
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa yang telah menyelesaikan kuliahnya. Termasuk Zayyan dan Gazza kini memakai toga dan baju wisudanya.
"astaga suamiku tampan." gumamku pelan membuat Elisa yang mendengarnya terkekeh pelan.
"bukan suami saja yang tampan Sha,tuh lihat kak Gazza juga tampan." tunjuk Elisa menatap abangku. Aku menggeleng-geleng melihat kelakuannya yang bucin akut.
Tetapi,senyumku memudar saat mengingat jika Elisa dijodohkan oleh orang lain. Dapat kulihat Elisa begitu menyukai abangku,tetapi Abang laknatku itu dengan mentah-mentah mengatakan jika dirinya tidak menyukai sahabatku yang comel itu. Untung hanya aku saja yang mendengar pernyataannya.
"cih aku sumpahin kau mencintainya sampai bucin akut!!" gumamku dengan menggebu-gebu.
"siapa yang kau sumpahin sayang?" tanya Zayyan langsung merangkul ku. Entah datang dari mana suamiku itu bisa berada disampingku saat ini.
"itu Elisa sama Gazza." bisikku
"oooo,aku sih dukung mereka juga." ucap Zayyan,kami pun langsung bertos ria bersamaan.
"dasar pasangan Abstrud." ucap Gazza memandang kami aneh, ia tampak tidak mendengar sumpah yang ku ucap. Aku dan Zayyan hanya mengedik bahu acuh tak acuh tidak mendengar ucapan Gazza.
"hei adik laknat,kenapa kau tidak ada mengucapkan selamat padaku?" tanya Gazza sambil memegang ijazahnya.
Aku memandang malas,lalu mengecup pelan pipi suamiku, "aku udah ada yang punya,lagian dia juga wisuda sama seperti kau bang. Jadi aku ngucap selamatnya sama dia doang." ledekku membuat Gazza menggerutu pelan.
"uwuw makin sayang aku." ucap Zayyan senang memelukku erat didepan orang jomblo seperti Gazza.
"suka hati kalianlah,malas pula aku." kesalnya langsung melenggang pergi dari kami. Aku tertawa pelan melihat tingkahnya,
"sayang, bentar lagi ultah babang tampan kita. Kita mau buat rencana gimana?" tanyaku pada Zayyan. Zayyan tampak berpikir sejenak,lalu ia melihat Elisa tidak jauh dari tempat kami berdiri.
"Elisa!" panggil Zayyan membuat sang pemilik nama menyerngit dan berjalan mendekat kearah kami.
"yaa?"
"kau ingin mengasih sesuatu bukan untuk Gazza?" tanya Zayyan membuat Elisa terkejut dan menoleh kearahku.
"tenang,dia nggak ember kok tentang masalah ini." kilahku susah menelan saliva. Bisa-bisa Elisa marah padaku karena membeberkan hadiah yang ia buat untuk Gazza.
"oo tidak apa Sha, aku paham kok." ucapnya sambil terkekeh pelan dan mencubit pipiku gemas.
"iyaa kak,aku ingin memberikan sesuatu untuknya saat ulang tahun. Tapi,aku tidak bisa memberikannya langsung padanya."
Baik aku maupun Zayyan terkejut dengan penuturan Elisa, "loh kenapa?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
Elisa tersenyum nanar, "entahlah,aku tidak yakin aja." lirihnya memaksa tersenyum.
Aku tau senyum itu terpaksa yang ditunjukkannya,aku langsung menepuk pundaknya seraya menyemangatinya.
"ayoo dong El,yakin pada dirimu sendiri." ucapku semangat. Elisa tersenyum kearahku, "terimakasih Dasha,doain aku yaa." serunya lagi.
"ehem,jadi gimana nih rencana untuk rayain ultah Abang tampan kalian itu?" tanya Zayyan.
"kejutan gitu maksudnya?"
"iyaa."
"hmm aku ada ide." seru Elisa riang,membuat kami berdua jadi penasaran dengan rencananya.
***
Aku berjalan menghampiri Gazza yang tengah duduk menikmati minuman ditangannya. Aku menyenggol bahunya membuat siempunya menoleh kearahku, "apa?" tanyanya.
"ngapain kau menung-menung sendirian bang? nggak ikut foto disana?" tunjukku kearah keluargaku yang tengah berfoto bersama Zayyan. Gazza menghela napas pelan,lalu mengangguk.
