I Know Your Secret

I Know Your Secret
Istriku Yang Aneh


__ADS_3

Malamnya,Aku menatap kearah laptop sambil mengetik sesuatu. Aku melirik istriku tengah mengerjakan sesuatu yang pastinya itu adalah tugas. Dapat kulihat saat ini ia tengah frustasi menyelesaikan tugasnya.


"kenapa wajahmu kusut gitu?" tanyaku membuat ia berbalik menatapku.


"iiih,tugasnya susah bang, hitung-hitung!!" gerutunya lalu berbalik menatap tugasnya. Aku menghela napas pelan,memandang malas kearah istriku. Ia bukannya berusaha mendapatkan jawabannya,malah asyik mengomel tidak karuan.


"ya dikerjakan sayang,bukan dipelototi aja." ujarku lalu ia berjalan sambil membawa tugasnya padaku.


"mending kau bantuin aku lagi bang,nampaknya kau nggak ada kerjaan selain mengangguku." ucapnya.


Mampus,nyesal aku ganggu dia. sesalku dalam hati. Aku menggeleng kuat, "enggak,kerjakan sendiri. Itu bukan bidangku." tolakku langsung. Dasha langsung memberengut kesal lalu membanting tubuhnya ke kasur.


"hei,mana ada orang yang dapat secara instan,berusahalah!" seruku menatap istriku berguling-guling dikasur. Aku hanya berdecak kesal lalu mengambil tongkat elbow yang biasanya dipakai untung menopang tubuh saat salah satu kaki tengah terkilir sementara waktu. Dasha yang melihatku berjalan keluar,ia pun menyerngit heran. "pincang-pincang mau kemana bang?" tanyanya kasar. Aku berbalik menatapnya tajam, "cih,kau ini. Kakiku terkilir karena menyelamatkan nyawamu tau!! kau ini ceroboh sekali." gemasku menatap kearahnya.


Sedangkan gadis itu menyengir pelan," hehehehe." ucapnya seperti tidak berdosa. Aku hanya menggeleng pelan,lalu berjalan keluar. Tanpa kusangka Dasha mengikutiku dari belakang.


"kau kenapa mengikutiku??" tanyaku langsung berbalik membuat dirinya yang mengikutiku diam-diam tanpa sempat mengerem dan menabrak tubuhku.


"aduuh,kenapa kau main berhenti mendadak sih bang??" gerutunya sambil mengelus pelipisnya.


"kau kenapa mengikutiku???" tanyaku heran.


"ya mau makan." jawabnya singkat,dengan sigap ia membantuku berjalan sampai ke dapur. Dasha dengan cepat mengambil air putih dan memberikannya padaku. Aku salut melihat kepekaan gadis ini.


"thanks."


"iyaa," serunya sambil mengobrak-abrik lemari penyimpanan. Aku menyerngit heran memandang istriku yang tengah kasak-kusuk mencari sesuatu.


"kau sedang mencari apa?" tanyaku, Dasha menoleh kearahku. "ituu mie instan. Hari ini aku mau makan itu,biar aku bisa kerjain tugasnya." serunya.


"mana ada orang setelah makan micin,jadi pintar." gerutuku lagi.


"ada tuh,contohnya aku. Kau tau bang,Senin makan mie,Selasa makan mie,Rabu makan mie,Kamis hmm break dulu. Trus Jum'at makan mie,Sabtu martabak. Hmmm enaknya Surga duniawi." serunya lalu dengan girang ia menemukan sebungkus mie instan.


"gilaaa,itu ususmu aman?" tanyaku berdecak tidak percaya.

__ADS_1


Dasha mengangguk, "sejauh ini aku baik-baik saja. Tapi kalau sakit yaa minum susu biar racunnya netral." ujarnya sambil mengambil panci.


"hei teori dari mana pula itu,memang benar susu itu untuk netral racun. Tapi yaa pola makanmu itu nggak sehat Dasha." nasehatku membuat dirinya menghela napas pelan.


"oh tidak,pak dokter kita mulai menyemprot siraman rohaninya. Hei aku makan mie ini sekali sebulan yaaa." ucapnya.


"apa pula sesekali sebulan,kau tadi bilang maka mie setiap hari." ucapku mengingat kata-katanya gadis itu.


"lah,Kamis sama Sabtu aja beda menu. Kan jadinya nggak setiap hari dong." serunya membuatku harus menepuk jidat.


"ya ampun nih anak,mulai malam ini. Makanan aku yang ngatur,kau tidak boleh protes ini itu. Aku ini suamimu,jadi kau sebagai istri harus nurut sama suami." ucapku memakai senjata rahasia. Tentu saja Dasha tidak bisa membantah apalagi menyangkut dengan kewajibannya sebagai istri,yaitu menuruti perintah suami.


"iyaa...iyaaa. Lalu mie yang malam ini udah dimasak harus diapakan??" tanyanya menatap kearahku.


