
Langit sudah menunjukkan malamnya,aku dan keluargaku kini duduk sambil mengitari api unggun. Aku membantu Ibu menyiapkan makan malam untuk kami semua.
"Ibu,ini apa?" tanyaku saat melihat makanan yang tampak asing kulihat.
"masa kamu nggak tau sih,ini namanya cumi. Makanya sering kedapur bantuin Ibu,biar kamu tau bumbu-bumbu dapur." celutuk ibu,aku hanya menyengir kearahnya.
"Ibu,aku ingin bertanya sesuatu?" tanya ku pelan membuat Ibu menoleh kearahku.
"ada apa?" tanya Ibu penasaran.
"kenapa ibu mengizinkanku menikah dengan kak Zayyan,padahal umurku masih terbilang muda kali. Apalagi aku tidak bisa apa-apa." tanyaku pelan. Aku tidak ingin para pria itu mendengar pembicaraan kami.
Ibu tersenyum tipis kearahku, "kamu ingin tau kenapa? karena suamimu yang membuat Ibu percaya padanya untuk menjagamu. Apa kamu nggak dikasih tau sama dia? coba tanya sama dia nak. Jujur awal mendengar pernikahan mu ibu terkejut dan tidak ingin melepaskan mu begitu saja. Pernikahan bukanlah main-main,banyak tanggung jawab setelah menikah. Ibu sangat tau kamu masih muda dan mengejar cita-cita mu,tapi nyatanya kamu juga setuju menikah dengannya,begitu dengan Ayah. Akhirnya Ibu menyetujui pernikahanmu ini." jelas Ibu panjang lebar. Aku tertegun lalu sekilas memandang Zayyan yang tengah mengurusi kayu-kayu untuk dibakar nanti.
"apa yang membuat Ibu percaya dengannya?" tanyaku lagi.
"tekad dia untuk mendapatkanmu. Ibu salut liat dia yang mati-matian berhadapan dengan Ayah agar boleh menikahimu."
"benarkah?" tanyaku tidak percaya. Ternyata suamiku sudah banyak melakukan sesuatu agar bisa menikah denganku yang tak bisa apa-apa ini. Gadis yang hanya kerjanya tidur,makan, bersantai-santai malah diperjuangkan oleh pria tampan.
"iyaa, makanya kamu harus banyak nurut sama dia. Jangan jadi istri durhaka. Oh ya...hmm Ibu mau nanya sesuatu." tanya Ibu menatapku.
"apa kalian udah?" tanya Ibu Ambigu,tetapi kali ini aku paham pertanyaan ibu kemana. Aku menggeleng pelan, "belum Bu."
"apa dia ingin menunggumu siap?" tanya Ibu,lagi-lagi aku menggeleng pelan, "aku tidak tau Bu."
"ya ampun,huft mungkin kalian ingin sama-sama menyelesaikan kuliah dulu,baru fokus kesana. Baguslah,Ibu sedikit lega."
"apa ibu tidak ingin mempunyai cucu?" tanyaku polis langsung lenganku dipukul pelan.
"hush,ngomongnya. Ya mau lah,cuma disaat yang tepat sayang. Kami tidak ingin kamu menderita nak,kami akan selalu memberikan kasih sayang untukmu." lirih Ibu pelan sambil mengelus kepalaku.
"untung saja kamu sudah menikah dengan laki-laki yang baik. Ibu sangat terkejut melihat kondisi kamu kemarin nak,Ibu tidak bisa membayangkan kalau terjadi apa-apa sama kamu. Ibu tidak mau kejadian yang dulu terulang lagi." lirih Ibu menatap sendu kearahku.
Aku tidak tega membuat wanita yang paling kusayangi itu mengeluarkan airmatanya hanya untukku yang dari dulu memang beban keluarga. Aku merasa bersalah telah membuat mereka menjadi khawatir karena tindakanku yang bodoh itu.
__ADS_1
"Ibu aku minta maaf." isakku pelan,membuat Ibu merangkul pundakku.
"kamu itu kuat nak,kamu hebat. Ibu bangga punya kamu,ibu bangga kamu anak perempuan ibu yang cantik. Hanya saja keadaan disekitarmu yang tidak mendukung. Ibu yakin kamu bisa melewati ini dengan mudah. Kalau kamu merasa sesak atau ingin menangis jangan dipendam. Kamu bisa curhat kok sama suami kamu atau sama Ibu,atau bisa juga sama Abang kamu. Hmm kalau sama Ayah,nyali kamu yang menciut nanti." seloroh Ibu membuatku terkekeh pelan.
