I Know Your Secret

I Know Your Secret
Maling Tidak Ada Harga Dirinya


__ADS_3

Zayyan spontan menarik tanganku keluar dari kerumunan,dengan cepat meninggalkan Elisa dan Gazza ditempat dengan tatapan bingung begitu juga dengan yang lainnya termasuk gadis tadi.


Zayyan memegang keningku lalu keningnya, "tidak panas." ucapnya pelan membuat daguku mengkerut menatapnya.


"emang apa hubungannya?" tanyaku bingung.


"kau sangat aneh,apa benar ini Dasha yang pernah ku kenal?" ucapnya memegang kedua bahuku.


"ish,kau ini bang! masa nggak kenal sama istri sendiri. Cih,mending aku pergi aja lagi." gerutuku namun Zayyan menahan lenganku.


"ya ampun mudah kali marah ibu negara satu nih. Oh,ya aku lupa memberitahumu kalau kita malam nih nginap di rumah kakek." ucap Zayyan menatap lurus kearahku,bahkan angin sepoi-sepoi pun tidak menghalang pandangannya untuk menatap lekat kearahku.


"lho? tiba-tiba? kenapa kau tidak bilang dari kemarin bang?!"


Zayyan mengedik bahu acuh tak acuh, "kakek baru bilang tadi." ucapnya sekena lalu menarik tanganku mengikutinya lagi.


"eh kita mau kemana?" tanyaku bingung melihat Zayyan berjalan ketempat parkiran.


Zayyan mendekat berbisik kearahku, "yuk kencan." ucapnya membuatku tersipu malu.


"cih,jangan sok malu gitu. Kau tadi dengan terang-terangan mencium pipiku didepan semua orang." ketus Zayyan membuat senyumku yang bersinar seperti matahari kini redup seperti hujan.


"kau menyebalkan!!" gerutuku sambil menendang ban mobil Zayyan. Lalu masuk kedalam mobil sambil memberengutkan kesal dan menutup pintu mobil dengan kasar.


Zayyan menggeleng-geleng melihat kelakuanku,lalu duduk dikursi kemudi. Aku melotot kearahnya saat Zayyan dengan santainya membuka baju didepanku.


"bodoh!! apa yang kau lakukan woi?!" seruku sambil menutup wajah dengan tanganku. Tidak habis pikir dengan pria didepanku ini.


"kenapa kau menutup matamu? kau sendiri sering melihatnya kan?" serunya sambil mengedipkan mata.


Aku langsung melempar kotak tisu diatas dasbor kearahnya, "ish kau nih!! nggak ada malu-malunya, kita ini di dalam mobil bang,bukan dirumah. Kalau dirumah terserahlah mau gimana. Nah ini dimobil woii ,orang-orang bisa saja melihatmu dari luar bodoh! tuh kaca depan transparan!!" ocehku gemas menatapnya. Rasanya aku ingin mencubit perutnya six packnya itu keras-keras agar jera pria didepan ku ini.


Zayyan tampak terkekeh tidak memperdulikan ocehanku yang panjang lebar,ia pun mengambil baju kaosnya didalam tas.


"udah,kau bisa buka matamu." ucapnya sambil merapikan barang-barangnya lalu mencampakkan kebelakang. Aku menghela napas melihat kelakuannya itu.


"kita mau kemana?" tanyaku melihat dirinya tengah memasang selt beltnya,ia pun langsung memasang selt beltku langsung. Zayyan mengacak-acak rambutku, "suka-suka akulah." ucapnya asal membuat aku kembali mencurutkan bibirku.


Tanpa aba-aba Zayyan langsung mengecup pipiku cepat,lalu ia langsung menyalakan mesin mobil dan melesat keluar dari parkiran kampus. Aku merona memegang pipiku pelan lalu menoleh kearahnya.


"itu balasan kau tadi,yang berani menciumku ditempat umum." serunya sambil tersenyum tipis.


***


Hari sudah menjelang sore,Aku menyiapkan beberapa barang untuk menginap dirumah kakek. Setelah siap,kami pun langsung melesat kerumah kakek. Kakek langsung menyambut kami dengan suka cita.


Kakek langsung menyuruh Zayyan mengangkat semua barang milik kami ke kamarnya,sedangkan aku asyik mengobrol dengan kakek. Sedih rasanya melihat kakek yang sudah tua rentan tinggal dirumah sebesar ini sendirian,aku yakin dirumah ini banyak menyimpan kenangan dan luka didalamnya. Kakek yang terlihat tegar dan selalu tersenyum itu ternyata hanya untuk menghibur dirinya agar tidak merasa sedih.

