara." ucapnya lagi.
"aku juga berharap seperti itu El,tetapi kalau kau tidak ngomong apa yang kau inginkan pada orang tuamu,maka perjodohan ini akan terus berlangsung El." ucapku menasehatinya. Dalam hati kecilku sangat berharap sahabatku itu bersama dengan abangku yang tampan itu. Namun apa daya,aku hanya diam menyembunyikan fakta yang sebenarnya.
#flashback On
"bang,kau menyukai Elisa nggak?" tanyaku sambil menanam bunga ditaman bersama Gazza. Gazza menyerngit menatapku heran, "Elisa yang mana?" tanyanya lagi.
"apa? masa kau tidak kenal bang? dia itu sahabatku,dia sangat menyukaimu. Dia itu cantik,baik lagi." seruku hanya ditanggapi biasa saja oleh Gazza.
"kenapa dia bisa menyukaiku?" tanya Gazza dengan wajah datarnya.
Oh ya tuhan,kenapa abangku ini sangat kolot sekali? gumamku kesal dalam hati.
"karena dia menyukaimu bang, perasaan sukanya tidak bisa dijelaskan kata-kata."
"bilang sama dia,nggak perlu menyukaiku. Aku juga tidak akan membalas perasaannya." ucap Gazza dingin,lalu berdiri sambil merapikan alat-alat yang sudah ia gunakan.
Aku terdiam menatap punggung abangku yang kian makin menjauh dari tempat kami tadi. Tidak pernah kulihat raut dingin yang ditunjukkan oleh abangku itu. Gazza tampak tidak suka membahas hal yang menyangkut dengan perasaan,entah apa yang membuat Abang tampanku itu sulit diraih.
"kasian sekali Elisa,belum tancap gas udah ditolak duluan." lirihku pelan sambil merapikan alat-alat yang kupakai.
#flashback Off
__ADS_1
Aku mengelus punggungnya,seraya mencoba lagi untuk menenangkannya. "El,serahkan sama yang diatas. Aku yakin kau bisa keluar dari masalahmu." ucapku pelan. Aku hanya bisa berharap suatu saat ada kesempatan walaupun kecil hubungan Elisa dan Gazza.
Kuharap kalian bisa bersama. gumamku pelan.