
Aku memakirkan mobilku dibagasi rumah. Aku menghela napas saat mengingat kedua orang bodoh tadi. Aku pun keluar dari mobil dan berjalan masuk kedalam rumah.
"aku pulang." ucapku menutup pintu rumah,aku berjalan lesu ke dapur.
"salam dulu Dasha." ucap Ayah menatap kearahku,aku menyengir pelan lalu mendekat kearah Ayah. "hehehehe assalammualaikum Yah." ucapku sambil mencium tangannya.
"wa'alaikumsalam." ucap Ayah sekena.
"Ayah Dasha kedapur dulu." ucapku melenggang ke dapur. Aku mengambil sebotol air dingin dikulkas dan minum sekali teguk sampai kandas.
"ckckck anak gadis minumnya kayak vakum cleaner." ledek Gazza yang juga barusan pulang dari kampus,ia pun mengambil minuman kaleng didalam kulkas. Aku menghendus kesal kearahnya,namun aku merasa ada yang janggal.
"oi bang,mana kak Zay?" tanyaku saat mengetahui tidak ada keberadaan Zayyan. Biasanya Gazza dan Zayyan selalu bersama seperti layaknya anak kembar.
"kenapa? kangen sama suamimu?" ledek Gazza lagi membuatku melempar buku resep kearahnya yang kebetulan berada didekatku.
"sial,ngapain sih pakai lempar-lempar?!" gerutu Gazza mengambil kembali buku resep ibu dan meletakkan kembali seperti semula.
"ya ngapain juga Abang ngawur ngomongnya,kan aku nanya doang bang." ucapku asal. Padahal sebenarnya dalam hatiku,memang merindukan pria menyebalkan itu.
"cieee rindu yaa," ledek Gazza lagi membuatku menatap tajam kearahnya.
"santai aja liatnya woi, ckckckckck kau tidak tau suamimu itu sakit." ucap Gazza membuatku menyerngit kearahnya.
Gazza menatap heran kearahku, "ckckck istri durhaka,masa suami sendiri tidak tau kalau lagi sakit. Kau kemana aja woi??"
Zayyan sakit? kapan? bagaimana bisa?. gumamku dalam hati.
"bagaimana dia bisa sakit bang?" tanyaku membuat Gazza tersedak.
"uhuk...uhuk...cih,kau ini bodoh kali. Tentu saja dia bisa sakit,dia juga manusia woi. Tadi pagi anak tuh sakit,lebih baik kau lihat dia sekarang." ucap Gazza membuatku menepuk jidat pelan.
"ya ampun Dasha,kenapa kau tulalit gini,ya udah aku ke kamar dulu bang." ucapku langsung bergegas menuju kamarku.
Braak.
Sial,sangking kuatnya aku malah membanting pintunya. gerutuku pelan dalam hati,tetapi aku lega orang yang sedang terbaring dikasur tidak merasa terganggu sama sekali dengan kehadiranku. Aku mendekatinya perlahan sambil meletakkan ranselku diatas sofa.
Aku langsung menempelkan tanganku kearah kening Zayyan, "ya ampun kak,badanmu panas kali." gumamku,aku langsung berjalan menuju lemari mengambil kain lalu aku basuh dengan air. Setelah itu aku kompres dan letak dikeningnya. Aku melirik nakas tidak ada satupun makanan disana.
__ADS_1
"astaga,anak ini pasti belum makan," gumam ku lagi. Baru saja aku hendak pergi tiba-tiba Zayyan memegang tanganku.
"temani aku,jangan pergi." lirihnya masih tertutup mata,Aku menghela napas sambil mengelus kepalanya pelan. "tenang,aku mengambil bubur untukmu kak. Aku hanya sebentar saja,tidak lama kok. Tunggu bentar yaa." ucapku melepaskan pelan tangannya dan bergegas ke dapur.
"ngapain woi?" tanya Gazza melihatku terburu-buru mengambil panci dan celemek.
"mau masak bubur." jawabku tanpa menoleh kearahnya.
"pfft buahahahaha,are you kidding me sis?" ledek Gazza membuatku menatap datar kearahnya.
"sialan, jangan remehkan aku yaa bang. Aku ini walaupun remed masak ayam tapi masih bisa masak bubur yaa." ucapku membanggakan diriku.
Gazza tampak jengah, "terserahlah. Aku yakin Zayyan sudah masuk dunia lain setelah memakan buburmu itu." selorohnya tertawa pelan.
"anj** kau bang,jadi abang nggak ada akhlak banget. Masa doain yang nggak-nggak sih??" gerutuku lagi sambil mengaduk-aduk bubur yang sudah aku masukin bahan-bahannya tadi.
"aku kan mengantisipasi supaya hal yang tidak diinginkan terjadi." ucapnya santai.
"ya tapi kan jangan gitu juga kali woi. Ah sudah lah nih bubur dah mau siap." ucapku sambil menuangkan bubur yang sudah matang itu kedalam mangkuk. Dengan hati-hati aku membawa mangkuk tersebut.
ceklek.
