
Disinilah kami berada sekarang. Dimana satu kelas tengah berdiri didepan sang dosen killer nan seram. Tatapannya melirik kami satu-persatu membuat kaki menggigil ingin duduk.
"kalian udah tau salah kalian dimana?" tanyanya dengan suara khas Toanya. Beliau adalah Pak Hans alias pak Toa,Kami memang menjuluki beliau dengan sebutan Toa karena suara beliau menggelegar satu ruangan. Kami hanya menunduk diam.
"jawab saya!!!" sarkasnya membuat kami terkejut mendongak kearahnya.
"ah,kalian mentang-mentang saya terlambat bukan seenaknya kalian pergi! kalian mau kuliah atau nggak sih?!" sambungnya lagi.
"maafkan kami pak." lirih kami serentak.
"saya tidak terima permintaan maaf bualan kalian. Itu pintu keluar,kalian keluar sekarang!" usirnya tetapi kami tidak ada yang bergerak dari tempat satupun.
"kenapa? kalian nggak bergerak hah? udah merasa hebat? iya? saya dosen disini lho. Saya telat lima belas menit aja, kalian tidak menghargai saya sebagai dosen. Saya ada urusan sebentar,makanya saya telat. Ini siapa ketuanya?" tanya pak Hans menatap kami dengan berkacak pinggang.
"saya pak." ucap Alfred sedikit menunduk.
"kamu, arahkan kawannya untuk menulis surat pernyataan yang isinya saya bersedia mengulang mata kuliah pak Hans tahun depan dengan nilai B,bisa??"
What? nilai B untuk mata kuliah taun depan? itu artinya serajin atau setinggi apapun nilainya bakalan tetap dikasih B. ckckck,aku sangat menyesal mengikuti mereka. gerutuku pelan dalam hati.
"bisa tidak?! saya sudah kasih toleransi loh. Dasar anak Zaman sekarang,tidak menghormati dosen. Kalau kalian tidak ada membuat surat pernyataan seratus lembar itu jangan harap kalian boleh ikut kelas saya taun depan!" serunya lagi sambil melonggarkan dasinya.
Mau tak mau kami pun mengangguk pasrah mengikuti arahan beliau. Daripada membangkang atau hukumannya lebih parah lagi.
***
"aiiiih." gerutuku berjalan dengan muka cemberut. Dengan langkah kesal aku menaiki anak tangga menuju kamarku.
Braaak.
"iiih meetimeku hilang huaaah." kesalku sambil menumbuk bantal gulingku. Aku berguling kiri kanan melampiaskan semua emosiku yang meluap.
"woi kau kenapa kayak cacing kepanasan gitu?" tanya Zayyan menatapku heran. Aku menoleh kearahnya, "baaang!!! aku dihukum!!" seruku langsung loncat memeluknya, lagi-lagi Zayyan hampir keseimbangan berdiri menyambutku.
"ish kau ini,bisa tidak jangan langsung loncat. Untung aku jaga keseimbangan,kalau tidak gimana??"
"yah jatuh kebawah lah,"
"enak kali ngomongnya."
"yah enaklah,kan ini mulutku. Ish kau nih bang,aku lagi kesal kau tambah membuatku kesal." kesalku sambil menjambak rambutnya kuat.
__ADS_1
"aaaw sakit Dashaa!!" serunya dengan langkah gontai mencampakkanku ke kasur.
"kau ini berat sekali,apasih masalahmu sekarang hah? kau lagi datang bulan?" tanya Zayyan berkacak pinggang menatapku.
Aku menatap tajam,lalu duduk menyilang kaki mendongak kearahnya. "ih,enggak loh bang. Barusan aku tadi pagi mandi wajib. Itu loh dosenku bang ngeselin sumpah." ocehku kearahnya.
Zayyan ikut duduk berhadapan denganku, "kau yang ngeselin atau dosennya?? setauku hanya kau lah yang ngeselin selama ini." ledek Zayyan langsung disambut lemparan bantal dimukanya.
"enak aja,aku ini anak baik-baik ya bang." protesku tidak terima.
"ih dengarin aku curhat dulu," seruku lagi.
"hmm cepatlah ngomong."
"gini tadi dosen killer kami lambat datang trus karna kami kompak cabut,ya udah kami cabut eh rupanya bapaknya datang. Ndeeeh kena marah kami bang. Disuruh tulis surat pernyataan seratus lembar,trus disuruh ikut taun depan tapi nilainya jadi B." curhatanku panjang lebar.
Zayyan terkekeh pelan, "kasian." ledeknya menertawakan diriku. Aku memberengut kesal,bukannya mereda tetapi malah bertambah.
"banyak juga surat pernyataannya seratus lembar,kau harus mulai dari sekarang nulisnya sayang," ucapnya langsung mengambil kertas dan pena.
"nih,selamat menulis." ucapnya sambil meledekku,tak lupa mengacak rambutku.
