I Know Your Secret

I Know Your Secret
Taruhan Mendadak


__ADS_3

Aku menghela napas sebentar memandangi panggung acara yang akan segera dimulai dikampus,ralat lebih tepatnya acara mendadak yang diselenggarakan mahasiswa kedokteran. Aku jadi menyesal sudah terseret masuk kedalam lomba itu,padahal awalnya aku hanya membuat Azela tidak bisa berkutik lagi tetapi Azel menantang ku untuk membuktikan siapa yang layak disamping Zayyan,aku yang tanpa berpikir panjang langsung mengangguk setuju dengan tantangannya. Yap,semua ini berawal dari gadis sialan itu.


#flashback On


Azela menghadang jalanku di parkiran,tampak wajah liciknya muncul menatapku dengan angkuh. Aku yang acuh tak acuh hanya melewatinya tanpa memperdulikan umpatan gadis itu. Namun tampak Azela tidak menyerah mencengkram tanganku kuat,aku berbalik dan menepis tangannya.


"kau mau apa?!" sarkasku menatapnya tidak suka.


Azela menatapku dengan tajam, "jauhi Zayyan!" serunya lagi. Aku memutar bola mataku saat mendengar ocehan yang sama.


kau dengan tidak tau malunya menyuruhku untuk menjauhi suamiku sendiri? bede***h sialan!. umpatku dalam hati,rasa kesal,marah bercampur aduk sekarang. Melihat wajah Azela saja rasanya dapat membuat tensiku naik.


"hah? jauhi suamiku sendiri?? apa kau sudah gila?!" seruku menatapnya. beruntung baru hanya kami saja yang ada diparkiran itu mengingat suasana masih sangat pagi.


"ceraikan Zayyan! dia hanya milikku Dasha!!" serunya membuat tanganku mengepal kuat.


"cih,kau ini nggak punya harga diri apa?! hei dengar baik-baik dia itu suamiku,aku istrinya. Kau hanya belatung diantara kami,harusnya kau yang menjauhi kami bukan aku!!" seruku lagi. Lupakan kewibawaanku yang anggun disini. Amarahku lebih mendominasi daripada gengsiku.


"pers***n dengan kata-kata mu itu,aku ingin kau segera bercerai dengan Zayyan,atau aku sendiri yang akan memaksa kalian bercerai!!" ancamnya lagi dengan sorot mata yang menatapku penuh kebencian.


Segitu kah rasa cintanya untuk Zayyan?,sampai rela menyuruh istri sah dari Zayyan untuk bercerai agar gadis ini bisa bersama Zayyan. Ya ampun,baru kali ini aku melihat orang serendah ini. gumamku berdecak pelan.


"apa kau ini bodoh? nggak pernah belajar waktu sekolah hah? apa kau tau kalau pernikahan itu bukan mainan yang bisa dibilang nikah-cerai-nikah-cerai?! Jangan seenaknya mengatakan hal itu!!" seruku lagi membuat Azela terdiam menahan marah.


Aku tersenyum puas menatap wajah merah padamnya,dengan langkah lebar aku mendahului Azela dan membisikkan pelan, "kau bukan apa-apa dimata Zayyan." bisikku lalu dengan santai aku berjalan menuju kampus.


"sial! Dashaaa!!!" teriaknya tetapi aku mengacuhkan panggilannya.


"Dashaa aku tantang kau!!!" serunya lagi membuatku berhenti lalu berbalik menatapnya, "cih,kau ini nggak ada jera-jeranya. Kau mau tantang aku apa??" tanyaku pelan.


"aku tantang kau main biola. Kita lihat siapa yang paling mahir nantinya. Jangan bilang kau tidak bisa??" serunya meremehkanku.


Anak ini rasanya aku ingin membuangnya ke segitiga Bermuda saja,biar dia dimakan makhluk seram dan aneh dibawah tuh!!!. gerutuku kesal dalam hati.


Aku menatap wajah angkuhnya,mau tak mau aku harus menerima tantangannya agar gadis itu tidak lagi meremehkanku, "okee, aku terima tantanganmu!" seruku dengan yakin.


