I Know Your Secret

I Know Your Secret
Suami Kampret


__ADS_3

Setelah mendapat kejutan yang membagongkan itu,aku pun dengan senang hati mentraktir semuanya. Lagian sudah ada lima puluh juta di m-banking,tentu harus digunakan semestinya bukan?


Aku dengan senang hati membawa pasukanku ke tempat All you can eat,dimana tempat tersebut kita bisa mengambil daging sepuasnya dan kita bisa memasaknya sendiri sesuai selera. Tanpa mengajak suami dan abangku yang masih sibuk dengan ujian skripsi gila mereka. Layaknya anak paud yang tengah berpiknik,aku harus mengatur tempat duduk mereka agar semuanya kebagian tempat duduk. Mereka pun dengan senang hati mengambil sepuasnya yang mereka suka.


"gilaa,kau yakin Sha?" tanya Elisa menatapku tidak percaya. Aku mengangguk yakin, "tenang saja kan ada kau." selorohku membuatnya terbelalak kaget.


"eh,jangan dong!! Dashaa,aku tidak punya uang lebih woi hari ini." protes Elisa.


"ya salah sendiri,siapa juga yang mengerjai ku kek gitu. Apa kau tidak tau gimana paniknya aku liat kau ditusuk gitu hah??" cercaku sedangkan Elisa hanya menanggapiku dengan tertawa puas.


"hahahah tapi lucu sih,liat wajahmu panik gitu. Apalagi kau tidak sadar menabrak kak Zay." seru Elisa lagi membuatku menggeleng-geleng kepala.


"abis,siapa sih yang buat ide gitu??" tanyaku heran.


"Kak Zay,oh jangan lupa Abang tampanmu kak Gazza hehehe."


"cih,kalau soal bang Gazza kau paling apdet yaa. aku nggak restuinlah kau jadi kakak iparku."


"hei adik ipar jangan gitu dong. Sesama calon keluarga,kita harus saling akur bukan?" serunya sambil merangkul ku.


"terserahlah. Aku juga tidak membawa duit gimana kita mau bayar?"


"what? tunggu...tunggu,serius kau tidak bawa Sha?! jangan bercanda dong." lemasnya saat mendengar aku tidak membawa uang.


Tentu saja aku bawa,cuman aku ingin mengerjai ku sedikit Elisa hehehe. gumamku dalam hati.


"iyaaa." jawabku dengan muka datar.


"nj***r kenapa kau tidak panik sih?? gimana nih??" resahnya sambil mengecek saldo m-banking di ponselnya.


"tidaaak,hanya sejuta doang yang ada. Mana cukup untuk bayar ini woii kita ada dua puluh orang." serunya lagi,sedangkan aku hanya mengedik bahu tidak peduli.


"ya udah kita cuci piring aja dibelakang." ucapku dengan tenang.


"hei,Dasha tidak mungkin kita akan mencuci piring. Kau ini buat malu aja. Lagian disini banyak woii." bisiknya lagi.


Aku dengan tenang mengambil sepotong daging dan memasaknya didepan Elisa. Aku terkekeh pelan saat Elisa tergiur menatap daging yang kumasak.


"makan aja,kita nikmati baru kerja rodi." selorohku membuat Elisa menyilang tangannya menolak.


"tidak terimakasih. Kalau tau gini,aku tidak ikut." kesalnya menatapku.


"ya sudah,nanti jangan minta yaaa." godaku


"Dasha, please jangan membuat imanku lemah yaa. Aku pingin makan,tapi mengingat kita bakalan membebani hutang membuatku tidak berselera." lirihnya.


"nanti kita pikirkan,makan ajalah dulu." seruku sambil menyodorkan daging yang sudah matang kedalam piringnya. Dengan sungkan Elisa mencicipi daging yang keliatan lezat itu.


"enaaaak,huhuhuhu dagingnya lembut tapi dibalik ini ada hutang untuk membayarnya." lirihnya tetap asyik menyantap daging itu dengan lahap.


"santuy,kita bakalan baik-baik saja kok,lagian cuma cuci piring kan bisa sambil olah raga juga." seruku.


"huwaa apa tidak ada cara lain beb? seriusan? gimana dong harga diriku jika bang Gazza tau?"

__ADS_1


"ya udah tinggal diamin aja."


"ihhh kau enak udah soldout,aku? belum woii." serunya lagi.


"hahaha."


"Dashaa makasih yaa." seru mereka kompak,mereka tampak menikmati traktiranku. Aku mengangguk kearah mereka sedangkan Elisa menatapku dengan puppy eyesnya.


"Dashaa..." lirihnya menatap makanan sudah habis diatas meja. Begitu juga dengan yang lainnya yang sudah beranjak bersiap-siap pulang. Satu persatu pergi pamit sambil mengucapkan doa untukku.


"emanglah yaa orang nih,abis makan pulang." gerutu Elisa menatap mereka semua.


"biar ajalah." ucapku lagi membuat Elisa menoleh ke arahku, "lalu sekarang kita harus gimana? aku tidak tau harus bayar pakai apa?"


"ya udah pakai ginjal aja yok kita bayar."


"nj***r nih anak otaknya udah sedeng. Mana bisa woii!!!" gemasnya.


