
Aku melihat isi kulkasku yang dipenuhi dengan cemilan yang selaluku isi setiap hari. Walaupun ibu sering mengomel karena membeli cemilan banyak padaku,tetapi beliau tidak pernah melarangku untuk menyimpan makanan itu asalkan dihabiskan sebelum masa expired.
"hmm snack atau kue yaa??" gumamku bingung memilih kedua makanan ringan yang terlihat lezat didepan mataku. Cukup lama dilema memilih akhirnya aku memutuskan mengambil Snack kentang pedas dan sekaleng minuman soda. Aku langsung membawanya ke kamarku. Dengan langkah penuh semangat,aku pelan-pelan melangkah agar tidak menganggu Zayyan yang sedang tertidur pulas. Aku mengambil headsetku dan memasangnya dikomputer.
Aku tidak bisa lagi menahan keinginanku untuk tidak memainkan komputer kesayanganku itu. Aku kembali memastikan agar pria itu tidak terbangun,aku langsung memasangkannya penutup telinga dan mata punyaku padanya.
"nah beres. Kalau kayak gini dia nggak bakalan kedengaran kan?" ucapku puas,lalu berjalan pelan ke meja komputerku.
"yaaah,masa dia lagi offline sih,ck apa mungkin karna aku udah lama nggak main kayaknya." ucapku pelan melihat status update milik temanku itu.
"tunggu,dia juga udah lama nggak main dong. Tanggalnya persis denganku,ckckckck mungkin kami memang sehati deh." pekikku pelan. Aku langsung fokus memainkan gameku, tiba-tiba notip diponselku muncul. Aku langsung mengambil ponselku itu dan membuka pesan yang baru masuk.
Zafiad Progamers
kita bertemu besok jam 8 pagi di cafe Leaves.
Satu kalimat yang dilontarkan itu membuatku tanpa sengaja memuncratkan soda yang barusan ku minum. Mengerjap mataku beberapa kali memandang satu kalimat itu membuatku terpekik senang.
"woaaaah,nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan Dashaa!!! yeess ketemu dia." girangku pelan sambil menutup mulutku cepat. Untung saja aku masih sadar untuk tidak berteriak mengingat ada seseorang yang tengah tertidur pulas.
Aku langsung mematikan komputerku dan berlari kecil menuju lemari pakaianku untuk memilih pakaian yang akan kugunakan untuk bertemu dengan temanku itu. Aku tidak ingin memberi kesan pertama yang buruk padanya.
Berkutat memilah baju selama lebih dari satu jam akhirnya aku memilih baju kemeja putih dipadu dengan rok coklat selutut.
"nice sempurna." ucapku bangga setelah menentukan pilihan baju yang akan ku pakai besok. Tentu saja setelah memilih baju aku tidak bersantai-santai, aku langsung menggosok kemeja dan rok itu. Jika ditanya siapa yang menggosok bajunya tentu saja aku. Tidak ada kata waktu untuk bermanja-manja harus mandiri,itulah kata-kata yang terus keluar dari ibuku yang cantik itu. Beliau ingin suatu saat nanti,jika aku sudah berumah tangga aku jadi tidak perlu khawatir lagi tentang hal urusan rumah. Kalau saja aku tidak tau apa-apa mungkin aku sudah dicampakkan oleh mertuaku. Aku merinding membayangkan mertua terus mengomel padaku saat aku menikah nanti.
"eh? aku kan sudah nikah. Dikeluarga Zayyan hanya ada kakek,itu pun MasyaAllah baik banget. Dah,hidupku sekarang sudah aman ternyata. yey tidak perlu memikirkan mertua." gumamku pelan sambil menggantung baju yang sudah aku gosok. Bersenandung riang keluar langsung menuju kamar Gazza.
__ADS_1
Seperti Biasa aku langsung mendobrak pintu kamar abangku dan mendapati Gazza tengah tertidur pulas disofa.
"ckckckck,ini anak tidur dimana-mana,mana pulas pula lagi tuh. Bang!bang!" ucapku keras sambil menggoyangkan lengan abangku agar segera bangun.
"lima menit lagi." ucapnya masih dalam mode tidurnya. Berdecak kesal,aku langsung mendorong Gazza jatuh dari sofa,membuat siempunya tubuh terlonjak kaget karena jatuh dari sofa tadi.
bruuk.
"hahahaha." gelakku puas menatap abangku yang kini menatapku tajam, "kenapa?! cih kau itu penganggu sekali." gerutu Abang sambil mengacak rambutnya. Masih dalam mode mengantuk,abangmu langsung berjalan ke kamar mandi dan menutup pintunya pelan.
"yaah,tak asiklah...dia kabur." gerutuku pelan lalu teringat dengan komik legenda edisi terbaru itu.
"sial,ada dimana komik itu?!" ucapku sambil celingak-celinguk mencari keberadaan komik incaranku itu. Waktu itu sempat aku mencari dikamar Gazza,tapi kedatangan Zayyan seperti jelangkung membuatku urung mencari komik itu. Melirik sekilas kearah kamar mandi yang masih terdengar gemericik air. Seperti dikejar hantu,aku dengan tergesa-gesa membuka semua lemari Gazza. Tidak peduli sudah berapa banyak baju Gazza yang sudah aku hamburkan kelantai hanya untuk mencari komik legend itu. Membongkar isi laci milik Gazza sehingga membuat kamar Gazza yang semulanya rapi dan bersih jadi seperti kapal pecah. Aku terpekik senang saat menemukan komik itu dilangit laci Gazza. Abang sialanku itu dengan sengaja menempelkan komik yang sudah dibungkus dalam plastik dilangit laci. Jika orang yang mencarinya tidak akan terpikir komik itu bersembunyi disana.
