I Know Your Secret

I Know Your Secret
Misi Membeli Bensin


__ADS_3

Aku membuka mataku pelan menatap sekeliling ruang yang tampaknya terlihat asing,aku terkejut dan spontan langsung terduduk menatap semuanya sampai mataku menoleh kesamping.


"Anj***r!!" umpatku terkejut mendapati suamiku masih tertidur pulas disampingku,bahkan jarak pria itu denganku sangatlah tipis. Zayyan terbangun mendengar umpatanku dan mengerut keningnya, "apa sih?!"


"kak kita ada dimana?!" tanyaku panik. Zayyan terbangun dan menoleh malas kearahku, "cih kau ini,tentu saja ini homestay yang kau pesan tadi malam. Apa kau lupa?" tanyanya sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"astaga,kenapa aku bisa lupa hahahaha,ya ampun." gelakku saat mengingat semua situasi yang kualami. Zayyan langsung turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.


"tapi tidurku nyenyak sekali tadi malam,nggak biasanya aku tidur senyenyak itu." ucapku melirik kearah jendela kamar. Pemandangan yang berbeda dari kota. Disini sangat tenang dan damai,Aku mengikat rambutku lalu berjalan keluar menghirup dalam-dalam udara segar di pagi hari.


"woah embun pagi." seruku melihat langit dipagi hari sedikit berembun,tidak ingin kehilangan momen pemandangan yang indah ini,aku langsung mengambil ponselku dan terkejut mendapati puluhan panggilan tidak terjawab dan pesan didalam ponselku.


"astagfirullah,aku lupa memberi tau pada keluargaku,ckck mereka pasti sangat khawatir." ucapku langsung menghubungi keluargaku. Sesuai dugaanku,mereka langsung menghambur banyak pertanyaan padaku,aku tergelak pelan sambil menjelaskan semua situasi yang kualami kemarin.


Setelah puas,aku langsung mengakhiri pembicaraanku lalu menoleh kearah Zayyan yang sedang mengeringkan rambutnya.


Gilak makin tampan dia!!. gumamku semakin mengagumi paras tampan suamiku. Aku semakin bangga telah menjadi istrinya sekarang.


"kenapa liat-liat?" ketusnya membuat senyumku langsung menghilang seketika. Aku memandang malas kearahnya lalu berbalik melihat pemandangan. Aku langsung memotret pemandangan itu.


"nice." ucapku puas melihat hasil jepretan dari ponselku.


"pulang?" tanya pria itu tiba-tiba sudah berdiri disampingku. Aku menoleh kearahnya, "haiis,jangan pulang dulu. Aku ingin melihat-lihat daerah ini,serius aku suka kali kesini." ucapku senang.


"terserah kau saja." ucapnya sambil memakai jaket miliknya. Zayyan berjalan menuju mobil mengambil sesuatu. Aku penasaran mengikutinya dari belakang, dan melihat ia tengah memasang kacamatanya.


"kak kau minus?" tanyaku menatap kearahnya.


"nggak,aku hanya ingin pakai aja."


"lah,matamu kan bagus kak,kenapa harus pakai kacamata?" tanyaku lagi. Aku sangat penasaran dengan sosok misterius suamiku ini. Zayyan menatapku intens dengan tatapan yang susah kuartikan. Entah apa yang dipikirkannya saat melihat kearahku, "terserah akulah." ucapnya.


Aku menggerutu kesal berjalan kearah kantin kecil yang disediakan dihomestay itu. Begitu juga dengan pria itu mengekorku dari belakang.


"mau pesan apa nak?" tanya Ibu itu sopan saat kami sudah duduk. Aku melirik menu makanan yang dipasang spanduk,dan menoleh kearah Zayyan.


"kak,kau mau sarapan apa?" tanyaku.


"hmm ikut aja." ucapnya yang masih asyik mengutak-atik ponselnya. Aku langsung memesan lontong dan teh panas. Sambil menunggu aku memainkan ponselku.

__ADS_1


"oi." panggil Zayyan,aku menyerngit bingung menoleh kearahnya, "kau memanggilku kak?" tanyaku.


"iyaa."


"haiis aku ini punya nama lho. Bisa tidak lembut sedikit??" ucapku kesal menatapnya.


"kau mau aku panggil apa?" tanyanya menoleh kearahku,aku berpikir sejenak mencari nama panggilan yang bagus.


"lama,mending adeks aja aku panggil." ucap Zayyan memutuskan,aku lagi-lagi menyerngit heran kearahnya, "adeks? kenapa aneh sekali namanya." ucapku tidak terima jika dirinya dipanggil dengan nama aneh itu.


Zayyan tampak menghela napas pelan, "cih,itu namamu sendiri." ucapnya lagi.


"namaku? sejak kapan namaku ada adeksnya."


"ada."


"mana ada kak,kau ini ngawur sekali."


"ck,kau ini keras kepala sekali,ada lhoo."


"cih,mana ada suamiku." ucapku spontan membuat dirinya terdiam. Aku langsung tersadar setelah aku memanggil dirinya dengan sebutan 'suamiku'.


