
Usai membeli kebutuhan yang dibutuhkan Elisa. Kami singgah dulu membeli eskrim gelato.
"kau mau rasa apa El?" tanyaku menatap menu eskrimnya.
"terserah aja." ucapnya sibuk melirik belanjaannya. Aku menggeleng pelan lalu memesan eskrim kami. Setelah selesai memesan,aku langsung duduk disamping Elisa.
"kau mau buat apa?" tanyaku menatap barang-barangnya. Elisa tersenyum simpul kearahku, "ini benang rajut sha."
"iyaa aku tau ini benang rajut,kau mau buat apa?"
"maubuat syal. Tapi ini hasil karyaku sendiri,semoga aja dia suka." ucapnya sumringah.
"olololo romantis kaliii." seruku,melihat Elisa menghadiahkan hasil rajutannya untuk abangku membuatku berinisiatif untuk memberikan sesuatu untuk Zayyan.
"haaiss jangan buatku malu sha. Dukung aku yaa." serunya langsung dianggukan olehku sambil menyemangatinya.
"aku yakin kau bisa merebut hati abangku!"
"bismillah bisaa!!"
Elisa dan aku menikmati es gelato yang lezat itu. Kami menikmati tanpa mengingat waktu sudah malam.
Namun,ketenangan kami tidak bertahan begitu lama. Saat aku menyadari jika ada seseorang masih mengikuti kami dari belakang. Tanpa aku lirik kearahnya pun,aku tau siapa orangnya. Orang yang memberikan flashdisk waktu malam itu.
Cih,menganggu saja. gerutuku pelan dalam hati.
"El,kita langsung pulang yok." ajakku merasa sudah tidak nyaman lagi berada disini. Elisa mengerut keningnya, "bentar,ada yang mau aku beli lagi." ucapnya sambil menarik tanganku menuju tempat berbagai skincare.
"ya ampun nih pasti lama milih barang." gumamku pelan hanya disambut cengiran olehnya.
"ayolah,kita beli masker. Mumpung kita berdua yang dirumah,kita harus merawat diri dong Sha." Aku memutar bola mataku malas,tetapi aku tetap mengikuti kemana gadis itu berjalan sambil sesekali melirik kearah pria yang sedang duduk tak jauh dari kami.
jangan lihat dia Dasha,semakin kau lihat semakin takut!. gumamku dalam hati,menguatkan diriku jika aku tidak takut dengan pria itu.
"kau mau pilih yang mana Sha? yang pearl atau Aloe vera?" tanyanya sambil memegang kedua produk itu.
"hah?"
"haiiss kau ini. Jangan bilang kau tidak pernah memakai masker."
"pernah."
"kapan? selama ini aku nggak pernah liat kau memakai masker." tanyanya bingung tetapi matanya masih menyapu semua produk yang berjejer ditempat itu.
"hmm waktu aku keluar sama bang Zay. Aku dipaksa pakai masker karena lagi batuk." ucapku mengingat waktu saat Zayyan mengajakku keluar tetapi keadaanku masih tidak fit. Sayangnya,suami laknatku itu bukannya menyuruh istirahat malah mengajak jalan-jalan keluar. Dan lagi,bukannya memakai mobil tetapi motor benar-benar mengesalkan.
__ADS_1
"huwaa Dashaaku sayaaang itu bukan masker kecantikan,itu masker medis!!" gemasnya sambil mencubit pipiku.
"aaaw sakit El!" gerutuku sambil mengusap pipiku yang habis dicubit Elisa.
"iyaa aku tuh gemas kalii liat kau Sha,ya ampun." gemasnya lagi.
"kau ini sama aja dengan Zayyan. Seenaknya mencubit pipiku." gerutuku sambil memanyunkan bibirku.
"hahahaha itu artinya dia sangat sayang samamu Sha. Kau beruntung memiliki suami sepertinya." ucap Elisa,tetapi nada Elisa yang kudengar seperti sendu.
Aku langsung mengalihkan perhatiannya, "kalau ini apa?" tanyaku menatap botol kecil yang ada ditanganku.
"oo itu serum sayang. Ya ampun sepertinya kau harus mempelajari semua hal tentang skincare Sha."
"lamaaa pahamnya hahahaha." elakku langsung membuat Elisa menghendus pelan.
"hei Sha,apa kau tidak pernah berdandan untuk suamimu?" tanya Elisa begitu gemas melihatku yang begitu polos tidak mengetahui hal yang berbau skincare.
"hmm untuk apa?" tanyaku menatapnya. Elisa langsung menepuk jidatnya sambil menggeleng pelan menatapku.
"ya ampun,pantas saja suamimu itu selalu suka ribut denganmu. Apa kau tidak lihat si... aduh siapa sih nama yang gadis waktu itu??" tanya Elisa
"gadis yang mana?"