"perfect!" seruku menatap bubur itu,Aku langsung menoleh kearah Zayyan dan duduk di tepi ranjang.
"kak,bangun kak." ucapku sambil menepuk pelan pipinya. Zayyan menggeliat sebentar membuka matanya. Tampak sayu dan pucat wajah tampan suamiku itu.
Kasihan. gumamku menatap iba kearahnya. Aku pun membantunya memapah untuk duduk dan bersandar disandaran bantal.
"nah makan dulu kak," ucapku sambil menyodorkan semangkuk bubur kearahnya. "mau aku suapin kak?" tawarku langsung dianggukan Zayyan. Aku menyuapinya perlahan.
Aku melihat raut wajah Zayyan berubah saat memakan bubur buatanku,Aku pun jadi penasaran dengan rasanya. "kenapa kak?" tanyaku menatapnya,Zayyan menoleh kearahku.
"Siapa yang buat buburnya?" tanyanya pelan menatapku,Aku langsung menunjuk diriku sendiri sebagai jawabannya. Zayyan manggut-manggut mengerti lalu menelan bubur itu pelan, "lumayan."
"serius kak??" ucapku senang,baru kali ini ada yang memuji makanan buatanku. Zayyan mengangguk pelan, "iyaa thanks." ucapnya sambil mengelus kepalaku.
Hatiku berbunga-bunga setelah mendengar pujiannya,Aku penasaran dengan rasanya membuatku ingin mencicipi bubur buatanku itu.
"eittts." cegah Zayyan membuatku tidak jadi memasukkan bubur kedalam mulutku.
__ADS_1
"kenapa?" tanyaku bingung,Zayyan tanpa basa-basi merampas mangkuk milikku dan melahap habis tanpa tersisa membuatku ternganga melihatnya.
"haiiss kak!!! kenapa dihabiskan?!" kesalku karena tidak ada tersisa bubur untukku. Aku menghendus kesal kearahnya, "aku nggak kebagian kak,ish kau pelit kali." gerutuku lagi.
Zayyan tersenyum tipis seolah tidak merasa berdosa telah melakukan kesalahan. Aku memberengut langsung meletakkan mangkuk kosong itu diatas nakas. Zayyan langsung menahan tanganku. Aku menoleh malas kearahnya, "ada apa?"
"ambilkan obat." ucapnya lemah sambil memijit keningnya,aku menghela napas lalu mengangguk berjalan kearah kotak obat yang ada diatas mejanya.
"yang mana kak?" tanyaku menatap berbagai macam obat didalamnya.
Gilaaa,obatnya banyak benar. anak kedokteran memang beda yaa. seruku dalam hati,aku menoleh kebelakang menunggu jawaban pria itu.
"Paracetamol,liat situ." ucapnya sambil membaringkan tubuhnya lagi.
Aku menatap obat-obat yang namanya sulit kusebutkan. Aku menggerutu kesal karena obat terlihat sama semuanya.
"kak yang mana Paracetamolnya? disini obatnya macam-macam. Sebenarnya kau sakit apa sih??"
"aiih bukan aku yang sakit. Semua Obat Itu penelitianku,aku minta Paracetamol satu dari sana Dasha." gerutu Zayyan berdecak kesal kearahku.
"ooo,sebutkan bentuk obatnya kak." ucapku lagi.
"bentuk yang bulat warna putih." ucap Zayyan. Tampaknya pria yang sedang sakit itu harus banyak bersabar menghadapi orang sepertiku.
"nah dapat." ucapku senang mengambil bentuk obat yang sama persis disebutkan Zayyan tadi. Tanpa aku melihat nama obatnya,aku pun langsung memberikan obat itu pada Zayyan. Zayyan duduk mengambil obat itu dan menelannya. Tetapi,ia merasa aneh saat meminum obat itu dan menoleh kearahku.
"Dasha,ini obat Paracetamol kan?" tanyanya sambil meneguk air putih. Aku mengangguk pelan, "iyaa,nih li—" aku terkejut saat melihat nama bungkus obatnya bukanlah Paracetamol melainkan amplodipine membuatku menatap kearah Zayyan.
Zayyan merasa curiga dengan raut wajahku langsung merampas bungkus yang kupegang, "astaga Dashaaa,ini obat amplodipine untuk turunin tensi woi!!" Zayyan menatapku tajam.
Aku panik langsung loncat keatas kasur dan membelakangi Zayyan. "kak muntahin lagi!" seruku sambil menepuk kuat punggu pria itu.
Dug..dug...dug
"Dasha uhuk...a-apa yang kau lakukan??" tanya Zayyan terbatuk-batuk dengan tindakan gilaku.
"muntahin kak obat tadi!!!" seruku masih dalam mode panik. Keributan kami mengudang seseorang dengan cepat membuka pintu.
Braak.
__ADS_1
"hei apa yang kau lakukan Dasha?!" seru Gazza menatap kami berdua.