__ADS_1


Walaupun dirumah ini ada pembantu dan satpam,tetapi mereka tidak bisa mengobrol dengan kakek sepanjang waktu. Apalagi kakek masih membanting tulang mengurus perusahaannya sampai Zayyan tamat kuliah nanti. Bisa saja Zayyan mengurusi perusahaan itu tetapi,kakek ingin Zayyan lebih fokus dulu kuliah dan mengurusku. Aku cukup tersentuh dengan kasih sayang kakek.


"jaga dia nak,mungkin memang agak sedikit sedeng,tapi hatinya lembut kok. Kakek yakin dia bisa jadi imam yang baik untukmu nak. Kakek juga bersyukur,kalau kamu yang jadi istrinya." ucap Kakek sambil mengelus kepalaku.


"kakek tenang ajaa,aku akan menjaganya kok kek. Aku bersyukur juga bisa bertemu dengan kakek yang sangat penyayang. Terimakasih kek,sudah mau menerimaku sebagai menantu cucu kakek." ucapku pelan.


"kau tidak perlu berterimakasih nak,justru harusnya kakek yang berterimakasih padamu. Kakek yakin orang tua Zayyan pasti bangga melihat menantunya."


Mengingat kedua orang tua Zayyan,membuatku penasaran akan hal sesuatu,"ngomong-ngomong kek,apa boleh aku bertanya?"


"apa itu?" tanya kakek sambil menyeruput teh hangatnya. Aku menghela napas pelan, "apa yang terjadi dengan orang tua suamiku kek? apa mereka kecelakaan?" tanyaku pelan dengan hati-hati.


Kakek menatapku lekat, "huft,kejadian itu sudah lama. Waktu itu Zayyan berusia tujuh tahun ikut bersama dengan kedua orang tuanya pergi ke luar kota, tapi saat dijalan mereka kecelakaan. Untungnya Zayyan sempat dilempar keluar oleh ibunya,alhasil hanya mereka berdua yang tidak selamat. Sejak kejadian itu Zayyan tampak pendiam dan selalu ketakutan jika mendengar suara kecelakaan." lirih Kakek mengingat anak dan menantunya kecelakaan waktu itu. Aku turut sedih mendengar cerita kakek,jadi kehidupan Zayyan selama ini sudah berat tanpa kasih sayang kedua orangtua. Aku bersyukur jika orang tuaku masih ada dan memberikan kasih sayangnya padaku.


Pantas saja Zayyan sangat ketakutan waktu itu,aku rasa dia trauma karena kecelakaan itu. gumamku dalam hati. Memang waktu itu Zayyan enggan melepaskan ku saat tidur,tangannya begitu menggigil memelukku.


Setelah berbincang banyak dengan kakek,aku pun pamit ke kamar untuk istirahat. Saat aku membuka pintu terlihat,Zayyan tengah mengerjakan sesuatu dimejanya membuatku sangat penasaran apa yang akan dilakukan pria itu.


"kau sedang apa bang?" tanyaku membuat Zayyan terkejut sambil menyembunyikan sesuatu dibelakangnya,


"kapan kau masuk?" tanyanya menyembunyikan rasa terkejutnya.


"ayoo apa yang kau sembunyikan??" seruku celingak-celinguk melirik barang yang disembunyikannya.


"nggak ada, dasar kepo!" seru Zayyan langsung menyembunyikan sesuatu didalam lacinya. Aku menatap penuh curiga padanya,sedangkan Zayyan ia langsung bergegas melompat keatas kasur.


Deg.


Aku langsung terbangun dari tidurku yang baru saja beberapa detik yang lalu,aku memicingkan mata kearah pintu.


"kenapa?" tanya Zayyan bingung,memang pria itu masih belum sepenuhnya tertidur,tetapi karena aku terlonjak membuat Zayyan membuka matanya.


Aku langsung menutup mulutnya, "sstt,diam sebentar." ucapku lalu menyibak selimut dan turun dari kasur berjalan kearah pintu. Zayyan yang heran melihat tingkahku ikut turun mengikutiku dari belakang. Aku mengintip dari lubang kunci pintu kamar Zayyan,terkejut ada seseorang yang tengah mengendap-endap mengambil barang kakek.


"astaga ada maling." pekikku pelan,membuat Zayyan menggeser badanku dan ia mengintip dari lubang kunci.


"****!,bagaimana bisa masuk?!" umpatnya,dengan cepat ia mulai membuka pintu,namun aku mencegahnya langsung.


"apa yang kau lakukan bang?!" bisikku


"mau apa lagi? yah mau nangkap malingnya bodoh!!" bisik Zayyan kesal.


"jangan gitu! mending kita kerjain dia." ucapku sambil tersenyum seringai,Zayyan menghela napas pelan, "ini bukan saatnya main-main Dasha. Itu maling harus cepat ditangkap." gerutu Zayyan.


