
Akhirnya kami tiba dirumah,Aku langsung berjalan menuju ke kamarku tanpa membantu mereka yang banyak membawa belanjaan tadi. Dapat kudengar suara teriakan mereka memanggil namaku,tetapi aku mengacuhkan aja dan tetap berjalan masuk kedalam kamar.
"ehem." suara itu membuatku langsung berhenti ditempat,aku menoleh kearah Ayah yang tengah duduk disofa sambil menonton tv.
"eh Ayah, Assalammualaikum." cengirku sambil menyalami Ayahku itu. Ayahku menoleh kearah luar, "wa'alaikumsalam." ucap Ayah sedikit menaikkan nada suaranya. Aku yang melihat arah pandangan Ayah langsung terbirit-birit keluar membantu mereka. Aku tau hanya dengan Ayah' menoleh keluar sudah pasti Ayah menyuruhku untuk membantu mereka.
"nah,nongol juga nih anak." ucap Zayyan tanpa aba-aba langsung memberikan barang-barang padaku.
"eh? banyak kali kak." protesku hampir saja oleng memegang barang yang banyak itu sekaligus.
"kau kan kuat,jadi bisa lah bawa itu semua." ucap Zayyan menutup pintu bagasi mobil,ia pun menenteng sekantong plastik kecil.
Kurang ajar,dia hanya membawa kantong kecil sedangkan aku bawa dua kantong besar ini sendirian. Gerutuku kesal dalam hati.
"cepatlah kau ini lama kali jalannya." seru Zayyan yang sudah berjalan mendahuluiku. Ia pun berdiri diteras sambil menikmati ice chocho miliknya.
Bede**h si***n,ini sangat berat bodoh! .Umpatku dalam hati. Dengan langkah sedikit gontai aku berusaha membawa dua kantong si***n itu sampai menuju teras.
"Yap terus...terus,ayoo nah letak situ." ucap Zayyan santai sambil duduk menatapku yang kesusahan membawa barang-barang itu semua.
"ya bantuin dong kak,masa duduk santai gini!" gerutuku kesal menatapnya.
Zayyan tampak acuh tak acuh, "ada lihat wajahku peduli akan hal itu? nggak kan. Lanjutkan tugasmu!" seru Zayyan sambil memainkan ponselnya.
Rasanya ingin mengumpat satu kebun binatang,cih enak sekali dia. kesalku lalu aku melihat kearah Gazza yang tampak tengah menelpon seseorang.
Aku langsung meletakkan semua kantong itu dan berjalan kearah Gazza. Gazza tampak terkejut dengan kedatanganku,ia pun langsung menutup teleponnya cepat.
"kenapa?" tanyanya sambil memasukkan ponselnya kedalam saku. Aku menatapnya dengan curiga,tetapi Gazza tampak tenang menatapku.
"dasar kepo." ucapnya pelan,lalu berjalan kearah Zayyan. Aku menggerutu kesal dan berjalan mengikuti Gazza.
"dah semua kan?" tanya Gazza melihat barang belanjaan itu. Zayyan mengangguk,lalu menatapku "ada lagi nggak yang kurang?" tanyanya padaku. Aku langsung mengeluarkan secarik kertas dari saku celanaku, "hmm sepertinya udah semua."
"baguslah." ucapnya pelan lalu berjalan masuk membawa dua kantong besar tadi kedalam rumahku. Aku hanya mengikutinya dari belakang,sebenarnya dari semalam aku sangat penasaran dengan Ayah. Kenapa tiba-tiba ayahku menyetujui pernikahanku dengan Zayyan,padahal selama ini semua cowok yang berusaha mendapatkanku menggigil ketakutan berhadapan dengan Ayah. Karena rasa penasaran tak bisa dibendung lagi dengan semangat penuh,aku menghampiri Ayahku.
"Ayah." panggilku pelan menatap beliau yang tengah mengerjakan pekerjaannya.
__ADS_1
"Hm?" jawab Ayah tanpa menoleh kearahku.
"Ayah,aku penasaran sesuatu." Aku langsung duduk disamping Ayah,Ayah langsung memukul pelan lenganku.
"tengok-tengok kalau mau duduk." ucap Ayah langsung memindahkan berkas-berkas kerjanya yang hampir terduduk olehku. Aku hanya menggaruk tengkukku tidak gatal,dan tersenyum kikuk kearah Ayah.
"apa yang mau kamu tanyakan?"tanya Ayah menatapku sekilas llau kembali menatap layar laptopnya.
"hmm Ayah,kenapa Ayah dengan mudah menyetujui pernikahanku?. Sedangkan selama ini Ayah melarangku mendekati cowok manapun." tanyaku penasaran menatap Ayah.
Aku sangat ingat sekali,pernah sebelumnya aku dituduh pacaran dengan seseorang,dan Ayah yang mendengar hal itu langsung marah dan membanting ponselku hingga pecah. Aku sangat ketakutan dan tidak bisa berkata apa-apa waktu itu,untuk menjelaskannya kejadian sebenarnya sangat sulit keluar dari mulutku saat melihat ekspresi dingin yang ditunjukkan Ayah. Sedangkan bang Gazza dan Ibu hanya diam menatap iba kearahku,tidak berani mengangkat suara karena belum tau kejelasan dariku tentang hal itu. Dengan susah payah akhirnya aku bisa menjelaskan kejadian itu yang sebenarnya dengan Ayah. Semenjak itu,aku tidak mau dekat dengan cowok manapun lagi.
Ayah menoleh kearahku,"kenapa memangnya?" tanya Ayah dengan nada dingin khasnya itu.
