
Gazza langsung berlari menghampiri kami.
"kalian kenapa sih?? nggak bisa tenang sehari???" kesal Gazza jengah melihat keributan kami tak habis-habisnya. Aku yang masih panik menatap Gazza dan menarik tangannya, "bang! bang! bantuin suruh dia muntahin obatnya!!!" seruku masih menepuk punggung.
Zayyan menggerutu ingin menolak tindakanku tetapi kini kepalanya sangat pusing dan tidak bertenaga menghentikanku. "please...cukup." lirihnya pelan.
Gazza menghela napas pelan, "Oi kalau gini yang kau lakukan,sebentar lagi kau bakalan jadi janda Dasha!" ucap Gazza jengah.
"apa?! haaiiss bang,jangan ngomong kayak gitulah!"
"ya habis kau buat Zayyan tak berdaya gitu,lihat dia sekarang udah kayak mayat hidup." cerca Gazza menunjuk wajah Zayyan yang terlihat pucat.
"ish,karena dia salah minum obat bang,makanya dia kayak gini!!" ucapku membuat Gazza menatap datar kearahku.
"emangnya obat apa yang dia minum?" tanya Gazza.
"aduuh apa tadi apa namanya,ampolop kalau nggak salah." jawabku,aku kesusahan menyebut nama obat itu.
"amplodipine bodoh." ucap Zayyan. Sepertinya pria itu masih ada tenaga untuk berdebat denganku walau tubuhnya saat ini sangat lemah.
"haiis, makanya kalau mau ngasih obat tuh tengok dulu,nih Ndak main kasih aja." gerutu Gazza. Aku hanya menggaruk tengkukku tidak gatal.
"huft,mau sampai kau pukul punggungnya nggak bakalan obat itu keluar,obat itu dah larut diperutnya." ucap Gazza santai,ia pun menyodorkan segelas air putih kepada Zayyan.
"oi bro,minum sampai habis." ucap Gazza, Zayyan yang terlihat lemah tetap mengambil dan meneguk kandas air putih itu.
"tenang,suamimu baik-baik aja kalau dia banyak minum air putih. Huft,ku kira tadi ada heboh apaan sampai panik gitu." gerutu Gazza.
Setelah drama mendadak itu,akhirnya Zayyan bisa tidur dengan tenang. Kondisi pria itu juga mulai membaik walau masih panas. Aku melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga sore,aku menghela napas menatap pria itu. Sesekali aku mengganti kompresnya.
Huft,daripada aku melamun nggak jelas. Mending aku lanjut ngerjain tugas psikopat tuh. gumamku pelan memandang tugas desain rumah yang belum jadi,aku sesekali melirik kearah pria itu sambil mengerjakan tugasku.
Terbesit dalam hatiku perasaan menyesal, "maaf,aku ceroboh tadi." lirihku pelan menatap pria itu dari jauh.
***
Byuur.
__ADS_1
Aku terkejut saat mendapati bajuku basah kuyup,aku mendongak keatas menatap segerombolan orang sedang menertawakan ku.
"pelakor!" seru mereka membuatku menyerngit bingung sekaligus marah.
Apa maksud mereka mengataiku pelakor?! gerutuku lagi. Aku menghiraukan mereka dan berjalan kedalam mobil,tentu saja aku tidak bisa mengikuti kelas karena bajuku basah. Belum aku sampai di parkiran,ada orang-orang yang melemparku dengan oli.
Deg.
Ini terjadi lagi?. gumamku pelan,aku tidak tau salahku ada dimana dan aku tidak pernah bermasalah dengan siapapun,tetapi saat ini orang-orang itu menertawakan ku ditengah-tengah lapangan. Persis seperti dulu waktu aku dibuli.
"percuma cantik,tapi pelakor!" sarkas seseorang membuatku menoleh kearahnya dengan tatapan bingung.
"apa maksudmu?" tanyaku sedikit teriak.
"alaah pura-pura bodoh. Sialan bagaimana bisa aku dulu memujimu setinggi langit,kau sendiri hanyalah sampah!" cerca seseorang lagi.
"tulah nyesal aku pernah jadi temannya."
"nggak ada akhlak."
"ayoo kita minta sama rektor untuk mengeluarkan dia dari sini!"
"ayoo singkirkan pelakor."
Aku tidak tau apa yang terjadi sekarang,badanku menggigil dan mulutku seketika kaku. Aku memandang nanar semua orang yang dulu memujiku kini membenciku.
Prook...Prook.
Suara tepuk tangan membuatku menoleh kearah sumber suara itu,dan aku terkejut saat menlihat orang itu.
"wah...wah,harusnya aku sadar dari awal kalau Dasha yang didepan ku ini adalah Dasha yang culun dulu. ckckck sempat-sempatnya aku mengatakan cantik untuk gadis pelakor sepertimu." ucap Farah tersenyum seringai kearahku.
