I Know Your Secret

I Know Your Secret
Kecelakaan


__ADS_3

“hmm ini jam berapa?”


“ini udah jam 8 sha. Kau lambat bangun.” Ucap Zayyan duduk ditepi jendela sambil menyesap teh hangat miliknya.


“gara-gara siapa sih yang buat aku lama bangun hah?” gerutuku berjalan pelan ke kamar mandi. Zayyan terkekeh melihatku dan menggedongku ke kamar mandi.


“bang,apa yang kau lakukan?!” pekikku terkejut


“membantumu ke kamar mandi.” Ucapnya lalu meletakkanku didalam bathroom.  Ia dengan sigap menyiapkan air hangat dan perlengkapan pakaianku.


“mandilah.” Ucapnya berjalan keluar dari kamar mandi. Aku tersenyum hangat melihat perhatian suamiku. Dengan cepat aku membersihkan badanku dan segera memakai baju.


Saat aku keluar kamar mandi,aku tidak menemukan batang hidung suamiku,lalu mataku teralihkan kearah pantulan cermin yang meninggalkan secarik kertas.


Aku ke kampus dulu,ada urusan sebentar. Nanti kita pulang sama,aku numpang sama Gazza pagi nih. Kita pulang pakai mobilmu yaa… Jangan lupa bawa mobil okee,


Salam hangat dari suamimu tertampan


“astaga anak ini,sungguh merepotkan.” Ocehku pelan sambil mengeringkan rambut. Lalu bersiap ke kampus,aku dengan cepat menuruni anak tangga dan menemui orang tuaku.


“pagi Yah,Bu.” Sapaku pada mereka. Seperti biasa Ayahku irit bicara hanya berdeham pelan sedangkan Ibu tersenyum tipis padauk, “pagi nak,ini makan.” Ucap Ibu sambil menyodorkan bubur kacang hijau.


“woah menu pagi nih beda yaa bu?” tanyaku heran menatap makanan didepanku.


“iyaa,ini permintaan suami kamu. Katanya kamu suka sekali kacang hijau dipagi hari,jadi dia minta tolong buatin kacang hijau sama ibu.” Jelas Ibu,aku menghela napas pelan.


Heh,Zayyan kampret bisa-bisa merepotkan ibu. Kurang ajar tuh anak. Umpatku dalam hati,aku pun menikmati kacang hijau buatan ibu.


“Ibu,aku berangkat dulu yaaa.” Pamitku melenggang pergi sebelumnya menyalami punggung tangan keduanya. Aku berlari menuju mobilku dan masuk kedalamnya. Tetapi,sebelum aku menyalakan mobil aku melirik kearah kaca spion terdapat mobil hitam asing terparkir diseberang rumahku. Awalnya aku tidak peduli,tetapi saat melihat mobil itu kembali firasatku tidak enak. Seketika itu juga aku teringat kalau pemilik mobil itu adalah Ergin. Persis seperti waktu malam di pantai saat itu.


“ah sial,dia mau apa sih??” gerutuku memundurkan mobil dan melajukan mobil. Sesuai dugaanku, Ergin mengikutiku dari belakang. Aku menghela napas pelan,lalu merogoh tasku mencari ponsel.


“aduh dimana ponselku??” Gerutuku lagi,tanganku yang satu memegang stir mobil sedangkan tanganku yang satu lagi tengah merogoh ranselku. Saat aku menyadari seseorang didepanku,dengan cepat aku langsung memutar stir mobil untuk tidak menabrak orang itu.


Braaak.


Kepalaku sedikit pusing karena membentur stir mobil didepanku,pandanganku sedikit buram sebelum akhirnya aku tidak sadarkan diri lagi.


***

__ADS_1


Aku mengerjap membuka mataku,pandanganku menyerngit melihat ruangan bernuansa putih dan ditambah ada selang infus ditanganku. “aku dirumah sakit?” gumamku menyadari jika saat ini aku berada dirumah sakit.


“dasar ceroboh!” cerca seseorang disamping sambil melipat tangannya didada dan menatapku dengan tatapan yang tajam.


Aku hanya diam menatap suamiku,tetapi sedetik kemudian aku menyerngit bingung,bagaimana pria itu bisa tau dia ada disini?


“jangan bertampang kaya sapi ompong gitu,huft kau ini.” Gemas Zayyan mencubit pipiku kuat,


Aku menggerutu sakit, “sakit woiii!”


“cih,kau membuatku khawatir aja Sha,apa yang kau lakukan sih sampai menabrak pohon hah?,percuma dong buat SIM rupanya masih remed bawa mobil.”


Aku menatao datar kearah Zayyan,bisa-bisanya disaat situasi seperti ini ia membuatku kesal. Oh ya aku hampir lupa,bukan Zayyan Namanya jika tidak membuatku kesal. Aku menghela napas pelan lalu menatap Zayyan dengan senyuman penuh tekanan.


