I Know Your Secret

I Know Your Secret
Gugup Di Hari Pernikahanku


__ADS_3

Aku menghempaskan badanku ke kasur empukku itu. Mengingat saat kejadian Zayyan yang tiba-tiba muncul dibelakangnya seperti jelangkung. Ternyata Zayyan dan Gazza sudah datang daritadi sebelum aku masuk kedalam kamar abangku itu.


"fyuuuh,semoga besok hari yang menyenangkan." ucapku sambil memeluk erat bantal guling. Baru saja mata indahku mulai terpejam,ada suara gedoran keras dibalik pintu. Berdecak pelan,aku menggerutu menatap pintu yang terus digedor tak henti itu. Membuat diriku yang malas ini berjalan gontai membuka pintu.


Aku menatap kesal kearah orang yang sudah mengganggu waktu istirahatku,entah kenapa saat bertemu Zayyan selalu membuatku kesal. Entah wajah culunnya atau tingkahnya yang membuatku terus naik darah. Aku melipat tanganku didada menatap tajam kearahnya, "apa?" tanyaku sedikit ketus.


"oi santailah dikit,kau disuruh ibumu ke dapur tuh." ucap Zayyan langsung berjalan menuruni anak tangga.


"kenapa?" tanyaku pada Zayyan,seketika membuat pria itu menyerngit padaku.


"lho kenapa? ya bantulah orang tua masaklah,kok malah bertanya pula dia. Cih dasar perempuan pemalas." cibir Zayyan pelan tapi masih terdengar olehku. Dengan kekuatan penuh,aku langsung melepaskan sendal imutku,lalu membidik kearah kepala Zayyan.


Aku langsung bersorak ria saat sendal yang ku lempar tadi akurat mengenai kepala Zayyan. Zayyan menggerutu kesal kearahku sambil memegang kepalanya. "buahahahaha,gimana pasti sakit kan???" ledekku mendahuluinya,aku pun menuruni anak tangga sambil bersenandung riang menuju dapur.


"Bu,ibu biar aku bantu." tawarku langsung mengambil semangkuk sup yang ada ditangan Ibu.


"tumben kamu bantu Ibu,biasanya kalau dah malas susah disuruh." celoteh Ibu sambil menanak nasi. Aku menyerngit bingung,lalu menatap kearah Ibu "bukannya tadi Ibu yang suruh kak Zay manggil aku untuk bantu Ibu yaa?" tanyaku.


Ibu terkekeh pelan, "iyaa? wah calon menantu Ibu baik banget yaa...buat kamu susah payah turun untuk bantu Ibu. Ya ampun Ibu jadi tidak sabar melihat kamu sudah jadi istrinya." ucap Ibu senang lalu membawa sebakul nasi ke meja makan. Aku hanya terbengong melihat punggung Ibu yang kian mulai menjauh dari pandanganku.


"oh iyaa yaa,besok aku nikah. Nggak terasa aja hahahaha." gumamku pelan sambil menggeleng-geleng kepalaku.


"kau sudah gila yaa?" tanya Gazza menatap aneh kearahku yang senyum-senyum sendiri. Aku menatap kesal kearah Gazza, "suka-suka aku lah." ketusku sambil menggeraikan rambutku,laku berjalan mendahului Gazza. Gazza mengangkat bahu seolah tidak peduli dengan apa yang diucapkan oleh adiknya. Setelah selesai meneguk air,ia pun mengikutiku ke tempat meja makan. Kami duduk sambil menunggu Ayah datang. Aku terkejut melihat Zayyan tiba-tiba menyerobot duduk disampingku,padahal itu adalah tempat duduk Gazza.

__ADS_1


"kenapa kau duduk disini?" tanyaku.


"karena aku mau makan." ucapnya santai sambil memainkan ponselnya.


"hei,ini tempat bang Gazza,kau pindah sana." usirku sambil mendorongnya pelan.


"woi,apa kau nggak lihat aku udah duduk disamping Ibu." seloroh Gazza menatap kami berdua heran. Aku menoleh kearah Gazza, "kenapa kau yang duduk disitu bang?"


"karena tempat itu jadi milik Zayyan sekarang."


"kok milik dia bang,kan dia tamu disini."


"woi kau nggak sadar kalau dia besok jadi suamimu!"


Aku terdiam sebentar,sambil berdecak pelan. "eh iya yaa,aku baru ingat pria di sebelahku ini beberapa jam lagi jadi suamiku." ucapku pelan lalu menoleh kearah Ayah berjalan bersama kakeknya Zayyan. Mereka terlihat bercengkrama serius.


"kamu memang anak yang baik yaa,ya ampun kakek tidak menyangka kamu akan menjadi cucu menantu kakek." ucap Kakek tersenyum simpul. Aku menggangguk pelan menatap beliau. Tidak ada percakapan setelah itu,hanya terdengar suara gesekan garpu dan sendok.


