I Know Your Secret

I Know Your Secret
Zayyan Marah


__ADS_3

"ya Allah nak!!" seru ibu membuat kami semua terdiam.


gleek.


Oh tidak matilah,ibu pasti marah nih. gerutuku dalam hati. Begitu juga dengan raut Gazza dan Zayyan tiba-tiba berubah jadi pias.


"ini kenapa banjir kek gini?? ya ampun kalian udah besar tapi kelakuan kayak anak kecil." oceh ibu sambil berkacak pinggang.


"bukan kami Bu,tapi bang Gazza. Dia main nyiram."


"iyaa Bu,tadi Gazza mukul kami pakai sapu ijuk." seru Zayyan mengompori keadaan. Aku terkekeh pelan menatap Zayyan. Diam-diam kami bertos ria.


"anj**r kalian,bisa bisanya aku yang dituduh." gerutu Gazza berbisik pelan kearah kami.


"ckckckckck,kalian ini udah besar tapi masih melempar kesalahan dengan yang lain. Ibu tidak mau tau pokoknya semua lantai bersih seperti semula. Pel dan sapu seluruh rumah,ck ibu yakin kalian jarang membersihkan rumah selama ibu pergi. Nah lihat nih,meja tampak berdebu." celoteh Ibu panjang lebar.


"kami juga baru pulang Bu,Dasha nih Bu yang dirumah aja. Padahal dia anak gadis tapi pemalas." ucap Gazza membalas ocehanku tadi.


"sial kau bang." gunamku pelan tiba-tiba tertuduh.


"terserah,ibu nggak mau tau. Kalian harus bersihkan semua ini dari lantai atas sampai bawah. Kamar pun juga harus dibersihkan,jangan ada yang kabur!" titah Ibu tidak bisa dibantah. Kami pun pasrah dan mengangguk pelan menuruti perintah ibu.


Setelah ibu pergi,barulah kami saling menatap tajam satu sama lain. Aku dengan cepat berlari kecil masuk kedalam kamarku,tetapi keberuntungan tidak berpihak padaku,Gazza dengan cekatan menahan pintu dengan kakinya.


"hei,mau kabut kemana hah? kau nggak boleh bersembunyi!!" kesal Gazza lagi. Ia pun menarik kuat adiknya keluar agar ikut membersihkan rumah.


"kau ini apa apaan sih Za,jangan menarik dia kayak sapi yang mau berqurban." protes Zayyan.


"iyaa aku menariknya kayak sapi. Dia susah diatur." ketus Gazza lagi.


"ish kau ini bang,jahat kali. Masa adik sendiri di juluki itu sih." protesku lagi.


"aku nggak peduli. Nih pegang sapu,kau sapu dari ujung sana sampai kebawah!" titah Gazza sambil memberikan sapu kepadaku.


"haaisss malas bang!!" ucapku lesu. Gazza tidak mengindahkan ucapanku,dengan langkah lebar ia mengambil kain lap untuk membersihkan bagian perabotan rumah.

__ADS_1


"ih masa kau bagian itu bang?? gantian dong." ucapku tidak terima jika aku bagian menyapu. Dengan langkah cepat aku merampas kain lap dari Gazza.


"apa sih dek,ini kan bagianku juga. Susah nih ngelap perabotannya. Kalau kau yang mengelap yang ada sampai kiamat pun nggak bakalan selesai-selesai." ketus Gazaa membuatku memberengut kesal.


"bilang aja nggak mau bagian nyapu." ketusku lagi.


"nah itu tau,dah sanalah." usir Gazza,aku dengan langkah kesal mengambil sapu yang terjatuh ke lantai tadi dan memulai menyapu ruangan dibagian atas.


Baru dua kali menganyunkan sapu,aku baru teringat seseorang yang tadi entah kemana perginya. Saat Aku dan Gazza berdebat,Zayyan sepertinya kabur.


"bang Za,bang Zayyan kabur!" seruku membuat Gazza celingak-celinguk mencari Zayyan.


"woi Zay kampret!!! jangan kabur!!" teriak Gazza lagi. Zayyan yang ada dilantai bawah acuh tak acuh tidak mendengar panggilan Gazza.


"apa sih ribut." ketus Zayyan berlalu ke dapur. Aku dan Gazza dengan kesal menyusul Zayyan yang berjalan kedapur.


"jangan kabur,ayoo bersihkan!!" seru Gazza menarik tangan Zayyan.


"ogah,jangan maksa woii!" seru Zayyan menolak,Aku yang juga tidak terima jika Zayyan berleha-leha,dengan cepat aku membantu Gazza menarik tangan suamiku yang laknat itu.


