I Know Your Secret

I Know Your Secret
Aku Cemburu Dasha


__ADS_3

Zayyan POV


aku mengerjap-ngerjap menyerngit menatap ruangan putih. Pandanganku masih membayang,tetapi kedua tanganku terasa berat,aku mencoba menoleh kearah tanganku pelan dan tertegun mendapati istriku tengah tertidur dengan bantalan tanganku.


Tapi tunggu,kenapa aku merasa ada air disekitar tanganku yaa?? gumamku lalu kembali menatap tanganku,rautku langsung berubah saat mengetahui jika air itu turun dari titisan mulut Dasha.


"cih Dasha,air liurmu." gerutuku memandang Dasha tengah tertidur pulas,dapat aku lihat ada sembab air di matanya.


Eh kenapa dia menangis?? gumamku menatap aneh kearah gadis itu,lalu aku menyapu pandanganku keseluruh ruangan,seketika aku teringat kejadian yang baru saja aku alami.


"astaga,aku hampir saja mati hanya karena menyelamatkan gadis ini." gumamku lagi,tanganku sedikit kebas karena terlalu lama terimpit oleh Dasha. Tetapi,aku tidak tega membangunkan Dasha. Mau tak mau aku harus kembali berbaring sambil memejamkan mata.


"hm? eh bang Zay kau sudah bangun??" pekik Dasha sambil mengelap air liurnya. Aku sangat kaget saat gadis itu tiba-tiba teriak,pasalnya baru sedetik tadi gadis itu terlihat pulas tiba-tiba langsung terbangun.


Aku mengangguk pelan kearahnya,baru saja senyum manis itu terbit kini mulai memudar. Air matanya mulai mengalir membasahi pipinya. Aku tidak tau kenapa suasana tiba-tiba menjadi sendu seperti ini,tetapi aku tidak suka melihat dirinya menangis.


"hei Sha,kenapa kau menangis? siapa yang membuatmu menangis hah?" tanyaku menatap lekat kearahnya.


"kau!!" sesenggukan nya menunjukku dan menatap tajam kearahku. Aku menyerngit bingung, "aku? emangnya aku salah apa?"


"banyaaak!!! kau membuatku hampir saja jantungan bang!!" lirihnya pelan.


Aku menghela napas pelan seraya mencoba menenangkannya, "tenanglah aku sudah ada disini. Kau lihat? aku masih baik-baik saja."


"enak kali kau ngomong bang!,kau tau tadi itu nyaris kalii. Aku menggigil menatap luka dikepalamu itu bang!" serunya lagi.


"lah kan cuma kepala doang yang kena Sha,santai ajaa. Ini udah biasa kok,aku kan laki-laki. Ini mah luka ringan." ucapku dengan bangga. Dasha dengan seenak kentutnya menekan luka dikakiku membuatku meringis kesakitan.


"sakiit woii!!" kesalku spontan memegang kakiku yang terluka.


"nah itu sakit kan?? kau ini sok kuat kak." gerutunya lalu mengambil sesuatu didalam tasnya. Ia pun langsung menyerahkan buku itu padaku.


"komik? untuk apa kau memberikannya padaku?" tanyaku heran menatapnya.


"aku mengalah." ucapnya sambil menatap komik itu lekat. Seolah-olah tidak ingin menyerahkan komik berharga itu padaku.

__ADS_1


"mengalah? untuk?"


"ish kau ini banyak tanya kali bang,ya jelas lah untuk dibaca!" serunya menampangkan komik itu didepan mukaku.


"iya iyaa,kau ini. Aku tidak tertarik lagi dengan komik itu." ucapku membuat dirinya terbengong.


"hah? serius??" tanyanya memastikan. Aku mengangguk pelan.


karena aku udah baca Luan komiknya hahahaha. gumamku dalam hati.


"serius? kau tidak penasaran bang?" tanyanya lagi. Aku menggeleng pelan.


Dasha bertepuk tangan sambil menatapku tidak percaya. "lalu untuk apa kau mengejarku kalau kau tidak tertarik lagi dengan komiknyaaaa?!"


"aku tidak tau kau menyembunyikan komik. Aku kira barang yang lain tadi." ucapku pelan. Dasha langsung memelukku, "bang jangan gini lagi. Masa dihari ulang tahunku kau terluka gini." lirihnya membuatku menepuk pelan punggungnya. Dapat aku rasakan gemetaran yang dirasakan gadis itu.


"aku kan nggak sengaja sayang,kalau aku sengaja namanya bodoh." ocehku membuat gadis itu terkekeh pelan,


"kau mau apa bang? mau makan apa?" tanyanya melepas pelukanku,ia menatapku lekat.


"cih,menyedihkan. ini kesempatan langka lhoo bang,aku menawarkan diri untuk membantumu." ucap gadis itu dengan lagak sombongnya,aku hanya memutar bola mataku malas menatapnya.


"serius nih nggak mau??,aku mau beli capuccino cincau,jangan minta nanti yaa." ujarnya sambil menyandang ranselnya. Dengan tanpa berdosanya ia bersenandung keluar dari kamarku.