"cih,kita lihat saja siapa yang paling bagus nanti mainnya,akan aku buktikan aku lebih baik dari kau! kita akan bertemu lagi nanti di kampusku!!" serunya berjalan angkuh menyenggol ku lalu berjalan menuju mobilnya. Sebelum gadis itu masuk kedalam mobil,ia menoleh kearahku, "oh ya aku lupa satu hal,jika aku menang aku akan mencium bibir Zayyan didepan matamu," selorohnya lalu masuk kedalam mobil. aku mengibas jijik lenganku yang disenggol Azela sambil menatap kesal kearah mobil Azela yang sudah melaju ke kampusnya. Aku mengepal tangan menahan emosi yang dari sudah memuncak,seperti gunung berapi yang bersiap-siap meletus.

__ADS_1


"berani sekali dia ingin mencium bibir Zayyan?! yang benar saja?! itu tidak akan pernah terjadi!!!" seruku berapi-api. Tetapi,sedetik kemudian aku uring-uringan gelisah dan cemas. Bagaimana tidak,aku belum pernah menyentuh yang namanya biola,bagaimana cara melawan gadis yang mahir memainkan biola itu??


#flashback Off


Lagi-lagi mengingat taruhan itu aku kembali menghela napas,mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya pelan.


"kau kenapa Sha?" tanya Elisa menatapku yang tidak bersemangat. Aku menoleh lesu kearahnya, "huft,aku akan lomba nanti." lirihku pelan membuat alis Elisa mengerut, "hah? lomba? lomba apa?" tanyanya sambil mengemut permen tangkainya.


"itu lomba memainkan biola dikampus kedokteran sana." tunjukku pada bangunan besar yang jaraknya lumayan jauh dari kampusku.


"lalu kenapa kau tidak bersemangat gini? kan bagus tuh,kau kan multitalenta,pasti bisa dong. Aku akan mendukungmu Dashaa!!" seru Elisa menyemangati ku. Aku terkekeh pelan,aku tersenyum simpul saat mendapati semangat dari sahabatku itu. Memang benar yang gadis itu katakan,aku bisa segalanya bukan?


Terlintas dibenakku saat mendapat angin segar. Dengan cepat aku menarik tangan Elisa menuju kelas seseorang. Elisa yang kebingungan hanya pasrah mengikuti dari belakang,dan sampailah kami dikelas seseorang. Elisa menatapku bingung, "kenapa kita kesini?"


"aku ingin meminjam biolanya sebentar." ucapku lalu mengetuk pintu tersebut.


"permisi." ucapku dengan sopan,membuat seisi kelas tersebut menoleh kearah kami berdua. Mereka semua tampak terkejut dengan kedatanganku yang tak biasanya.


"wah itu kak Dasha bukan??"


"iyaa."


"suuut diam,apa kau tidak lihat kak Dasha jadi canggung?"


beberapa pujian banyak terdengar ditelingaku,tetapi aku hanya tersenyum kikuk dan mengutarakan maksud kedatanganku ke kelas itu.


"apa Suha ada disini?" tanyaku membuat semuanya terkejut. Pasalnya rumor yang sering aku dengar,Suha gadis malang itu sering mendapatkan perlakuan yang tidak pantas dari teman-teman. Yap,gadis yang sempat aku selamatkan waktu itu.


"untuk apa kakak mencari gadis itu??" ketus seseorang dikelas itu.


Aduh,adek tingkat ini ngeselin aja heh. kesalku dalam hati.


"aku ada urusan dengannya sebentar,ada dimana dia?" tanyaku lagi menghiraukan tatapan kesal yang ditunjukkan mereka. Orang yang aku panggil tadi menatapku pelan lalu berjalan menunduk melewati teman-teman dikelasnya. Hampir saja aku membentak pria itu dengan sengaja menjulurkan kakinya membuat Suha tersandung. Tetapi,gadis itu kembali bangkit walau diselingi tawa hinaan yang ditunjuk teman-temannya. Ia pun berjalan menuju tempatku.


Aku menghela napas sebentar, "apa begini cara kalian berteman?" tanyaku menatap tajam mereka semua membuat suasana ricuh tadi mendadak dingin saat mendengar suaraku terdengar mencengkam.


Mereka semua menunduk tanpa menjawab pertanyaanku,aku berdecak kesal lalu menarik tangan Suha keluar,begitu pun Elisa hanya diam menatap tajam kearah mereka.