Aku langsung tergesa-gesa keluar saat tidak mendengar suara gemercik air lagi,menutup pintu pelan dan langsung melesat ke kamarku.
"DASHAA!!!! apa yang kau lakukan pada kamarku hah???! woiii tanggung jawab!!!" teriak Gazza dari kamarnya,aku yang mendengar cekikikan pelan sambil memeluk erat komik yang kuambil dari kamar Gazza.
ck,astaga ini musuhku satu lagi,aiiih kalau dia nampak komik ini. Kami bakalan rebutan lagi,aku tidak akan biarkan itu. gumamku pelan sambil tersenyum kikuk padanya.
"tidak ada,aku abis dari luar trus liat ada hal yang lucu." ucapku masih terduduk didepan pintu.
"kenapa kau duduk disana? awas aku mau keluar." ucap Zayyan sambil mengacak-acak rambutnya,lalu berjalan pelan kearahku.
Sempat terpesona dengan ketampanannya,aku langsung sadar dan memukul keras pipiku.
Plaaak.
__ADS_1
"aaw." desisku merasa sakit sambil memegang pipiku.
"bodoh,kenapa kau menampar pipimu sendiri?" tanya Zayyan heran melihatku. Aku berdecak kesal karena dibilang bodoh,sambil menatap tajam kearah Zayyan.
"ada nyamuk bodoh. Kau ini ngegas kalipun." jawabku asal menatap Zayyan.
Lupakan ketampanannya Sha,kalau sifatnya ini nggak ada akhlak. gerutuku pelan yang hanya bisa diungkapkan dalam hati.
"ya santai aja ngomongnya,nggak usah ngegas jugaa." ketus Zayyan lalu menyamakan posisinya padaku.
"minggir." ucapnya sambil menggeser badanku dari pintu. Aku tetap kukuh mempertahan posisiku disitu. Sudah berkali-kali Zayyan berusaha membuatku minggir,namun tidak membuahkan hasil,akhirnya tanpa aba-aba ia dengan terpaksa menggendongku seperti karung. Aku terkejut karena sudah berada diatas pundaknya membuat komik yang ku sembunyikan tadi terjatuh ke lantai membuat aku dan dia terdiam ditempat.
Oh sial,komiknya ketahuan. sesalku pelan melirik komik yang tak berdosa itu tergeletak dilantai,Zayyan langsung menurunkan aku cepat dan mengambil komik itu.
"dimana kau mendapatkan ini?" tanya Zayyan menatapku curiga,aku langsung berdiri dan menjinjit meraih komik yang ada ditangan Zayyan.
"iiih kau ini kenapa tinggi kayak tiang kak?!,kembalikan komik itu padaku!"
Zayyan langsung mengangkat setinggi-tinggi komik yang dipegangnya menatapku remeh. Aku terus berusaha meraih komik itu walaupun pria sialan itu terus saja mengangkat setinggi-tingginya komik yang dipegangnya.
Disaat darurat seperti ini,ide cemerlang ku keluar,tanpa permisi aku langsung menggigit keras lengan Zayyan membuat pria itu meringis kesakitan melepaskan komik yang dipegangnya. Aku langsung merampas komik itu dari tangannya,namun Zayyan dengan cepat menarik kembali komik yang sempat ku pegang. Alhasil kami kembali tarik tambang seperti di Mall waktu itu.
"kak kembalikan!!!" teriakku dengan sekuat tenaga merampas komik dari Zayyan. Zayyan yang terlihat enggan melepaskan komik itu terus berusaha menahannya.
"nggak,aku nggak mau!!!" teriak Zayyan disela tarik menarik itu. Tanpa kami sadari suara kami membuat seluruh penghuni rumah tergopoh-gopoh menuju kamar kami. Mereka mengira jika kami terjadi KDRT dikamarku.
braak. pintu langsung didobrak dengan keras tapi tidak membuat kami berhenti untuk saling tarik menarik. Gazza yang baru saja selesai membersihkan kamar yang sudah kuberantakan tadi menghela napas kasar melihat kami bertengkar untuk hal yang tidak jelas. Begitu juga dengan Ayah dan Ibu yang baru saja pulang dari pasar menatap kami tidak bisa diartikan.
__ADS_1
"diam!!" sarkas Ayah langsung membuat aku dan Zayyan terkejut dan langsung terdiam. Kami sama-sama menunduk tidak berani menatap nyalang mata elang Ayah. Aku sempat terkekeh pelan melihat Zayyan yang merupakan notabene orang lain malah ikutan nunduk ketakutan saat melihat Ayah.
"dasha!" ucap ayah lagi menatapku cengar-cengir tak karuan. Aku langsung menunduk diam. Sore itu kami habis diceramahi Ayah sampai Azan magrib berkumandang.