"ayo." ajaknya tetapi aku masih berdiam diri ditempat,membuat Gazza menyenrgit bingung kearahku, "kau tunggu apa lagi? ayoo." ajaknya lagi.
"kau bohong bang," lirihku memandang punggung Gazza yang mulai kian menjauh,tidak ingin merusak suasana hanya dengan masalah ini. Aku sejenak melupakan masalah itu dan bergegas menghampiri keluargaku.
"ayoo sini Sha!" seru Zayyan menarik tanganku agar berdiri disampingnya. Kami pun mulai mengabadikan momen ini.
"senyum!" seru fotografer yang memotret kami.
Ceklek.
"lagi mas!!" seruku,aku pun menarik Zayyan semakin mendekatiku dan disaat hitungan ketiga aku langsung mencium pipi Zayyan.
"cih,dasar." gerutu Gazza jengah melihat keuwuwan kami.
"suka hatilah." ocehku lagi,lalu terbesit diotakku rencana baru. Aku melihat Elisa yang berdiri memandang kami berfoto,dengan cepat aku menarik tangannya.
"ayoo kita foto keluarga!" seruku tetapi Elisa menolak.
"eh,ini kan foto keluarga Sha,aku nggak perlu ikut." tolaknya lagi.
"kau itu sahabatku El,sudah pasti kau itu ada keluargaku juga!" seruku lagi,menarik Elisa ikut bersama foto.
__ADS_1
"iyaa El,ayoo sini." ajak ibu membuat Elisa mau tak mau bergabung bersama kami. Aku dengan sengaja menempatkan Elisa berada disamping Gazza, Gazza masih belum menyadari orang disampingnya membuat rencanaku semakin mulus.
Semoga kalian benaran suami istri. harapku menatap mereka berdua. Dalam hitungan ketiga Kami berfoto bersama.
Ceklek.
Aku tersenyum puas melihat hasil jepretan yang dilakukan fotografer itu. "mas,saya mau semuanya dicuci yaa."
"okee." serunya langsung melenggang ke arah tenda tempat mencetak foto. Aku tersenyum tipis memandang Elisa, "gimana? bisa kan kau disamping bang Gazza tadi?" seruku membuat Elisa terkekeh.
"kau ini ada-ada aja Sha." ucapnya menggeleng-geleng melihatku. Ayah dan ibu pulang terlebih dahulu karena ada urusan yang harus diselesaikan diperusahaannya. Sedangkan kami,mengingat hari ini adalah hari yang spesial untuk itu kami pun langsung meminta kedua yang sudah wisuda itu mentraktir makan kami.
"ayoo ke all you can eat!!" seruku antusias.
"buset,langsung gas kesana. Nggak ada tempat lain apa? mahal looh." protes Zayyan menatapku.
"lebih enak disitu bang,lagian nggak mahal-mahal kali lah kalau sumsum semuanya." terangku.
"alah ujung-ujungnya aku juga yang bayar." gerutu Gazza membuat semua yang mendengar terkekeh.
"ya namanya juga adik bang,harus disayangi." ucapku lagi.
"terserah kau sajalah." ucapnya pasrah.
Setelah berfoto yang tak habis-habisnya,kami pun berjalan menuju all you can eat. Baru saja Gazza ingin duduk disamping Zayyan,aku langsung menyerobot dan duduk disamping Zayyan.
"hehehehe." cengirku menatap Abang tampanku itu,Gazza menghela napas pelan,dapat kulihat ia sedikit enggan duduk disamping Elisa.
Suasana dimejapun menjadi canggung, membuatku mau tak mau harus turun tangan.
"skuyy ambil daging sepuasnya,kan bang Gazza sama bang Zayyan traktir!" seruku menatap semuanya.
"dahlah,tipis dompet." gerutu Zayyan membuatku tergelak menatapnya.
"jangan gitu dong sayang,harus ikhlas yaaa sama istri sendiri,nggak boleh pelit." ucapku, sedangkan ia menghendus pelan.
Dengan semangat aku menarik tangan Zayyan untuk mengambil makanan, "El,bang kami ambil makanan dulu yaa. Kalian jaga tempatnya disini okee." seruku melenggang pergi langsung meninggalkan mereka yang masih canggung dengan situasi yang mereka rasakan saat ini.
Zayyan menggeleng-geleng pelan melihatku, "ada-ada saja idemu sayang." celotehnya.
"iyaa dong,siapa dulu Dashaa." ucapku membanggakan diriku sendiri.
__ADS_1