I Know Your Secret

I Know Your Secret
Jangan Asal Bicara


__ADS_3

Aku mengganti pakaianku dengan pakaian tidur setelah mencuci mukaku. Aku berjalan kearah kasur dan membaringkan tubuhku ditempat yang empuk itu. Terdengar samar-samar suara langkah kaki menuju kamarku dengan tergesa-gesa. Tanpa mengetuk pintuku terlebih dahulu,pintu itu langsung didobrak oleh Abangku. Aku terperanjat kaget melihat ekspresi tidak bersahabat yang ditunjukkan Abangku.


Abangku berjalan pelan kearahku dan langsung memelukku erat. "bodoh." ucapnya sekaligus lega bahwa diriku baik-baik saja.


"apa kamu sudah gila hah?,masa kamu tidak bisa ingat kalau kita tadi pakai mobil apa,trus makirnya dimana? seharusnya kamu nelpon ke Abang." gerutu Gazza panjang lebar kearahku. Aku hanya menutup telinga mendengar semua ocehan dan nasehat yang dilontarkan Abangku.


"sudah?" tanyaku jengah,Gazza mengendus kasar.


"cih,percuma aku berkoar-koar panjang lebar." kesalnya langsung menjitak kepalaku kuat.


"woi sakit!,ya siapa suruh cerita panjang lebar,dah lah keluar sana!" usirku langsung mendorong Gazza keluar dari kamarku.


"adek laknat." ucapnya kesal melihat kelakuanku.


"sudah-sudah,aku mau tidur." ucapku hendak menutup pintu,namun sebelum aku menutup pintu aku mneoleh kearah Gazza, "hmm,maaf karna membuatmu khawatir bang,tadi aku juga panik mengira kau bakalan meninggalkanku sendiri disana. Oh ya,untuk traktirnya ganti besok aja yaa." ucapku sambil tersenyum lebar langsung menutup pintu.


Aku cekikikan mendengar gerutu Abangku dibalik pintu, "besok ke besok...mungkin sampai kiamat baru ditraktirnya." gerutu Gazza melenggang berjalan ke kamarnya.


***


Aku melihat Elisa dari kejauhan sedang berbincang dengan seseorang. Aku melangkah kearah Elisa tanpa sadar menabrak seseorang didepanku.


braak.


"aduh." lirihku sambil melihat kearah orang yang aku tabrak tadi. Vanya langsung membantuku berdiri.


"maaf Sha,aku tidak sengaja menabrakmu." ucapnya pelan. Aku mengangguk, "maaf juga aku tadi tidak melihatmu." ucapku sambil mengibas bajuku.


"kamu mau kemana?" tanya Vanya.


"aku mau ketempat perpustakaan." jawabku asal. Aku sebenarnya mau bertemu dengan Elisa,namun Elisa tidak suka dengan kehadiran Vanya,makanya aku berbohong padanya.


"oo,kalau gitu aku ikut boleh yaa?"


"ya sudah,ayo." jawabku tidak ada pilihan lain. Kami pun sama-sama berjalan menuju perpustakaan. Sampai di perpustakaan Aku langsung menuju tempat duduk yang biasa aku gunakan untuk membuat tugas. Vanya pun mengikutiku dari belakang dan duduk didepanku.

__ADS_1


"Dasha." panggil Afran berjalan kearahku,Aku menghela napas pelan. Lalu tersenyum pelan kearahnya, "ada apa?"


"ternyata kau disini Sha,aku mencarimu kemana-mana." selanya dan tanpa permisi duduk disampingku.


Aku sedikit memberi jarak padanya, "kenapa kau mencariku?"


"Dasha,aku tidak akan menyerah untuk menyatakan perasaanku padamu. Untuk itu tolong terima perasaanku ini, please." harap Afran menatapku,Vanya mengangguk cepat seraya memberi kode untuk menerima Afran.


Prinsip memanglah prinsip,Aku harus tegas dalam hal itu, "maaf,aku tidak bisa. Kalaupun dipaksakan hubungan ini,malah kita berdua yang akan sakit hati Fran,aku nggak mau itu terjadi." jelasku dengan nada lembut supaya pria itu tidak tersinggung dengan ucapanku.


Afran kembali memberi raut kecewa diwajahnya, "jujur Sha,apa ada orang yang kau sukai?" tanya Afran menatap lekat kearahku. Aku bingung mau menjawab apa lagi,ide cemerlang belum terlintas diotakku saat ini. Apalagi Vanya terus memaksaku untuk menerima perasaan Afran.


Sebenarnya aku sangat kesal dan terpojok disini,tapi aku tidak mungkin menunjukkan ekspresi itu pada mereka. Berusaha untuk menetralkan emosi,aku terus berpikir alasan yang tepat keluar dari pertanyaan yang sangat sulit ku jawab itu. Aku melirik kearah pintu masuk perpustakaan yang menampakkan seseorang yang ku kenal walaupun mengesalkan.


