
Disinilah kami berada sekarang,duduk bersama dan diam sambil mengaduk minuman masing-masing. Aku sedikit canggung dengan keheningan yang diciptakan di taman yang kami berdiri sekarang dan tidak lupa ditemani martabak yang baru kami beli tadi.
"hmm tidak ada yang mau bicara dulu nih?" tanya Livana menatap pasutri didepannya ini. Aku yakin,dia juga resah hanya diam saja.
"aku tan!" seruku membuat gadis cantik itu menoleh kearahku.
"nah ayo." jawabnya semangat.
"tan—"
"kamu bisa manggil aku Vana doang kok. Well,karena silsilahnya aku Tante kalian,tapi kita seumuran. Oh yaa,selamat yaa atas pernikahan kalian,maaf aku tidak bisa datang waktu itu karena ada something." jelasnya lagi sambil menampakkan senyum lesung pipitnya.
Cantiknya. Memang keluarga Zayyan tidak ada yang gagal yaa produknya. gumamku menatap kagum dengan gadis didepanku ini.
"hmm Vana, aku mau nanya sesuatu boleh kan?" tanyaku hati-hati. Gadis itu sambil menyeruput milkshake miliknya lalu mengangguk kearahku.
"apa tuh?"
"bukannya bang Zayyan tidak ada saudara lain?"
Livana melirik tajam kearah Zayyan,Zayyan hanya tersenyum cengiran. "ish kau ini,kenapa kau tidak ada mengasih tau istrimu tentangku!!" gerutunya kesal lalu tersenyum kearahku.
"tak apa,biar aku jelaskan. Aku ini anak bungsu dari kakeknya Zayyan. Aku sangat jarang bersama keluarga,karena aku lebih suka berpetualang diluar hehehe." jelasnya.
Aku mengangguk senyum mendengarnya,kami mengobrol seputar kehidupannya sampai tidak mengenal waktu sudah menunjukkan tengah malam. Kami menikmati angin malam yang menerpa wajah kami.
"sudah malam,ayo kita pulang." seru Zayyan menyudahi perbincangan kami. Aku yang masih asyik mengobrol dengan Livana,melirik tajam kearah Zayyan yang merusak gosip para gadis. Zayyan tidak menghiraukan tatapanku,ia malah mengayunkan kunci mobilnya, menandakan pria itu ingin segera pulang.
"apa masih lama? aku mau tidur." gerutunya jengkel.
"ish,dasar! Ya sudah Dasha,besok saja kita sambung ceritanya,bayi besarmu itu merengek minta pulang mengganggu telingaku aja."
Zayyan melirik kesal kearah kami, "cepatlah." desaknya lagi,tanpa basa-basi ia menarik tanganku berjalan menuju mobil.
"Tan,kami pergi dulu. Besok mampirlah ke rumah!!" seru Zayyan tetapi langkahnya tetap lanjut ke mobil.
"haiss jangan bilang aku Tante bodoh!! aku ini seumuran kalian!" protes Livana,
__ADS_1
"kau kan tetap tanteku,mau tua atau muda sama aja kan? silsilahnya kau anak kakek otomatis aku keponakanmu." seru Zayyan lagi.
"dasar iblis sialan!" umpat Livana,tetapi gadis itu akhirnya melambaikan tangan kepada pasutri baru itu. Aku tertawa pelan sambil membalas lambaian tangan Livana.
***
"Dashaa!!" panggil seseorang dengan nyaring dibelakangku, Aku menghela napas dan berbalik menatapnya.
"hei,telingaku sakit mendengar suara cempreng mu El!" gerutuku menatap Elisa yang menyambutku hanya dengan senyum cengiran.
"apa sih Sha,biasa aja lhoo suaraku." serunya lalu dengan cepat merebut jajanan ditanganku, "bagi ya teman." ucapnya tanpa dosa memakan beberapa telur gulungku.
"Hei El,itu punyaku!!"
"jangan pelit sama bestie sendiri beb,eh kau mau kemana tadi?" tanyanya sambil memakan telur gulungku. Aku hanya menghela napas pasrah dna membiarkan gadis itu memakan semuanya.
"oh tadi aku mau liat latihan voli."
"ih kok nggak ngajak-ngajak woi?!"
"cih,ya sudah skuylah kesana." serunya menarik pergelangan tanganku. Kami pun dengan langkah girang berjalan menuju tempat ruangan voli.
"wait,seperti kenal tuh orang." ucap Elisa menatap lekat kearah para pemain voli hari ini. Aku mengikuti arah pandangnya sontak menghela napas.