Oke,sekarang aku paham situasinya sekarang,sialan ternyata semua ini adalah ulah Farah. gumamku menatap tajam kearahnya.
"ckckck,ya ampun sorot mata itu tampak menyedihkan untuk orang sepertimu Dasha. Well,dulu penampilanmu sangatlah buruk sekarang kau mengubah penampilanmu pun tetap saja kau sampah." ucap Farah melipat tangannya didepan dada.
"brengsek!!" umpatku lagi.
__ADS_1
"kau harusnya mati waktu itu Dasha,kau itu hanya hama disini. Lihat masa kejayaanmu sudah habis. Kini kau saatnya diinjak-injak oleh para fansmu dulu."
Aku semakin kesal langsung menarik kerah bajunya, "kenapa kau sangat membenci ku hah?! apa kau masih belum puas kau membuatku menderita hah??" teriakku lagi membuat Farah lansgung menamparku kuat.
"sialan, tanganku jadi kotor." ucapnya jijik mengibas tangan dan bajunya.
Aku menatap semuanya,dan tidak ada satupun yang bergerak atau memberontak kelakuan Farah. Aku menghela napas kasar mengetahui fakta baru itu.
Mereka sudah dibayar sama dia,pantas saja. gumamku pelan sambil tersenyum miring. Aku juga melirik Vanya tersenyum seringai menatapku dari kejauhan.
"cih." umpatku berjalan menjauhi mereka. Aku tidak ingin mendengar apapun lagi,cukup pergi dari sini.
"heiii!!! mana bisa pergi seenaknya?!" teriaknya disorakin dengan yang lain juga.
Aku berhenti lalu menoleh kebelakang, "terserah kalian,mau bilang aku apa. Yang jelas aku hapal wajah kalian semuanya dan aku tidak akan pernah memaafkan kalian!!" ucapku pasrah. Percuma mengatakan kepada mereka,karena semua sudah disuap oleh Farah.
Tanpa aku sadari ada seseorang berjalan kearahku dan membuat semua orang disana ternganga melihat orang itu. Aku melirik ke arah orang itu terkejut melihat Zayyan dengan sorot matanya tajam berjalan cepat kearahku. Yang lebih terkejutnya lagi,penampilan Zayyan bukan lagi culun. Pria itu tampak gagah dan tampan dengan setelan jaket hitam dipadu dengan celana moka. Apalagi gaya rambutnya two block membuat siapapun yang melihatnya tertakjub.
Tidak akan ada yang menyangka jika itu adalah Zayyan kecuali Farah. Farah terkejut dengan kedatangan Zayyan berada disini. Ia pun merapikan penampilannya dan berjalan kearah Zayyan.
"jangan mendekat!" ucap Zayyan dingin menatap tajam kearah Farah membuat wanita itu terdiam ditempat,begitu juga dengan yang lain.
Zayyan langsung melepaskan jaketnya dan memakaikannya padaku,aku mendongak kearahnya. "aku disini Sha." ucapnya pelan sambil tersenyum tipis kearahku,aku mengangguk pelan.
Aku tertegun saat melihat tangan Zayyan menggenggam ku, padahal tanganku penuh dengan oli akbibat mereka. Zayyan tampak tidak jijik dengan penampilanku,
Tampak banyak yang berbisik-bisik memuji Zayyan. Mereka tidak tau,kalau orang yang mereka benci dan bulli selama ini adalah pria tampan disampingku ini.
"ayoo." ajak Zayyan menari tanganku mengikutinya,baru beberapa langkah kami berjalan suara Farah membuat semuanya terkejut. Nama itu membuat mereka menatap tidak percaya jika orang yang selama ini mereka benci adalah pria culun itu.
"Zayyan!!!" teriaknya sambil berlari kearah kami. Tampak Zayyan mengeras rahangnya menatap kearah Farah.
"berhenti! ngomong dari situ!" ucap Zayyan dingin. Pria ini tampak enggan melepaskan genggaman tangannya dariku.
Farah menatap tidak suka kearahku dan tersenyum manis kearah Zayyan, "susah lama aku tidak bertemu denganmu Yan,kau semakin tampan aja.' ucapnya genit membuatku memutar bola mataku.
"nggak usah basa-basi,cepat intinya!" ucap Zayyan lagi.
__ADS_1
"apa hubunganmu dengannya?!" tanyanya tidak suka melirik kearahku. Zayyan menghela napas, "dia istriku. Selagi aku bicara baik-baik,hilangkan semua fitnah yang kau sebar dan juga jangan pernah lagi mengganggunya. Atau kau berhadapan denganku!" ancam Zayyan membuat yang mendengar ancaman itu merinding.
Farah tampak terkejut dengan fakta itu. Entah kenapa aku senang melihat ekspresinya yang menyedihkan itu. Untuk pertama kalinya aku selangkah maju dari Farah.