"justru itulah kita menangkapnya bang,sini!" seruku sambil membisikkan rencanaku padanya. Zayyan terkekeh pelan tidak habis pikir dengan apa yang direncanakan olehku,setelah paham dengan tugas masing-masing. Kami pun melancarkan aksi kami, Zayyan keluar dari jendela kamar agar bisa masuk ke pintu utama,beruntung kamar Zayyan terletak dilantai satu jadi tidak perlu meloncat tanpa batas kebawah.


Sedangkan aku langsung membuka pintu perlahan sambil merangkak bersembunyi dibalik sofa yang persis didepan kamar Zayyan. Aku merangkak cepat ke dapur mengambil peralatan yang dibutuhkan untuk mengerjai si maling itu. Aku mengambil tali rafia lalu aku ikat disisi ruangan. Setelah itu aku langsung menumpahkan air dilantai,tak lupa aku menyiapkan tepung untuk menyambutnya nanti saat maling itu lewat.

__ADS_1


"nice,perangkapnya jadi. hihihi aku tidak sabar melihat reaksinya." ucapku semangat,lalu aku melirik maling itu masih asyik mengambil barang milik kakek.


"semoga kakek tidak terganggu." ucapku pelan. aku melirik Zayyan yang sudah memberikan kodenya padaku,dengan semangat aku langsung berdiri tak jauh dari maling itu.


"op..op mau nyuri yaa??" seruku membuat maling itu kelimpungan,tidak ingin ketahuan oleh siapapun. Maling itu langsung mengejarku dan seketika aku langsung lari darinya. Aku langsung membawanya kedalam perangkap yang sudah aku siapkan.


Maling itu tidak sadar sudah masuk perangkap ku,ia langsung terpeleset saat menyandung tali yang sudah aku ikat,ember yang berisi tepung tadi jatuh tepat dikepalanya.


"buahahahaha,makanya jangan mencuri." seruku puas menatap maling itu masuk perangkap ku. Maling itu menggerutu kesal lalu kembali mengejarku,aku langsung lari menuju perangkap yang sudah disiapkan suamiku. Sudah aku tebak,maling itu tidak akan menyerah untuk menangkapku.


Tepat saat aku berlari,Zayyan langsung menutup kepala maling itu dengan karung,membuat pandangan maling itu jadi tidak terlihat.


"kurang ajar!!!" cercanya berusaha menangkap siapa saja yang berada disekitarnya,tetapi langkahnya berhenti saat menginjak sesuatu yang sangat lengket membuatnya sulit bergerak. Dengan susah payah akhirnya ia membuka karung itu dan terkejut kini dirinya menginjak sebuah lem yang berserak dilantai dan membuat dirinya susah bergerak.


"kurang ajar!!!! sialan!!!" umpatnya membuat kami tertawa puas dibelakangnya. Aku langsung bertos ria dengan Zayyan.


"kau pakai lem apa bang,kok bisa lengket sekuat itu?" tanyaku penasaran sambil melihat maling itu kesusahan. Zayyan menunjuk kearah kaleng lem besar yang ia gunakan tadi untuk menjebak maling itu. Aku mengikuti arah yang ditunjuk Zayyan,sekeita aku tertawa terbahak-bahak.


"buahahahah lem kambing?!" seruku tertawa lepas,Zayyan pun ikut tertawa.


Namun lem itu ternyata tidak bertahan lama,alhasil maling itu langsung lari kearah kami. Aku terkejut dengan spontan memukul kepalanya dengan panci.


Blaam!


Seketika detik itu juga maling itu pingsan ditempat membuat kami syok saling menatap.


"kenapa kau memukul nya?!" gerutu Zayyan panik.


"spontan bang,sorry...sorry..." sesalku menatap panci yang kupegang.


"astaga!!" seru Zayyan sambil mengepal tangannya diudara gemas melihat kelakuanku.


"lalu kita harus gimana bang???" tanyaku ikut panik.


"pikirkan sendiri,aku mau tidur." ucap Zayyan langsung melesat cepat kedalam kamar.


"kurang ajar! woi Zayyan!! kau juga ikut andil disini woi!!" teriakku membuat pintu kamar kakek terbuka.


"oh sial." umpatku pelan menggerutu mulutku yang seenaknya berteriak membuat kakek bangun dari tidurnya. Agar kakek tidak melihat maling itu,aku langsung menghampiri kakek.


"kakek,ada apa?" tanyaku pelan.


"tadi kakek ada mendengar suara sesuatu,kenapa kau berteriak nak?" tanya kakek sambil mengucek matanya.


"maaf kakek,Dasha membangunkanmu jadinya. Itu tadi ada kecoak Dasha kaget,ya udah kakek tidur lagi yaa... sekali lagi maafin Dasha ya kek." sesalku pelan. Beruntung kakek langsung mengangguk dan kembali kedalam kamarnya.


Awas kau Zayyan,seenak kentutnya kau pergi!. gerutuku dalam hati,dengan cepat aku mengejar Zayyan ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2