
"cih,kau itu suka sekali menyambar tiba-tiba bang!" gerutu Dasha menatapku kesal. Aku merasa acuh tak acuh tidak memperdulikan rentetan ocehan istriku. Aku dengan tertatih-tatih berjalan kembali ke kasur.
Bruuk
Sial, kenapa nih kaki mati rasa pula dia?! gerutuku dalam hati. Dasha yang melihatku jatuh,dengan cepat ia berlari kearahku sambil membopongku naik keatas kasur.
"kan udah aku bilang jangan banyak gerak,nah tuh lihat apa jadinya kan?? kau ini masih sakit bang,jangan ngeyel jalan dulu. Cih,kau ini bentar jangan kemana-mana. Aku mau manggil dokternya dulu," seru Dasha sambil menyelimutimu dengan selimut.
"aku janji ngk nemuin pria bang." ucapnya dengan yakin,pasalnya aku menahan dirinya untuk tidak meninggalkanku disini.
"dokter yang kutemui itu laki-laki Dasha." ketusku.
"astagfirullah,masyaAllah bang. Astaga aku tidak percaya kau cemburu gini..." gumamnya menatapku tidak percaya. Ya jelaslah aku sangat cemburu jika istriku didekati oleh lelaki diluar sana. Mana ada seorang suami rela istrinya didekati oleh laki-laki lain?
Tampak wanita itu menghela napas kasar melihat kelakuanku yang posesif ini. Dengan kesabaran ia menjelaskan panjang lebar alasannya dirinya memanggil dokter tanpa embel-embel modus.
Aku mengangguk pelan,membuat dirinya begitu lega dengan cepat ia berlari menemui dokter yang merawatku. Tak lama kemudian,Dasha datang bersama dengan dokter itu.
"ya ampun, luka nya kembali terbuka. Apa tadi kamu sempat jalan?" tanya Dokter itu sambil memeriksa kakiku.
Dasha dengan semangat mengangguk, "iyaa dok,entah kenapa dia ngeyel dibilangin." ketusnya,aku menoleh tajam kearahnya.
Nih anak ada dendam keknya. gumamku dalam hati. Benar sesuai dugaanku,tampak senyum puas terukir diwajahnya yang cantik itu. Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya perbanku sudah diganti baru. Dasha sedikit merinding melihat proses pengobatan perban kakiku.
"bang sakit yaa?" tanyanya menatap ngeri kearah lukaku. Aku mengangguk pelan, "kalau udah dikasih bius,nggak terlalu sakit." ucapku pelan.
"nj***r langsung paham kalau soal ini." ucapnya takjub. Aku hanya terkekeh pelan menanggapi istriku yang abstrud itu. Tetapi,aku teringat sesuatu hal yang membuatku hampir lupa dengan hari spesialnya.
"Sha." panggilku,namun siempunya nama senyam-senyum bermain ponsel. Entah sejak kapan gadis itu membuka ponselnya.
"Dashaa." panggilku lagi namun tidak dihiraukan juga membuatku sedikit kesal sambil melempar bantal kearahnya.
"astagfirullah bang!!" gerutunya saat bantal itu mengenainya. Ia pun langsung memungut bantal itu dan melemparnya kembali kearahku.
"kau dipanggil nggak dengar-dengar!" gerutuku pelan. Dasha terkekeh,ia pun duduk disampingku.
"cih,merajuk. Kau mau bilang apa bang?" tanyanya menunggu respon dariku. Dapat kulihat dirinya tengah menatap lekat kearahku membuatku sedikit salah tingkah.
"ke-kenapa kau memandangku seperti itu Dasha?" tanyaku menatapnya heran.
__ADS_1
"nggak adaa,aku nggak nyangka aja. ngomong-ngomong kau mau bilang apa bang?" ucapnya masih fokus menatapku.
"aku ada sesuatu untukmu." ucapku pelan membuat dirinya menautkan alisnya.
"apa itu?" tanyanya penasaran.
"kau sendiri yang harus cari tau sendiri Sha,nah ini ada petunjuknya." ucapku sambil merogoh bajuku dan memberikan secarik kertas yang dilipat-lipat menjadi kecil padanya.
"apa ini?" tanyanya lagi.
"jangan banyak tanya,coba aja buka." seruku sambil antusias menatap wajah istriku. Dasha pun dengan nurut membuka secarik kertas itu perlahan. Wajahnya begitu bingung menatap secarik kertas itu.
"ya ampun ini apa bang?" protesnya menatap kearahku.
"itu kau cari sendiri hadiah ulang tahunmu Sha,kalau nggak dapat berarti bukan rezeki. Gampangkan." seruku.