***


Aku menatap langit kamar,memandang kosong apa yang kulihat didepan. Entah kenapa malam ini aku tidak bisa tidur dengan nyenyak,merasa resah,gelisah,cemas bercampur jadi satu. Aku tidak ingin terlihat seperti mayat hidup untuk foto besok,aku langsung mengambil aromaterapi dilemariku. Setelah dapat aku langsung menyalakannya dan kuletakkan di atas nakas.


"besok yaa,statusku berubah. Apa keputusanku benar?" gumamku pelan tiba-tiba merasa ragu dengan keputusanku saat ini. Tapi,layaknya nasi sudah menjadi bubur aku tidak bisa mengubah keputusan itu sekarang. Sudah terlambat untuk membatalkan semua yang sudah direncanakan ekstra dalam lima hari itu. Aku juga tidak ingin mempermalukan orangtuaku,apalagi Ayah. Jarang sekali beliau langsung menyetujui pernikahan ini.

__ADS_1


Ada satu hal lagi yang membuatku resah,yaitu rahasiaku. Zayyan cepat atau lambat ia akan segera mengetahui rahasiaku,tetapi namaku bukan Dasha kalau sudah menyerah. Aku harus berpandai-pandai menutupi semua rahasiaku darinya. gumamku pelan sambil tersenyum seringai.


Besoknya,dihari Jum'at yang barakah ini,aku kini duduk didepan cermin sambil didandakan oleh tim MUA dan Ibuku. Aku mengenakan baju pengantin berwarna putih,tertutup,dan tidak menampakkan lekuk tubuhku membuatku seperti malaikat. Memang sudah lama Ayah menyuruhku mengenakan hijab tapi sampai saat ini aku masih belum siap memakai hijab. Untuk kali ini aku memantapkan diriku dihari pernikahan mengenakan hijab. Setelah dirias,aku tertegun melihat diriku begitu cantik dengan gaun pilihan Zayyan waktu itu.


Ah,anak ini seleranya lumayan juga. gumamku sedikit memuji pria menyebalkan itu. Ibu langsung menghampiriku dengan tatapan yang tidak bisa diartikan,dan langsung memelukku erat.


"ada apa Bu?" tanyaku pelan. Dalam hatiku,aku sangat khawatir jika ada hal buruk yang terjadi.


"Ibu bahagia kamu akan segera menjadi istri nak." ucap Ibu pelan membuatku menghela napas lega.


Fyuuh,ku kira ada apa tadi,ternyata ini syukurlah. gumamku pelan. Ibu langsung memandang wajahku,memang wajahku hampir mirip dengan beliau.


"jangan menyusahkan Zayyan,berusahalah yang terbaik untuknya nak. Ibu yakin kamu bisa." ucap Ibu mengelus pipiku, "kamu memang cantik pakai hijab nak,seperti bidadari." puji Ibu membuatku tersipu malu.


"ahahaha Ibu bisa aja,Ibu juga cantik bahkan lebih cantik dariku." ucapku sambil tersenyum lebar. Ibu tergelak sebentar, "kamu ini memang yaaa...kalau dah jadi istri Zayyan,jangan malas-malas,trus jangan suka memberantakan rumah,okee." pinta Ibu aku menggangguk pelan.


"Bu kami tinggal dimana?" tanyaku pada Ibu.


"dikolong jembatan sana." ketus seseorang bersandar didepan pintu kamarku,aku langsung menoleh ke orang itu dengan tatapan kesal. "apasih bang,nggak senang kali liat orang bahagia." celutukku menatap Abang tampanku itu. Tidak disangka jas hitam yang dikenakannya kini,membuat aura tampannya bersinar,aku jadi penasaran perempuan yang akan dipilih abangku saat ini. Aku sangat tau sekali abangku ini,tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Pria tampan itu tidak pernah pacaran karena asyik fokus menyelesaikan study kedokterannya. Aku yang melihat buku-buku sebanyak itu sudah mau muntah rasanya.


"apa yang kau lamunkan??" tanya Gazza menatapku. Aku mengangkat bahu acuh tak acuh menatapnya. Gazza berdecak pelan,lalu keluar dari kamarku.


Aku duduk dikamar menunggu ijab Qabul selesai,aku tidak tau alasan kenapa aku tidak boleh keluar sebelum calon pengantin pria mengucapkan ijab qabulnya. Mungkin memang tradisi keluargaku turun-temurun.

__ADS_1


"sah." seru semua yang menjadi saksi ijab Qabul itu. Aku yang mendengarnya seketika darahku berdesir hebat dan merinding mendengar kata 'sah' itu. Tiba-tiba saja perasaanku menjadi gugup tidak karuan,mengipas-ngipas wajahku dengan buku disekitar ku.


"astaga,kenapa aku segugup ini?" gumamku pelan berusaha menetralkan jantungku yang berdetak cepat.


__ADS_2