
Baik aku dan Zayyan sama-sama diam dan berdecak kesal. Disaat kami tengah-tengah mencari jalan keluar dari daerah yang belum pernah kami lewati sebelumnya itu,disaat bersamaan pula ponselku tidak bekerja sama. Ponselku langsung mati daya karena kehabisan baterai,sedangkan ponsel Zayyan malah kehabisan paket Internet. Sungguh malang nasib kami.
"eh kak,kau kan cuman kehabisan paket kan,berarti nelpon bisa dong." ucapku menatap kearahnya. Zayyan menepuk pelan jidatnya mengangguk setuju,ia pun dengan segera menelpon Gazza.
"sial,Gazza nggak ngangkat teleponnya." gerutu Zayyan menatap layar ponselnya itu.
"aiih abangku itu!!! pasti sekarang dia tengah berpesta riaa." gumamku kesal.
"pesta?"
"huft, Abang sialan itu sedang menikmati masa tenangnya dirumah,katanya rumah itu damai tanpa kita." ucapku terus terang pada Zayyan. Lagipula Zayyan sudah mulai tau watak keluargaku,jadi tidak perlu lagi sungkan padanya.
"kurang ajar tuh anak. Tidak bisa dibiarkan,orang lagi susah dia malah me time pula. Kita telpon rumah ajalah." ucap Zayyan langsung menekan nomor rumah dan menunggu seseorang dirumah mengangkat teleponnya.
"hallo assalammualaikum,siapa ya?" suara Ibu dari seberang sana,Zayyan menggunakan pengeras suara agar aku dapat mendengar percakapannya dengan Ibu.
"wa'alaikumsalam Bu,ini Zayyan Bu. Bu boleh minta tolong panggilkan Gazza Bu?"
"Gazza? kenapa tidak langsung menelponnya nak?" tanya Ibu heran.
"iya karna anak sulung Ibu itu tidak mengangkat telepon kami Bu. Makanya kami menelpon rumah." ucapku
"aduh anak ini,oke...oke ibu suruh dia angkat telpon kalian,kenapa kalian menelpon Gazza?" tanya Ibu lagi.
"kami tersesat Bu,navigasi yang kami gunakan ngasih petunjuk yang salah." gerutuku pelan mengingat navigasi yang memberitahu jalan yang salah.
"pfft hahahaha astagfirullah nak,jadi kalian menelpon Gazza untuk menjemput kalian kan? ya ampun aduh ngakak." gelak Ibu tertawa lepas mendengar kami tersesat.
"kok bisa kalian tersesat sih,eh selama Ibu hidup yaa Ibu selalu menggunakan navigasinya benar lho,nggak pernah meleset. Kok kamu meleset sih navigasinya?" tanya Ibu heran sambil menahan tawanya yang masih terdengar jelas dari sana.
"aiih Ibuuu aku tidak tau kenapa navigasinya sesat kayak gitu." ucapku pelan.
"Ya sudah,ibu panggilkan Gazza dulu yaa. Tunggu bentar." ucap Ibu sambil memanggil Gazza. Tak lama kemudian Gazza langsung mengangkat telepon dariku.
"hm? apa lagi??" tanya Gazza dengan nada malasnya.
"kurang ajar kau Za,orang lagi tersesat gini kau malah nggak ngangkat telepon." ujar Zayyan.
"cih,sekarang kau sama menyebalkan ya dengan singa itu. Ya sudah kalian ada dimana sekarang?" tanya Gazza pelan.
"siapa yang kau sebut singa kak?! aku yaa??!" tanyaku tidak terima dikatakan singa. Enak saja abangku menjulukiku dengan nama-nama yang buruk.
"cepat ajalah jawab dimana kalian,astaga janganlah berdebat dulu." ucap Gazza mengganti topik.
