I Know Your Secret

I Know Your Secret
Menyebalkan Tetapi Perhatian


__ADS_3

Dengan kelihaian ku dalam membawa mobil akhirnya kau sampai ditempat mobil Zayyan berada. Mobil Zayyan tepat berhenti di tepi danau yang sangat sejuk dengan angin sepoi-sepoi.


Aku menunduk pelan saat melihat Zayyan duduk termenung menatap kosong kearah danau yang terlihat tenang itu.


Dia sedang ngapain duduk nggak jelas disitu?. gumamku menatap aneh kearah Zayyan. Penampilan Zayyan kini dalam mode culunnya,Aku masih penasaran apa yang akan dilakukan selanjutnya,jadi aku bersembunyi dibalik mobilnya sambil mengamati suamiku memandang kosong.


Zayyan tampak menyeka airmatanya,sesekali sesenggukan pelan. Bisa dibilang saat ini Zayyan tengah menangis.


Ternyata pria menyebalkan itu bisa menangis,apa yang sedang ia tangiskan yaa?? .gumamku lagi penasaran.


Langit senja sekarang sudah berubah menjadi langit malam. Aku sudah menunggu hampir satu jam mengamati suamiku yang tak kunjung bergerak dari tempatnya. Ingin sekali aku menghampirinya,tetapi waktunya kini tidaklah tepat. Aku memutuskan untuk mengamatinya lagi.


Aku terkejut saat melihat liotin emas yang dikeluar Zayyan dari saku celananya,tampak pria itu menggenggam kuat liotin yang sepertinya terlihat berharga sekali untuk pria itu. Aku tidak tau pasti siapa pemilik liotin itu,yang jelas pemiliknya sudah pasti wanita.


"apa Zayyan dulu punya kekasih? kalau begitu ada dimana dia sekarang?" gumamku pelan masih fokus menatapnya.


"Seharusnya kau tidak disana Dasha." ucapnya membuatku sontak terbentur dinding mobil saat ketahuan tengah mengamati pria itu. Aku berdeham pelan keluar dari persembunyianku dan duduk disampingnya.


"bagaimana kau tau aku ada disana?" tanyaku penasaran menatapnya,Zayyan mendongak menunjuk kearah mobilku yang terparkir persis disamping mobilnya.


dasar bodoh,kenapa aku malah memakirkan mobilku disana sih... Aduh Dasha ckckck kau ceroboh sekali. gerutuku pelan lalu menatap wajahnya yang terlihat sembab. Ingin rasanya aku mencubit pipi kemerahan nya itu,tapi yang ada nantinya dia malah murka.


"huft,kenapa kau bisa tau aku disini?" tanya Zayyan menatapku. Sesekali ia sesenggukan.


"tarik napas hembuskan kak,jangan kau tahan nangismu kak, rasanya pasti tambah sesak. Kalau kau ingin menangis,nangislah. Aku janji tidak akan memberitahu siapapun tentang aibmu yang satu ini." ucapku sambil sumringah menatapnya tanpa menjawab pertanyaan Zayyan tadi,Zayyan terkekeh pelan sambil mengelap ingusnya.


"cih,ini bukan aib bodoh. Terserah kau saja kalau kau mau kasih tau ke orang lain tentang aku silahkan saja. Aku pun tidak peduli dengan yang mereka bilang."


aku langsung memukul lengan Zayyan pelan, "nah kita satu server kak,aku juga tidak peduli dengan apapun yang orang bilang." ucapku sambil memandang langit malam.


Zayyan terkekeh pelan,lalu berdiri mengambil sesuatu didalam mobilnya,lalu memakaikan jaket miliknya padaku. Aku tertegun dengan tindakannya sejenak, "terimakasih." ucapku tulus padanya.


"hm,kau jangan baper pula. Aku memakaikan jaketmu agar kau tidak merepotkan." ucapnya pelan,membuatku mencurutkan bibirku.

__ADS_1


"cih,dasar menyebalkan." gerutuku pelan lalu menoleh kearahnya, "kau nggak jadi nangis nih kak?,padahal aku udah siapin tisu lho didalam tas." tanyaku sambil membuka ranselku dan mengeluarkan sebungkus tisu.


"hmph,kau memang aneh." ucap Zayyan terkekeh pelan, "sekarang aku lagi tidak ingin menangis,kau sudah menganggu drama tangisku."


"oh kalau gitu,aku pulang duluan kak." ucapku hendak berdiri tetapi langsung dicegah Zayyan. Aku kembali duduk disampingnya,mungkin saja Zayyan mau curhat.


"kau mau curhat kak?" tanyaku sambil memakai jaket Zayyan dengan benar. Aku sempat menghirup dalam-dalam aroma parfum Zayyan dari jaket milik pria itu.


"nggak,aku nggak suka membicarakan hal yang tidak jelas." ketusnya membuatku menatap datar kearahnya.


"dahlah,mending liat langit aja kita kak,kau tau kalau kita berbaring disini melihat langit malam rasanya tenang dan damai,mau coba?" usulku menoleh kearah Zayyan. Zayyan terlihat ragu menoleh kearah rumput yang tengah kami duduki sekarang, "maksud kau kita berbaring di rumput ini?"


