
Aku berjalan cepat menuju Elisa yang tengah membaca buku di perpustakaan. Sejarah sekali Elisa memasuki area yang sangat tidak disukai gadis itu. Tapi kali ini aku sungguh takjub padanya.
"tumben banget ke sini? nggak salah makan obat kan?" ocehku pelan menatap Elisa. Elisa yang tadinya fokus membaca buku tebal itu mendongak kearahku.
"siapa bilang aku membaca buku tebal gini," ucap Elisa,ia pun menunjukkan buku tebal yang dipegangnya itu kearahku.
"aku cuman nyari sumbernya doang untuk tugasku." cengirnya menatapku,aku menggeleng heran melihat Elisa.
"astaga ku kira kau jadi anak rajin, rupanya mengunjungi perpus hanya ngerjain tugas doang." ucapku lalu duduk disamping Elisa.
Elisa terkekeh pelan, "eh Sha,tugas yang ini kau sudah selesai?" tanyanya padaku.
"udah lama aku ngerjain dah." ucapku sambil mengambil air mineral dari ranselku.
"cepatnya,aku aja baru ingat ada tugas. Padahal deadlinenya besok."
"makanya kerjainnya diawal,jadi tinggal santai aja kita. Nggak kelabakan pas dekat deadline." ucapku lagi.
Elisa memberengut,ia pun tetap lanjut mengerjakan tugasnya.
"El,aku mau ngomong sesuatu," ucapku membuat Elisa menoleh kearahku dengan raut penasaran.
"aku mau nikah besok." ucapku berbisik pelan membuat Elisa yang mendengar hal itu spontan menghentakkan meja keras.
Braak.
Suara hentakan itu membuat semua penghuni perpustakaan menoleh kearah kami. Aku segera meminta maaf kepada mereka semua. Elisa masih syok menatapku, "co-coba kau bilang sekali lagi Sha!"
"aku mau nikah besok,El." ucapku lagi menyakinkan pendengaran gadis didepanku ini percaya dengan apa yang aku ucapkan.
"what?! benaran?? seriuslah?!" tanya Elisa menatapku tidak percaya. Aku mengangguk yakin kearahnya.
Elisa langsung menarik ku keluar dari perpustakaan. Ia seolah melupakan tugas yang harus ia selesaikan hari ini. Mendengar aku yang memberitahukan berita penting itu membuatnya penasaran dengan kelanjutan ceritaku semuanya.
"katakan padaku Sha,kau menikah dengan siapa?" tanyanya mulai mengintrogasiku,saat ini kami berada didalam mobil Elisa.
"hmm aku nikah dengan Zayyan." jawabku pelan.
"apaa??!! ba-bagaimana bisaa? gimana ceritanya?" tanyanya beruntun lagi.
Aku berpikir sejenak,tidak mungkinkan menceritakan yang sebenarnya pada Elisa. Walaupun Elisa adalah sahabatku yang baik,tetapi Aku enggan terbuka dengannya. Trauma dulu masih melekat dikepalaku dan aku tidak ingin terulang lagi melakukan hal yang sama. Cukup aku dan keluargaku saja yang tau tentang hal itu.
__ADS_1
Aku pun berpikir mencari jawaban yang tepat untuk menceritakan alibi kepada Elisa, "gini...kau masih ingat bukan yang pernah aku ceritakan waktu itu??"
"yang mana?" tanya Elisa bingung.
"itu yang pas aku ada bentak Vanya sama Afran karna masalah aku nggak mau pacaran sama dia."
Elisa langsung menggangguk tanda ia mengingat ceritaku waktu itu, "ooo yang itu,lalu?"
"nah, rupanya kak Zayyan mendengar pernyataan ku itu. Trus dia langsung menghampiriku pas pulang." jelasku lagi.
"serius? ya ampun trus...trus" seru Elisa tambah penasaran.
"hmm terus dia lamar aku langsung,dan aku bilang sama dia coba bicara sama Ayahku kalau berani." ucapku.
"berani dia?" tanya Elisa lagi.
"berani,bahkan Ayah langsung setuju lho dengannya. Aku pun takjub bisa membuat Ayah setuju akan pernikahan ini. Jadinya kami sepakat menikah besok."
"wooow cepat sekali,kalian menikah besok?? serius Shaaa aku nggak nyangka lhoo ya ampun." pekik Elisa menatapku tak percaya.
"kau yang jomblo begini,nggak mau pacaran tapi langsung nikah?? wah...wah...mantap!" seru Elisa memujiku. Aku hanya tersenyum simpul padanya.
Benar juga,bagaimana bisa aku dengan mudah aku menerima pernikahan yang akan kujalani sekali seumur hidupku?? hahahaha oh iyaa aku kan menerima pernikahan ini karna dua hal yang sangat kubutuhkan saat ini. Astaga konyol sekali diriku saat mengingat hal itu. gumamku tanpa sadar tersenyum malu.
"cie...ciee ada yang malu-malu nih. Jadi sebenarnya kau suka yaa sama kak Zay??" tebak Elisa membuatku menoleh kearahnya.
"suka?" ucapku ulang, tiba-tiba saja aku teringat tentang kejadian saat mengambil boneka di Mall kemarin.
