I Know Your Secret

I Know Your Secret
Takdir Kita Unik Bukan?


__ADS_3

Deg.


Jantungku berdetak kencang terngiang dengan kalimat yang baru saja terlontar dari mulut suamiku itu. Walaupun dengan bentakan tetapi tetap saja membuat jantungku keluar dari tempatnya.


"uh sial." umpat Zayyan Kasak-kusuk sambil menggaruk tengkuknya tidak gatal. Aku hanya diam bingung menatapnya masih dalam mode loading.


"kau kenapa sih kak?!" kesalku menatap Zayyan mondar-mandir kayak setrika. Harusnya tadi aku terharu atau baper dengan ucapannya meluap begitu saja menatap gusar pria itu.


"diam!" sentaknya membuatku tambah kesal.


sumpah nih orang,tadi udah buat anak orang baper...eh tau nya endingnya malah gini. gerutuku kesal.


"aiih bisa nggak sih tenang?!" bentakku lagi menatapnya heran.


"diamlah dulu!" gerutunya kembali mengacak-acak rambutnya.


"ah sudahlah,aku pergi duluan." ucapku jengah dengan kelakuan pria itu. Daripada tensiku naik hanya mendengar bentakannya terus.


"jangan pergi sendiri!" ucapnya sambil menahan lenganku.


"lalu aku harus pergi sama siapa?!"


"sama akulah bodoh. Nanti kau dikejar lagi sama preman sialan itu." ketusnya sambil menggenggam tanganku.


"apasih kak? kok kau hari ini sensi kali??!" tanyaku heran dengan kelakuan Zayyan hari ini. Zayyan tampak acuh tak acuh berjalan sambil menggenggam ku keluar dari gang sempit ini.


Hatiku berdesir saat merasa hangat digenggam pria ini,aku merasa akan baik-baik saja ketika bersama dengannya.


"kak,bagaimana kau menemukanku disini?" tanyaku penasaran. Zayyan hanya diam dan tidak menjawab apapun,membuatku kembali diam tidak bersuara.


Akhirnya kami sampai dirumah sakit,lebih tepatnya sudah berada didepan ruang inap kakek. Aku melepaskan genggaman tangannya dan berjalan sambil mengetuk pintu kamar kakek.


"maaf." ucapnya pelan membuatku berbalik kearahnya. "aku juga minta maaf kak,dan terimakasih sudah menolongku tadi." ucapku pelan sambil tersenyum tipis kearahnya,begitupun juga dengan Zayyan.


"ayo." ajaknya mendorongku masuk kedalam ruang kakek. Baru saja suasana sendu tadi langsung berubah 180 derajat berubah kesal menatap pria itu.


"cih,ngapain kau mendorongku kak?!" kesalku menatapnya.


"kau lambat seperti siput." ucapnya tanpa dosa lalu menghampiri kakek. Kakek menghela napas melihat perdebatan kami.


"kenapa matamu sembab sayang?" tanya kakek khawatir saat melihat mataku.


"aku barusan dikejar guguk kek,makanya aku nangis tadi." ucapku asal membuat Zayyan menghendus pelan.


"makanya lain kali,ini kamu juga Zayyan. Jaga istrimu dengan benar!" ucap Kakek menatap kearah Zayyan.


"iya... iyaa kek." ucapnya pasrah.


Kami terus berbincang-bincang sampai langit menunjukkan senjanya. Sebenarnya aku ingin pulang dan istirahat dirumah,tapi kakek disini sendirian. Akhirnya akupun memutuskan untuk tetap menginap dirumah sakit. Aku menoleh kearah sofa yang tampaknya cukup untuk ku tidur.Aku berjalan cepat berbaring disofa,aku menyibak rambutku pelan sambil menatap langit kamar inap kakek.

__ADS_1


"apa yang kau pikirkan?" tanya Zayyan menatapku tengah berbaring disofa. Aku melirik kearahnya, "tidak ada." ucapku pelan, tiba-tiba Zayyan mengangkat kepalaku dan ia pun duduk disofa,setelah itu diletakkannya kepalaku diatas pahanya. Ingin ku protes dengan tindakannya namun aku urung karena melihat dirinya tampak lelah.


Zayyan bersandar disofa sambil memejamkan matanya,aku mendongak keatas menatapnya, "kau lelah?" tanyaku pelan,Zayyan pun mengangguk.


Aku merasa kasihan melihatnya,aku langsung terbangun dari posisiku namun Zayyan mencegatku.


"biarkan aja seperti ini." lirihnya pelan membuatku kembali meletakkan kepalaku dipangkuan pria itu.


Aku melirik kearah kakek yang sudah tertidur lelap akibat bius yang baru saja diberikan oleh perawat.


"mau aku belikan kopi atau teh?" tawarku mendongak kearahnya,Zayyan menggeleng pelan.


"hmm mau makan malam?"


"tidak,aku ingin istirahat." ucapnya lagi.


