
Aku melirik jam dinding kamarku menunjukkan pukul lima sore. Tetapi suamiku tak kunjung pulang,padahal pria itu sudah tiga jam lebih diluar sedangkan aku sudah menyelesaikan dua belas lembar kertas surat pernyataan.
"fyuuuh istirahat dulu lah." ucapku smabil merenggangkan otot tanganku,aku berjalan pelan menuju balkon kamarku sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku.
Aku memilin ujung rambutku sambil memikirkan sesuatu,Yap sudah seharusnya aku menutup auratku. Aku masih bimbang lalu berjalan masuk kedalam kamar. Aku berjalan menuju lemari ku dan mengambil sebuah kotak didalamnya. Aku membuka kotak tersebut dan isinya beberapa jilbab yang pernah aku beli diam-diam secara online.
Aku memang menyukai gaya jilbab pasmina instan yang aku beli saat ini. Dengan segala pertimbangan akhirnya aku memutuskan untuk mencoba memakainya. Aku memakai anak jilbab dan mulai memakai jilbab pasmina tersebut. Aku begitu takjub dengan diriku yang sangat cantik saat mengenakan jilbab itu,tanpa aku sadari aku menetes air mata memandang diriku didepan cermin.
"ternyata aku cantik juga memakai jilbab ini." pujiku dengan senang,aku pun melirik celana tidur yang aku gunakan saat ini,dengan cepat aku mengambil rok ku dan memakainya, "nice." seruku sambil memutar badanku.
"eh?" aku terkejut saat mendapati Zayyan sudah berdiri sambil menyandar dipintu kamar. Entah sejak kapan pria itu berada disana.
"bang? kapan kau pulang?" tanyaku langsung menghampirinya, tentu saja tujuanku berlari kearahnya bukan untuk rindu dengan pria itu melainkan kantong yang dipegang pria itu. Dengan cepat aku merampas kantong itu dari Zayyan,dan duduk diatas kasur.
Zayyan tetap diam lalu berjalan menghampiriku,ia pun menangkup wajahku dan mencium bibirku pelan. "kau sangat cantik." ucapnya membuat pipiku merona. Ia pun terkekeh pelan sambil mencubit pelan hidungku.
"nah kalau gini kan cantik,aku jadi tambah suka." ucap Zayyan lagi membuatku kembali tambah merona. Aku menepis tangannya dari wajahku, "ja-jangan memujiku terus." ucapku gugup. Sebenarnya dalam hati aku sangat senang dengan pujiannya.
Zayyan semakin gemas melihatku,membuat pria itu duduk dihadapanku sambil menatapku lekat.
"jangan memandangku seperti itu bang!" seruku memalingkan wajahku darinya. Tidak ingin dilihat terus,aku dengan cepat membuka bungkus martabak ku dan memakannya dengan cepat.
"woi pelan-pelan makannya,kayak nggak pernah makan setahun aja." ucapnya menatapku sambil menggeleng-geleng kepala.
"biarin,aku lagi lapar. Kau ini lama kali belinya kak," seruku sambil memakan martabak kesukaanku. Zayyan hanya diam mendengarkan semua ocehanku.
"kau mau bang?" tanyaku saat menyadari jika sedari tadi hanya aku yang memakan martabaknya. Zayyan mengangguk dan mengambil sepotong martabak yang baru saja aku gigit,ia pun langsung memakannya tanpa jijik sedikit pun.
Aku tercengang menatapnya,Zayyan memandangku bingung, "kenapa?" tanyanya.
"kau tidak jijik makan bekasku bang?" tanyaku pelan.
"ngapain jijik? kau kan istriku,lagian kita juga udah pernah ciuman pun,ngapain juga aku merasa jijik dengan istriku sendiri??" serunya frontal membuatku merinding.
"astaga,frontal sekali kau berbicara bang!" gerutuku langsung memukul lengan Zayyan. Zayyan langsung tidur dipangkuan ku tanpa izin dariku.
"hei bang!!" protesku saat dengan seenaknya pria itu tidur dipangkuan ku,pria itu hanya mengedik bahu tidak peduli dan menutup matanya pelan.
"kau lebih cantik pakai jilbab Sha." ucapnya masih menutup mata,aku melirik kearahnya sambil tersenyum tipis. "serius nih? aku mencium bau bau kemodusan disini."
"heh,dasar istri durhaka. Bukannya senang dipuji malah curigaan." gerutunya menatap tajam kearahku.
__ADS_1
"iya..iyaa aku senang kok dipuji sayang. Canda doang kok,nggak usah masuk hati yaa." ucapku menenangkan suamiku itu sambil mengelus rambutnya.
"udah berapa siap tadi nulisnya?" tanya Zayyan tiba-tiba membuat moodku yang bagus tadi tiba-tiba buruk.
"dua belas." ketusku malas. Zayyan terkekeh pelan, "nanti lanjut lagi."
"cih,senang kali kau bahagia diatas penderitaan orang." gerutuku lagi.
"iya iyalah senang,kapan lagi kan mengerjai seorang Dasha yang dibilang populer dikampus itu."
"hei bang! aku garis bawahi yaa... Aku tidak populer seperti orang tuh bilang. Aku tidak suka dibilang kayak gitu."
"masa? para pria sialan itu trus memujimu." ketus Zayyan membuat dahiku mengerut.
"para pria? siapa?" tanyaku penasaran.
"kau nggak perlu tau,atau nanti kau malah kepincut pula."
"lah,aku kan sudah menikah denganmu bang. Lagian buat apa juga sih sama aku dekat dengan pria-pria seperti itu??"