Wah,kau sangat baik yaa datang disaat yang tepat kak. Gumamku senang saat menatap Zayyan tengah memilih buku yang akan dibacanya.


"aku menyukai dia." jawabku sambil menunjuk Zayyan dari kejauhan.


Sontak mereka berdua menoleh kearah yang aku tunjuk tadi,dan langsung tertawa terbahak-bahak. Petugas perpustakaan melirik kami dengan tatapan tajamnya mengisyaratkan untuk diam.


"hei,diam." ucapku pelan,namun tidak digubris oleh mereka berdua yang masih asyik menertawakan Zayyan.


Aku sedikit kesal lalu berjalan meninggalkan mereka. Vanya langsung mengejar ku, "kau marah Sha?" tanyanya sedikit merasa bersalah. Aku berbalik menatap Vanya lalu beralih kearah Afran yang masih tertawa cekikikan. Entah kenapa emosiku langsung naik.


"kau seharusnya tidak menghina fisik ataupun penampilan orang Van, salah aku menyukai orang seperti itu hah?!" bentakku langsung membuat semua disekitar ku terkejut begitupun Vanya.


Cih,kenapa aku tiba-tiba langsung marah gini sih? mungkin karna faktor M,lebih baik aku tenangin diri dulu. ungkapku dalam hati berjalan keluar,sebelum aku membuka pintu,Aku langsung meminta maaf pada semuanya telah membuat keributan di Perpustakaan.


"maaf aku membentak mu Van,biarkan aku sendiri dulu." ucapku langsung berlalu meninggalkan Perpustakaan.


Aku langsung memesan minuman dingin dikantin dan langsung ku teguk sekali minum.


"fyuuh,tenanglah Dasha." ucapku sambil menenangkan diriku. Elisa langsung duduk didepan ku, "Sha,tadi aku mendengar kau membentak Vanya. Ada apa?" tanyanya panik,pasalnya ia belum pernah melihatku membentak seseorang.


"entahlah,aku tiba-tiba membentaknya tadi. Mungkin emosiku sekarang lagi naik-turun." ungkapku sambil menyandarkan badanku kebelakang.

__ADS_1


"emangnya apa yang membuatmu marah dengan Vanya,saat kau membentaknya banyak yang menggosipinmu." ujar Elisa menatap kearahku.


Aku menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir,Elisa tercengang mendengar pernyataan dariku.


"apa benar kau menyukainya Sha?" tanya Elisa memastikan.


"aku hanya bilang itu untuk menghindari dari Afran aja,abisnya Afran terus memaksaku menjadi pacarnya." gerutuku tidak habis pikir dengan Afran. Tadi pria itu menyombongkan dirinya lebih baik dari siapapun, padahal dimataku pria itu terlihat biasa-biasa saja.


"apa kau mau pulang?" tanya Elisa lagi. Aku langsung melihat jadwal kuliahku diponselku,


"sepertinya iya,kita kan cuman satu matkul aja hari ini." ucapku sambil menyandang ranselku.


"yasudah,kuy antar aku dulu yaa ke rumah." cengir Elisa membuatku menatap datar kearahnya, "ya sudahlah,kuy." ajakku. Kami pun langsung menuju parkiran.


Setelah mengantarkan Elisa pulang,aku langsung melajukan mobilku ke rumah. Hari ini aku begitu lelah,dan ingin merebahkan diriku dikasur empukku itu. Sampai dirumah,aku melihat mobil lain yang tampaknya tidak asing bagiku.


Sepertinya ada tamu. gumamku berjalan masuk kedalam rumah.


"bisa bicara sebentar?" tanya seseorang dibelakangku,aku terkejut dan langsung menoleh kearah orang itu.


"kau? kenapa kesini?" tanyaku melihat Zayyan menatap kearahku.


"aku ingin tanyakan sesuatu,kau mau kita bicara didalam atau diluar?" tanyanya.


"disini aja." jawabku.


"apa yang kau bilang diperpustakaan tadi benar?" tanyanya to the point menatapku.


Aku menghela napas pelan,"maaf,itu tidak benar. Aku menghindari dari temanku saja. Apa itu mengganggumu kak?" tanyaku sopan. Jika bukan mengingat pria ini menolongnya tadi malam, mungkin terus terang aku mengumpatnya.


"apa dia memaksamu untuk jadi pacarnya?" tanya Zayyan lagi,Aku pun mengangguk.


Zayyan mengangguk,lalu mendekat kearahku,aku spontan langsung mundur melangkah.


"ma-mau apa kau?" tanyaku gugup saat Zayyan mulai memangkas jaraknya denganku.

__ADS_1


"ayo kita menikah." ucapnya,aku langsung mendongak keatas melihat wajahnya,tercengang an tak percaya apa yang diucapkan pria itu.


"jangan asal bicara." ketusku tidak suka dengan pembahasan itu tiba-tiba.


__ADS_2