"kalau kau ingin istirahat,mending kita gantian." ucapku langsung bangun dari posisiku dan menyuruh Zayyan berbaring.


Awalnya Zayyan enggan,namun aku terus memaksanya sampai akhirnya ia pun pasrah mengikutiku. Aku meletakkan kepala Zayyan diatas pangkuanku sambil mengelus rambut tebal pria itu.


"aku minta maaf sudah membentak mu tadi." ucapnya sambil menikmati elusanku.


"sudahlah,aku juga salah dalam hal ini kak." lirihku sekilas menatap kakek, "aku yang terlalu ceroboh tidak memperdulikan sekitar. Harusnya aku langsung membersihkan air yang tumpah tadi kak."


"ini pertama kalinya aku membentak wanita."


"what?? cih,kau membuat kenangan buruk jadinya kak." protesku menghela napas kasar.


"masa? kau itu tampan kak,masa iya nggak pernah pacaran?" tanyaku tidak percaya.


"terserah akulah." ucapnya,aku langsung menjitak pelan kepalanya. Zayyan menatap tajam kearahku.


"santai aja wajahnya bang,dah pejamkan matamu lagi." ucapku sambil menutup matanya Zayyan.


"barusan kau memanggilku 'abang'."


"Aku tertegun, "ah masa?"


"kau harus memanggilku dengan sebutan itu dek." ucapnya santai.


"what? kau memanggilku adek?!" pekikku


Zayyan langsung menutup mulut cemprengku dan menatap tajam kearahku. "jangan teriak,kau bisa membuat kakek bangun bodoh." gerutunya.


"hei itu bukannya menggelikan dengan panggilan itu nggak sih kak?" ucapku merasa aneh dengan panggilan abang-adek itu.


"kau aja yang merasa aneh,aku tidak." ucapnya lagi lalu memejamkan matanya.


"aku manggilnya adeks bukan adek."

__ADS_1


"hah?" aku bingung menatapnya.


"huft,aku memanggil namamu Dasha." ucapnya pelan.


"apasih kak,nggak jelas."


"Adibah Dasha Elnara Kamania Salsabilah,disingkat Adeks. Masa itu aja kau nggak bisa."


Aku kembali menjitak kepalanya, "hei kak,aku ini bukan cenayang yang bisa tau apa yang kau pikirkan. Mana kutahu kalau kau menyingkat namaku." gerutuku lagi.


"alasan."


Aku menghela napas pelan,memang kalau sudah berdebat dengan Zayyan bawaannya selalu emosi. Entah terbuat dari apa suamiku itu.


"cih,kak yang kau katakan tadi benaran?" tanyaku menatap lekat kearahnya.


Zayyan membuka matanya,lalu menatapku, "yang mana?"


"yang kau bilang pernyataan cinta tadi." jelasku lagi. Aku sangat penasaran apa benar yang dikatakan pria itu.


Zayyan terdiam sejenak lalu mengangguk pelan.


"sejak kapan kak? kapan?" tanyaku lagi penasaran.


woaah ini rasanya ditembak pria. pekikku dalam hati,namun aku tidak menunjukkan ekspresi itu pada Zayyan.


"sejak SMA." ucap Zayyan pelan.


Deg. Aku berhenti mengelus kepala Zayyan,fakta itu membuatku menyerngit bingung dan cemas.


"SMA?" tanyaku lagi,dan Zayyan pun langsung mengangguk.


"masa? kita kayaknya nggak satu sekolah deh. Kita pertama kali bertemu kan dikampus kak. Eh,lebih tepatnya di perpus." ucapku lagi.


Zayyan menggeleng pelan, "bukan,kita pertama kali bertemu saat SMA,ya kan gadis culun?" ucap Zayyan sambil tersenyum tipis.


Aku terkejut spontan mendorong Zayyan jatuh dari sofa.


Bruuk.


"aauw, Dasha kenapa kau suka kali hobi menjatuhkan orang??" gerutu Zayyan sambil memegang bokongnya. Sedangkan aku hanya diam menatap Zayyan.


"Ba-bagaimana bisa kau tau tentangku dulu??" tanyaku terbata-bata.


Zayyan menghela napas pelan, "kau adalah orang yang memberikan roti padaku,ingat?"


Aku menyerngit mengingat kembali masa kelam itu dan saat baru menyadari jika pria ini adalah pria tampan yang sering menjadi bahan perbincangan sekolahnya dulu,pria yang susah didekati dan dingin itu menurut gosip sekolah. Orang yang digosipin itu sekarang dia berada dihadapanku,yang selalu bertengkar denganku,yang selalu mengejekku,dan dia juga adalah suamiku.


Ya ampun takdir macam apa ini? bagaimana aku tidak menyadarinya dari awal? Ahhh gilaaaa!!pekikku dalam hati tidak percaya sambil menutup mulutku.

__ADS_1


Zayyan yang menyadari raut ekspresi ku tersenyum miring menatapku, "takdir kita unik kan?" ucapnya menatapku.


__ADS_2