"ya...iyaa,entahlah kami nggak tau nama jalan daerah sini bang." ucapku asal
"bodoh,lihat itu sebesar itu nama jalan kau bilang nggak tau pula??!" gerutu Zayyan kesal sambil menunjuk papan nama jalan yang tak jauh dari tempat mereka berhenti saat ini.
__ADS_1
"hehehehe baru nyadar." cengirku dibalas dengan helaan napas mereka berdua.
"kalian kan pakai navigasi,kenapa bisa tersesat sih??" tanya Gazza dari seberang sana.
"entahlah kak,waktu aku gunakan navigasi punyaku dia malah nunjukin jalan yang nggak benar." ucapku pelan.
"kau sudah upgrade navigasinya?" tanya Gazza lagi membuatku dan Zayyan saling menoleh. Tidak terdengar jawaban dariku,Gazza menghela napas pelan.
"jangan bilang kau belum upgrade navigasinya??" tebak Gazza disambut cengiran kami berdua. Dapat terdengar jelas Gazza menghela napas kasar.
"pantaslah,kalian tersesat. Astaga,cepat upgrade lagi navigasinya,trus ikuti map navigasi barunya." ucap Gazza memutuskan teleponnya sepihak,tanpa menunggu jawaban dari kami.
"sialan,malah ditutup telponnya." umpat Zayyan menatap layar ponselnya mulai mati. Zayyan menoleh kearahku, "baterai ponselmu habis kan? ada powerbank nggak?" tanya Zayyan,aku menggeleng pelan.
"ya sudah pakai saja ponselku." ucap Zayyan menyerahkan ponselnya padaku dan ia mulai mengemudikan mobilnya untuk berputar arah balik.
Aku langsung menghidupkan layar ponselnya, dan menggerutu pelan saat layar ponsel itu terkunci.
"kak,apa password nya?" tanyaku menoleh kearahnya.
"ADEKS. Huruf besar semuanya." ucapnya pelan.
"aneh kali passwordnya." jawabku sambil mengetik password yang disebut Zayyan.
"terserah akulah." ucap Zayyan lagi.
"beli aja lah paket internet lewat pulsa,bisa tuh."
"oke."
Setelah itu aku langsung menekan applikasi navigasinya dan menunjukkan arah agar kami bisa keluar dari tempat itu. Setelah berhasil keluar dari daerah yang jalannya banyak lika-likunya akhirnya kami sampai ketempat tujuan wisata yang akan kami tuju. Mataku langsung membinar menatap kebun stroberi yang melimpah ruah itu. Tanpa basa-basi aku langsung turun menikmati udara segar didaerah itu.
"wow sejuk sekali udara disini." seruku menghirup udara dingin itu. Memang udara disini sangat segar dibandingkan dengan kota kelahiranku.
"bagus juga tempat yang kupilih." banggaku menatap kebun stroberi itu. Memang pilihanku ketempat itu karena saat itu aku ingin sekali merasakan cara memetik stroberi secara langsung. Tidak seperti dikota untuk mendapatkan stroberi aku tinggal beli di supermarket atau pasar.
"yalah...yalah." ucap Zayyan jengah berjalan dibelakangku sambil membuka minuman kaleng ditangannya. Aku menyipit mataku menatap minuman kaleng yang diteguknya seperti tidak asing bagiku. Aku berjalan kearahnya yang tengah meneguk minuman kaleng itu.
Jarakku semakin dekat dengannya tanpa ia sadari,aku memegang lengannya membuat pria itu terkejut dan spontan memuncratkan minuman yang diminumnya tadi tepat diwajahku.
Byuuur.
Aku mengerjap mataku beberapa kali padanya, "hei kak apa yang kau lakukan?!" kesalku sambil tersenyum penuh tekanan padanya.
"ah, sorry. Abis kau kenapa tiba-tiba berada didepanku." ucapnya sambil mengelap mulutnya.
Aku mengedik bahu acuh tak acuh dan fokus menatap minuman kaleng yang ada ditangannya.
