
Gazza dengan cepat menggendong Elisa masuk kedalam ruang UGD. Sedangkan aku berusaha mengatur napasku yang sempat membuatku sesak karena aksi balap suamiku tadi. Aku merasa sedikit pusing dan mual,mungkin ini risiko jadi penumpang. Kalau yang mengemudikan mobilnya tentu saja tidak bakalan mabuk karena ia sendiri yang mengemudikan mobilnya tersebut.
"kau tidak apa-apa?" tanya Zayyan yang tiba-tiba nongol didepanku. Tak lupa ditangannya menggenggam botol mineral.
"minum nih dulu." ucapnya sambil menyerahkan botol mineral itu padaku. Aku langsung mengambilnya, "thanks kak,tumben kau baik" ucapku sambil membuka tutup botolnya.
"cih,baik salah jahat pun salah. Balek sini botolnya." kesal Zayyan,aku langsung menjauhkan botol itu dari jangkauan Zayyan.
"eh,enak aja kak. Kalau barang yang sudah diberi tidak boleh diambil lagi. Dosa." ucapku sok bijak.
"terserahlah." ucapnya pasrah.
Kami menunggu diluar ruang UGD. Sedangkan Gazza didalam menemani Elisa. Aku meneguk mineral tetapi beberapa detik kemudian aku tersedak menyadari sesuatu.
"uhuk...uhuk.."
Zayyan yang melihat kearahku bingung dan heran, "baik-baik lah kalau mau minum tuh."
Aku bukannya membalas ucapannya,tetapi berdiri lalu memberikan botol mineral itu pada Zayyan. Aku langsung bergegas masuk kedalam ruang UGD tempat Elisa ditangani oleh dokter. Zayyan yang melihatku tergesa-gesa masuk,ia pun mengikutiku dari belakang. Aku langsung membuka tirai dimana tempat Elisa dirawat.
Aku bernapas lega saat melihatnya sudah siuman. Walau terlihat pucat,aku langsung menghampiri gadis itu. "syukurlah kau baik-baik saja El."
"Da-dasha? aku takuuut." lirihnya pelan,aku langsung memeluknya erat. "tenang,kau sudah aman sekarang El." ucapku pelan untuk menenangkannya. Tiba-tiba aku menyadari sesuatu,tidak menemukan keberadaan abangku.
"dimana bang Gazza?" tanyaku sambil mengedarkan pandanganku keseluruh ruangan.
"kak Gazza? disini?" tanya Elisa terkejut.
Aku menoleh kearah Zayyan dibelakangku dan dia hanya mengedik bahu tidak mengetahui keberadaan abangku.
"mungkin abangku pergi kesuatu tempat." ucapku asal.
"oh,baiklah." ucapnya sedikit kecewa.
"ngomong-ngomong bagaimana aku bisa disini Sha? kau yang membawaku kesini?" tanya Elisa saat menyadari tempatnya sekarang.
"kami semua yang membawamu kesini El,untung saja kau baik-baik saja."
Elisa mengangguk,lalu dengan cepat menoleh kearahku dan memegang bahuku kuat. "Dasha,apa kau datang tadi ke kampus?,apa kau tidak dalam bahaya? aku sangat takut tadi. Mereka langsung menyekapku digudang dan mengambil ponselku. Aku terus berharap kau tidak kenapa-kenapa Sha." lirihnya seketika menangis,aku tertegun dan salut melihatnya masih mengkhawatirkan diriku padahal dirinya juga dalam bahaya.
__ADS_1
Tidak kusangka,ternyata masih ada yang tulus padaku. Maaf Elisa kalau selama ini aku tidak mempercayaimu sepenuhnya. Karena membangun kepercayaan kembali pada orang itu sangatlah sulit. lirihku pelan dalam hati.
Aku langsung memeluknya lagi, "terimakasih sudah mengkhawatirkanku El,tapi lain kali pikirkan dirimu sendiri dulu baru orang lain. Kau tadi juga dalam bahaya,kalau saja aku terlambat mungkin kau.." ucapku juga tidak bisa memebendung air mataku lagi. Kamipun menangis bersamaan. Suamiku hanya memandang kami dengan ekspresi yang sulit kuartikan,entah apa yang dipikirkannya saat ini. Yang jelas raut wajahnya tidak terlihat seperti biasanya.
***
sudah dua hari sejak kejadian itu. Elisa sudah menjelaskan padaku kronologi lengkapnya tentang kejadian itu,tetapi ia tidak tau siapa yang menculiknya waktu itu karena ia dibekap dari belakang. Aku memang tau siapa pelakunya tetapi,hanya membiarkan Elisa tidak mengetahui pelaku itu. Sebab,bisa saja gadis itu masih trauma dengan kejadian itu.
Begitu juga dengan kabar pelaku yang tak lain adalah Afran dan Vanya. Sampai saat ini aku belum melihat batang hidung mereka.
Apa mereka melakukan hal bodoh itu?. pikirku pelan,memang saat aku bertukar tempat dengan Vanya yang sempat terlintas olehku adalah perbuatan yang tidak-tidak. Apalagi Afran yang sepertinya terlalu obsesi padaku,membuat pria itu kehilangan akal sehatnya.
Kalau memang yang kupikirkan benar,mampus lah aku. Aku malah menjebak anak orang ke lubang hitam,dia bakalan trauma membekas seumur hidup. sesalku dalam hati.
