I Know Your Secret

I Know Your Secret
Berulah Lagi


__ADS_3

Zayyan dengan gemas mengacak-acak rambutku hingga kusut,aku menatap tajam kearahnya.


"bangg!!!" geramku tetapi seperti biasanya pria itu hanya terkekeh pelan. Mungkin hobinya kali ini adalah suka menjahiliku sekarang. Aku tengah melirik kearah orang-orang yang tengah menaiki wahana ini. Ombak Banyu yang hanya menggunakan tenaga manusia untuk memutarkan wahana itu,aku memang dari kecil suka sekali menaiki wahana ekstrim itu. Tanpa alat pengaman dan hanya memegang kuat pegangan kursi membuat adrenalinku tertantang.


Zayyan memegang tanganku erat, seolah-olah tidak membiarkanku jatuh kebawah. Aku tersenyum tipis membalas genggaman tangannya itu.


"kau tadi hoki kan?" tanya Zayyan tiba-tiba saat wahana itu dimulai,aku menyerngit kearahnya, "apanya?" tanyaku pelan.


"main biola." ucapnya lagi.


"Ba-bagaimana kau tau?" tanyaku sedikit terkejut.


"aku memang tau semua rahasiamu." ucapnya lagi.


"cih,terserah kau sa—aaakhhh!!!" teriakku saat wahana itu berputar atas bawah layaknya ombak. Aku berteriak keras menikmati adrenalin itu,sedangkan suamiku hanya datar menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa rambutnya. Tidak merasa terganggu akan adrenalin yang memicu jantungnya itu.


salah satu kru dari tukang memutar ombak banyu itu duduk disampingku,membuat Zayyan yang awalnya tidak peduli dengan lingkungan sekitar langsung menatap tajam kearah pria disampingku. Zayyan yang tidak sadar semakin menggenggam tanganku membuat aku sedikit meringis kesakitan dan menatapnya.


"bang!" seruku menyadarinya. Zayyan tersadar lalu merenggangkan genggamannya.


"hallo nona cantik,itu pacarnya yaa?" tanya kru itu iseng,aku begitu takjub dengan kru itu yang seenaknya bisa duduk disampingku tiba-tiba padahal wahana ini tengah dimainkan.


"bukan,aku suaminya." sela Zayyan menatap tajam kearah pria itu.


"masa? kalian masih muda looh." serunya lagi. Mungkin baginya ini hanyalah lelucon tetapi tidak untuk Zayyan yang kini menahan amarah yang mulai membeludak.


"astaga pak,memang benar yang dia katakan. Saya istrinya pak." ucap ku pelan. Mau tak mau aku harus ikut andil dalam hal ini,agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


"owalah,saya kira kalian hanya bercanda doang." ucapnya lalu turun dari wahana tersebut. Lalu ikut memutar wahana itu dengan kru yang lainnya. Aku menghela napas lega, "hei bang,dia hanya sekedar basa-basi lhoo. Jangan semua dibawa serius." seruku menatap kearah Zayyan.


"kau itu bodoh,mana bisa membedakan yang mana orang baik yang mana yang jahat." ketusnya lagi membuat aku menatapnya datar. Sudah tidak terasa olehku lagi wahana itu,kini fokusku menatap suamiku yang super aneh ini.


"cih,bang ayoolah astagaaa!!!" seruku lagi hanya bisa menghela napas. Setelah selesai wahana itu,kami pun langsung keluar. Tidak henti-hentinya kami memperdebatkan hal yang tidak jelas. Aku sedikit kesal dan langsung pergi menuju tiket bianglala,walaupun kesal mendalam tetapi wahana tidak boleh terlupakan. Zayyan terus mengikutiku dari belakang,dan masih memperdebatkan hal sepele itu.


Aku mulai jengah lalu menariknya untuk ikut naik. Awalnya Zayyan enggan,namun setelah aku mengancamnya barulah pria itu setuju untuk naik.


"dah puas bang?" tanyaku menatap Zayyan kini sudah diam. Sepanjang perjalanan ia asyik mengoceh dibandingkan aku.


"Dashaa." tekannya lagi membuatku membekap mulutnya dengan tanganku.


"sstttt!!! dah...dah. Haiiis kau ini!! aku udah jengah bang. Jangan berceloteh terus." ucapku lalu melirik kearah kota yang menjulang tinggi. Memaang pemandangan dari tempat yang tinggi itu sangat menakjubkan. Bianglala itu tiba-tiba mati sendiri,membuat kami berdua sedikit cemas. Aku berusaha mengatur napasku,begitu juga dengan Zayyan.


"nah ini semua salahmu bang!" tuduhku menunjuk kearahnya.


"salahku? hei mana ada suami yang suka liat istrinya dekat dengan pria lain??"


"hei bang,itu dia hanya nanya pacarku lho." kilahku lagi.

__ADS_1


"pacar kau siapa? kau main dibelakangku hah?"


Aku menghela napas pelan mencoba bersabar menghadapi Zayyan yang tampaknya kini tengah tempramen tinggi. Entah salah makan obat apa tadi dia sampai-sampai sesensititif ini.


"ih bukan lhoo Zayyan Firaz Adibrata. bapak tadi mengira kau adalah pacarku. Itu maksudnya." jelasku dengan penuh kesabaran.


"o." ucapnya lalu memalingkan wajah dariku. Lagi-lagi aku dikejutkan dengan bianglala itu sedikit terguncang membuatku ketakutan.


Aku langsung menggenggam tangan Zayyan, "huwaa aku tidak mau mati disini!!!" seruku membuat Zayyan melirik kearahku, "hush,jangan ngomong sembarangan. Perkataan doa tau!" gerutunya lagi.


