I Know Your Secret

I Know Your Secret
Insiden


__ADS_3

Aku sesak ingin buang air kecil,lalu aku berbisik kepada Zayyan, "kak,aku mau buang air kecil. Toilet dimana?" bisikku pelan.


"oo ayo ikut aku." ajak Zayyan menuju ke salah satu kamar. Aku takjub dengan kamar yang kami masuki saat ini,lalu aku melihat ada foto keluarga diatas nakas. Sepertinya itu foto Zayyan waktu kecil dengan kedua orangtuanya.


"ya ampun uculnya." ucapku kagum dengan anak kecil yang ada didalam foto itu lalu aku mendekatkan foto itu dengan wajah Zayyan.


"kalau udah besar,wajahnya sangat menjengkelkan." ledekku membuatnya memberengut kesal.


"kau Sebenarnya mau buang air kecil atau tidak sih? cepatlah." gerutunya lagi. Aku menghela napas,


"iya...iyaa nih mau otw ke toilet. cerewet kali sih." gerutuku lagi lalu masuk kedalam kamar mandinya Zayyan.


Setelah menuntaskan panggilan alam, aku langsung keluar,ku lihat Zayyan tidak berada disini.


"kemana dia?" tanyaku pelan lalu perhatianku tertuju kearah foto yang sempat aku lihat tadi. Aku kbali mengamati foto keluarga kecil itu.


"ternyata dia mirip ayahnya." gumamku pelan mengamati wajah Zayyan kecil dengan almarhum ayah mertuaku itu. Sebenarnya aku ingin menanyakan tentang kecelakaan yang menimpa orang tua Zayyan,tetapi aku urung karena mengingat itu adalah luka terdalam untuk Zayyan. Aku tidak ingin membuka luka itu kembali. Aku mengedar keseluruh ruangan dan mataku tertuju kearah meja belajar. Saat aku mendekati meja belajar itu,aku menyerngit menatap gantungan kunci yang tampaknya tidak asing bagiku.


"ini seperti punyaku dulu,punyaku sempat hilang waktu itu. Wah tidak disangka Zayyan juga punya." gumamku lagi menatap gantungan kunci mirip rubah itu.


"kau sedang apa?" tanya seseorang membuatku terkejut berbalik menatapnya. Zayyan langsung menghampiriku dan berdiri persis dihadapan ku.


"sudah selesai?" tanyanya lagi. Kini tatapan mata kami bertemu,Zayyan kini tidak memakai kacamata dan rambutnya terlihat acak-acakan. Pria ini sangat tampan apalagi dilihat dari dekat. Jantung wanita mana yang aman saat melihat pangeran berkuda putih ada dihadapannya saat ini?.


"Dasha." panggilnya lagi membuatku tersadar dari lamunanku,aku memalingkan wajahku.


"sudah,apa kakek menanyakanku?" tanyaku lagi sambil merapikan rambutku yang sempat kusut.


"tidak." ucapnya singkat lalu memegang lembut gantungan kunci rubah itu.


"gantungan itu punyamu?" tanyaku penasaran.


"iyaa,emangnya kenapa?" tanyanya lagi. Ia tampak menjaga ketat gantungan itu seolah-olah gantungan itu paling berharga baginya.


"mirip punyaku dulu."


"jangan kegeeran,pabrik membuat ribuan gantungan kunci ini." ledeknya lagi.


"iya...iya tau. Cih,kau ini tambah menyebalkan kak." gerutuku pelan membuat alis pria itu mengerut.

__ADS_1


"aku menyebalkan? bukannya kau yaa. Apa kau tau setiap hari kau itu menyebalkan." gerutu Zayyan lagi.


"mana ada yaa. Kau yang menyebalkan kak."


"kau Sha."


"kau kak,ish kita taruhan sekarang!!" ajakku kesal. Zayyan tampak berpikir sejenak lalu menungguku berbicara lanjut.


"kita taruhaaaan..." ucapku tegas,tapi beberapa detik kemudian aku terdiam. "hmm kita taruhan apa ya??" ucapku bingung sambil menggaruk tengkukku tidak gatal. Zayyan menatap datar kearah ku dan menghela napas kasar.


"dasar payah,ngajak taruhan tapi nggak tau apa yang mau ditaruhkan!" ledek Zayyan berjalan keluar kamar. Aku menggerutu kesal dengan cepat berjalan menyusulnya dari belakang.


"okeee kita taruhan siapa yang bisa makan eskrim banyak dialah pemenangnya." ajakku menatap remeh kearahnya.


"eskrim? kau ini seperti anak kecil. Yang lain lah." tolak Zayyan.


"apa pula kayak anak kecil kak,eh makan eskrim tuh bisa membuat pikiran kita lebih baik kak. Kau ini aja yang pikirannya masih kolot."


"enak aja,ya udah ayoo kita makan eskrim sekarang!! kita lihat nanti siapa yang menang." jawab Zayyan tertantang dengan taruhanku. Kami pun berjabat tangan sambil tersenyum seringai.


Kami pun langsung berjalan menuju dapur,dan tidak menemukan keberadaan eskrim. Zayyan menepuk jidatnya pelan, "bodoh,bagaimana mungkin dikulkas ini kakek punya banyak eskrim??" geramnya menatapku,aku menyengir menatapnya.