"yes,you right. Jangan bilang kau tidak pernah tidur dirumput kak?" ledekku menatap remeh kearahnya,Zayyan langsung merebahkan dirinya dirumput hijau itu begitu juga denganku.


Aku menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku,lalu aku melirik Zayyan yang tampak tenang dan damai dengan mata terpejam. Pria itu menjadikan tangannya sebagai alas bantal untuk kepalanya.


"kau benar,ini sangat nyaman dan damai." ucap Zayyan menyetujui usulanku.


"sudah kuduga kau suka kak."


"rahasia dong." selorohku membuat dirinya menberengut kesal.


Malam itu kami hanya diam menatap langit malam mencari ketenangan masing-masing,aku menyerngit heran saat mendengar suara samar-samar dari ponselku yang berada dalam tas Dengan cepat aku membuka tasku dan terkejut mendapati lima puluh panggilan tidak terjawab dari Ayah.


"Anj***r Ayah udah nelpon lima puluh kali nggak tuh?!" pekikku terkejut membuat Zayyan mendongak kearahku. Zayyan langsung melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul sepuluh malam.


"kau sendiri tadi keluar?" tanya Zayyan sambil membersihkan sisa rumput yang menempel dibajunya,lalu berdiri tegak.


"tadi sama Elisa,trus aku antar pulang dia."


"ck,patutlah Ayah cariin,biar ku video call Ayah." ucap Zayyan mengambil ponselnya didalam mobil,ia pun terkejut juga mendapati dua puluh panggilan dari Ayah mertuanya.


Aku yang melihat itu hanya bisa menghela napas,lalu aku berdiri dekat Zayyan agar kami bisa muat dalam video call itu. Aku merasa gerogi menunggu video call itu diangkat Ayah,beberapa detik kemudian muncullah gambar Ayah dan Ibu.

__ADS_1


"astagfirullah nak,akhirnya kamu jawab juga. Eh Dasha kamu bersama suamimu? bukannya tadi pergi sama Elisa?" tanya Ibu dari ponsel.


"tadi,aku ngantar Elisa pulang dulu Bu,abis tuh nyusul kak Zay kesini." jelasku menatap kedua orangtuaku dari layar ponsel.


"makanya kalau telpon dulu sebelum kamu nyusul. Ini ndak buat cemas orang tua aja." ketus Ayah lalu pergi berlalu meninggalkan Ibu yang masih setia video call dengan kami.


"kalau kalian mau kencan silahkan saja,pintu rumah nggak Ibu kunci yaa,jadi pas pulang nanti jangan lupa kunci pintu." pinta Ibu membuatku terkekeh pelan.


"oke Bu,ya sudah kami tutup dulu, Assalammualaikum." ucap Zayyan mengakhiri pembicaraan.


"wa'alaikumsalam hati-hati,selamat bersenang-senang." ucap Ibu langsung mematikan video callnya. Aku menggeleng pelan melihat kelakuan Ibu.


"huft,baiklah sekarang masalah dengan orang tua sudah selesai, sekarang masalah kedua." ucap Zayyan memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.


"hmm? masalah kedua? yang mana?" tanyaku bingung membuat Zayyan menghela napas pelan, "apa kau tidak lihat mobil ini ada dua?"


"ya terus?"


"cih,kau ini tidak peka sekali. Tentu saja kau tidak bisa membawa mobil sendiri,ini sudah malam kali."


gerutu Zayyan.


"hei,aku ini bukan gadis yang lemah. Aku bisa menjaga diriku sendiri." ketusku tidak terima dikatakan lemah.


"kau itu istriku,harus nurut sama suami. Jangan membantah,aku akan meminta tolong pada supir kakek membawa mobilku,kita pulang pakai mobilmu." ucap Zayyan memutuskan pilihannya.


Deg. Istri? rasanya aku tidak percaya jika dia adalah suami sah ku secara agama dan negara. Apalagi kata 'istriku' keluar dari mulutnya seolah-olah aku ini sangat berharga dan statusku diakui. gumamku tertegun berdiam ditempat.


"oi." panggil Zayyan setelah menelpon seseorang,mungkin supir yang dia maksud tadi sepertinya.


"eh? ya?" ucapku sadar lalu menghampirinya, "ada apa?" tanyaku pelan.


"masuk dulu kedalam mobil,angin malam nggak bagus." ucapnya sambil mendorongku secara paksa masuk kedalam mobil,tak lupa ia menghidupkan mesin penghangat mobil agar aku tidak kedinginan didalam sambil menunggu supir kakek Zayyan kemari.

__ADS_1


"walaupun menyebalkan tetapi dia perhatian." gumamku pelan melihat Zayyan tampak mondar-mandir menunggu supir itu datang membawa mobil Zayyan. Mataku mulai meredup menandakan segera tidur. Tanpa kusadari aku sudah tertidur didalam mobilku.


__ADS_2