"huwaa kita terjebak diatas bang,mana bisa aku duduk manis dengan tenang seperti dilantai hah! ini tinggi sekali bang!" rengekku lagi.


"haiis bukan lantai,tapi pantai. Udahlah merengek salah pula lagi. Sabar aja lah dulu, bentar lagi ini nyala." ucapnya tenang.


"hauus." rengekku lagi membuat Zayyan kesal, "hei tahan ajalah dulu,jangan banyak tingkah juga lagi."


"ya kan aku cuma bilang aja lhoo."


"ish Dasha tenanglah,nggak usah kasak kusuk gitu. Kau mau bianglala ini lepas hah?"


"ehhh jangan ngomong kek gitu bang! perkataan doa!" kesalku lagi.


"ya makanya duduk tenang!"


"haiiss, gimana mau tenang kalau nyawa lagi diambang Kematian, kau enak ini pertama kalinya,lah aku udah dua kali,itupun jurang." seruku lagi.


"ish,bukannya nenangin tapi membuat orang kesal."


"kau yang selalu membuatku kesal Dasha,bukan aku."


"kau bang."


"kau!"


"ka—" Bianglala itu kembali terguncang. Aku langsung memeluk Zayyan ketakutan.


"Dasha kembali ketempatmu,kau membuat bianglala ini tidak seimbang woii!!" serunya lagi seraya melepaskan pelukannya denganku,Aku ketakutan bercampur kesal menatapnya tajam.


"bang,aku takut!!!"


"iyaa aku juga,tapi tenang woi." serunya lagi.


"Ibuuu!!!! jika kami mati disini,tolong kerjakan tugasku Bu,tugasnya ada dibawah laci meja belajarku!!!" teriakku disambut jitakan dari suamiku.


"astaga diambang Kematian malah menyuruh ibu mengerjakan tugasmu, ckckckck dasar anak durhaka."


"hei,aku bukan anak durhaka yaa,aku ini anak yang berbakti kepada orang tua. Mereka ingin lihat aku sukses sarjana nanti,makanya aku harus berjuang keras menyelesaikan tugas itu."

__ADS_1


"yaa nggak gitu juga konsepnya bodoh,sama saja kau durhaka kepada mereka. Mana ada anak yang nyuruh orang tuanya mengerjakan tugas mereka." oceh Zayyan lagi.


"ada tuh,anak zaman sekarang banyak yang mencaci orang tuanya." selorohku pelan.


"termasuk kau?" tanya Zayyan menyelidik.


"nggak,nggak mungkinlah aku Setega itu. Gila aja,otakku ada dimana kalau aku berbuat sebrengsek itu."


"oh."


"diam!" gerutuku kesal,namun rautku kembali mood saat bianglala itu kembali hidup. Aku bernapas lega. Saat kami sudah dibawah,para petugas itu langsung meminta maaf karena ketidaknyamanan terhadap wahananya,kami pun mengangguk lalu pergi pulang.


"lapar kak."


"ya makanlah." ketusnya sambil merogoh saku celananya.


"ya pekalah,nanya kek makan dimana gitu... ish kau ini bang!" gerutuku lagi.


"bilanglah daritadi,kau sendiri ngomongnya berbelit-belit." serunya sambil menghidupkan mesin mobil.


Zayyan kampreeet,dari tadi kau yang berceloteh panjang lebar,nggak jelas pula lagi tuh. kenapa kau menyalahkan ku sih?! umpatku dalam hati.


"makan dimana?" tanyanya keluar dari parkiran.


"dikolong jembatan." ucapku asal, Zayyan menoleh kearahku, "oke." ucapnya membuatku berbalik menatapnya, "eh..hee nggak bang,ya ampun aku hanya bercanda doang,ya nggak mungkin kita makan dikolong jembatan. Aku ingin makan mie rebus disana!" seruku menunjuk kedai kecil di tepi jalan,Zayyan pun mengangguk lalu melajukan mobil ke tempat kedai itu.


Setelah selesai kami mengisi perut, akhirnya kami pulang kerumah. Aku terkejut saat melirik jam tanganku yang menunjukkan jam dua belas malam.


"wow,rekor banget pulang semalam ini." seruku takjub.


Zayyan hanya menatap sekilas kearahku sambil menggeleng-geleng kepalanya. Zayyan keluar membuka pagar rumahku,lalu masuk kembali ke dalam mobil. Dengan lihai pria itu memasukkan mobil dengan sempurna. Aku langsung turun menutup pagar rumahku. Setelah itu kami berjalan ke teras rumah.


Aku menyerngit heran, pintu rumah tidak bisa terbuka alias terkunci. Aku menggedor pintuku tetapi tidak ada yang menyaut satupun penghuni rumahku ini.


"ya ampun kita terjebak diluar bang." gerutuku lagi.


"Bu? ayah? Gazza??" seru Zayyan sambil menggedor pintu. Sudah lima belas menit tak kunjung juga penghuni tersebut mendengar suara gedoran pintu.


"fyuuuh." lirihku lalu duduk dilantai sambil menguap. Aku melirik kearah Zayyan yang tengah mencari sesuatu.


"kau sedang apa?" tanyaku heran.


"nah dapat." seru Zayyan tidak menghiraukan omonganku,aku terkejut ketika suamiku berhasil mendapatkan kunci.


"kau kok bisa tau bang,kalau kuncinya letak disitu?" tanyaku penasaran.


"lah,yang punya rumah nggak tau kebiasaan keluarganya,ckckckck." ledek Zayyan membuka pintu. Aku memberengut kesal langsung naik ke kamarku.

__ADS_1


__ADS_2