I Know Your Secret

I Know Your Secret
Seharusnya Aku Ada Disana


__ADS_3

Aku terus memandang gadis itu,entah sudah berapa lama aku bersembunyi seperti maling hanya untuk menatap gadis yang termenung menatap kosong kearah danau.


"nji***r udah dua jam masih betah aja dia." gerutuku pelan. Tak lama kemudian Dasha berdiri dari tempat sambil mengibas roknya lalu berjalan menuju sepedanya.


Lagi-lagi aku mengikutinya dari belakang seperti penguntit,menepis rasa Maluku demi rasa penasaranku. Aku mencoba mencari tau tempat tinggal gadis itu. Aku terkejut setelah melihat rumahnya yang sederhana,tetapi terlihat elegan.


"ternyata gadis ini bukan dari kalangan bawah." ucapku lagi. Aku melirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul empat sore. Mau tak mau aku menyudahi aksi konyolku ini dan langsung bergegas pulang kerumahku.


"darimana saja kamu?" tanya sang kakek yang tengah menikmati kopi kesukaannya. Aku menoleh kearah kakek dan berjalan kearah beliau.


"abis menjalani misi kek." ucapku sambil menyalami tangannya,aku pun langsung duduk disamping kakek.


"misi apa?"


"misi mencari pasangan hidup kek." ucapku spontan membuat kakek tersedak.


"uhuk...uhuk."


"eh kakek, pelan-pelan minumnya,ya ampun kek."


"cucu kurang ajar! bisa-bisa kamu spontan mengatakan hal itu. Siapa gadis yang membuatmu langsung berpikir untuk menikah dengannya hah? katakan? apa kamu menghamili dia??" cerca kakek menatap tajam kearahku.


"ya Allah kakek,jangan suuzon dulu. Pengecut kali aku menghamili anak orang. Aku nih laki-laki yang baik ya kek,aku nggak mau nyentuh wanita kecuali istriku sendiri." ucapku dengan yakin membuat kakek menghendus pelan.


"cih,omong kosong. Cepat katakan siapa gadis itu?" tanya kakek penasaran menatapku.


"Dasha kek,dia gadis yang membuatku terus kepikiran tentangnya." ucapku pelan membuat kakek menyerngit.


"Dasha? apa yang membuatmu menyukainya?"


"dia ngasih roti enak padaku kek." ucapku asal membuat kakek langsung menoyor kepalaku.


Plaak

__ADS_1


"aduh kek,sakit! kenapa kakek menoyor kepalaku??"


"biar kamu berpikir jernih. Ini anak konyol kali alasannya,mana ada laki-laki mengajak nikah karena dikasih roti enak." gerutu kakek


"hmm bukan itu aja sih kek,ada yang lain yang membuatku yakin dia cocok jadi pendampingku."


"apa?" tanya kakek penasaran.


"hatinya sangat baik kek,itu yang membuatku yakin."


Kakek berdecak kesal menatapku,lalu meneguk kopinya pelan. "kau yakin? buktikan pada kakek kalau kau memang serius menikahinya."


"okee." ucapku sambil berdiri.


"gampang sekali kamu menjawabnya." cibir kakek menatap remeh kearahku.


"akan ku buktikan dia menjadi milikku kek." ucapku dengan yakin. Tentu saja aku yakin,karena rencana yang kupersiapkan sudah matang. Sambil tersenyum miring aku berjalan ke kamarku lebih tepatnya kamar yang dulu ditempati orang tuaku saat masih hidup.


Aku tidak tau pasti penyebab kecelakaan itu,hanya boneka beruang pemberian dari bunda. Tidak ingin larut dalam kesedihan,aku melirik mainan kunci milik gadis itu tergantung cantik diatas meja belajarku.


mainan kunci itu aku ambil saat gadis itu terburu-buru keluar dari sekolah. Awalnya aku ingin mengembalikan itu padanya,namun aku teringat sesuatu yang membuatku urung memberikan mainan kunci itu pada Dasha.