Aku terus berdoa agar tidak terjadi sesuatu dengan gadis itu. Bagaimanapun juga dia hanyalah manusia yang pernah melakukan kesalahan.
Fyuuh,walau aku hampir saja terjebak. Tapi aku tidak ingin dia kenapa-kenapa. Ya Allah lindungi dia. lirihku pelan dalam hati.
"Dasha!" panggil dosen membuatku terperanjat dari lamunanku dan menatap seluruh kelas. Lalu aku memandang dosen yang kini tengah menatapku tajam, "walaupun kamu pintar,tapi tolong hargai saya didepan." tegasnya membuatku langsung mengangguk pelan, "maafkan saya Bu." ucapku menyesal.
Dosen itu mengangguk lalu melanjutkan menjelaskan materinya.
"baik itu saja dari materi saya,kalian ada tugas membuat miniatur rumah. Saya ingin miniatur itu dibuat dari kayu,boleh juga dari stik kayu. Tapi,tidak dari kardus. Ada yang ingin ditanyakan lagi??" tanya dosen itu menatap kami semua.
"ya,apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya dosen itu menatap kearahku, aku menghela napas pelan. "apakah ini tugas kelompok atau individu Bu?"
"tugasnya individu,dan kumpulnya dua Minggu lagi. Kalau gitu saya permisi." ucap dosen itu berlalu keluar dari kelas kami.
"tidak biasanya kau melamun Sha." bisik Elisa padaku, Aku hanya menggeleng pelan. "mungkin karena aku kurang tidur nih kayaknya." ucapku asal.
"sepertinya kau harus cari udara segar Sha." ucap Elisa sambil mencatat list tugas. Yap,gadis itu suka lupa soal tugas,jadi aku menyarannya untuk mencatat list tugas,biar gadis itu tidak panik kalau tugasnya sudah dekat dengan deadlinenya.
"Sha,kau udah tau desain rumahnya gimana?" tanya Elisa sambil memasukkan barang-barangnya kedalam ranselnya. Aku meliriknya sekilas, "masih belum tau. Kau sendiri?" ucapku pasrah.
"heheheh belum. kuy kantin yok, sebelum ramai kali nanti ngantrinya." ajak Elisa sambil menyambar tasnya begitupun aku.
Kami pun berjalan ke kantin, lagi-lagi aku tidak melihat batang hidung kedua manusia yang hampir membuatku celaka.
"kau mencari siapa Sha?" tanya Elisa menatapku celingak-celinguk.
__ADS_1
"oh,nggak ada. cuman liat-liat aja."
Elisa manggut-manggut,lalu memesan makanan untuk kami. Setelah kami menikmati makanan kami akhirnya kami pulang kerumah masing-masing.
Aku yang baru saja mengemudikan mobil keluar kampus,menyerngit menatap seseorang dari kejauhan. Saat gadis itu menoleh menatapku,ia pun berlari kecil menuju mobilku.
tok.tok. Dengan malas aku menuruni kaca mobilku.
"Dasha." panggilnya menatapku.
"iyaa ada apa?" aku berusaha tetap tenang agar tidak terlihat curiga oleh Farah,kalau aku sangat membencinya.
"hmm boleh tidak tolong antar aku kesuatu tempat?" ucapnya membuatku menyerngit bingung.
Aduh,nih anak mau ngapain lagi sih??? aku berusaha menghindar kau malah mendekat. Aku masih terbayang apa yang kau lakukan padaku dulu Farah, gara-gara kau,aku hampir membuat keputusan yang salah! geramku sambil menggenggam kuat stir mobilku.
"ayolah Sha,please. Urgent banget." ucapnya lagi memohon padaku.
Aku menghela napas,lalu mengangguk. "yasudah naiklah." ucapku pelan.
Kurang apa lagi aku coba,walaupun kau membulliku dulu tetapi aku saja tetap baik padamu. Ya ampun hatiku ini sangat suci sekali. gumamku dalam hati.
Setelah Farah masuk,aku pun melajukan mobilku keluar dari kampus. Farah langsung menunjukkan arah yang ingin ditujunya.
Sampai mobilku berhenti ditempat yang tidak seharusnya mobilku berhenti disini.
"kau tidak ingin ikut juga Sha?" tanya Farah melirik kearahku,tak lupa gadis itu berdandan dengan kosmetiknya yang banyak itu.
"tidak.terimakasih." tolakku tegas.
Cepatlah keluar bodoh,aku mau pulang!! . gerutuku dalam hati.
"ayolaah,tempat itu asyik banget. Banyak cogan didalamnya,lagian disitu tempatnya bebas." ucap Farah tetap mengajakku untuk masuk ketempat terkutuk itu.
"tidak,ibuku menyuruhku membeli sesuatu dulu. Jadi aku harus cepat pulang." ucapku asal agar Farah cepat keluar dari mobilku.
Farah menghendus kesal,tetapi gadis itu tetap tidak kehabisan akal.
"bilang aja sama ibumu kita ada kerja kelompok. Ayolah kau cantik pasti banyak yang mau sama kamu Sha." ucapnya lagi.
__ADS_1
Bulu kudukku langsung merinding mendengar ucapannya.
Anj***r dikiranya aku ini murahan apa?!.geramku lagi. Tetapi aku harus berusaha sabar dan mencari alasan agar tidak mengikutinya.