"ish kalian ini." gerutunya dengan terpaksa mengikuti kami. Akhirnya setelah perdebatan yang tidak jelas itu dan disusul dengan drama kecil kami bertiga dengan lambat tapi pasti,rumah itu sudah bersih kinclong tak kasat mata.


"kau sudah selesai kan? nah letak ini." ucap Gazza menyerahkan kain lap bekasnya padaku. Tanpa basa-basi pria itu langsung melenggang keatas.


"what?? bang Gazza!!!" teriakku meneriaki namanya,tetapi siempunya nama mengacuhkan panggilanku. Aku menggerutu kesal dan pasrah meletakkan semua peralatan rumah,lalu menghempaskan badanku ke sofa. Begitu juga dengan suamiku yang ikut duduk disampingku.


"capek?" tanyanya menatapku,aku pun mengangguk pelan sebagai tanda jawabannya. Zayyan mengangguk lalu tidur dipangkuan ku tanpa permisi.


"hei bang,aku lagi capek." gerutuku.


"kan cuma duduk pun,nggak banyak gerak. Aku lagi lelah sekarang Sha." ucapnya sambil memejamkan matanya.


"idih,kau menyelamatkan diri mu sendiri bang." ocehku lagi,tetapi tanganku dengan spontan mengelus rambut Zayyan.


Aku melirik kearah tangga yang melihat seseorang tengah terburu-buru turun kebawah sambil membawa tasnya.

__ADS_1


"kau mau kemana bang?" tanyaku bingung menatap Gazza tampak terburu-buru mencari sesuatu.


"kesuatu tempat,aku lupa kalau hari ini adalah hari penting." ucap Gazza sembari mencari kunci mobilnya dilaci. Setelah mendapatkan kuncinya,ia pun bergegas ke kamar Ayah dan Ibu.


"ibuu,aku boleh izin selama tiga hari?" tanyanya saat Ibu berada di ambang pintu, dapat kulihat ibu menyerngit bingung menatap Gazza. Dari kejauhan Gazza seperti berbicara penting.Ibu pun mengizinkannya pergi,setelah itu ia berlari kecil keluar rumah.


"byee." pamitnya melesat keluar,Aku dan Zayyan menatap aneh kearah Gazza dan hanya diam ditempat.


"abangmu kenapa Sha? apa dia ada masalah?" tanya Zayyan lagi kembali ke posisi semula. Aku mengedik bahu pertanda aku tidak mengetahui apapun tentang Gazza.


"huft nggak tau,kita mau ngapain sekarang? ini sangat membosankan." seruku menghela napas kasar.


"ya sudah tidur,gampang kan." serunya santai,aku menokok pelan jidatnya sambil satu tanganku yang satu lagi memainkan ponselku.


Deg. Aku terdiam saat membaca satu pesan yang baru saja masuk kedalam ponselku. Tanpaku sadari aku berhenti mengelus kepala Zayyan membuat pria itu menatapku heran. Dengan cepat ia merampas ponselku.


"hei ban—"


Terlambat,dia memyerngit menatap pesan yang tertera didalam ponselku itu. Zayyan langsung tegak dan duduk membaca dengan serius pesan yang baru masuk.


"ini dari siapa Dasha?" tanyanya menyelidik kearahku,tampak raut serius mulai muncul diwajahnya.


Mampus sudah,Zayyan bakalan marah nih. gumamku dalam hati.


"kenapa diam? ini siapa Sha?" tanyanya lagi mendesak.


"I—tu...itu ada pria yang menggangguku bang." ucapku jujur.


"kenapa nggak bilang ke aku Sha? ini sudah berapa lama dia mengancammu??" tanya Zayyan kesal. Antara kesal dan khawatir denganku,pria itu menatapku tajam.


"tiga bulan yang lalu." cicitku lagi.


"hah? astagfirullah ini udah lama sha. Kau gila yaa,pria ini bisa saja mencelakaimu kapan saja Sha! Kalau tau kau dibuntuti orang,aku akan cepat pulang Sha. Harusnya kau ngomong dariawal bukan diam kayak gini!!" bentaknya kearahku.


Sungguh,baru kali ini aku dibentak Zayyan. Aku sangat ketakutan dan hanya bisa menunduk tanpa berani menatap pria yang tengah dilanda amarah besar.

__ADS_1


"aku kecewa." ucapnya berlalu pergi meninggalkanku tanpa menoleh kebelakang.


"habislah,Zayyan marah padaku." lirihku menatap pria itu bergegas menyambar kunci motor dan pergi begitu saja keluar dari rumah.


__ADS_2