
Kami tengah mempersiapkan cemilan untuk nobar nanti. Tak lupa selimut tebal menyelimuti tubuh kami membuat kami betah dan tidak mau beranjak dari tempat.
"kau penasaran dengan ini Sha?" tanya Elisa melihatku memasukkan flashdisk kedalam laptopku. Aku menoleh kearahnya dan mengangguk, "iyaa,nggak mungkin kan dia ngasih ini tanpa ada apa-apa."
"terserah kau saja." ucapnya sambil mengunyah cemilan ditangannya.
Aku sedikit terkejut melihat isi dalam flashdisk itu,aku langsung cepat mencabutnya sebelum Elisa melihat itu semua. Untung saja gadis itu tengah asyik menscroll ponselnya tanpa melirik isi flashdisk tadi.
Syukurlah dia tidak melihat ini, gumamku pelan dalam hati.
"eh Sha,nggak jadi liat isi flashdisk?" tanyanya bingung saat aku langsung beranjak dari kasur menuju laci meja belajarku.
"nggak jadi,isi filenya anime semua. Kau pasti tidak suka." kilahku berbohong.
"cih,ternyata pria itu wibu. gila ya ngapain juga dia ngasih ke kita flashdisk tuh." gerutunya lagi.
"entah." ucapku acuh tak acuh,lalu telengkup kembali ketempatku tadi,lalu kami menghidupkan film barat yang baru keluar ditahun ini.
"nj***r sumpah dia keren kalii bisa parkor woii!!" seru Elisa menatap film yg diperankan aktor tampan di negeri Paman Sam sana.
Aku juga mengangguk antusias tetapi aku tidak terlalu fokus menonton karena masih kepikiran soal isi flashdisk itu.
Sebaiknya nanti aku liatlah,setelah Elisa tidur dikamar Abang, untung juga aku membolehkannya tidur di kamar abangku. gumamku dalam hati.
Sudah menunjukkan pukul tengah malam,aku maupun Elisa sudah mulai dilanda kantuk yang amat berat. Aku mengucek mataku dan menyuruhnya untuk segera tidur. Ajaibnya,gadis itu dengan gontai berjalan keluar kamarku.
"kau mau kemana El?" tanyaku pelan sesekali menguap.
"mau ke kamar kak Gazza." ucapnya lalu menutup pintu. Aku menggeleng-geleng kepala melihat kelakuan gadis itu. Baru saja aku ingin masuk kedalam mimpi, tiba-tiba aku teringat dengan flashdisk yang misterius itu. Aku langsung tersentak bangun dan sempoyongan berjalan kearah meja belajarku. Lalu dengan cepat aku membuka laciku dan mengambil flashdisk itu.
"cih, sebenarnya apa yang terjadi? kenapa tadi di video itu ada wajah Elisa." gumamku pelan dengan tidak sabar memasukkan flashdisk itu ke komputerku. Dengan perasaan ragu aku memutarkan video itu.
"kakak!!!" teriak Elisa
Braaak.
Sekujur tubuh Elisa membeku menatap nanar kakaknya sudah bersimbah darah dan yang lebih parahnya lagi tubuh sang kakak sudah tidak berbentuk lagi.
"KAKAAAK!!!" teriaknya lagi sambil menangis histeris mendekati mayat kakaknya.
"hiks...hiks Kak Almira jangan tinggalkan aku!! maaf kak!! maaf!!" teriak Elisa lagi,ia pun bersimpuh didekat kakaknya. Sampai banyak orang yang mengerumuni mereka berdua. Elisa langsung tidak sadarkan diri setelah menangis kencang sambil terus meminta maaf kepada kakaknya yang sudah tiada.
__ADS_1
Deg.
Aku menatap tidak percaya dengan apa yang aku lihat saat ini. Setahuku Elisa hanya anak tunggal,sahabatku itu tidak memiliki saudara. Tapi bagaimana bisa kejadian tadi?? apa benar itu Elisa?
Tanpa terasa air mataku membasahi pipiku,tidak tahan melihat adegan yang mengerikan itu,dan aku kesal pada orang yang merekam kejadian itu.
"tega sekali dia merekam ini!!" gerutuku pelannamun aku dikejutkan dengan suara dering ponselku. aku mengerut keningku saat mendapati nomor tidak dikenal. Aku mengabaikan panggilan itu lalu fokus menonton video yang satu lagi. Tetapi,nada dering ponselku terus berbunyi nyaring membuatku kesal menatapnya.
"tunggu,ini nomor yang tadi kan??" terkaku pelan,dengan sedikit ragu aku mengangkat telepon itu.
"akhirnya kau angkat juga!" seru seseorang membuatku tersentak dan kebingungan.
"ini siapa?" tanyaku pelan.
"ish,kau ini masa tidak mengenali suara suamimu sendiri." gerutu Zayyan dari seberang sana. Aku langsung menghela napas lega,padahal tadi aku takut jika yang menghubungiku itu pemilik flashdisk ini,seperti yang difilm-film.
