I Know Your Secret

I Know Your Secret
Badmood


__ADS_3

Aku kembali mengedarkan pandanganku kearah luar. Terkekeh pelan mengingat perjalananku untuk bisa berhasil menikahi Dasha.


Pertemuanku pertama kalinya setelah hari itu adalah di Perpustakaan. Aku terkejut sekaligus gugup akhirnya bisa bertemu dengan gadis itu. Tetapi aku berusaha menetralkan rasa gugupku saat bertemu dengannya. Apalagi kini penampilannya sangat cantik,berbeda dengan yang dulu. Ada sedikit kecewa melihatnya tidak mengingatku sama sekali,mungkin karena penampilanku yang culun ini sepertinya.


"kau sedang apa?" tanyanya membuatku terkejut menoleh kearahnya. Dasha sambil mengucek matanya berjalan kearahku. Sesekali gadis itu menguap.


"kenapa kau sudah bangun? kau baru tidur satu jam." ucapku sambil melirik jam dinding.


"hmm aku lapar,makanya bangun hooam." ucap gadis itu berjalan menuju pintu kamar. Aku gemas dengan kelakuannya. Aku pun mengikutinya dari belakang,lalu melirik kearah kamar Gazza.


"oi Yan,kenapa kau tidak masuk tadi?" tanya Gazza yang baru saja pulang dari kampus.


"ingin bolos aja." ucapku berjalan kearah kamar Gazza. Aku tidak jadi mengikuti Dasha dan ingin membiarkan gadis itu mengisi perutnya itu.


"cih,udah mau nyusun skripsi. Kau malah bolos," cibir Gazza melempar asal jaketnya.


"dimana adikku? kenapa rumah ini tampak sepi? kalian nggak berdebat lagi?" cerca Gazza dengan banyak pertanyaan,Aku menatap datar kearahnya.


"adikmu lagi ngisi perutnya. Baguslah kami nggak berdebat terus,." ucapku sambil memegang komik legend yang sering diperebutkan oleh istriku itu.


"jangan sentuh! rasanya aku ingin membakar komik itu,kalau Dasha nampak komik itu. Kalian bakalan kejar-kejaran lagi." gerutu Gazza pelan mengingat kejadian yang bersangkutan dengan komik itu tidak membuat hidupnya aman dan tentram.


Aku terkekeh pelan, "simpan baik-baik ya Za,nanti malam mau baca diam-diam." kekehku langsung disambut muka masam Gazza.


"nggak mau,nanti Dasha tau." tolak Gazza ia pun langsung keluar dari kamarnya,lalu menoleh kebelakang lebih tepatnya kearahku. "apa kau sudah menyatakan perasaanmu?"


Aku terdiam lalu menggeleng pelan, "belum waktu yang tepat sekarang."


Gazza mengangguk pelan, "heh,terserah kau sajalah." ucap Gazza berlalu.


Aku ikut berjalan menuju ke dapur. Aku sedikit tertegun melihat isi piring milik Dasha. Ayam kremes,cabe,sayur kangkung,nasi segepok,jangan lupakan kuah gulai yang menggenang diatas nasi.


"ckckckck ini cewek apa kuli yang makan?" cibirku membuat Dasha menoleh kearahku dengan tatapan tajamnya.


"cih,terserah akulah." ucapnya sambil melanjutkan makannya. Aku tersenyum tipis lalu duduk disampingnya, "kau gadis yang aneh."


Dasha langsung menutup mulutku dengan tangannya yang berminyak itu membuatku menatap tajam kearahnya, "apa yang kau lakukan?!"

__ADS_1


"mulutmu perlu dipoles kak,biar nggak main ceplas-ceplos aja. Lagian sih aku bukan gadis aneh!" protesnya tidak terima dikatakan gadis aneh.


Aku langsung mengambil tisu untuk mengelap mulutku, "aku lapar." ucapku menoleh kearahnya,Dasha melirik kearahku. "ya udah makanlah."


Tidak peka, seharusnya kau mengambilkan nasinya untukku. gerutuku pelan dalam hati. Dasha tampak menyerngit bingung menatapku hanya diam saja.


"katanya lapar,kenapa tidak makan kak?" tanyanya lagi membuatku menoleh kearahnya.


"cih,kenapa kau tidak peka sekali." gerutuku pelan tetapi masih terdengar olehnya.


"ooo kau ingin aku ambilkan? bilang dong kak." selorohnya lalu mengambil makanan untukku. Aku menghendus pelan lalu menerima makanan yang sudah gadis itu ambil.


"terimakasih."


"sama-sama."