“diamlah.” Gerutuku pelan


“makanya kalau mengemudikan mobil itu baca doa dulu,trus hati-hati bawa mobil,jangan sombong mentang-mentang dah pandai. Fokus bu—”


“blablablablabaa,cukup…cukup.” Ucapku jengah dengan ceramah panjang lebar Zayyan yang mengalahkan rumus fisika dicampur dengan matematika.


“apa sih kau,aku memberitahumu supaya kau tidak mengulangi kesalahan bodoh mu itu.” Kesal Zayyan lagi menatapku sambil berkacak pinggang.


“ya…ya…ya okee suamiku saying,tercinta,tertampan,terpintar,sholeh,rajin menabung,rajin mengaji,pokoknya perfectlah. Bisa tidak,tidak membuatku kesal sehari saja bang?” ucapku sambil tersenyum menahan amarah.


“huft,apa dosaku sampai punya suami tidak pengertian kek gini?” gumamku pelan tetapi masih terdengar oleh Zayyan.


“apa dosaku sampai punya istri pencicilan kek gini?” balas Zayyan meledek kearahku.


“aarrgggh dahlah,capek berdebat denganmu bang!!” gerutuku pasrah lalu membelakangi Zayyan.


“siapa juga yang berdebat denganmu…” oceh Zayyan,lalu ia menarik selimutku, “oi jangan tidur dulu,makan dulu!” titahnya sedangkan aku yang masih mode dalam badmood langsung menarik kembali selimutku.


“ish kau ini bang,aku lagi tidak ingin makan.”


“nggak,kau harus makan dulu!” serunya sambil menarik kembali selimutku.


Oke,terjadi lagi Tarik-menarik antara aku dan Zayyan. Tidak dirumah,di tempat umum,bahkan dirumah sakitpun kami Tarik-menarik barang.


“astaga kalian!!” seru seseorang diambang pintu,melihat kelakuan kami. Ia berdecak pelan dan menggeleng-geleng kepala melihat kelakuan kami.

__ADS_1


“ya ampun kalian,huft…ini rumah sakit loh.” Ucap Gazza dengan penuh kesabaran menghadapi dua manusia yang menurutnya sangat menyebalkan itu.


“lihat nih bang,dia mengangguku istirahat!” seruku menatap tajam kearah Zayyan.


“heh,kau belum makan,mana bisa tidur. Nanti perutmu kosong,aku perhatian denganmu woii!”


“ish,bisa tidak kau tidak teriak-teriak bang??,ya ampun suaramu mungkin bisa terdengar ke penjuru dunia.”


“lebay,jangan banyak tingkah juga. Cepat makan!”


“nggak mau.”


“makan Dasha!!”


“nggak!”


“ya udah biar aku yang makan!” seru Gazza membuat kami berdua yang berdebat tadi langsung terdiam. Aku mengira jika abangku itu bercanda,ternyata benaran memakan makanan yang harusnya untukku. 


"Hei Za,apa yang kau lakukan?!" protes Zayyan menatap Gazza tengah menikmati makananku.


"ya makanlah,apa lagi? pasiennya nggak mau makan ya udah biar aku aja yang makan,beres kan?" ucap Gazza santai,lalu ia melirik kearahku.


"tadi kok kau bisa kecelakaan dek? kau melamun?" tanya Gazza menyelidik.


Aku memejamkan mataku sebentar,lalu menatap Gazza lurus, "bukan,aku diikuti."


Gazza dan Zayyan tampak terkejut, "kau diikuti siapa?" tanya Gazza pelan.


"Ergin."


"sialan,ngapain dia? dia yang menyebabkanmu kecelakaan ini? iyaa? aku akan menuntutnya!!" cerca Zayyan dengan emosinya,tak segan-segan pria itu menunjukkan raut marahnya.


"aku tidak tau bang,tadi pas aku berangkat dia ngikutin aku,trus aku ingin mencari ponselku eh ternyata aku tidak lihat seseorang didepan,biar dia nggak kutabrak aku langsung membanting stir kearah pohon." terangku mengingat kejadian yang aku alami.


Tepat disaat itu kedua orangtuaku datang menghampiri ku tergesa-gesa, "ya Allah nak,apa yang terjadi padamu??" cemas Ibu langsung memelukku. Aku membalas pelukannya sambil tersenyum hangat, "aku baik-baik aja bu." ucapku menenangkan wanita yang paling aku sayangi itu.


Lalu aku melirik kearah pintu dan mendapati sahabatku tengah berdiri diambang pintu bersembunyi.


"El,sini!" seruku memanggil Elisa,Elisa terlihat enggan masuk,ia sedikit menunduk.

__ADS_1


Aku menyerngit bingung menatap tingkahnya,lalu aku melirik kearah Gazza yang diam memandang Elisa dengan tatapan yang sulit diartikan.


apa ada sesuatu terjadi antara mereka?


__ADS_2