Kenapa aku tidak mengancam para geng yang sudah membuli Dasha? kenapa aku hanya diam saja melihat gadis itu dibuli? jawabannya hanya satu yaitu aku. Semakin aku menggertak para wanita sialan itu semakin menjadi mereka membuli gadis malang itu.


Para wanita itu kehilangan akal sehat hanya tidak rela aku didekati gadis manapun. Seolah-olah aku ini milik mereka. Sudah banyak yang menjadi korban Bulian Farah,namun kepala sekolah seolah menutup mata tidak ingin mengganggu ketenangan Farah yang notabene keluarga pemilik sekolah itu.


"huft,lebih baik aku fokus menjalankan misiku." ucapku pelan sambil menggenggam pelan mainan kunci itu.


"kau harus tanggung jawab Dasha,telah membuatku kacau begini. Namamu itu selalu terngiang diotakku." ucapku pelan sambil tersenyum tipis.


"sial,aku sudah gila menyukainya." sesalku pelan lalu bergegas kedalam kamar mandi.


***

__ADS_1


Hari terus berlanjut,ini adalah hari perpisahan angkatanku. Banyak yang bersorak ria menatap ijazah mereka sampai ada yang mencoret-coret baju seragam yang dikenakannya.


"kemana dia?" celingak-celinguk mencari keberadaan gadis culun itu. Aku mengedarkan pandanganku seluruh tempat,tetapi tidak menemukan gadis itu. Aku berjalan kearah rooftop tempat biasanya gadis itu termenung,tetapi baru selangkah aku menaiki tangga tiba-tiba ponselku berbunyi.


"kakek? tumben nelpon?" gumamku pelan lalu mengangkat telepon dari kakekku itu.


"maaf tuan,apa benar ini cucu pak Firaz?" ucap seseorang yang terdengar asing.


"maaf,ini siapa yaa? bagaimana ponsel kakek saya ada dengan anda?"


"maaf tuan,jadi gini kakek anda tiba-tiba pingsan disini. Jadi kami langsung membawa kerumah sakit." jelas pria asing itu.


"apa?! dimana rumah sakit itu?" tanyaku terkejut mendapati kabar buruk yang menimpa kakekku. Mau tak mau aku harus bergegas kerumah sakit,tetapi sebelum aku menuruni anak tangga. Aku melirik sebentar kearah punggung Dasha yang setia menatap kosong tempat itu.


"semoga kakek baik-baik saja." lirihku pelan lalu berlari menuju parkiran.


Tidak kusangka dihari itu,hampir saja aku kehilangannya. Kesalahan fatal keduaku, membiarkan gadis itu sendirian dengan keterpurukannya. Semenjak hari itu aku tidak pernah bertemu dengan Dasha lagi.


# Flashback Off


Aku penasaran apa yang dirasakan Dasha waktu itu. Lalu aku memutuskan untuk mengubah penampilan ku,Saat aku masuk kuliah,aku sengaja mengubah penampilanku menjadi culun. Aku ingin tau rasanya berhadapan dengan orang banyak dengan penampilan yang aneh itu.


Tidak kusangka,setelah aku menjalani penyamaran menjadi anak culun. Entah sudah berapa banyak hinaan,cemooh,ledekan, bullian,dan juga kebencian terhadapku. Aku tidak peduli dengan omongan mereka,terserah mereka mau mengatakan apapun tentangku toh aku juga tidak peduli.


Jadi gini rasanya,kau hebat Dasha menahan hinaan ini semua.


Aku menitik air mataku sekilas,mengingat hal itu membuatku semakin bersalah yang seharusnya aku ada disana untuk menemaninya. Untung saja waktu itu Gazza menyelamatkannya.


Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon dan menghirup udara segar. Aku menoleh kearah Dasha yang masih tertidur pulas.


"aku tidak menyangka bisa menikahimu Sha." kekehku pelan. Tentu saja menikah dengan Dasha bukanlah hal yang mudah. Banyak rintangan yang harus kulewati sebelum sampai diriku duduk berjabat tangan dengan ayahnya.


"aku akan melindungimu Dasha,aku janji." ucapku dengan yakin dengan pernyataan yang baru saja aku ucapkan itu. Aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama lagi.

__ADS_1


__ADS_2