__ADS_1
"ini kau dapat dimana kak?" tanyaku menyelidik menatapnya.
"dari tasmu,ternyata banyak makanan yaa disana."
jelasnya dengan santai.
"sial,itu punyaku kak!!!" gerutuku kesal sambil memukul lengannya.
"hei sakit!! masih banyak pun didalam tas,pelit sekali."
"hei ini nih namanya definisi sediakan payung sebelum hujan,aku tak ingin kalau kita nanti ada apa-apa kita nggak kekurangan persediaan makanan kak." jelasku menatap nyalang kearahnya.
"ooo,aku haus. Tapi thanks yaa." ucapnya tanpa berdosa melewatiku berjalan menuju kebun stroberi.
"cih kurang ajar." umpatku lalu mengikutinya dari belakang.
"kita lomba yok." ajaknya sambil memegang dua keranjang buah yang entah dari mana ia dapat. Aku menyerngit bingung menatapnya, "lomba apa?"
"lomba memetik stroberi,siapa yang banyak dan buahnya manis dialah yang pemilik makanan dan minuman didalam tas itu,dan yang kalah harus menyetir mobil pas pulang tanpa meminta barang-barang dari sipemenang. Gimana? setuju?"
"cih ketidakadilan macam apa ini,yang kalah apes banget hidupnya. Kak,ternyata kau sudah mengincar dari awal yaa ranselku itu??" tebakku menatap tajam kearahnya, ia pun tergelak pelan.
"memang hahahaha." gelaknya membuatku memberengut kesal.
Tetapi,tantangannya tidak buruk juga,ya sudah deh aku terima aja,lagian pasti aku yang menang pun. gumamku pelan lalu mengangguk setuju padanya.
"oke,kau sudah setuju yaa,jadi jangan nangis kalau kalah nanti." ledeknya lagi.
"terserah kau lah kak." ucapku jengah. Zayyan langsung memberikan keranjang itu padaku.
"buahahahaha." tawa Zayyan puas menatapku memberengut kesal karena kalah taruhan dari pria itu. Buah yang kupetik memang lebih banyak darinya tetapi semua yang ku ambil itu asam semua alias belum matang. Sedangkan punya Zayyan,ia mengambil stroberinya banyak yang manis dan enak. Semua itu disaksikan oleh para ibu-ibu pekebun stroberi yang menjadi juri diantara taruhan mereka.
"ya ampun kalian ini lucu sekali." gemas Ibu pekebun itu memandang kami berdua.
"terimakasih atas bantuan Ibu,ini saya kasih stroberinya sama ibu." ucap Zayyan sopan menyerahkan sekeranjang buah stroberi pada Ibu itu.
"nggak usah nak,ini untuk kalian aja. Hitung-hitung kalian sudah menghibur kami disini,iya kan mbak?" ucapnya menoleh kearah Ibu yang lain dan mereka semua mengangguk setuju.
"iya nak,terima aja. Gratis kok." ucap Ibu itu.
"baiklah, terimakasih ya Bu." ucap kami berdua serentak, sore itu kami langsung berjalan ke mobil yang tak jauh terparkir disana.
"nih kuncinya, selamat jadi supir yaa." ledeknya sambil terkekeh kecil masuk kedalam mobil.
"haaiis,awas kau nanti kak!" gerutuku pelan lalu duduk dikursi kemudi. Aku langsung melajukan mobil keluar dari kebun stroberi itu.
sebenarnya hari ini sangat menyenangkan. gumamku senang tanpa sadar tersenyum lebar menatap Zayyan yang kurang ajar sudah tertidur memakai selimut yang ku bawa tadi.
__ADS_1
"kali ini akan ku biarkan kau tidur dengan nyenyak kak,tapi besok jangan harap ada kesempatan laknat seperti ini lagi." gumamku pelan sambil mengemudikan mobil menuju kerumah.