"hmm aku hanya penasaran saja Ayah." ujarku pelan sesekali menelan saliva takut salah bicara.
"Tanyakan saja pada calon suamimu itu." jawab Ayah singkat. Ia pun langsung mengangkat teleponnya,Aku langsung pamit dan berjalan kearah kamarku.
"kenapa harus tanya dengan Zayyan? tidak seperti biasanya Ayah seperti ini." gumamku pelan lalu membuka pintu kamarku,sebelum aku masuk ke kamarku,Zayyan baru saja keluar dari kamar Gazza dan menghampiriku.
"aku pulang." pamitnya lalu langsung menuruni anak tangga. Aku terbengong menatap punggung pria itu yang hampir hilang dari pandanganku.
Sebelum menyentuh komputer kesayanganku itu,aku membersihkan diri dan mengganti pakaian. Tidak membutuhkan waktu lama untuk mandi,aku sekarang sudah duduk didepan komputer sambil menyisir rambut panjangku.
"fyuuh capek jugaa." keluhku sambil merenggangkan otot,aku langsung menghidupkan komputerku dan memainkan permainan kesukaanku itu.
"hmm dia masih offline yaa,padahal mau ngajak main bareng." gumamku pelan saat melihat temanku tidak aktif dalam game itu.
"eh? dia online yey." seruku saat melihat notif nya batu muncul dilayarku. Dengan senang hati,aku langsung mengajaknya bermain game itu.
tok...tok...
"masuk,nggak dikunci." ucapku masih fokus bermain komputer. Gazza langsung masuk dan berdecak pelan kearahku, "ckckckck sudah mau jadi istri orang masih gini kelakuannya."
"biarin,terserahku dong." ledekku tanpa melihat Gazza.
"kau tidak belajar? katanya besok kau ujian semester." tanya Gazza melihatku yang masih asyik bermain game.
__ADS_1
"tenang...tenang,soalnya mudah." ucapku masih asyik bermain. Gazza menggeleng heran melihat tingkahku, "masa? aku aja harus bergadang malam nih karna besok ujian."
"kau itu kedokteran bang,tentu saja harus rajin membaca."
"idih sombong amat,awas yaa besok kalau nilainya rendah aku ketawain puas-puas." ledek Gazza mengacak rambutku.
"haiiss aku sudah capek menyisirnya kau hancurkan bang. Cih,kita lihat besok yang tinggi nilainya traktir makan ramen!" ajakku langsung dianggukan Gazza.
"okee siapa takut. Akan ku pastikan kau yang traktir besok plus sama yang kemarin waktu itu nggak jadi." ucap Gazza semangat,ia pun langsung keluar dari kamar adik laknatnya itu.
Esoknya,setelah Aku mengerjakan ujian itu. Aku langsung duduk dikantin untuk membeli minuman menunggu sang Abang tampan kesayanganku itu datang menemuiku.
Aku dengan sumringah menyambut kedatangannya saat melihat Gazza dan Zayyan berjalan kearahku. Banyak pasang mata yang memuji ketampanan Gazza,ada juga yang meledek Zayyan karena pria culun itu merusak pemandangan mereka. Ingin sekali aku memarahi mereka,tapi aku urung karena melihat raut Zayyan tampak tidak peduli dengan semua itu.
Elisa datang berlari kencang kearahku,ia memang sangat antusias menunggu kedatangan Gazza karena wanita itu menyukai abangku itu.
"Ya ampun Sha,abangmu itu tampan kali." bisiknya pelan menatap malu kearah Gazza yang hampir dekat berjalan kearah kami.
"biasa aja lho dia tuh." gerutuku tidak terima abangku dibilang ganteng walaupun sebenarnya ganteng. Tetapi,saat melihat abangku itu rasanya menyebalkan.
"boleh duduk disini kan?" tanya Gazza sopan,aku mengangguk pelan.
Sok sopan banget kau bang. gumamku dalam hati melihat abangku itu.
"Dasha,lihat nilaimu. Katanya kau sudah selesai ujiankan? tengok Abang." seru Gazza dengan semangat langsung meminta kertas ujianku. Aku langsung menyodorkan kertas ujianku pada Gazza. Dapat kulihat Gazza terkejut melihat hasil ujianku itu,dan menatapku tidak percaya.
"gimana bang? baguskan." tanyaku sambil tersenyum evil,sedangkan Zayyan hanya menggeleng pelan melihat tingkah kami berdua.
"ya iyalah Dasha dapat nilai sempurna gitu,Dasha tuh pintar kali,rajin membaca jugaa. Makanya cocok kalau dia dapat nilai sebagus itu." ucap Elisa semangat memujiku.
Gazza mengedik ngeri menatapku, Gazza sangat tau kalau aku tidak belajar kemarin,seolah-olah ekspresinya berkata padaku, "bisa-bisanya nilai dia A,anak hoki memang beda."
"xixixixi,jadi kan bang hari ini?" ajakku tersenyum seringai menatap Gazza. Gazza berdecak pelan,lalu mengangguk pasrah.
"yalah...yalah yok." ajaknya langsung kami berdiri dari tempat kami.
"mau kemana Sha?" tanya Elisa tak tau menahu soal taruhanku dengan Gazza.
__ADS_1
"kami mau makan ramen,kau mau ikut?" ajakku melihat kearah Elisa. Elisa langsung mengangguk cepat, "boleh nih kan?" tanyanya memastikan dirinya diizinkan ikut.
"boleh,yok." ajak Gazza membuat Elisa senang bukan main. Aku hanya berdecak kesal melihat aksi Elisa,kami pun langsung berjalan menuju mobil Gazza.