"heh,itu bang Zayyan sama bang Gazza." ucapku malas. Bagaimana mereka bisa ada disini?
"nicelah,aku ingin liat kak Gazza main." serunya langsung mengambil tempat duduk. Kami memperhatikan mereka tengah bermain dengan lawannya yang tak lain adalah anak jurusan arsitek kami.
"ini yakin mereka bisa menang?" tanya Elisa seolah meremehkan anak fakultas kami. Aku hanya mengangkat bahu tidak tahu.
"kita lihat saja nanti." ucapku pelan.
"ya ampun Gazza tampan sekali!!!" jerit mahasiswi yang duduk disebelah kami. Dapat kulihat raut Elisa yang ceria seperti matahari kini mulai memudar. aku yakin Elisa tidak suka ada satu orang pun yang memuji abangku itu,kecuali Elisa sendiri.
"iyaa kak Zayyan jugaa ya ampun cuci mata kitaaa!!!" pekik temannya lagi membuatku kesal.
"jangan bilang kau cemburu El?" tebakku sambil melirik keraahnya.
__ADS_1
"nggak kok,ngapain juga aku cemburu dengan hal yang tidak jelas itu. Lagian disini kau juga terlihat cemburu suamimu disorak oleh gadis gila itu." kilahnya lalu kembali menatap Gazza yang tengah menjadi tosser.
"hahahaha,sialan kau El." aku pun juga melirik kearah lapangan dan mataku tepat melihat mata Zayyan yang begitu indah.
Zayyan tertegun sekaligus tersenyum kearahku,tetapi bagi yang lain itu mengira diri mereka tengah diperhatikan Zayyan membuat para gadis terpekik-pekik.
An***r pekak juga lama-lama telingaku nih woi!!. umpatku dalam hati jengah mendengar suara cempreng orang disebelah kami.
Elisa mencondongkan badannya kearahku, "Sha ganti tempat duduk please." bisik Elisa tepat di telingaku.
Aku menggeleng cepat,menolah menuruti permintaan Elisa. "nggak,disitu dekat dengan suara cemprengnya,siapa sih tuh?" gerutuku pelan ikut berbisik juga.
"entah anak dari kutub mana,untung saja bukan anak jurusan kita. Kalau sempat yaa,dah ku cincang habis tuh anak." kesal Elisa menggebu-gebu. Bagaimana mau menikmati permainan voli dengan suara cempreng yang memekakkan seluruh ruangan,mungkin alien di planet mars pun ikut tutup telinga juga mendengar suara gadis itu.
Elisa yang tidak tahan lagi,ia pun menoleh kearah gadis itu, "woi bisa diam nggak?! suara kau itu cempreng sekali!" sarkas Elisa. Gadis itu menatap tajam kearah kami, "apaan sih? kalau nggak suka ya sanalah menjauh. Aku dari tadi disini duluan." ketusnya lalu kembali fokus memperhatikan permainan voli.
"cih,bede**h sialan." umpat Elisa pelan,namun terdengar oleh gadis itu.
Gadis tadi tersulut emosi mendengar umpatan yang keluar dari mulut Elisa. "heh,apa maksud kau mengumpat ku hah?!" sarkasnya berdiri menantang kami.
Elisa yang tidak mau kalah ikut berdiri menantang gadis sialan ini. Aku berusaha menghadang Elisa untuk tidak membuat kekacauan,apalagi saat ini Elisa tengah datang bulan,emosinya pasti dua kali lipat.
"El,udah nanti kita diusir kalau buat keributan." bisikku menahan tangan Elisa. Elisa menghela napas dan berbalik, "dia yang mulai duluan Sha." kesal Elisa.
Gadis gila itu sudah tersulut emosi,dengan cepat ia menjambak rambut Elisa begitupun Elisa yang tak mau kalah membalas menjambak rambut gadis gila itu. Aksi itu pun aku langsung meleraikannya karena jadi pusat perhatian semua orang disana,termasuk para pemain voli tersebut.
Tanpa sadar,Zayyan menoleh kearahku dan tidak melihat bola yang terbang mengarahnya, belum sempat Aku berteriak agar Zayyan menyingkir dari sana,bola itu sudah mengenai wajah Zayyan dengan keras.
Buuuk.
"bang Zayyan!!" pekikku membuat semua menoleh kearah Zayyan,begitu juga dengan Elisa dan gadis gila tadi saling berhenti menjambak.
Aku langsung menghampiri Zayyan yang sudah tersungkur jatuh,
"sayang,sayang kau tidak apa-apa?" tanyaku panik,Zayyan mendongak kearahku seketika membuatku terkejut.
"bang kau mimisan!!"
__ADS_1