"ish menyebalkan!!!" kesalku langsung merampas kertas dan pena yang diberikan Zayyan.
"cih,bukannya bersyukur diberi kesempatan untuk ikut kelas dosen itu lagi. Nih malah mengumpat nggak jelas." oceh Zayyan yang memekakkan telingaku. Aku membuang muka menandakan kesal padanya.
Zayyan sambil tersenyum seringai menoel pipiku, "ulululu ada yang merajuk nih." serunya. Aku menepis tangannya dari pipiku, "sana pergi!" usirku.
"yah salah sendiri,kenapa mau ikut dengan kelasmu itu? udah tau dosennya galak,kalian lawan pula dia. Ya iyalah marah dia. Dah,daripada kau menggerutu nggak jelas mending lanjut ngerjainnya." ucapnya lalu berjalan keluar,aku mendongak kearahnya, "Oi mau kemana?" tanyaku membuat suamiku berbalik menatapku, "yah mau keluar,aku mau beli something."
"titiiiip!!!" seruku,Zayyan menatapku datar.
"kau mau beli apa bang? aku titip yang kau beli ajalah yaa." ucapku sambil menampakkan deretan gigiku.
"nggak,kalau mau beli sendiri sana." tolak Zayyan sambil memakai jaketnya.
"ish,nggak boleh gitu sama istri sendiri, berdosa loh." ucapku sok bijak,dapat terlihat olehku raut kesal yang ditunjukkan Zayyan.
"kalau udah kayak gini,kau jadi sok bijak. Dahlah,mau titip apa cepat bilang?"
"aku mau ti—"
__ADS_1
"lima."
"aku mau tit—"
"empat."
"aku mau titip...aduh...aku ma—"
"tiga...dua."
"ish diamlah dulu!!" sarkasku daritadi Zayyan asyik memotong pembicaraanku membuatku lupa apa yang ingin aku katakan padanya. Zayyan terkekeh pelan, "cepatlah,lama kali pun bilangnya." gerutunya lagi.
"ish sabar lah dulu, masih mikir nih. Tadi udah kepikiran tapi lupa karna kau bang!" seruku lagi sambil memikirkan makanan yang aku inginkan.
"tik...tok...tik...tok waktu terus berjalan,sampai satu abad pun kayaknya kau belum selesai juga berpikir." serunya lagi,Aku dengan kesal langsung melempar boneka disampingku itu kearahnya,namun Zayyan langsung menangkapnya dengan mudah.
"blueeh nggak kena." ledeknya langsung melempar kembali boneka yang baru saja aku lempar.
"ya udahlah titip martabak rasa coklat. mesisnya dibanyakin,trus titip es tebak yaa bang banyakin esnya,jangan lupa singgah mini market beli cemilan yaa." ucapku membuat Zayyan mengerut heran,
"buseet banyak betul request nya,ini makan atau doyan sih?" tanya Zayyan heran melihatku.
"hehehe,oh yaa jangan lupa beli lem tembak." seruku saat mengingat barang yang harus dibeli.
"untuk apa? kau mau ngelem? astagfirullah Dasha,tidak kusangka kau melakukan hal itu." ucap Zayyan sambil berdecak menatapku tidak percaya.
"aiiih bukan itu bodoh,kalau untuk ngelem tuh ya lem kambing." seruku lagi.
"lah kok tau?? ayooo udah pernah makai yaa???" tanya Zayyan menatapku curiga,aku menatapnya tajam.
"eh kurang ajar,nggak yaa sorry. Enak ngomongnya lagi. Aku tuh nggak pernah melakukan hal itu yaa,kau ini suuzon aja bang. Aku tau karna pernah liat temanku kek gitu,makanya aku tau." jelasku mengklarifikasi. Tentu saja aku tidak terima jika di cap pernah melakukan hal itu,mau letak dimana harga diriku nanti?
"aku ini nggak suuzon manatau kau khilaf pernah makai,makanya aku curiga. Dahlah,aku pergi yaa." ucapnya lagi lalu memegang handle pintu.
"yaa hati-hati sayang!" seruku membuat Zayyan tidak jadi membuka pintu dan berbalik menatapku, "barusan kau memanggilku sayang?"
Aku yang baru saja menulis satu kata dikertas mendongak kearahnya sambil mengangguk, "iyaa, hati-hati bawa martabak sama es tebak ya. Jangan sampai jatuh ya bang." ucapku sambil menunjukkan senyum lebar ku.
"ish,padahal dah senang tadi,cih menyebalkan." gumamnya pelan tetapi masih bisa kudengar.
"hehehehe." cengirku kearahnya,aku pun langsung turun dari kasur dan berlari kecil kearahnya dengan kecepatan kilat aku mencium pipinya dan berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
"daaah!!" seruku dari dalam kamar mandi,aku terkekeh pelan saat melihat eskpresi nya yang membeku saat ku cium tadi.
"imut sekali." pekikku senang membayang wajah suamiku tadi.