"pakai motor aja." ucapnya sambil mengambil kunci motor dilaci lemari kaca.


"woaah cool,ayook." seruku semangat. Aku mengikuti Zayyan dari belakang menuju bagasi. Aku begitu takjub dengan interior rumah kakek Zayyan,benar-benar sederhana tetapi mewah. Aku melirik motor besar berwarna merah mengkilap itu.


"motor kau kak?" tanyaku lalu dianggukan Zayyan.


"iyaap,ini namanya Ryzen." ucap Zayyan dengan bangga menepuk pelan motor kesayangannya itu.


"yalah...yalah terserah kau saja mau ngasih namanya. Yang penting bisa dipakai." ucapku jengah menatap wajah sombongnya itu lalu dengan cepat aku naik keatas motornya.


Zayyan langsung dengan cepat memegang motornya, "eh woi ngapain main naik-naik aja. Untung nggak jatuh." kesal Zayyan sambil memegang motornya agar tidak jatuh karena ulahku yang tidak seimbang langsung menaiki motor besarnya.


"hehehe,kan jatuhnya kebawah kak...nggak keatas."


Zayyan memberengut kesal, "iyalah bodoh,kan gravitasinya kebawah nggak keatas."


"dah...dah,nanti tambah panjang perdebatan kita kak,mending langsung gas ke supermarket. Biar cepat beli eskrimnya."

__ADS_1


"iya...iyaa sabar,tidak lihat aku sedang memakai helm sekarang." ucapnya sambil memakai helmnya. Ia pun langsung menyerahkan helmnya padaku.


Aku tertegun menatap dirinya tengah memakaikan helmnya padaku. Lalu tatapan kami bertemu.


warna matanya sangat cantik. gumamku dalam hati memuji matanya.


ceklek. menandakan helm sudah terpasang dikepalaku,membuat aku tersadar dari lamunanku. Aku saja baru sadar jika pria itu sudah duduk didepanku sambil menghidupkan mesin motornya.


"pegangan." ucapnya pelan,langsung menancapkan gas keluar dari perkarangan rumah kakek. Aku tanpa sadar memeluknya dari belakang.


Selama diperjalanan aku hanya menikmati perjalanan tanpa berkata satu katapun,begitu juga dengan Zayyan yang fokus membawa motornya menyelip-nyelip melewati mobil-mobil didepan kami. Walaupun terlihat cukup ekstrim dengan tindakan suamiku itu,tetapi cukup membuatku senang.


Akhirnya sampai juga di supermarket,Aku melepaskan helmku dan meletakkan di kaca spion,lalu aku melirik sekitar area supermarket.


"kak,jauh amat kita ke supermarket nya? emangnya didekat rumah kakek nggak ada warung atau supermarket gitu?" tanyaku pelan sambil berjalan masuk ke supermarket bersama dengan Zayyan.


"disini eskrimnya lengkap rasanya." ucap Zayyan langsung mengambil keranjang lalu berjalan menuju lemari eskrim.


"biar aku pilih! biar aku pilih!!" ucapku dengan semangat membuat Zayyan menghela napas kearahku. "terserah kau saja." ucapnya pasrah.


"yeeey." seruku langsung memilih eskrim yang Kusuka. Setelah selesai membeli eksrim,kami pun langsung pulang.


"fyuuh." ucapku saat kami sudah sampai dirumah kakek,Aku pun langsung turun membawa dua kantong sedang penuh dengan eksrim kedalam rumah. Zayyan menggeleng-geleng melihat kelakuanku dan ikut masuk kedalam rumah. Zayyan langsung mengambil alih kantongku dan menaburkan semua eskrim itu diatas meja.


"ini eskrimnya dua puluh kan kak,nah kita bagi sepuluh,sepuluh satu orang." ucapku langsung membagikan eksrim itu. Setelah semuanya terbagi sama rata,kami pun langsung bersiap-siap.


"siap? atau kau ingin menyerah duluan kak?" tanyaku memandang remeh kearahnya. Tentu saja aku mengatakan itu dengan percaya diri karena melihat ekspresinya.


"cepatlah." ucapnya lagi. Setelah diberi aba-aba,kami pun langsung memakan eskrim dengan cepat. Tidak peduli dengan gigi yang sudah mulai ngilu,yang penting kami cepat memakan semuanya.


"yey aku duluan." ucapku puas tanpa sengaja menyenggol gelas disampingku dan membuat airnya tumpah. Zayyan menghendus kesal lalu berdiri dari tempatnya,lalu berjalan tanpa sadar melewati air yang tumpah tadi membuat pria itu tergelincir.


Bruuuk. Aku terkejut lalu menoleh kebawah,dan lebih syoknya lagi bukan hanya Zayyan yang jatuh melainkan kakek yang baru saja berjalan kearah kami.


"kakek!" seruku langsung menghampiri kakek,kakek tampaknya kesakitan. Zayyan langsung berdiri menghampiri kakek.


Kreetek. "aduuuh." rintih kakek membuat kami semakin panik,


"kakek,maafkan kamiii." ucap kami bersamaan dengan cepat membawa kakek kerumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2