__ADS_1


"kenapa kau tidak melawan mereka sih?" tanya Elisa kesal menatap Suha yang hanya diam saja tanpa perlawanan. Aku menggeleng pelan isyarat kearah Elisa untuk tidak menekan batin Suha. Aku paham bukan saatnya gadis itu diceramahi panjang lebar.


"aku butuh bantuanmu Suha." ucapku dengan lembut membuat gadis yang tertunduk itu mendongak kearahku, "bu-butuh bantuanku?"


Aku mengangguk pelan, "ajari aku bermain biola. Aku pernah melihatmu keren saat bermain biola ditepi danau kemarin." ucapku membuat dirinya terkejut begitupun Elisa.


"ka-kapan kau ada disana kak?" tanyanya memberanikan diri menatap ku.


Aku tampak berpikir sejenak, "hmm aku ingin merefrsingkan kan otak,eh taunya aku mendengar suara alunan yang indah,jadi aku mengagumimu saat bermain biola itu." pujiku membuat dirinya tersipu malu.


"tapi,aku bukan apa-apa dibandingkan dengan kakak,kakak sangat hebat bermain gitar,piano,drum,dan lain-lain. Kenapa kakak meminta belajar biola denganku?" tanyanya pelan.


Hehehehe semua itu karna hoki,kalau tidak mungkin aku tidak bisa apa-apa. gumamku pelan.


"iyaa benar tuh apa yang dibilangnya,kau bukannya bisa semua yaa??" tanya Elisa.


Aku menghela napas pelan, "iyaa aku bisa semua,kecuali biola. Aku belum pernah memainkannya." ucapku jujur.


"ta-tapi kau akan ikut lomba nanti bukan?" tanya Elisa menatapku tidak percaya.


"percayakan saja padaku El,aku bisa kok belajar dengan cepat apalagi Suha yang mengajarinya,ya kan?" ucapku menoleh kearahnya.


Suha tersenyum simpul membuat kami berdua terpana melihat senyum manisnya, "terimakasih kak." ucapnya tulus. Ia sudah mulai tidak ketakutan lagi melirik kearahku. Aku tersenyum lega kearahnya. "ya sudah,kapan kita akan berlatih?" tanyaku semangat.


Suha berjalan menuju lokernya,mengambil biola yang sudah mulai rusak tetapi masih bisa digunakan. Suha langsung berjalan mengajak kami ketempat ruangan yang sepi dan disitu kami mulai belajar memainkan biolanya.


***


Azela menghampiriku dengan tatapan angkuhnya,ia memegang biola yang pasti harganya fantastis. Ia tersenyum meremehkan biola yang kubawa,tentu saja aku meminjam biola Suha. Aku mulai bisa memainkan biola itu dengan cepat,hanya membutuhkan waktu dua jam aku mulai mahir memainkannya,cukup mudah bagiku. Suha yang bertahun-tahun belajar takjub menatapku begitupun Elisa. Kini mereka berdua duduk di tempat penonton menantiku bermain biola.


"cih,aku yakin kau gagal dengan biola sampah itu!' hina Azela menatap biola yang ku pegang. Aku menatapnya tajam dan tidak membalas hinaan Azela.


"kita lihat saja nanti." ucapku lalu menyapu seluruh pandangan mencari seseorang. Dapat aku lihat pria yang aku cari akhirnya muncul juga dengan abangku berjalan menatap bingung ruangan lobi sudah berubah menjadi tempat acara lomba. Tentu saja ini semua perbuatan Azela. Dapat kudengar suara sorakan kearah suami dan abangku yang baru saja duduk diantara mereka. Sesaat mata mereka berpapasan denganku dan terkejut mendapatiku dikampus mereka.


Dapat kulihat raut tanya yang ditunjukkan Zayyan padaku,tetapi aku hanya tersenyum simpul padanya.


"oke guys,orang yang kita tunggu-tunggu akhirnya datang dan duduk bersama kita disini. Aku dengan sengaja membuat acara ini karena ingin membuat tantangan dengan seorang wanita yang katanya populer juga dikampus sebelah. Yap,dia yang diujung sana,duduk sambil memegang biola jeleknya." ucap Azela memandang rendah kearahku.

__ADS_1


Aku mengumpat pelan menatapnya tajam,namun tidak menunjukkan direndahkan,tetapi aku berdiri dengan mantap bersiap untuk menunjukkan keahlianku.


Kita lihat saja nanti. gumamku pelan.


__ADS_2