"manatau." ketusnya lagi membuatku gemas mencubit pipinya, "kapan mereka bilang kayak gitu bang? apa yang dibilang mereka? aku cantik yaa??" ucapku dengan bangga. Zayyang menghendus kesal menatapku, "cih,mereka bilang kau jelek,jadi jangan harap kau mendekati mereka."
"buahaha,kalau aku jelek kenapa kau mau menikah denganku bang?" tanyaku membuat Zayyan muali terpojok. Kini aku paham arah pembicaraan yang dibilang Zayyan.
"suka-suka aku lah," ketusnya lagi.
"ya udah berarti suka-suka aku juga dong,kalau mereka dekat denganku. Ya ampun pasti seru dikeliling pria-pria tampan. Ya kan bang?"
"enak kali ngomongnya woi,kau itu istriku. Jangan berani main api dibelakang." ancam Zayyan.
Aku tergelak pelan, "iya...iyaa,untuk apa aku selingkuh kalau suamiku ini sangat tampan. Bodoh sekali namanya tuh." ucapku pelan membuat pria itu mengacungkan jempolnya kearahku, "bagus." ucapnya semangat lalu kembali menutup matanya lagi.
"hei bang! kau tadi pergi kemana sih? kok lama kali tadi pulangnya?" tanyaku saat mengingat kembali pertanyaan saat pria itu datang
"main warnet." ucapnya singkat.
"nj***r nggak ngajak-ngajak. Woi bang,aku pingin main warnet juga!!!" protesku tak terima. Disaat aku menggerutu sambil menulis surat pernyataan, suamiku malah asyik-asyiknya bermain diwarnet.
"wah parah nih orang! nggak ngajak-ngajak!!" gerutuku memukul pipinya pelan.
"apasih? disitu ramai banyak cowok. Aku nggak akan izinin kau kesana." ketusnya.
__ADS_1
"biasa ajalooh,waktu aku kecil aku sering main kesana sampai magrib." seruku lagi.
"itu kan waktu kecil,sekarang kau udah besar. Mending dirumah aja." ucap Zayyan lalu bangun dari baringnya.
"ish kau asyik-asyik main keluar!!" gerutuku lagi.
"ish jangan bertingkah kayak anak kecil!" gerutu Zayyan lagi.
"dahlah." ucapku dengan muka ditekuk,lalu pergi melangkah keluar dari kamar sambil melepas jilbabku lagi.
Aku mendengar samar-samar suara dari ruang tamu, tampaknya rumahku kini kedatangan tamu. Aku diam-diam menyelinap pergi ke dapur mengambil beberapa minuman kaleng.
"kamu ngapain?" tanya Ibu memergokiku mengendap-endap,aku menyengir pelan sambil menggaruk tengkukku tidak gatal. "hehehe tak ada Bu."
"bantu ibu!" ucap Ibu langsung memberikan nampan yang berisi makanan dan cemilan kecil padaku. Aku tergiur dengan aroma cookies buatan ibu.
"eittts,jangan dimakan itu untuk tamu." cegah Ibu membuatku menghela napas sebentar, "lalu untukku mana Bu?" tanyaku celingak-celinguk menatap meja makan,tetapi tidak ada satupun diatas sana.
"lah,Zayyan bilang kamu mesan martabak. Jadi,ibu nggak ada nyisahin untukmu nak." ucap Ibu langsung membawa nampan yang berisi minuman untuk dibawah pada tamu. Aku lagi-lagi menghela napas pelan,pasrah mengikuti ibuku dari belakang.
"ini minumannya." ucap Ibu sambil menyodorkan minuman itu pada para tamu,aku mengikuti Ibu dari belakang dan meletakkan beberapa cookies di atas meja.
Selamat tinggal cookiesku. lirihku menatap nanar cookies yang menggugah selera itu.
"eh? kau?" seru seseorang membuat perhatianku teralihkan kepada orang tersebut. Aku terkejut saat melihat gadis yang tersenyum padaku itu.
"hai Dasha." sapanya,sedangkan aku hanya mengangguk pelan.
Eh? bagaimana bisa dia ada disini? ngapain dia disini? sial,Zayyan nggak boleh turun!. geramku dalam hati.
"Azela,kamu kenal dengan Dasha?" tanya ibu lalu dijawab anggukan oleh Azela.
"iya Tante,dia temanku. Walaupun kami beda jurusan aku sangat mengenalnya." ucap Azalea dengan percaya diri.
"Dasha,kenapa diam aja? ayoo ajak teman mu ini mengobrol sayang." ucap Ibu,Azela langsung berdiri, "iya juga yaa,ayolah Dasha aku ingin mengobrol denganmu." ajak Azela menarik tanganku. Aku berdecak pelan lalu mengikutinya berjalan ke taman belakang.
Sampai akhirnya kami berdua di taman,barulah Azela menunjukkan wajah aslinya. "cih,tidak kusangka kita bertemu disini." ketus Azela menatapku penuh kebencian.
"kau mau apa?" tanyaku to do point. Memang sih,aku tidak suka basa-basi dengannya,dan ingin segera pergi dari sini.
"jauhi Zayyan,atau kau yang terkena akibatnya!!" ancamnya lalu mengibas rambutnya berjalan angkuh kembali masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"blablabla,aku nggak peduli dan aku sama sekali tidak takut dengan ancamanmu Azela!!" geramku sambil mengepal tanganku kuat.
Emangnya kau siapanya Zayyan? akan ku buktikan hanya aku yang layak disampingnya!!. tekadku dalam hati.