Aku menghela napas sambil memijit keningku, "ya ampun bagaimana aku bisa menyukainya?" gumamku pelan. Lalu aku melirik kearah nakas,aku menyerngit heran menatap secarik kertas yang membuatku penasaran. Aku langsung mengambil kertas tersebut.


"sialan,siapa sih yang mau mendekati istriku?!" umpatku langsung meremukkan kertas itu dan melemparnya kedalam tong sampah.


"cih, bisa-bisanya dia meninggalkan nomor ponselnya,siapa sih Revan itu???" kesalku lagi mengingat nama pria itu. Aku langsung mendongak saat menyadari jika Dasha sedang keluar. Entah banyak pikiran megatif mulai menggerogoti otakku,aku menggeleng pelan seraya mempercayai istriku akan kembali kesini.


"fyuuh dia aman kan?" gumamku. Ingin mempercayai tetapi timbul rasa ragu yang membuatku cemas tidak karuan. Aku langsung meraih ponselku yang tergeletak diatas nakas dan mencoba menghubunginya.


Tut...Tut...Tut..


"damn! kau kemana Dashaa?!" geramku berusaha menelpon istriku terus-menerus. Aku mencoba bersikap tenang sambil menghela napas.

__ADS_1


"mungkin baterai ponselnya habis." gumamku berpikir positif,sesekali aku melirik jam dinding.


Tadi dia jam tujuh malam keluar,harusnya bentar lagi dia kembali kan? cih,harusnya aku tidak mengizinkannya keluar hanya beli capuccino itu!!! sesalku pelan, pandanganku teralihkan saat pintu ruanganku terbuka,awalnya aku merasa lega jika itu Dasha,namun rautku kembali datar saat perawat itu masuk ke ruanganku.


"selamat malam pak." ucapnya sopan.


"malam." ucapku singkat,aku tidak ingin banyak berbasa-basi,dan menginginkan Dasha ada disini. Aku bahkan tidak mendengarkan apa yang perawat itu katakan,yang jelas ia pasti ingin mengganti infusku,aku hanya membiarkan perawat itu melakukan pekerjaannya. Setelah selesai melakukan tugasnya perawat itu langsung keluar.


Aku dapat mendengar samar-samar suara Dasha tengah tertawa degan seseorang. Membuatku semakin penasaran,aku mencoba turun dari kasur secara perlahan-lahan. Memang sedikit sakit saat menginjak lantai,tetapi rasa penasaranku mengalahkan rasa nyeri dikakiku.


Aku langsung berjalan membopong selang infus itu ke pintu ruanganku. Dapat kudengar suara Dasha tengah mengobrol dengan seseorang. Aku mengintip dicelah pintu dan terkejut mendapati Dasha tengah berbicara dengan seorang laki-laki. Aku tidak dapat melihat wajahnya karena laki-laki itu menghadap kebelakang.


"cih,siapa kau? mau apa kau mendekati istriku??" geramku pelan tanpa mengeluarkan suara.


"ya ampun,kau sangat baik Revan. Aku salut akhirnya kau berubah seperti ini. Oh ya sampaikan salamku untuk ibumu yaa,cepatlah kau kesana ntar ibumu carii." seru Dasha langsung dianggukan oleh pria yang bernama Revan itu.


Tunggu,namanya Revan?! sial Dasha kau jangan tertipu dengan muka munafiknya woii!!. umpatku dalma hati,namun aku masih menguping pembicaraan mereka.


"okee,kalau gitu aku pergi yaa. Sampai jumpa lagi Dasha." pamitnya sambil melambaikan tangannya kearah Dasha,saat laki-laki itu berbalik,aku baru tau wajahnya.


Ku tandai wajahnya,awas saja kau berbuat macam-macam. gumamku menatap tajam kearah mereka. Dasha pun melambaikan tangannya kearah Revan sambil tersenyum manis.


Oke cukup,tidak ada lagi senyam-senyum. gumamku tidak tahan lagi melihat drama alay itu,dengan tertatih-tatih dan cepat aku keluar langsung menarik tangan Dasha masuk kedalam ruanganku.


"astagfirullah,Bang Zay? apa yang kau lakukan??" tanyanya terkejut mendapati aku tiba-tiba sudah berada didepan matanya.


"kenapa kaget? kau seperti tertangkap basah melakukan sesuatu." ketusku menatap nyalang kearahnya.


"kau ini kenapa bang? apa kau salah minum obat?" tanyanya heran. Aku sedikit kesal meraih capuccino yang ada ditangannya itu.


"hei bang itu punyaku,kau tidak ada menitipnyaa!!" rengek Dasha berusaha meraih capuccino yang ada ditanganku. Untung saja gadis itu pendek sehingga ia kesulitan meraih capuccino miliknya dari tanganku.


Tidak ingin membuang kesempatan aku langsung menyambar bibirnya dengan cepat. Dapat kulihat rautnya yang begitu terkejut mendapati seranganku tiba-tiba, tetapi lama kelamaan ia pun membalas ciumanku.


Aku melepas pangutanku dan menangkup wajahnya yang menggemaskan itu, "jangan dekati pria lain,aku cemburu Dasha." ucapku menatap lekat kearahnya. Sedangkan dirinya terbengong seperti orang kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2