Dapat kulihat Dasha sedikit menggaruk tengkuknya. Sepertinya gadis itu masih belum paham dengan maksudku.
"kau masih belum paham?" tanyaku sambil menghela napas pelan,iapun mengangguk kearahku.
"oh ya ampun Sha,jadi gini...." dengan panjang lebar aku memberitahu kepadanya tentang teka-teki yang ada didalam kertas itu. Ia pun sedikit mengerti dan mengangguk pelan.
"besok." ucapku singkat,padat,dan jelas. Membuat senyuman yang lebar itu langsung murung.
"yaaaah masa besok bang???" kesalnya lalu dengan langkah lebar berjalan kearah sofa yang tak jauh dari tempat tidurku. Ia pun langsung menghempaskan badannya baring di kasur.
"huft," gumamnya memandang langit kamar yang tampak kosong. Aku terkekeh pelan dengan jahil melempar buah yang ada di nakas kearahnya.
Pluuuk
"Zayyan!!!" pekiknya menatap tajam kearahku,aku tergelak menatap eskpresi kesalnya itu.
"buahahahaha,ada buah jatuh dari pohonnya." ucapku asal.
"heh bang,kau kira aku bodoh hah?? mana ada pohon di rumah sakit woi?!!" cercanya berkacak pinggang menatapku.
"ada,tuuuh liat!!" tunjukku kearah jendela ruanganku yang menampakkan ada pepohonan rindang.
"cih." umpatnya memutar bola matanya malas kembali membaringkan dirinya disofa.
__ADS_1
Esoknya,setelah dicek segala macam tentang kesehatanku akhirnya,aku pun diperbolehkan pulang. Sebenarnya masih perlu dirawat dirumah sakit,hanya saja aku terlalu malas menunggu dirumah sakit. Dengan bantuan Dasha,aku berjalan sambil dibopong olehnya. Ia dengan telaten membantuku berjalan kearah luar.
"kita naik lift kan?" tanyanya mendongak kearahku.
"iya iyalah naik lift,apa kau tidak lihat kaki ku gimana???" seruku kearah istriku.
"ya santai aja woi,nggak usah ngegas juga." gerutunya sambil menunggu lift terbuka,lalu ia membopongku masuk.
"pfft." seru Dasha sambil menahan tawanya membuat Aku menoleh kearahnya. "kau kenapa?"
"ha? nggak ada." jawabnya lagi,namun tawanya tidak kunjung hilang membuatku semakin penasaran apa yang ia sedang tertawaan saat ini.
"aiih kenapaa kau ketawa kayak orang gila gitu???" kesalku.
"aku ketawa? nggak tuh." serunya asal.
"cih,percuma bicara denganmu." kesalku lalu memandang jam tanganku.
Aku dan Dasha langsung ke parkiran dan melaju menuju rumah. Dasha senantiasa membopongku masuk kedalam rumah. Namun langkahnya berhenti saat tepat didepan tangga.
"kenapa?"tanyaku menatap dirinya bingung
Dasha berbalik menatapku, "kenapa pula bertanya,apa kau tidak lihat ini tangga??" serunya sambil menunjuk kearah tangga. Aku mengangguk heran dan diam masih menunggu penjelasannya.
"cih,kau ini tentu saja kita tidak bisa naik bang. Kau tau kakimu sekarang lagi cedera. Menaiki tangga sama saja memperparah lukamu!" serunya lagi,dengan tanpa basa-basi ia membopongku kearah kamar lain yang tak lain adalah kamar tamu.
"nah,disini kau tidur sementara." ucapnya sambil menghidupkan lampu kamar.
"lalu kau tidur sini juga?" tanyaku menatap kearahnya.
"tentu saja tidak,aku akan tidur diatas." ucapnya pelan,Aku menggerutu kesal menahan lengannya.
"tidak,kau harus tidur disini. Enak aja tidur diatas sedangkan aku susah payah tidur dibawah. Enggak,kau harus tidur disini Dasha!!" titahku tegas.
"iya... iyaa,terserah kau sajalah bang." ucapnya pasrah berjalan kearah. Aku dengan cepat memeluknya dari belakang sontak membuat gadis itu terkejut bukan main.
"kamu adalah segalanya untukku sayang,selamat ulang tahun walaupun kemarin ultahnya." kekehku pelan membuat dirinya langsung berbalik menatapku.
"nggak ada romantis-romantisnya." ketusnya membuatku mencubit gemas hidung mancungnya.
__ADS_1
"tapi aku kan cinta sayang." seruku membuat dirinya tersipu malu.