***


Hari yang melelahkan, tugasku semain hari semakin menumpuk. Memang jurusan kedokteran sangat melelahkan,tetapi jika ingin menjadi dokter tentu harus banyak melewati rintangan bukan?


Sialan,itu mulut rasanya ingin ku robek. kesalku lalu berbalik menoleh kearah sumber suara itu.


"jauhi Dasha!" ucapnya tanpa basa-basi,aku menyerngit heran, "Kau siapanya dia?" tanyaku menatap tajam kearahnya. Tentu saja aku tidak suka jika ada laki-laki lain yang menyukai istriku itu. Tidak akan kuizinkan para buaya liar ini menyentuh Dasha.


"kau tidak perlu tau siapa aku! yang jelas jauhi Dasha!. Aku tidak percaya jika rumor kalian menikah itu benar." ucapnya dengan percaya diri.


Bermimpilah kau! Percaya atau nggak,Dasha adalah istriku!. Geramku pelan.


"kau dengar tidak?! jauhi Dasha. Dia hanya milikku,aku harus yakinkan dia menerimaku." ucapnya dengan percaya diri.


"kau ini sudah gila!" kesalku menatapnya. Pria itu menatap remeh kearahku, "kau ternyata bisa melawan orang sepertiku. Hei anak culun." pria itu mencengkram kerah bajuku.


"dasar culun tidak tau diri!" cercanya membuatku tidak tinggal diam. Aku langsung mencengkram tangannya cepat dan menghempaskannya ke lantai.


Bruuk


Pria itu terkejut sekaligus kesakitan berdigik mengeri menatapku.

__ADS_1


"ka-kau kurang ajar!!" teriaknya sedikit gugup. Aku yakin pria itu masih terkejut dengan tindakanku.


"buahahaha,kau masih saja melawan hah?!" ucapku dingin lalu duduk diatas punggungnya dan menarik rambutnya kuat, "aku peringatkan kau jangan mendekati Dasha,atau ku patahkan tanganmu sekarang tuan Afran!" ancamku lalu berdiri dan meninggalkannya dilorong sepi itu. Dapat kudengar banyak umpatan yang keluar dari mulutnya.


Aku merapikan penampilan culunku,lalu masuk kedalam kelas. Aku menghendus pelan menatap jendela.


"kau darimana?" tanya Gazza,pria itu sibuk mengerjakan tugas yang belum sempat ia kerjakan. Aku menghela napas pelan,lalu melempar bukuku kearahnya. "conteklah."


"sialan." umpatnya tetapi tetap membuka bukuku dan menyalin jawaban semua tugas kami. Aku menggeleng pelan menatap layar ponselku.


"apa kau bertengkar lagi dengan Dasha?" tanya Gazza sambil fokus menulis.


"kalau kami tidak bertengkar,mungkin dunia bakalan kiamat." gelaknya membuat Gazza terkekeh pelan.


"iya juga ya kalian nggak bakalan tenang dalam sehari. Lalu kenapa wajah kau seperti kusut gitu?" tanya Gazza lagi.


"ada yang membuat moodku berantakan pagi nih. Sialannya dia itu satu jurusan pula dengan Dasha." umpatku pelan mengingat pria yang mengancam ku untuk tidak mendekati Dasha.


"siapa?"


"Afran. Cih,menyebalkan kali." geramku tanpa sadar menggebrak meja.


Braak


Membuat semuanya menoleh kearahku dengan ekspresi yang bermacam-macam.


"are you right Zayyan?" tanya Dosen yang kebetulan baru masuk ke kelasku,beliau terkejut melihat kearahku.


Aku berdeham pelan, "sorry sir." menunduk pelan. Dosen itu pun mengangguk dan mulai menjelaskan materinya.


Dapat kulihat Gazza tercekikikan menatapku,aku menatapnya tajam, "cih,tambah rusak moodku." gerutuku kesal.


"dasar bodoh."


Aku berdecak kesal hanya diam menatap dosen yang tengah menjelaskan materi itu pada kami. Kalau orang lain lihat,aku terlihat seperti ambisius dalam mendengarkan dosen itu,padahal pikiranku jauh sudah dipenuhi nama gadis itu,ya istriku sendiri Dasha.


Perasaanku kini campur aduk,kesal,gelisah,khawatir memikirkan Dasha, apalagi dengan terang-terangan Afran sialan itu mengibarkan bendera perang padaku. Walaupun aku mengancamnya tentu tidak membuat pria itu takut dan mungkin akan semakin nekat mendekati Dasha. Manusia zaman sekarang memang beda semakin dilarang semakin nekat melanggar.

__ADS_1


__ADS_2