"itu loh yang buat lomba main biola denganmu waktu itu. Anak kedokteran dia." jelas Elisa lagi.
"ngakak,julukannya jelek sekali." gelaknya pelan.
"pas kok julukannya,sesuai tuh sama karakter gilanya. Bisa-bisanya buat ide gila gitu untuk merebut hati Zayyan. Oh tentu tidak bisa,suamiku itu hanya milikku!" seruku menggebu-gebu. Elisa tertawa mendengar ocehanku,mungkin baru kali ini aku yang anak baik dan rajin yang selalu tampak sempurna. Kini sudah mulai menunjukkan sifat aslinya.
"nggak aku sangka,kau julid juga Sha. hahahaha ya ampun,dari nggak tau skincare sampai julid. Aku yang mendengar mu langsung tidak percaya,jika itu kau."
"haiiss aku tuh nyaman dengan diriku sendiri El. Memang sih dulu aku menyembunyikan apa yang aku suka,apa yang selalu perfect deh dimata orang. Tapi,itu malah membuatku tersiksa."
"yah kau benar.Tidak semua orang menyukai satu hal. Kita semua memiliki hobi,kesukaan masing-masing. Nggak usah pedulikan apa yang orang lain bilang,fokus aja sama diri sendiri."
"iyaa,aku juga sekarang mulai berpikir seperti itu. Semakin aku sembunyikan semakin tidak nyaman. Zayyan pun juga bilang padaku kayak gitu, tapi aku masih takut mengungkapkan sifat asliku." ocehku pelan.
Elisa tersenyum tipis kearahku, "aku jadi penasaran,kau dirumah orangnya seperti apa dan aku yakin kau tidak seanggun kayak dikampus." ledeknya membuatku terkekeh pelan.
"Anda benar nyonya Elisa,kau bestie terbaikku." seruku.
"ngomong-ngomong kenapa dia?" tanyaku penasaran tiba-tiba Elisa membahas gadis kampret itu.
"dia cantik sering berdandan,apalagi dia satu kampus dengan suamimu,atau jangan-jangan dia dan suamimu? apa kau tidak takut jika suamimu berpaling?" tanya Elisa menduga-duga.
__ADS_1
"tidak,suamiku bersama abangku kok. Aku yakin dia nggak macam-macam." ucapku
"makanya itu,kau harus lebih cantik lagi darinya Sha,tunjukkan kau itu layak berdiri disamping kak Zayyan."
"harus." ucapku tegas.
***
Elisa menggerutu dan langsung turun tangan membantuku menutup semua pintu dan jendela rumah. Ia menghela napas pelan saat aku sibuk mengecek sekeliling rumah. Matanya begitu terganggu melihatku mondar-mandir berjalan seluruh ruangan.
"dah beres,aduh kau membuatku pusing."
"lah,aku kan mengecek semuanya dengan aman. Aku mengantisipasi agar tidak terjadi hal yang tidak-tidak."
"terserah kau saja."
"kau mau buat apa El?" tanyaku saat melihat sahabatku itu berjalan menuju dapur.
"bikin mie." ucapnya langsung membuatku sumringah. "bikin mie untukku jugaa!!!" seruku menyusul kearahnya.
"nggak,buat sendiri." tolaknya mentah-mentah.
"ish,sama sahabat sendiri,jangan pelit dong. Ayo buatkan yaa." ucapku lalu meninggalkan Elisa didapur.
"dasar Dashaaa!!" gerutunya.
Tok...tok...tok.
Suara ketukan pintu membuatku dan Elisa sejenak terdiam,aku melirik kearah jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Itu artinya sudah larut malam.
"siapa? buka aja pintunya nih?" tanya Elisa berbisik.
"jangan,ini udah malam. Bahaya kalau sembarangan membuka pintunya. Kita hanya berdua El." bisikku pelan.
Tok...tok...tok.
"a-aku takut Sha."
"aku jugaa,El jangan membuatku takut. Ki-kita ke kamar langsung yaa,matikan kompor dulu." ucapku langsung dianggukan Elisa. Aku berusaha menetralkan rasa takutku yang mulai melanda,apalagi hanya kami berdua yang ada disini membuat semakin rawan.
"El,cepatan!" seruku membuat Elisa tergopoh-gopoh membawa makanan ringan dan minuman kalengnya.
"astaga anak ini,masih sempat-sempatnya membawa itu!" gerutuku tidak habis pikir dengan Elisa.
"sediakan payung sebelum hujan,aku tidak ingin mati kelaparan saat kita bersembunyi Sha." ucapnya membuatku menepuk jidatku pelan.
__ADS_1
"terserah kau saja." ucapku pasrah lalu melirik kearah pintu,sekali lagi suara gedoran pintu kembali terdengar membuat kuduk buluku merinding ketakutan.
Siapa itu?