"yaa,dimakan lah. Kan sayang,kau sudah membuat mie tuh. Lalu tunggu apa lagi,ayo makan." ajakku kearah Dasha. Dasha pun langsung mengambil dua sendok dan mangkuk,lalu ia pindahkan mie didalam mangkuk besar.


"segini cukup?" tanyanya menatapku,aku mengangguk pelan. Aku melihat kearah Adara tengah mengambil sesuatu.


"kau sedang mencari apa?" tanyaku pelan.


"aku sedang mencari cabe bubuk. Ah ini diaa!!" girangnya dengan cepat mengambil cabe bubuk itu. Dasha langsung duduk didepanku smabil menuangkan cabe bubuk yang terlihat pedas.


"ya ampun bang,biasa aja kok. Ini biasanya aku makan saat lagi stress,ini mah udah biasa aja sama aku." serunya langsung mengaduk rata mie miliknya.


"ya tapi kan,lambungmu yang hancur nanti Dashaa." protesku menatap tajam kearahnya.


"nggak papa bang,sesekali. Aku ingin melampiaskan stresku." ucapnya tiba-tiba sendu. Aku menangkap wajah Dasha yang tampak tidak biasanya. seharusnya aku tadi sadar dari awal,jika Dasha sedang tidak baik-baik saja. Gadis itu tampak diam sambil menyeruput mie miliknya.


"ada apa?" tanyaku lembut sambil menggenggam tangannya. Dasha menggeleng dan tetap menyeruput mie miliknya.


Oke,mungkin nanti akan kutanya lagi saat dia tenang. gumamku membiarkan Dasha menikmati mie yang super pedas itu. Aku hanya menyeruput sedikit makanan yang ada dihadapanku ini. Rasa laparku mulai menguap saat melihat raut Dasha.


Dia masih belum tenang juga. gumam ku memandangnya intens,lalu aku melirik kearah jam dinding yang menunjukkan pukul dua belas malam.


"euuugh!!" sendawanya membuatku terkejut. Dasha terlihat santai.

__ADS_1


"Alhamdulillah." ucapnya pelan,sambil membereskan bekas makannya,lalu ia melirik kearah mangkukku yang masih banyak mie yang tersisa.


"eh kak? nggak dimakan?" tanyanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Aku menyerngit bingung menatapnya,padahal dirinya tadi terlihat sedih dan murung,tetapi sekarang gadis itu malah terlihat santai dan tenang setelah memakan mie instan yang super pedas itu.


"kau tidak apa-apa?" tanyaku sedikit khawatir, bagaimanapun juga aku penasaran dengan raut sedih yang sempat Dasha tunjukkan tadi.


"aku? aku baik-baik saja kok." jawabnya.


Aku menggaruk tengkukku tidak gatal,bingung harus mengatakan apa lagi padanya.


"kau bukannya lagi sedih Dasha?" tanyaku lagi.


"hah? aku sedih? kapan?" tanyanya yang ikutan bingung menatapku.


"ah,sudahlah lupakan saja." ucapku pasrah tidak mengungkit hal itu lagi. Dasha mengangguk,lalu mengambil mangkukku dan mulai menyeruput mie milikku.


"astaga,kau masih belum kenyang jugaa???" seruku menatap dirinya tidak percaya.


"sayang kalau dibuang,mubazir bang." jawabnya santai. Dasha lalu mengarahkan sendoknya kearah mulutku, "buka mulutmu bang!" pintanya,aku dengan menurut mengikuti perintahnya.


Rasanya lebih enak,padahal tadi tidak seenak ini. gumamku sambil menikmati suapan Dasha. Dasha yang melirikku tersenyum senang,dan menyuapiku lagi sampai mie tersebut tidak tersisa.


"nah,gini kan enak." ucapnya lalu mengangkat bekas makan kami berdua kedapur. Tanpa basa-basi ia pun langsung mencuci mangkuk itu.


Aku berjalan menggunakan tongkat menuju kearahnya, Dasha yang mengetahui aku mulai mendekat,ia pun langsung mencegahku.


"eh bang,jangan kesini! disini licin,kau bisa jatuh lagi nanti!!" serunya.


"cih,aku tidak selemah yang kau bilang."


"ck,iyaa...iya kau ini emang nggak lemah. Tapi,kau ini sedang pincang-pincangnya. Kalau kau jatuh siapa yang susah? aku jugaaa kan." omelnya sambil berkacak pinggang kearahku.


"ooo jadi kau tidak ikhlas menolong suamimu hah?" seruku sambil maju satu langkah kearahnya. Dasha kelabakan melihatku mulai semakin mendekat kearahnya.


"bang Zayyan!!!" pekiknya langsung dengan spontan menyiram air sabun kearahku.

__ADS_1


Byuur


"Dashaaaaa!!!"


__ADS_2