
Aku lagi-lagi menyerngit bingung menatap abangku dan Elisa. Mereka tampak enggan melirik satu sama lain, seperti ada masalah diantara keduanya. Aku semakin yakin mereka ada masalah karena melihat Elisa hanya diam tanpa menoleh kearah Gazza seperti yang biasanya ia lakukan. Gadis itu sangat menyukai Gazza,namun abangku itu tidak menyukainya.
"haduh." gumamku pelan jengah melihat mereka,lalu mataku beralih kearah Zayyan yang tengah sibuk menatapku.
"apa kau tidak bisa mengerjakan hal lain selain menatapku bang?" tanyaku resah ditatap terus oleh suamiku.
"huft,suka hati aku lah,kan aku yang punya mata." ketus Zayyan.
"haiss menyebalkan." gerutuku lagi.
"Za,aku pergi bentar. Tolong jangan biarkan bocah ini keluar!" titah Zayyan menunjuk kearahku.
"aku bukan anak kecil." ketusku tidak terima dikatakan bocah.
"kau memang anak kecil,masa mengemudikan mobil aja nggak bisa."
"heh,aku udah pro yaa bawa mobil,kau jangan ngadi-ngadi bang. Demi menyelamatkan nyawa orang aku rela yaa nabrak tuh pohon."
"sudah...sudah,kalian ini kayak kucing sama tikus aja,apa kalian tidak pernah akur sehari hah?" ucap Gazza jengah dengan pertengkaran kami berdua.
"pernah." ucap kami serentak,lalu kami saling menoleh dan menatap tajam.
"kapan?" tanya Gazza penasaran.
"udah lama,jauh....jauh sebelum abad Masehi,hehehehe." cengirku membuat Gazza seketika menggerutu kesal.
"ini otaknya ikutan gesrek karena tabrak pohon nih. Sakit nggak nabrak pohonnya? gimana rasanya nabrak pohon?"
"emang nabrak pohon ada rasanya bang?"
"cih kau itu!!" gerutunya lagi,lalu berjalan keluar. Tetapi aku dapat melihat jika Gazza sempat berhenti didepan Elisa dan menatap Elisa dengan tatapan yang tidak biasa,lalu melenggang keluar.
Cih,aku jadi penasaran mereka kenapa yaa?? gumamku pelan.
"Elisa,kenapa kau berdiam diri disitu?" tanyaku langsung memanggilnya masuk. Dengan langkah kikuk Elisa masuk dan berjalan kearahku.
"kenapa bisa sampai begini Sha?" tanyanya menatap luka yang kudapatkan. Aku hanya tersenyum sambil menggaruk tengkukku tidak gatal.
"hehehehe namanya juga musibah. Ini juga jadi pelajaran buatku kok." jawabku.
"cih,lain kali kau harus hati-hati Sha,ya ampun." gumamnya lagi lalu duduk disampingku.
Melihat rautnya yang tidak biasa membuatku semakin penasaranku membuncah.
"El,aku mau nanya sesuatu."
"apa itu?" tanya Elisa sambil mengupas apel ditangannya.
__ADS_1
"ada apa kau dengan bang Gazza,kayaknya kalian ada Masalah?" tanyaku pelan.
Mendengar hal itu Elisa langsung berhenti mengupas apelnya dan menatapku sendu.
Elisa menggeleng pelan, "ah tidak ada,mungkin perasaan kau aja keknya." kilahnya lalu melanjutkan mengupas apel untukku.
Tetapi,firasatku kau menyembunyikan sesuatu El. gumamku lagi. Tetapi,aku juga tidak bisa memaksa dirinya untuk bercerita masalah pribadinya. Biarlah mereka menyelesaikan masalahnya sendiri,selagi batas wajar aku pun tidak masalah membiarkannya.
"nah,sudah kukupaskan Sha." ucapnya sambil menyodorkan apel itu padaku.
"thanks." seruku sambil memakan potongan apelnya.
"menurutmu aku kayak mana orangnya?" tanya Elisa tiba-tiba membuatku menyerngit bingung kearahnya.
"apa maksudmu El?" tanyaku.
"yaah,aku ini orangnya kayak mana,nih jujur yaa Sha. Jangan bohong." serunya antusias menunggu tanggapan dariku.
"kau itu sangat baik El."
"masa iyaa cuma itu aja Sha? serius lah."
"ya yaaa kau itu terlalu baik El. Apa kau tau kau sering dimanfaatin orang?" ucapku menatap lurus kearah sabahatku. Memang walaupun Elisa doyan makan tetapi hatinya selembut sutra. Hati gadis itu terlalu mulia untuk dimanfaatkan. Aku begitu kasihan dengannya.
"aku? huft memangnya aku terlalu baik ya Sha?" tanya Elisa menatapku.
Aku mengangguk cepat, "banget malah. Aku kasihan liat kau dimanfaatin trus, nggak capek apa?" tanyaku menatapnya iba.