"oh syukurlah,akhirnya kau mengingat jika kau sudah punya istri Zayyan Firaz Adibrata." celutukku membuat si empunya nama tertawa lepas disebrang sana.
"kenapa kau mengganti nomor bang?" tanyaku bingung.
"disini nggak ada jaringan yang kartu sim lamaku itu,jadi terpaksa aku membeli baru. Gazza juga beli dia,tapi sekarang dia lagi ngurus pasien disini." terang Zayyan.
"ooo." ucapku pelan.
Oh,tidak kau membuatku jadi merindukanmu Zay. Sialan kau,cepatlah pulang. lirihku dalam hati.
"Dasha? kau masih disana kan?" seru Zayyan membuatku tersentak lalu menjawabnya.
"i—ya bang,aku masih disini." ucapku pelan,aku tidak boleh menambah kekhawatiran pria menyebalkan itu.
"kau sepertinya ada masalah." tebak Zayyan membuatku terdiam sebentar.
"nggak kok,kau aja kali bang yang terlalu protektif kali." kilahku.
"terserah kau saja,tapi kalau ada apa-apa kau harus menghubungiku cepat." pinta Zayyan.
"Zay,ini ada pasien yang terluka!!" seru seseorang terdengar dari telepon Zayyan. Aku tersenyum tipis betapa mulianya pekerjaan suamiku,walaupun belum wisuda tetapi suamiku sangat baik menangani pasiennya.
"bang,kau urus saja dulu pasienmu,nanti kita akan bicara lagi." ucapku.
"tumben kau perhatian gini? nggak biasanya." oceh Zayyan membuatku memutar bola mataku malas.
__ADS_1
"cih,masih untung aku perhatian bang!" gerutuku kesal,Ah suamiku ini bisa-bisa membuatku mood tadi baik sekarang menjadi dongkol.
"hahahaha,aku bercanda sayang. Aku senang kau perhatian denganku,ya sudah aku tutup dulu yaa." ucap Zayyan langsung menutup teleponnya,aku mengerjap-ngerjap menatap layar ponselku yang sudah gelap.
"sialan,aku belum menjawab teleponnya kau sudah mematikannya langsung Zay!!!" kesalku dengan kelakuan suamiku itu,lalu pandanganku teralihkan kearah komputer.
"fyuuh,apa aku harus bertanya pada Elisa yaa soal ini? atau jangan?" gumamku bimbang.
"aku sangat yakin,pasti dia ada alasan kenapa dia tidak memberitahu hal mengerikan ini padaku,bisa jadi Elisa tidak ingin mengingat kejadian ini..." gunamku lagi.
Braak. Aku menghentakkan meja belajarku sedikit keras.
"lalu kenapa pria brengsek tadi memberikan flashdisk ini padaku?! apa tujuannya?!" geramku menatap flashdisk itu dengan tatapan kesal.
Lagi-lagi aku dikejutkan dengan deringan ponselku,kali ini nomor yang tidak dikenal masuk kedalam ponselku. Aku menyerngit bingung, tetapi mengingat Zayyan menggunakan nomor barunya membuatku tanpa basa-basi mengangkatnya langsung.
"halo." sapaku tetapi tidak ada sahutan dari seberang sana.
"maaf? halo?"
"apa kau sudah melihat videonya?" tanya seseorang itu membuatku terkejut.
Deg.
Damn! ini siapa? apa jangan-jangan pria misterius tadi??. umpatku dalam hati. Sekujur tubuhku mulai meremang dan merinding bagaimana pria tadi bisa mendapatkan nomornya?
Ya Allah lindungi hambamu ini. harapku dalam hati.
"siapa kau?" tanyaku lagi.
"pertanyaan yang sama seperti tadi ya nona,kau ini sangat penasaran denganku yaa??" gelaknya membuatku menghela napas kasar. Tetapi,aku dengan cepat merekam apa yang kami bicarakan.
"aku Ergin,aku calon suaminya Elisa. Aku ingin kau membujuk Elisa mau menikah denganku atau video itu akan tersebar. Kau tau kan? keluarga Elisa sangat dihormati oleh perusahaan lain,jangan sampai karena video itu tersebar mereka akan malu menanggungnya." jelas pria yang bernama Ergin itu.
"kau sedang mengancamnya? apa kau sudah gila?!" bentakku,aku tidak menyangka jika pria yang terlihat lugu tadi ternyata iblis.
"itu bahasamu,bukan bahasaku. Aku tidak pernah menyebut kalau itu ancaman. Tetapi,demi keuntungan kedua belah pihak harusnya kau sebagai sahabatnya harus mendukungnya bukan?"
"aku tidak akan mendukung nya untuk menikah denganmu sialan!"
"huft, waktumu terus berjalan mbak. Isi video itu akan hilang lima menit lagi. Aku sudah memasukkan virus kedalam flashdisk itu."
__ADS_1
"kenapa kau terus mendesak sahabatku untuk menikah denganmu??" cercaku tidak terima. Astaga pria ini,aku tidak mengerti jalan pikirannya. Yang pasti aku tidak akan membiarkan Elisa menikah dengannya.