Aku langsung cepat menutup pintu dan mengusap wajahku kasar,sambil menggerutu pelan.


"astaga,bisa-bisa nih mulut nggak ada akhlak." gerutuku pelan. Lalu aku melihat kearah cermin, "ya ampun malu sekali." ucapku lagi.


"adeks? kenapa rasanya tidak asing dengan panggilan itu yaa??" gumamku pelan mengingat saat Zayyan mengusulkan memanggilku dengan panggilan 'Adeks'.


"sudahlah lupakan saja,aduh kan jadi malu ketemu sama dia." gerutuku lagi.


"eh,tapi kan benar dia memang suamiku,hanya saja saat ini hubungan kami masih canggung." ucapku pelan sambil menggaruk tengkukku tidak gatal. Aku menarik napas sambil menepuk pipiku pelan.


"yok Dasha,jangan malu!" ucapku tegas. Dengan perlahan aku membuka pintu melirik sekitar tempat duduk kami,tetapi aku tidak menemukan pria itu duduk disana.


"kau buang air kecil atau buat toilet sih?,lama kali." ketusnya berdiri disampingku,aku terlonjak kaget sambil spontan memukul lengannya kuat.


"ya Allah kak,buat kaget aja!!"


"cepatlah,itu lontong yang kau pesan sudah datang." ajaknya berjalan mendahuluiku dan duduk ditempat kami tadi,aku pun mengekor dirinya dibelakang. Setelah itu kami hanya diam sambil menikmati sarapan masing-masing.

__ADS_1


"kau mau kemana?" tanyanya setelah kami selesai makan,aku yang hendak berdiri kembali duduk menatapnya, "aku mau ke kamar kak,emangnya kenapa?"


"samaan,bentar aku bayar dulu." ucapnya berjalan menuju kasir,setelah membayar Zayyan mendekatiku dan menggenggam tanganku, "yok."


Jantungku berdebar-debar saat melihat tangan Zayyan menggenggam tanganku,rasanya hangat dan nyaman. Tanpa terasa kami sudah berada dikamar,barulah Zayyan melepaskan genggamannya.


"yok,cepat kita bereskan ini. Lalu pulang." ucapnya pelan sambil mulai memasukkan barang-barang kedalam ranselku. Aku pun mengangguk dan membersihkan pernak-pernik elektronik ponselku. Setelah semuanya beres dan merasa tidak ada yang ketinggalan lagi. Aku dan Zayyan langsung menghampiri pemilik homestay itu.


"berapa Buk?" tanyaku sambil mengeluarkan dompet dari ranselku. Ibu itu menyebutkan harganya dan aku langsung membayar sekaligus mengucapkan terimakasih.


"oh ya Buk,disini kalau mau beli bensin dimana ya?" tanya Zayyan pada ibu pemilik itu. Aku menepuk jidat pelan saat menyadari jika mobilku sekarang mulai kehabisan bensin.


"walah,kalian kehabisan bensin yaa?? hmm disini pom bensin sangat jauh nak. Atau gini aja,kalian beli aja dulu bensinnya pakai dirigen ibu." jawab Ibu itu sambil mengambil dirigen kosong dibawah kursinya,


"wah,maaf ya Buk kami jadi merepotkan ibuk." ucapku pelan merasa tidak enak.


"nggak papa nak,nah ini kunci motor saya. Kalian beli aja dulu bensinnya di pom kecil ditepi jalan. Kalau nggak salah 500 meter dari sini ada tuh." jelas Ibuk pemilik homestay itu.


"terimakasih buk," ucap kami serentak,kami pun langsung menuju tempat parkir motornya pemilik homestay itu.


"kak Zay,kau bisa bawa motor kan?" tanyaku pelan menatap pria itu tengah menghidupkan motor.


"bisalah,aku aja sering bolak-balik pakai motor kok." ucapnya sambil memakai helm,ia pun langsung memakaikan helm satu lagi padaku.


ceklik. suara klik pengaman helm yang kupakai,aku tidak menyangka Zayyan seperhatian itu padaku.


"terimakasih." ucapku pelan. Zayyan mengangguk dan menepuk pelan kursi belakang, "naik."


Aku pun langsung naik kebelakang Zayyan dan memeluk pria itu dari belakang agar aku tidak jatuh karena pria itu dengan kurang ajarnya membawa motor itu laju-laju.


"woi kak,pelan-pelan dong. Ini motor orang kalau rusak gimana??!" gerutuku sambil sedikit teriak karena angin terus menerpa kami.


"apa???" tanya Zayyan yang ikut juga teriak.


"aku bilang pelan-pelan!!!" teriakku lagi.


"apaa? kau suka laju-lajuu??"


Cih,dasar pekak,bukan itu maksudnya suamiku. gerutuku pelan dalam hati,aku harus menghela napas menghadapinya. Aku semakin mengeratkan memeluk pria itu dari belakang karena pria itu semakin mempercepat kecepatan motornya.

__ADS_1


"ya Allah lindungi kami." lirihku pelan sambil berkomat-kamit. Aku hanya bisa pasrah membiarkan Zayyan melajukan motornya.


__ADS_2