"kau tidak boleh terlalu baik El,nggak semua orang patut kita bahagiakan,cukup dirimu sendiri pedulikan beb, pedulikan kau itu juga manusia nggak bisa semuanya kau yang lakukan El. Aku salut liat kau begitu baiknya dengan semua orang. Aku bahkan iri denganmu,kau punya hati yang begitu tulus." lirihku pelan,memang tidak dipungkiri jika Elisa adalah sabahatku. Aku merasa beruntung memiliki sahabat sebaik dirinya.
"ah,kau terlalu berlebihan sha. Tapi,yaa kau memang benar. Aku juga lelah dengan semua ini,aku ingin berteman dengan tulus tetapi ada juga orang yang tega memanfaatkan ku doang." lirihnya memandang nanar kearah langit ruangan.
Aku menghela napas, "untuk itu kau harus berubah mulai dari sekarang,jangan mau dimanfaatkan orang okee."
"okee,ingatkan aku yaa,kadang aku khilaf hehehe."
"aman." seruku langsung bertos ria dengannya.
***
"kau itu ngeyel kali dibilangin!" geram Zayyan menatapku duduk di tepi jalan sambil menunggu pesanan martabak coklat kesukaanku. Sebelum sampai di tempat pedagang kaki lima itu, Zayyan sempat protes dan menolak mengabulkan permintaanku dengan alasan harus cepat kerumah. Tetapi,aku tetap merengek padanya untuk tetap membelikan ku martabak,alhasil disinilah kami sekarang.
"apa sih bang,kan aku memang mau martabak." gerutuku jengah melihat wajah masamnya itu tetapi masih tetap tampan dan sejuk dilihat.
"huft,terserahlah." ucapnya pasrah lalu duduk disampingku sambil menunggu martabaknya matang.
"bang,nanti martabaknya yang pinggirnya punyaku yaa,trus coklatnya biar aku aja yang makan." seruku tergiur dengan wangi martabaknya.
__ADS_1
"iyaa makanlah,sekalian makan tuh tempat bungkusnya kalau perlu teflon Abang jualannya makan tuh sana." ketusnya menatapku sekilas.
"anj****lah!" umpatku sambil memukul punggungnya.
"sial,sakit Dasha!!" gerutunya sambil mengelus punggungnya yang baru saja aku pukul.
"lebay,aku pelan loh mukulnya bang."
"apa pula pelan,kau mukul kayak ninggalin tapak suci dipunggungku." gerutunya lagi.
"orang pelan gini dibilang keras,aneh."
Zayyan memutar bola matanya malas melihatku. Ia terlihat berharap martabaknya selesai dan segera pulang.
"cih kenapa kau selalu gelisah sih Bang?!" kesalku menatap Zayyan mondar-mandir didepanku. Aku melirik kearah Abang jualan martabak itu sudah membungkus martabak milikku.
"nah tuh jadi." seruku langsung berjalan kearah Abang itu.
"mas berapa?" tanyaku sambil mengeluarkan dompet. Belum aku mengeluarkan uang dari dompetku,Zayyan langsung menyerahkan uangnya pada Abang penjual martabak itu. Zayyan dengan cepat menarik tanganku menuju mobil.
"ish pelan-pelan jalannya bang!" gerutuku kesulitan menyimbangi kaki panjang Zayyan. Zayyan yang menyadari hal itu, perlahan-lahan melambatkan gerakannya dan menyamai langkahnya denganku.
"kau lambat." ledeknya sambil merampas kantong plastik ditanganku.
"heh,bukan aku yang lambat suamiku yang tampan,tapi kakimu itu kepanjangan."
"kau aja yang pendek."
"ish,kau ini!!" kesalku sambil memukul kepala Zayyan. Zayyan meringis kesakitan, "woii sakit!"
"Zayyan." panggil seseorang membuatku berhenti memukul kepala Zayyan. Lalu aku menoleh kearah sumber suara perempuan yang berani memanggil nama suamiku.
Zayyan terdiam menatap orang itu dan membuatku bingung sekaligus cemburu menatap keduanya.
"sudah lama tidak bertemu yaa." ucapnya lembut membuat Zayyan langsung segera memeluk gadis itu.
Deg.
"apa maksud semua ini? Bang Zay ini siapa?!" cercaku memisahkan keduanya. Bagaimanapun,tidak ada yang boleh menyentuh suamiku siapapun itu termasuk gadis asing didepanku ini.
Zayyan tampak tersenyum miring menatapku, "kenapa? kau cemburu?"
"iyaa." jawabku spontan menatapnya tajam.
"kenalkan ini tanteku Livana. Tante ini istriku Dasha." jelas Zayyan sambil memperkenalkan kami berdua.
Aku masih mode loading untuk mencerna situasi yang sedang terjadi saat ini.
__ADS_1
Bukannya, Zayyan tidak memiliki siapapun selain kakeknya? Lalu kenapa ada tantenya? dan lagi Tantenya itu masih terlihat muda dan seumuran denganku!!. Gumamku dalam hati.
"kamu pasti penasaran yaa Sha." ucap Livana menatapku sambil tersenyum tipis.