"heheheh,Ibu memang tau aja soal Ayah. Aku jadi penasaran Bu,bagaimana Ibu bisa bertemu dengan Ayah yang cueknya minta ampun??" tanyaku penasaran dengan kisah cinta orang tuaku.
Ibu tampak berpikir,dapat kulihat senyum tipis terbit dari wajahnya, "pokoknya yang nggak bisa kamu dugalah."
"seperti apa Bu? ayolah cerita." bujukku agar Ibu mau menceritakan kisahnya.
"hmm...kamu pasti tidak percaya dengan yang Ibu bilang nanti."
"yaah bilang dulu Bu,aku kan jadi penasaran."
"dulu Ibu sama Ayah ketemu dikampus," ucap Ibu sekilas melirik kearah Ayah yang sedang sibuk memainkan ponselnya.
"Ayah kamu dulu suka mengirim surat puisi untuk Ibu."
"apaaa??? Ayah? mengirim surat puisi?? untuk Ibu??" tanyaku tak percaya.
"ya ampun romantisnya."
"yang paling lucu kamu mau tau??" seru Ibu membuatku semakin tertarik mendengar cerita Ibu.
"Ayah kamu pernah jatuh ke parit setelah berhasil melamar Ibu." kekeh Ibu pelan membuatku tertawa cekikikan.
Astaga,seorang Ayah yang diam cuek gitu,bisa salah tingkah juga didepan seorang wanita. Ya ampun Ayah,kenapa kau begitu dingin dengan anak-anak mu ini.Huhuhuhuhu. gumamku pelan.
"ayoo bicarakan apa nih?" tanya Gazza yang ikut duduk bersama kami.
"ngapain Abang nimbrung sini. Hush..hush sana. orang kami lagi gosip." usirku cepat.
"haiih,Ibu lihat anak bungsu ibu tuh. daritadi buat kesal aja nih anak." gerutu Gazza.
"ya ampun bang,ngapain juga adik comel,menggemaskan,imut kayak aku ini membuat Abang kesal sih. Aku ini sangat baik lhoo bang." ucapku membanggakan diriku sendiri. Gazza menghendus kesal.
__ADS_1
"idih jijik." ledek Gazza. Lalu ia menoleh kearah Zayyan. "Zay!!" teriaknya membuat siempunya nama menoleh kearah Gazza.
"sini!!" ajaknya membuat Zayyan berjalan pelan kearah kami. Aku mendongak kearah Zayyan yang sudah didepanku.
"kenapa?" tanya Zayyan menatap kami bingung.
"nggak ada manggil aja. Ini Ibu sama Dasha lagi menggosip." ucapnya asal.
"lalu?" tanya Zayyan bingung.
"ih kalian berdua ngapain sih kesini,sana bantuin Ayah tuh. Kami lagi ngapain bumbu-bumbu makanannya. "ucapku.
Zayyan berjongkok menyamakan tingginya denganku, "kamu bisa masak?" tanya Zayyan.
"buahahaha suami sendiri tidak percaya istrinya bisa masak." ledek Gazza membuat Ibu menatap Gazza tajam.
"jangan digituin adeknya." ucap Ibu memperingati,membuat Gazza kembali diam bungkam.
Aku juga menoleh tajam kearah Gazza, bisa-bisanya ia meremehkanku. "yalah...yalah aku nggak pande masak. Coba kau masak bang." tantangku meliriknya membuat Gazza terkejut. Zayyan pun mendukung tantangan ku.
"nah benar tuh,ayolah Za. Kau tadi mengejek istriku kan???" Zayyan dengan wajah iblisnya.
"alah kau pun sama Yan,kau tadi meragukan istrimu memasakkan??"
"enggak tuh,ya kan sayang. Ada aku bilang gitu tadi??" tanya Zayyan menatapku. Aku tidak fokus setelah mendengar kata 'sayang' yang baru saja terlontar dari mulut suamiku. Spontan aku menggeleng pelan.
"nah,Istriku saja menggeleng. Sekarang masak dong cumi bakarnya untuk kita yaa." ucap Zayyan seenaknya lalu mengambil cumi yang sudah Ibu dan Aku bumbuin tadi,lalu menyerahkannya pada Gazza. Sedangkan Ibu hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan kami.
"nih Abang ipar,masak yang enak yaa." seru Zayyan.
"sialan kau!" umpatnya pelan tetapi tetap menerima ayam itu dan berjalan menuju tempat pemanggang yang sudah disiapkan. Zayyan langsung bertos ria padaku.
"kasihan Gazza,udahlah tendanya roboh,trus jomblo lagi." ledek Zayyan pelan.
"aku dengar yaa Zayyan!!!" gerutunya dari jauh sontak membuat kami tertawa lepas. Aku langsung merekam kegiatan langka itu.
__ADS_1