Cih,hilangkan pikiran tentang itu Dasha...Ya ampun Zay,kau membuatku tidak tidur semalaman gara-gara teringat itu terus!!!. geramku dalam hati.
"iyaa." jawab Elisa.
"hmm mungkin memang iyaa,aku juga tidak menyangka akan mudah menerima lamarannya." jelasku asal sambil menggaruk tengkukku tidak gatal.
"ya ampun lucu sekali kau ini!! selamat yaaa sudah mau menikah. Tapi,sha aku bingung harus pakai gaun apa,kalau satu bulan lagi masih bisa aku buat gaun pesta dulu." ujar Elisa mengingatkan aku untuk memberikan gaun padanya.
Aku langsung membuka ranselku dan memberikan gaun dan undangan itu pada Elisa.
"nah,kau tidka perlu khawatir,aku sudah mempersiapkan semuanya kok. Asal besok kau datang yaa." ucapku membuat Elisa sumringah senang sambil menerima gaun berwarna maroon kesukaannya,ia pun langsung memelukku.
"huwaah makasih banyak Shaa!!! aku pasti akan datang ke pernikahanmu besok!" pekik Elisa semangat.
__ADS_1
"oh ya,apa kau hanya mengundangku atau anak kampus yang lain juga?" tanya Elisa memandang undangan moka yang ada ditangannya.
"hmm tidak,aku hanya mengundang keluarga besarku sama kau saja.kak Zayyan hanya punya kakek,jadi tidak banyak yang diundang sih. Aku tidak ingin merepotkan yang lain." jelasku lagi.
"kau memang sangat baik hati yaa,ya sudahlah karena hari ini kau terakhir sebagai gadis single,izinkan aku membawamu nonton bioskop teman." ajak Elisa sambil menghidupkan mesin mobilnya.
"tapi,mobilku masih disini El." seruku mengingat mobilku tak jauh terparkir dari mobil Elisa.
"oh iyaa yaa lupa,ya udah bawa aja dulu mobilmu Sha. Kita antar kerumahmu dulu mobilnya,abis tuh pakai mobilku baru nonton bioskop." usul Elisa,aku langsung menggangguk setuju dan keluar dari mobil Elisa.
Aku berjalan menuju mobilku,baru saja diriku hendak masuk kedalam mobil. Aku melihat seseorang sedang dirudung oleh beberapa sekelompok. Sepertinya mahasiswa kampusku,Aku langsung menutup pintu mobil dan berjalan kearah mereka.
"apa yang kalian lakukan?" tanyaku membuat semua orang itu menoleh kearahku.
"eh? ini Dasha yang gadis populer itu kan?" tanya salah satu dari mereka. Yang lainnya mengangguk setuju dan tersenyum kearahku.
"oh ini bukan apa-apa Sha,kami ingin memberi pelajaran padanya." jelas salah satu geng itu lagi.
"maksudnya?" tanyaku lagi lalu memandang gadis lusuh yang tertunduk. Aku curiga dengan mereka,aku yakin yang mereka maksud memberi pelajaran adalah merudung gadis malang ini. Aku tidak bisa membiarkan gadis itu semakin tertekan karena mereka.
"ya ampun kakak Dasha,jangan ikut campur urusan kami yaa. Ini nih kami memberi pelajaran untuknya karena berani merebut pacarku, padahal dia ini hanyalah gadis miskin yang tidak tau diri." ketus gadis yang sepertinya pemimpin dari mereka.
Aku tidak suka dengan nada bicaranya,aku langsung berjalan mendekati mereka sambil melipat tangan didada. "wah,kalau gitu aku tidak bisa membiarkan ini terus berlarut. Kau yang bodoh atau pacarmu yang pandai berbohong?? mungkin saja kan,pacarmu itu duluan yang mendekati gadis ini." ucapku menatap remeh kearahnya.
Ucapanku tadi sukses membuatnya marah,menatap nyalang kearahku dan mendekatiku dengan wajah angkuhnya.
"kurang ajar kau!! berani sekali menuduh pacarku,ku tekankan sekali lagi. Pacarku itu tidak pernah sekalipun mengkhianatiku." ucapnya dengan yakin.
"oh yaa?? buahahaha kau percaya dengan laki-laki seperti itu?? ya ampun dasar bodoh." ucapku memandang dingin kearahnya. Gadis didepanku ini adalah gadis terbodoh yang pernah aku temui dalam hidupku. Bisa-bisanya membela laki-laki brengsek yang tidak diketahui sifat asli sebenarnya.
"berani sekali kau!!,hei kalian buat kakak Dasha yang populer ini menangis!" titahnya pada kedua orang dibelakangnya. Kedua orang itu langsung menuruti kemauan gadis angkuh itu,dan dengan segera menarik tanganku.
Aku menghela napas lalu dengan cepat membekuk salah satu tangan gadis yang mencengkram tanganku.
Bruuk. Aku langsung menghantam tangannya kearah cap mobil disampingnya.
"aakhh." pekiknya kesakitan saat tangannya ku hantam kearah mobil itu.
Tindakanku membuat para pembuli itu terdiam begitu juga dengan gadis malang yang terkejut melihatku.
"jangan menguji kesabaranku." ucapku dingin membuat semuanya tidak bergeming ditempat bahkan gadis angkuh tadi tidak berkutik apapun.
__ADS_1