"hahahaha bercanda doang,kuy kita liat struknya." ajakku sambil mengambil ranselku,Elisa dengan lesu mengikutiku dari belakang. Saat kami tiba dikasir, Elisa tampak cemas dengan nominal yang akan didengarnya,tentu saja tidak murah.


"berapa mbak?"


"tadi makannya ada dua puluh orang yaa?" tanya pelayan kasir memastikan. Aku mengangguk pelan, "iya mbak."


"oke,pembayarannya sesuai perorangan ya mbak,totalnya satu juta sembilan ratus delapan puluh ribu mbak." ucapnya pelan


Elisa terperanjat mendengar harganya,ia pun dengan takut menoleh kearahku. Sedangkan aku menanggapi biasa sambil mengeluarkan ponselku dan menunjukkan barcodenya pada pelayan kasir itu.


"baik mbak, terimakasih. Oh ya,ini ada gratisan eskrimnya silahkan diambil. Selamat datang kembali." ucapnya dengan sopan,aku pun mengangguk pelan sambil mengambil dua bungkus eskrim lalu berjalan keluar.


"ba-bagaimana bisaa? tapi kau bi—"


Aku menunjukkan ponselku sambil tersenyum jahil kearahnya,membuat Elisa menggerutu kesal sekaligus lega.


"astaga Sha,kau membuat jantungku lepas dari tempatnya tau!"


"hahahaha,siapa suruh ngerjain aku dengan kek gitu,jadi kita satu sama yaa." ledekku lalu masuk kedalam mobil tak lupa aku memberikan eskrim padanya.


"nah,biar moodmu balek lagi hahaha." ucapku tanpa dosa. Elisa langsung merampas eskrimnya,lalu memakannya.


"oh tidak macet." gumamku saat melihat macetnya kendaraan didepan mobilku. Mau tak mau aku harus dengan sabar melewati macet itu.


"pegal woii." gerutuku kesal,memang mobilnya yang aku gunakan saat ini manual. Otomatis aku harus menggantung koplingnya agar mobilnya tidak mati,apalagi sudah dua jam kami masih terjebak macet sampai sekarang belum juga keluar dari macet itu.


Aku melirik kearah Elisa yang sudah tertidur masuk kedalam mimpi membuatku menghela napas pelan. Aku melirik kearah ponselku yang berdering nyaring. Aku tersenyum lalu mengangkatnya.


"dimana?" tanyanya dari seberang sana.


"dijalan,aku terjebak macet."


"ooo okee."


"cuma itu saja?" tanyaku menyerngit bingung.

__ADS_1


"yaa mau bilang apa lagi,kan aku sudah tau kau ada dimana." ujarnya pelan.


"emangnya kau tau aku ada dimana?"


"dihatimu." gombalnya membuatku tertawa pelan.


"tapi boong." serunya tertawa lepas membuatku memberengut kesal, "ish kau ini membuat moodku kesal."


"biasa aja pun,sudahlah yaa. Yang penting aku udah dengar suaramu sayang. Byee." ucapnya langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban dariku.


"dasar." gerutuku pelan namun senyumku terbit diwajahku.


"aku sendiri aja lupa ulang tahunku,bagaimana dia bisa mengingatnya yaa??" gumamku pelan.


Aku menyerngit heran menatap layar ponselku kembali berbunyi,membuatku langsung mengangkatnya cepat.


"hah kenapa?" tanyaku bingung, perasaan baru sekitar satu menit yang lalu Zayyan meneleponku,kini pria itu kembali menelpon.


"kau kemana?"


"lah bukannya aku bilang dijalan. Kenapa kau tanya lagi?"


"kau abis dari mana?"


"ooo aku abis dari tempat all you can eat,kenapa memangnya?"


"ooo ya sudah." ucapnya langsung mematikan ponselnya,aku menatap bingung kearah layar ponselku.


"aneh." gumamku pelan.


Sedikit demi sedikit aku mulai menemukan titik keluar dari kemacetan yang begitu panjang,nampaknya ada pekerjaan dijalan yang membuat jalan menjadi terhambat. Lagi-lagi suamiku meneleponku membuatku menggerutu kesal.


"ada apa lagi??" ketusku membuat orang yang diseberang sana tertawa pelan.


"dimana?"


"ya masih dijalan." ucapku lagi.


"lama kali,kau ini siput atau apa sih??" gerutunya.


"oi enak banget ngomongnya,udah tau aku masih terjebak macet. Gimana mau cepat-cepat."


"ooo yalah,okee." ucapnya lagi lalu mematikan teleponnya,aku hanya bisa menghela napas pelan lalu kembali fokus menghadap kedepan.


Tak lama kemudian,ponselku berdering lagi dengan panggilan orang yang sama membuatku seketika kesal. "apa?!"


"cih,nggak usah ngegas juga woi,sakit telingaku!!" gerutunya.


"ya kau buat ngeselin terus,ada apa??" tanyaku mulai jengah.


"ooo dimana?"


"cih,aku masih dijalan sayangku,cintaku,suamiku,bebebku sayang. Apakah anda bisa menunggu sebentar lagi,karena saya sibuk mengemudikan mobil." geramku menekan.

__ADS_1


"oo okee." ia pun langsung menutup teleponnya.


"dasar suami Kampret!!!!" umpatku kesal.


__ADS_2